Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
36. Ratu Ular


__ADS_3

Para pengemudi truk merasa bingung, kenapa mereka malah berhenti di jalan buntu.


Para pengemudi truk saling memandang satu sama lain.


"Aneh, ngapain kita kesini ya! Perahu perahu ini mau diapakan?" tanya salah satu sopir kepada rekannya.


"Kalo kamu tanya itu sama kami, kami pun bingung! Kalo kamu berani, lebih baik tanyakan langsung kepada Pak Ruman!" jawab salah satu sopir.


"Sudah, sudah! Tidak usah berdebat. Kita sudah sampai di sini, otomatis, kita juga akan mengetahui, hal apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, tidak usah banyak bertanya. Kita di sini hanya kerja, tidak usah banyak tingkah!" ucap salah satu sopir ketiga mengingatkan kedua rekannya.


Pak Kyai dan Kang Ridwan memandangi jalan beraspal yang sudah mentok dengan banyak tumbuhan liar, dan pepohonan.


"Apa yang kamu lihat, Kang!" tanya Pak Kyai.


Kang Ridwan tersenyum, "banyak, Kyai, kita bismillah saja. Saya akan mengambil tongkat delima terlebih dahulu."


Kang Ridwan berjalan menuju mobilnya, dan mengambil tongkat tersebut.


"Pak Kyai, apakah benar kita akan membabad semak belukar itu? Itu kan ada pembatasnya, takutnya kalo ...." Ruman belum selesai berkata, dipotong oleh Pak Kyai.


"Iya, memang ada pembatas di sana, Pak Ruman, tapi pembatas itu bukanlah tembok seperti yang kamu lihat. Kita serahkan saja semuanya sama Alloh yah!" ucap Pak Kyai dengan tenang.


Ruman mengangguk, ia menurut saja. Saras memegangi lengan suaminya dengan sangat kencang.


Kang Ridwan kemudian menghampiri Marsel, Adam, Dimas dan Aziz.


"Kalian ambilah masing-masing sabit untuk menebas semak belukar, setelah aba-aba dari saya!" ucap Kang Ridwan.


Mereka berempat mengangguk bersamaan. Kemudian mengambil masing-masing peralatan yang sudah disiapkan oleh Ruman.


Kang Ridwan maju dan seperti meraba semak-semak tersebut. Ia kemudian memejamkan matanya dan berdo'a dengan batinnya. Meminta hajat kepada Sang Khaliq agar dipermudah urusannya.


"Pak Kyai, saat aku berucap Takbir, kau boleh lakukan meditasimu," pesan Kang Ridwan sebelum mulai membabad.


Pak Kyai mengangguk, ia sudah siap posisi dengan tasbihnya, ia membantu do'a untuk pembabadan tersebut.


Para pengemudi truk yang tidak mengerti, menjadi merinding dan terheran-heran dengan apa yang akan dilakukan oleh Kang Ridwan. Namun, mereka memilih untuk diam tidak bertanya, mereka memilih untuk menyaksikan saja, dan maju jika memang tenaga mereka di butuhkan.


"Bismillah, kita mulai sekarang!" ucap Kang Ridwan, tangan kanannya ia gunakan untuk membawa tongkat tersebut, sedangkan tangan kirinya ia memegang sabit dan memimpin di depan, menebas semua semak dan pepohonan yang ada di depannya.

__ADS_1


Kang Ridwan menebas pohon dengan sangat mudah, padahal pohon-pohon yang berukuran sedang maupun besar, hanya bisaa di tebang dengan kapak, atau tidak gergaji mesin. Tapi Kang Ridwan hanya menggunakan sabit saja.


"Kalian berjajar, selaras dengan saya," perintah Kang Ridwan kepada Marsel cs.


Marsel cs, kemudian maju dan menyelaraskan langkah dengan Kang Ridwan.


Mereka juga menebas dengan mudah.


Setelah sampai seperempat, mereka merasakan hawa yang tidak biasa, dingin namun bukan dingin pada umumnya, melainkan hawa yang di ciptakan oleh dunia magis. Bulu kuduk mereka meremang.


Marsel melihat banyak penampakan, hingga ia sedikit ternganga. Keringatnya mulai bercucuran menahan takut. Beberapa kali ia menelan ludahnya sendiri.


"Marsel, jangan kau tatap mereka jika memang kau tak mampu, kau cukup melihat ke depan, menebas semua yang ada di depanmu," teriak Kang Ridwan.


Marsel melirik Kang Ridwan dan mengiyakan perintahnya.


"Baik, Kang!" teriak Marsel.


Marsel merasakan panas di punggungnya, kepalanya sedikit pening, rasanya ia ingin muntah.


"Berhenti sebentar!" teriak Kang Ridwan.


"Mari kita bersila semua, untuk kalian, berdzikir lah, karena kali ini kita akan melawan ratunya. Semoga bisa di nego dengan cara baik-baik!" ucap Kang Ridwan kemudian mulai bersila diikuti yang lainnya.


Meski saling merasakan hal aneh dan ingin sekali banyak bertanya, mereka memilih diam dan menuruti perintah Kang Ridwan.


Marsel cs mulai berdzikir mengucap kalimat-kalimat Alloh. Demikian juga dengan Kang Ridwan.


Ular tersebut kemudian secara perlahan mengulur tubuhnya. Sungguh besar, panjang dan tinggi, jika di lihat dengan mata telanjang, orang tidak akan kuat jika bukan orang-orang tertentu.


"Kenapa kamu mengusik tempat ku, kerajaan ku!" kata Ratu Ular tersebut.


Sebenarnya, sepanjang pembabadan, banyak demit yang mengelilingi mereka, banyak yang ingin mengganggu, namun, dengan tongkat yang dibawa Kang Ridwan, semua demit tersebut minggir tak berani mendekat. Karena jika mereka mendekat, tubuh mereka akan terbakar karena tongkat tersebut.


"Maafkan saya, saya tidak bermaksud mengganggumu, saya hanya ingin membuka jalan, jika kamu mau membantu, bolehkah kau berpindah sebentar!" ucap Kang Ridwan.


Ular tersebut menyeringai, menunjukan taring berbisanya. Ia melirik tongkat delima yang dipegang oleh Kang Ridwan.


Lalu ular tersebut berubah wujud menjadi seorang manusia, dengan busana ala khas ratu dengan mahkota dan selendang yang menjuntai.

__ADS_1


"Aku tau maksud kedatanganmu, dan aku juga tidak berniat untuk menghalangimu. Tapi, kau harus melewatinya sendiri. Aku tak bisa memberikan jalan untukmu!" ucap Ratu Ular.


Ratu Ular tersebut menari dengan lemah gemulai, tatapannya memikat semua orang yang memandang. Tetapi tidak untuk Kang Ridwan.


"Untuk kalian semua boleh buka mata kalian, kecuali kamu, Marsel! Tetap pejamkan matamu," perintah Kang Ridwan.


Marsel merasa penasaran kenapa hanya dia yang tidak boleh membuka mata. Demikian juga dengan yang lainnya. Tetapi, mereka hanya diam, tidak berani bertanya di saat seperti ini.


Ular tersebut tersenyum menawan. Udara semilir menusuk tulang-tulang mereka, kabut halus mulai bermunculan, kemudian tampaklah rawa-rawa di depan mata mereka.


"Allohu Akibar! Allohu Akbar! Allohu Akbar!" Kang Ridwan menyerukan takbir.


Pak Kyai yang masih berdiri memandang jauh ke depan, mendapat signal melalui angin halus yang masuk ke dalam telinganya.


"Allohu Akbar! Allohu Akbar! Allohu Akbar!"


Pak Kyai kemudian bersimpuh, ia bersila dan mulai meditasi.


Sementara Wulan, Saras, Ruman, dan ketiga sopir truk hanya saling memandang tidak mengerti.


"Om, Tante, lebih baik kita ikut berdo'a saja, semoga urusannya berjalan dengan lancar!"


Ruman dan Saras mengangguk bersamaan.


Ular tersebut masih menari-nari dengan lihai. Kang Ridwan kemudian menyuruh Marsel untuk kembali, dan dengan tujuan, untuk membawa perahu-perahu yang sudah di siapkan ke depan Rawa.


"Marsel, tetap pejamkan matamu. Larilah sekencang mungkin, jangan pernah menengok ke belakang, apa yang kamu dengar. Sekalipun itu suara Mawar! Pergilah ke tempat semula, suruh tiga sopir truk tersebut kemari membawa perahu, dan kau tak usah kembali ke sini!" ucap Kang Ridwan.


"Baik, Kang!" jawab Marsel dengan mata masih terpejam.


Sebenarnya, Marsel masih bingung, kenapa ia harus menutup matanya, sedangkan ia harus berlari kembali, apakah dia bisa melihat jalan?


Marsel segera berbalik dan kemudian berlari dengan arah lurus sekencang mungkin.


Adam, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sedangkan Dimas dan Aziz terlihat cuek. Karena mereka sudah biasa melakukan hal tersebut. Bedanya, kali ini bersama Kang Ridwan.


Sepanjang pelarian Marsel, ia banyak mendapat gangguan. Dia merasakan beberapa mahluk menembus tubuhnya. Badannya sekarang merasa panas. Ia berlari lebih kencang kembali. Dia kemudian mendengar suara yang di kenalnya.

__ADS_1


__ADS_2