Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
Bab 14 : Restu


__ADS_3

Marsel, Wulan, dan Adam, kembali menyambangi rumah Mawar, mereka hendak menanyakan kesediaan orang tua Mawar perihal usul Wulan kala itu. Sesampainya dirumah Mawar, Marsel tanpa basa-basi bertanya kepada Ruman dan Saras.


"Maaf Om, Tante, kedatangan kita bertiga kemari, ingin menanyakan kembali, tentang pencarian Mawar melalui orang pintar. Apakah Om, dan Tante setuju dengan usul yang kami berikan?" Tanya Marsel.


"Maaf sebelumnya ya, Nak Marsel, maksud kamu apa? Saya tidak mengerti!" Jawab Saras, sambil menatap Wulan, Adam, dan Ruman secara bergantian. Ruman terlihat membuang wajahnya.


"Loh, apa Om Ruman, belum memberitahu Tante? Soal kedatangan kami waktu itu!" Tanya Marsel kembali kepada Saras.


"Kapan kalian datang kemari? Suami Tante, tidak cerita apapun kepada Tante."


Kini, giliran Wulan, Marsel, dan Adam yang saling bertatapan bergantian. Rupanya, Ruman tidak memberitahu istrinya.


"Om, kenapa Om Ruman, tidak memberitahu Tante Sarah?" Tanya Wulan.


Ruman hanya diam saja. Sebenarnya, Ruman tidak percaya dengan hal-hal seperti itu, makanya, Dia tidak memberitahu istrinya soal usul Wulan yang ingin meminta tolong Pak Kyai.


"Ada apa sih Mas? Kenapa kamu diam saja?" Tanya Saras kepada Ruman. Ruman masih diam.


"Begini Tante, maksud kami bertiga waktu itu, kami, memberi saran untuk mencari Mawar melalui jalur lain, yaitu dengan meminta tolong orang yang ahli pada bidang spiritual. Soalnya, kami merasa janggal dengan sebab hilangnya Mawar, yang tidak kunjung ditemukan itu." Kata Wulan.


"Benar, Tante, Om Ruman bilang, beliau akan mendiskusikannya dengan Tante, dan sesegera mungkin, memberi jawaban. Namun, sudah 3 bulan ini kami tunggu, Om Ruman tidak kunjung menghubungi kami untuk memberi jawaban. Maka dari itu, kami datang kembali kesini." Sambung Adam.


Saras memandang suaminya sebentar yang terlihat menunduk. Ia menatapnya dengan kesal.


"Maaf yah, suami Tante tidak percaya dengan hal ghaib seperti itu. Makanya, sampai kapan pun juga, Dia tidak akan menghubungi kalian. Apalagi memberitahu saya."


"Bu, bukanya Bapak tidak mau memberitahumu, tapi kala itu, kamu kan kondisinya sedang tidak baik. Kamu sering pingsan gara-gara teringat Mawar, makanya, Bapak, belum sempat memberitahu Ibu, eh malah lupa sampai sekarang." Tegas Ruman kepada Saras.


"Ah, kamu alasan saja Mas." Jawab Saras ketus. Saras kemudian bertanya kembali kepada Wulan perihal bantuan orang pintar.


"Nak Wulan, Marsel, Adam, kalo saya sebenarnya setuju saja dengan usul kalian. Kemaren saya juga sempat berpikiran seperti itu, tetapi suami saya yang tidak mau. Kalo menurut kalian ini yang terbaik, silahkan saja. Kalian hubungi orang, yang kalian anggap sanggup untuk mencari Mawar. Saya dukung kalian, dan saya berterima kasih banyak-banyak kepada kalian karena kalian mau bersusah payah membantu kami, untuk mencari Mawar. Kalian begitu peduli kepada Mawar."

__ADS_1


Mendengar jawaban Saras, Marsel Cs merasa sangat gembira.


"Terimakasih Tante, atas kesediaannya," kata Wulan dengan wajah sumringah. Saras menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Ruman kemudian meminta maaf kepada mereka bertiga.


"Saya minta maaf yah karena saya tidak memberi kabar kepada kalian."


"Tidak apa-apa Om, kami memakluminya koq." Jawab Adam.


Mereka terdiam beberapa saat, Hingga Marsel menyampaikan hasil meditasinya kepada Ruman dan Saras.


"Om, Tante, Marsel kemarin mencoba melakukan meditasi, dan alhamdulillah, meditasi Marsel membuahkan hasil. Marsel dapat mendengar suara Mawar,"


"Benarkah yang kamu katakan Sel?" Tanya Saras, diikuti oleh Ruman, yang tampak kaget dengan pengakuan Marsel.


"Iya Om, Tante, saya tidak bohong. Saya dapat mendengar suara Mawar, Dia meminta tolong, katanya, Dia terjebak disini, begitulah hal yang diucapkan Mawar dalam meditasi Marsel."


"Itu artinya, Mawar benar-benar keselong, seperti yang dikatakan Wulan, kala itu Om, Tante." Sambung Adam.


"Keselong? Apa itu Nak Adam!" Tanya Saras penasaran.


"Kalo begitu, kamu lebih baik segera menghubungi kenalan kamu itu Nak Wulan!"


"Kami sedang berusaha Tante, do'akan saja yah, semoga Pak Kyai segera dapat dihubungi."


"Amiin, Tante akan menunggu kabar kalian lagi. Semoga Mawar baik-baik saja. Tante sangat berharap, Mawar bisa kembali dengan selamat. Tante sangat menyesal, maafkan Tante ya nak Marsel, begitu Mawar kembali, Tante akan merestui hubungan kalian. Tante janji." Kata Saras dengan perasaan sedih menatap Marsel, Marsel tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah mendapat ijin dari Saras dan Ruman, mereka bertiga kembali pulang kerumah masing-masing.


Wulan dan Adam telah sampai di kontrakannya. Mereka menghela nafas dan saling tersenyum.


"Akhirnya, orang tua Mawar mau menerima usul kita ya Mas, jika sudah begini, Insya Alloh, akan mudah untuk menghubungi nomor Pak Kyai." Kata Wulan dengan rona bahagianya. Adam ikut bahagia melihat ekspresi Wulan.


"Oh iya, ngomong-ngomong kamu sudah menghubungi nomor Umi Fatma belum? Takutnya beliau menunggu pesanmu, kamu kan sudah berjanji untuk menghubunginya." Kata Adam sambil merebahkan tubuhnya di tikar, kemudian menyalakan televisi.

__ADS_1


"Astaghfirullohal'adzim, aku lupa Mas," jawab Wulan sambil menepuk jidatnya. Wulan segera mengambil ponselnya dan mencari nomor telpon Umi Fatma.


"Nduk, tolong bikinin kopi dulu dong, Mas, pengin kopi."


"Iya Mas," jawab Wulan, kemudian mengurungkan niatnya lagi untuk menghubungi Umi Fatma. Setelah selesai membuat kopi dan memberikannya kepada Adam, Wulan kembali mengambil ponselnya dan segera menelpon nomor Umi Fatma.


"Assalamu'alaikum," jawab Umi Fatma dari seberang sana.


Wulan tersenyum senang karena telponnya langsung tersambung.


"Waalaikumsalam,"


"Maaf ini siapa yah?"


"Ini saya, Wulan, Umi, orang yang Umi temui di mall, apakah Umi ingat?"


"Ya Alloh, tentu saja Umi ingat. Saya menanti kabar dari kamu loh, Nak Wulan."


"Maaf ya Umi, saya baru sempat menghubungi Umi, saya lupa."


"Tidak apa-apa Nak Wulan, yang penting sekarang kita sudah bisa mengobrol lagi, saya merasa sangat senang. Nanti saya save juga nomor kamu ya, Nak Wulan!"


"Silahkan Umi."


Mereka terdiam sesaat didalam telpon. Hingga Umi Fatma kembali bertanya.


"Maaf Nak Wulan, apakah saya bisa tau alamat rumahmu? Saya ingin mengobrol tentang masalah waktu itu, yang pernah saya katakan di mall, saya tidak bisa bertanya lewat telpon. Kalo Nak Wulan, tidak keberatan, saya mempunyai niatan untuk silahturahmi ke rumah Nak Wulan."


"Masya Alloh, dengan senang hati Umi, saya akan mengirimnya lewat pesan ya Umi? Saya akan tunggu kedatangan Umi."


"Terimakasih banyak Nak Wulan, kalo begitu, saya tutup telponya dulu yah, saya mau sholat 'isya."

__ADS_1


"Baiklah Umi, assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam." Jawab Umi Fatma mengakhiri sesi percakapan mereka. Terlihat jelas raut wajah Umi Fatma bahagia dapat mengobrol dengan Wulan. Dia merasa seperti ada harapan baru untuknya.


__ADS_2