
Namun, pada saat ingin mengambilnya, kain kafan itu terasa berat. Bahkan, mereka bertiga bekerja sama pun kain kafan itu tidak bisa di ambi.
Nek Jamilah mencium aroma ari-ari tersebut.
"Aroma keharuman dan kebebasan, ari-ariku, aset berhargaku," ucap Nek Jamilah dengan liur yang menetes.
Nek Jamilah berusaha untuk maju, namun dihalangi oleh Pak Ahmad.
Atas perintah Pak Ahmad, kini semua orang sudah bisa diperbolehkan untuk bicara lagi, sehingga tidak menyulitkan mereka untuk berkomunikasi.
"Marsel, Pak Ruman, segera buatkan liang lahat di TPU, untuk penguburan jasad Mada!" seru Pak Ahmad masih menahan Nek Jamilah.
"Baik, Pak!" jawab Marsel.
Marsel dan Ruman kemudian keluar dari dalam lubang, dan mulai membawa peralatan menggalinya.
"Supaya lebih cepat, mintalah bantuan orang lain untuk membantu kalian menggali," ujar Pak Ahmad lagi.
Ruman dan Marsel kemudian berlari keluar rumah menuju pemakaman umum, dan meminta bantuan penggali kubur di sana.
Nek Jamilah berusaha terus untuk menghindari sabetan dari Pak Ahmad. Nek Jamilah mulai mendekat ke arah penggalian. Sementara Mada, masih terkunci di atas tanah.
"Pak, kain kafan ini tidak bisa diangkat!" teriak Bambang yang masih berada di dalam lubang.
"Mawar, kamu masuklah! Bantu Bambang," perintah Pak Ahmad.
"Baik, Pak!" jawab Mawar kemudian berlari dan masuk ke dalam lubang dengan di bantu Bambang.
Pak Ahmad terkena cakaran kuku nek Jamilah. Cakaran tersebut mampu mengoyakan baju kemejanya.
"Bapak!" teriak Bu Ahmad.
"Bantu do'a, Bu!" perintah Pak Ahmad.
Bu Ahmad dan Bu Saras kemudian berdo'a untuk Pak Ahmad.
"Bismillah," ucap Mawar sambil mengangkat kain kafan tersebut.
Kain kafan berhasil diangkat, Mawar dan Bambang saling berpandangan merasa senang.
"Berhasil, Bang!" ucap Mawar.
"Cepat bawa pergi, sebelumnya, kalian bersihkan dulu ari-ari dan tulang-tulang itu. Lalu, ganti kain kafannya. Minta bantuan kepada Pak Kyai, pengurus masjid di daerah sini, War!" teriak Pak Ahmad.
Mendengar perintah Pak Ahmad, Mawar dan Bambang segera keluar dari liang, dan berlari menuju keluar rumah.
Nek Jamilah terbang, dan menyusul Mawar beserta Bambang.
"Ari-ariku, berhasil diambil!" seru Nek Jamilah dengan menyeringai.
__ADS_1
Pak Ahmad kemudian ikut berlari mengejar Nek Jamilah. Karena tidak bisa terbang, Pak Ahmad berlari tergopoh-gopoh. Bu Ahmad dan Bu Saras menyusul Pak Ahmad dari belakang.
Sementara para tetangga yang tengah beraktifitas pagi, turut menyaksikan kejadian itu dengan merinding.
"Ya Alloh, kejadian dulu terulang lagi, cepat tolong mereka!" teriak Wati.
Mawar dan Bambang belum sampai di Masjid, namun sudah dihadang oleh Nek Jamilah. Benar, ari-ari tersebut masih hidup. Kenyal, dan amisnya masih terasa. Mawar mampu merasakannya dan menciumnya.
"Astaghfirulloh, bagaimana ini Mas Bambang?" tanya Mawar ketakutan.
"Aku akan berusaha mencegahnya, kamu berlindung di belakangku,"
Mawar mengangguk dan berdiri di belakang Bambang.
"Serahkan ari-ari itu padaku jika kamu tidak mau mati di tanganku, Mawar!" seru Nek Jamilah.
"Sampai kami mati pun, ari-ari ini tidak akan pernah kamu dapatkan!" seru Bambang tak mau kalah.
"Bedebah!"
Dengan gerakan cepat, Nek Jamilah mencekik leher Bambang dengan kuat. Bambang yang belum siap tidak dapat menghalaunya.
"A a," suara Bambang yang tercekik.
"Mas Bambang!" teriak Mawar dengan perasaan takut dan kaget.
Nek Jamilah mengangkat tubuh Bambang ke atas.
Semua tetangga yang menyaksikan merasa kalang kabut. Mereka tak bisa membantu, hanya bisa menyaksikan.
"Cepat serahkan ari-ari itu, jika kamu masih ingin dia hidup," ucap Nek Jamilah kepada Mawar.
Mawar menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendekap kain kafan tersebut di dadanya.
Bambang sudah tidak dapat menahan rasa tercekat di lehernya. Beruntung, Pak Ahmad segera datang dengan nafas tersengal, ia melempar tasbihnya ke wajah Nek Jamilah.
"Allohu Akbar!" seru Pak Ahmad.
Seblek!
"Aaaaaa!" teriak Nek Jamilah sambil memegangi wajahnya.
Cengkraman tangan Nek Jamilah berhasil terlepas. Bambang jatuh di atas aspal begitu saja. Bambang tak sadarkan diri seketika.
"Cepat tolong Bambang, bawa dia ke rumah sakit!" perintah Pak Ahmad kepada siapa saja orang yang di sana.
Dengan sigap semua orang membantu Bambang. Mawar menangis menyaksikan kejadian ini, ia takut jika Bambang meninggal.
"Sialan! Beraninya kau! Mau mati juga di tanganku rupanya!" seru Nek Jamilah mulai maju menyerang Pak Ahmad.
__ADS_1
"Mawar segera cari Pak Kyai, lakukan apa yang saya perintahkan tadi!" teriak Pak Ahmad.
"I-i-iya, Pak!" jawab Mawar sambil menangis.
Mawar berlari kembali mencari Pak Kyai.
Pak Ahmad kembali bertarung dengan Nek Jamilah. Nek Jamilah berhasil mencekik Pak Ahmad. Namun, dengan sigap, Pak Ahmad mengalungkan tasbihnya di leher Nek Jamilah, sehingga Nek Jamilah kepanasan.
Tubuhnya kelojotan seperti terbakar.
"Panas, panas," teriak Nek Jamilah.
Pak Ahmad kembali berdo'a. Sementara Nek Jamilah mencoba menyentuh tasbih itu untuk membuangnya dari lehernya. Namun, setiap kali tangannya menyentuh, tangannya terbakar. Nek Jamilah kesusahan melepaskan tasbih itu dari lehernya.
Mawar berhasil menemukan Pak Kyai yang tengah berada di masjid.
Tanpa basa basi, Mawar langsung bicara ke intinya untuk mencuci tulang-tulang itu, dan membersihkan ari-ari.
Pak Kyai yang masih belum mengerti dengan kejadian yang dialami Mawar, menurut saja karena melihat Mawar yang menangis dan ketakutan.
"Cepat, Pak Kyai! Saya terburu-buru. Tulang-tualng itu harus segera di kubur, agar ari-ari ini berubah menjadi tanah," ucap Mawar sembari menangis.
"Iya, sabarlah. Saya sudah berusaha dengan cepat! Tunggu, saya akan cari sisa kain kafan di masjid ini," ucap Pak Kyai kemudian beranjak dari toilet untuk mencari lemari marbot.
Alhamdulillah, kain kafan masih ada dua helai di lemari marbot. Pak Kyai segera berlari ke toilet kembali. Ia juga berdo'a ketika membungkus tulang-tulang Mada, dan ari-ari itu.
"Saya akan mensholatkan jasad ini dulu. Sementara, kamu jaga ari-ari ini," ucap Pak Kyai sambil memberikan ari-ari yang sudah terbungkus kain kafan terpisah dengan jasad Mada.
Mawar mengangguk mengerti.
"Kamu tidak perlu takut. Kamu aman di sini. Orang yang mengejarmu tidak akan berani masuk ke rumah Alloh," ucap Pak Kyai kemudian berlalu ke dalam untuk sholat jenazah.
Mawar menunggu dengan harap-harap cemas.
Waktu berputar terasa lama. Pak Kyai kemudian telah selesai sholat dan menggendong jasad Mada yang hanya tinggal tulang itu.
"Kita bawa kemana jasad ini, War?" tanya Pak Kyai.
"Ke pemakaman, Pak Kyai. Di sana sudah ada bapak yang tengah menggali makam untuk jasad ini," jawab Mawar.
"Baiklah, ayo sekarang kita kesana. Agar lebih cepat, kita lewat jalur belakang masjid, ayo!" ucap Pak Kyai.
"Baik, Pak!"
Mawar dan Pak Kyai berjalan dengan langkah cepat menuju pemakaman. Sementara Pak Ahmad masih bertarung dengan Nek Jamilah. Nek Jamilah berhasil melepaskan tasbih itu, meskipun tangannya terbakar.
"Kekuatanmu tidak ada apa-apanya dengan ku," ucap Nek Jamilah kemudian terbang lagi.
Pak Ahmad kewalahan. Tenaganya habis, ia sudah merasa lemas. Pak Ahmad berharap, Mawar sudah sampai di pemakaman dan berhasil memakamkan jasad Mada.
__ADS_1