Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
65. Ndoro Kusuma Lagi?


__ADS_3

Wulan segera membuka lemari tersebut. Begitu dibuka, ia mengembangkan senyum dan mengambil barang yang harusnya tiap bulan ia pakai.


"Masih utuh ... Aku ingat, waktu beli ini bulan kemaren. Dan ini masih utuh. Apa jangan-jangan aku ...."


Wulan kemudian menaruh barang itu di lemari kembali. Ia segera keluar mengambil tas yang berisi uang dan hapenya.


Wulan mengenakan sweater dan keluar dari rumah, mengunci pintunya. Kontrakan tetangganya sudah sepi. Mungkin semuanya sudah berangkat kerja karena rata-rata penghuni kontrakan tersebut masih lajang semua. Kecuali dirinya.


Wulan berjalan kedepan untuk mencari tukang ojek.


"Pak, ke apotik depan yah," ucap Wulan sambil membonceng.


"Siap neng," ucap si tukang ojek.


Motor segera melesat ke apotek. Lima belas menit kemudian mereka sampai. Penjaga apotik mengembangkan senyum ketika melihat ada pelanggan lagi setelah tadi sempat mengantuk.


"Mba, beli tespek dua," kata Wulan dengan lirih.


"Merk-nya?"


"One ..."


Penjaga apotek segera mengambilkan tespek tersebut. Setelah di dapat, Wulan membayar dan kembali pulang bersama tukang ojek.


Wulan membuka pintu rumahnya dan segera menguncinya kembali. Ia melempar tasnya dengan sembarangan dan segera berlari menuju toilet.


Dengan lancar ia mengeluarkan cairan bening yang sedari tadi ia empet.


Wulan mengambil cairan pertama yang ia keluarkan ke dalam wadah kecil. Wulan mencelupkan tespek itu ke dalam wadah.yang berisi cairan bening warna kuning itu.


Ia menunggu dengan sangat was-was.


"Ya Alloh, semoga hasilnya positif," ucap Wulan dalam hatinya sambil memejamkan matanya.


Wulan menghitung waktu dengan kedua tangannya. Ia menghitung hingga nominal 100. Bahkan ia tambah karena takut untuk melihat hasil tespek tersebut.


"Bismillah," Wulan membuka matanya perlahan.


Begitu ia membuka mata dan mengangkat alat tersebut, ia kemudian menangis. Air mata turun begitu saja tanpa ia minta. Wulan membungkam mulutnya yang mulai tersedu sambil melihat alat tersebut dengan sangat senang.


Wulan keluar dari toilet dan duduk di tepi kamar.


"Masya Alloh, terimakasih ya Alloh, engkau berikan aku kepercayaan ini," ucap Wulan sambil terus menangis bahagia.


Wulan mengambil hapenya yang berada di dalam tas. Kemudian memfoto alat tersebut. Ia sudah tak sabar ingin memberitahu suaminya akan kehamilannya.


"Mas," pesan yang ditulis Wulan di keterangan gambar yang akan ia kirim kepada suaminya.

__ADS_1


"Mas Adam, pasti senang banget lihat ini, terimakasih ya Alloh, terimakasih," Wulan tak henti-hentinya bersyukur dan memandangi alat tersebut.


Adam dan Marsel tengah selesai sarapan di kantin.


Klunting!


Adam segera merogoh hape dalam saku celananya. Adam tak langsung membuka pesan dari istrinya itu. Melainkan, melanjutkan curhatnya kepada Marsel tentang perubahan Wulan.


"Pokoknya aku dah capek, kalo habis kerja harus mengerjakan pekerjaan rumah, Sel! Wulan banyak berubah akhir-akhir ini," ungkap Adam kemudian membuka hapenya.


"Sabar aja, Dam! Mungkin dia lagi ngetes kamu,"


"Ngetes gimana maksudmu!"


"Ya ngetes mungkin dia ingin tau respon kamu saat dia bermalas-malasan. Atau mungkin ada sesuatu hal lain yang sedang ia rasakan, tapi tak mau cerita sama kamu,"


"Iya, dia kalo tiap pagi sering mual, bahkan sampai muntah. Terus jadi sensitif, cepet marah kalo gak diturutin kemauannya,"


Adam membuka pesan dari Wulan, yang hanya berisi kalimat "Mas" di keterangan gambar yang masih belum berhasil ia download.


Adam mengernyitkan keningnya.


"Apa maksudnya?" tanya Adam dalam hatinya.


Begitu gambar berhasil di download, Adam nampak tak paham dengan isinya.


Marsel memiringkan kepalanya dan mengamatinya. Marsel kemudian tersenyum dan mengucapkan selamat kepada Adam.


"Wah, selamat ya, Dam! Selamat!" ucap Marsel lalu memeluk Adam dengan erat.


"Selamat untuk apa, Sel? Memangnya ini gambar apa?" tanya Adam dengan wajah polosnya.


"Masa kamu gak tau, Dam! Ini tuh tespek. Ada garis dua di sana. Artinya, Wulan itu lagi hamil!" jawab Marsel dengan raut bahagia.


Adam melongo dan mengedipkan kedua matanya secara berulang-ulang.


"Ah, yang bener kamu? Kamu memangnya paham dengan beginian?" tanya Adam yang tidak percaya.


"Taulah, aku pernah lihat dulu waktu kakaku hamil beli begituan. Wah, kamu bakal jadi bapak, Dam! terang Marsel sambil merangkul pundak Adam yang masih tidak percaya.


"Serius kamu? Ah, kamu jangan bohongin aku dong, Sel!" tanya Adam mulai panik dan bahagia.


"Benar lah, coba, balas saja pesannya,"


Dengan tangan gemetar, Adam membalas pesan dari Wulan.


"Kamu hamil, Nduk?"

__ADS_1


Wulan terus tersenyum sambil mengusap-usap perutnya. Balasan dari Adam masuk, ia segera membacanya.


"Benar, Mas! Jangan lembur yah, pulang kerja kamu harus anterin aku ke puskesmas," balas Wulan.


Jantung Adam berdetak kencang membaca pesan dari Wulan. Ia masih tak percaya bahwa ia akan menjadi bapak. Sungguh bahagianya Adam pagi ini. Tak disangka rasa malas, dan mual setiap pagi yang dialami istrinya, adalah pertanda kalo sedang berbadan dua.


Adam tak dapat konsen bekerja. Pekerjaannya seakan tak kunjung selesai. Waktu berjalan terasa sangat lama. Yang ada dalam pikiran Adam, hanya ingin cepat pulang bertemu istrinya, dan mengantarkannya ke puskesmas.


***


Mawar sudah dandan dengan cantik menggunakan kebaya berwarna kuning dan rambutnya ia Gelung dengan menyisakan beberapa helai rambut di kanan dan kirinya. Ia terus berkaca di dalam cermin kamarnya.


Hari ini, Marsel akan datang melamar. Hatinya sangat deg-degan.


"Kamu sudah cantik, Mawar!" suara asing menggema di kamarnya.


Mawar segera bangkit dari tempat duduknya dan menatap seluruh penjuru kamarnya. Mawar menajamkan pendengarannya kembali. Takut kalo ia salah dengar.


"Siapa yang bicara itu?" tanya Mawar kepada dirinya sendiri.


"Ini masih pagi. Kenapa sudah ada hal-hal yang tak ku inginkan," ucap Mawar dalam hatinya.


Mawar mengatur nafasnya. Hapenya berdering. Ia segera melihat layar di ponselnya. Ada nama Marsel di sana. Ia segera mengangkatnya dengan hati yang sedikit panik akibat suara asing tadi.


"Hallo, Mas!"


"War, aku dan rombongan sudah mau berangkat kesana. Tolong sampaikan orangtuamu yah,"


"Iya, Mas! Hati-hati di jalan yah. Mawar dan keluarga tunggu di rumah,"


"Iya, assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam," jawab Mawar memutus teleponnya.


Mawar kembali bercermin memastikan riasannya. Masih menempel sempurna. Tiba-tiba dari sisi kiri tempat ia berdiri. Mawar melihat pantulan Mawar lain yang persis dengan dirinya.


Jantung Mawar berpacu dengan hebat. Nafasnya naik turun tak karuan. Langkahnya begitu berat. Mawar lain tersenyum menyeringai memperlihatkan giginya yang runcing dan hitam.


Air liur menetes di sela-sela senyumannya. Semakin diperhatikan, Mawar lain yang tengah berdiri di sampingnya, berubah menjadi seorang nenek tua. Pertama, nenek tersebut berubah menjadi nek Jamilah, setelahnya ia berubah menjadi wujud Ndoro Kusuma, dengan tampang lebih menyeramkan dari sebelumnya.


Matanya merah menyala, kukunya yang panjang dan berwarna hitam, mulai bergerak mendekati wajah Mawar. Ndoro Kusuma mengitari Mawar sambil menari.


Mawar tidak bisa berkutik sedikitpun. Hanya bola matanya saja yang dapat ia gerakan, mengikuti langkah kaki Ndoro Kusuma yang terbang ke sana kemari, lalu kembali mengitari dirinya.


"Kamu mengundangku, Cah ayu! Aku akan menjadi sinden dalam acara pernikahanmu. Aku akan membawamu pergi dari sini, dengan sebagian ari-arimu yang masih tertanam di bawah sana!" seru Ndoro Kusuma sambil tertawa cekikikan.


Wajahnya mendekat dan semakin dekat ke wajah Mawar. Mawar tak kuasa melihat wajahnya yang sudah keriput dan menggelambir, air liur terus menetes, lidahnya kemudian menjulur panjang dan mulai menjilati wajah Mawar yang sudah basah dengan air mata.

__ADS_1


__ADS_2