Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
Bab 6 : Hampir Putus Asa


__ADS_3

Hari ini hujan deras kembali mengguyur kota K. Memang sedang musim hujan makanya hampir setiap hari hujan turun. Terlihat orang tua Mawar memandangi pintu gerbang rumahnya. Berharap Mawar datang dengan sepeda motornya tetapi harapan itu belum juga dikabulkan oleh sang khaliq.


"Kalo saja ibu tau Mawar bakal semarah itu, dan pergi ninggalin rumah selama ini, ibu tidak akan pernah mengatakan hal yang membuatnya sakit Yah, ibu benar-benar menyesal atas ucapan ibu" Saras tampak menyesali perbuatannya yang tidak memberi restu untuk Mawar dan Marsel. Namun nasi sudah menjadi bubur. Mawar kini tidak kunjung pulang kerumah. Saras dan Ruman hanya bisa berdo'a untuk keselamatan putrinya.


"Kita do'akan yang terbaik untuk Mawar Bu, kita tidak boleh berhenti berdo'a, Ayah yakin, Mawar akan segera pulang dan berkumpul bersama kita lagi."


"Amiin Yah, pulang lah Nak, ibu akan merestui hubunganmu dengan Marsel, ibu sudah menyesal. Tak kaya tak apa, asal orang baik dan sholeh, kamu nyaman. Kamu boleh menikah dengan siapapun Nak, pulanglah Mawar" Saras menangis lagi. Padahal ia sudah mencoba untuk menahan air matanya supaya tidak turun tapi jebol juga akhirnya. Ruman merangkul pundak Saras dan mengelusnya. Mereka berdua nampak menyesali perbuatanya. Pandangan mereka terus fokus memandangi pintu gerbang dalam rintik hujan yang begitu deras.


Sementara didalam rumah Ndoro Kusuma, lagi-lagi Mawar melakukan hal yang sama, ia menuruni anak tangga yang tiada habisnya bersama dengan Burhan. Tenaga Mawar hampir terkuras habis. Mawar merasa penasaran saat dirinya yang tiba-tiba patuh dan menurut kepada Ndoro Kusuma. Mawar ingat dan merasa bahwa ada hembusan angin halus nan dingin yang masuk kedalam lubang telinganya saat ia mulai patuh dengan Ndoro Kusuma.


"Apa yang harus aku lakukan supaya aku tidak terpengaruh oleh Ndoro Kusuma?" Batin Mawar. Seperti biasa Mawar dan Burhan menghadap Ndoro Kusuma terlebih dahulu. Mawar melirik kesana kemari, mengamati setiap benda dan ukiran yang berada diruangan tersebut setelah itu Mawar kembali berada diruang meja makan yang besar dan seperti hari sebelumnya, Burhan memberikan kode dan semua gadis memakan sepiring bubur, sepiring ayam goreng, dan segelas air minum. Mawar yang tidak ditiupkan sesuatu oleh Ndoro Kusuma, benar-benar merasa mual dengan makanan yang ada dihadapan-nya. "Sebenarnya, apa yang kami makan ini? Rasanya bukan seperti bubur, ayam goreng, maupun air putih pada umumnya" Mawar berkata dalam hatinya kembali. Dan lagi-lagi salah satu bangku dihadapannya kosong. Mungkinkah itu bangku milik gadis yang pada saat itu dicambuk? Entahlah, Mawar bertanya-tanya dalam hatinya. Setelah selesai makan para gadis akhirnya dibawa ke halaman lagi dan bekerja menanam padi lagi.


Mawar tercengang, melihat tanah lapang yang kosong dihadapannya. Bagaimana mungkin sawah yang kemaren baru saja ia tanami, berubah menjadi lumpur yang kosong tanpa satu buahpun tanaman padi muncul disana. Mawar tidak akan bertanya kepada Burhan, dayang, maupun teman disebelahnya. Karena hanya sia-sia saja. Mawar mulai menanam padi lagi seperti kemaren. Sekarang Mawar bisa melihat dengan jelas gadis yang kemaren dicambuk bolak-balik, dan tersenyum kepadanya. Gadis tersebut berada disawah depannya. Sambil menanam padi, Mawar mencuri-curi arah ke gadis tersebut. Mawar bergidik ngeri, saat melihat bagian kulit kepala gadis itu ada yang botak. Mawar bertanya lagi dalam hatinya, "Mungkinkah dia gadis yang menjerit kemaren? Jika memang benar, kesalahan apa yang dibuat gadis itu, sehingga bagian kepalanya ada yang botak. Bahkan raut wajahnya terlihat mulai pucat." Mawar merasa prihatin dengan gadis tersebut. Dia tidak mau dirinya mengalami hal yang sama dengan gadis itu.

__ADS_1


Entah berapa lama mereka menanam padi, sepertinya tidak kunjung selesai. Mawar merasakan dahaga dan lapar yang luar biasa, padahal tidak ada terik matahari. Suasananya seperti senja di sore hari namun tak ada sedikitpun cahaya senja yang masuk kedalam halaman tersebut. Mawar melihat gadis tersebut beberapa kali minum air yang menggenang di lumpur. Mawar merasa mual melihatnya. Tapi ada rasa ingin mencobanya juga, saat ingin minum Mawar tidak kuasa dan memuntahkannya lagi. Mawar terus menelan ludahnya sendiri sebanyak mungkin. "Sebaiknya aku tahan saja rasa dahaga ini, setelah pekerjaan ini selesai, nanti pasti diberi makanan dan minuman seperti biasa oleh dayang Ndoro Kusuma" batin Mawar dengan pandanganya yang sudah mulai kabur. Dilihatnya gadis itu menengok kearahnya dan tersenyum menyeringai membuat Mawar terkejut dan pandanganya normal kembali. Siapa sebenarnya gadis itu?


Setelah pulang kerja Marsel ikut pulang kekontrakan Adam untuk menjemput Wulan terlebih dahulu sebelum pergi kerumah Mawar. Tidak lupa Wulan membawa buah tangan untuk kedua orang tua Mawar.


"Bismillah semoga orang tua Mawar ada dirumah yah" kata Wulan sambil membenarkan posisi duduknya dimotor.


"Hujan begini pasti mereka dirumah, apalagi Bapaknya Mawar kan sekarang tidak pernah kekantor semenjak Mawar hilang. Pak Ruman selalu berada disamping istrinya" jawab Marsel sambil membenarkan helmnya.


Mereka bertiga pergi kerumah Mawar dengan memakai mantol. Biarpun tidak teras, tetapi jika basah terkena air hujanpun mereka bisa sakit juga.


Begitu sampai dirumah Mawar, Wulan akan memberi usul kepada orang tua Mawar tentang niatnya yang ingin mencari bantuan kepada seoarang kyai yang berpengalaman dalam hal ghaib. Karena semenjak Adam bercerita kepadanya perasaannya sangat risau dan tidak bisa berhenti memikirkan Mawar.


Sementara disebuah rumah bangunan kuno, ada sepasang suami istri juga yang tengah selesai menunaikan sholat ashar, mereka terus berdo'a untuk anaknya yang entah dimana berada, yang jelas mereka pun tampak sedih dan raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran dan kesedihan yang begitu mendalam.

__ADS_1


Mereka berdua dikenal dengan Umi Fatma dan Abi Ilham. Orang sekitar lebih enak memanggil Umi dan juga Abi, karena Umi dan Abi sendiri yang menjuluki gelar itu untuk anaknya, supaya anak mereka memanggilnya dengan sebutan itu. Mereka berdua tengah duduk diteras sambil memandang langit yang masih saja mendung. Tetangga kanan kirinya tak tampak satupun yang berada di luar.


"Abi, sudah 9 bulan Mira menghilang, tapi sampai sekarang belum ada kabar juga, apa sebaiknya kita berhenti saja untuk mencarinya Bi? Kita cabut juga laporan kita di kantor polisi?" Tanya Umi tertunduk lesu. Rasanya ingin menangis, tapi air matanya sepertinya tak mau keluar lagi, mungkinkah sudah kering karena ia terlalu sering menangis.


"Mi, kita jangan menyerah untuk Mira, kalo Umi bicara seperti itu, maka sudah tak ada harapan lagi untuk Mira kembali Mi, sebaiknya kita terus berharap yang baik-baik saja."


"Tapi harus sampai kapan kita berharap seperti ini Bi, harapan kita seperti sia-sia, Mira tak kunjung ditemukan"


"Mi, jangan lah berputus asa, kita harus sabar, ini ujian untuk kita. Abi tidak akan menyerah untuk Mira Mi, Abi akan terus berdo'a untuk keselamatan Mira, tak apa jika umi sudah pasrah dengan harapan Umi, biar Abi saja yang berharap dan terus berdo'a untuk Mira. Di dunia ini, tak ada yang tak mungkin Mi, jika kita mau berdo'a dan berusaha. Dan Abi percaya dengan do'a dan usaha Abi pasti nanti akan ada hasilnya, entah kapan Alloh akan kabulkan do'a Abi, tapi Abi tetap akan berusaha untuk kepulangan Mira"


Ilham lalu masuk kedalam rumahnya meninggalkan Fatma sendiri diluar yang tampak bersedih kembali menndengar jawaban suaminya.


"Benar ucapanmu Bi, harusnya Umi tidak berhenti berharap. Tapi Umi juga lelah dan takut, kalo usaha kita sama sekali tidak membuahkan hasil. Sedangkan kita sudah banyak mengeluarkan uang untuk pencarian ini." Batin Fatma sambil menatap rintik-rintik hujan, dengan tatapan matanya yang sendu.

__ADS_1


__ADS_2