Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
Bab 11 : Meditasi


__ADS_3

Wulan dan Adam baru saja menyelesaikan sarapannya ketika Marsel menelpon, Adam merasa penasaran ketika melihat reaksi Wulan yang berubah sangat tegang. "Kenapa sama Marsel, Nduk?" Tanya Adam sambil menyruput jus alpukatnya. Wulan tidak langsung menjawab pertanyaan Adam karena Dia masih bicara dengan Marsel.


"Kamu beneran Sel? Iya nanti aku akan coba lagi yah,,, tadi aku sudah telpon bolak balik tapi gak sambung. Iya Sel, kamu jangan panik, tetep berdo'a aja yah. Aku sama Adam masih di mall, nanti kalo sudah pulang aku langsung kabari kamu. Oke!"


Wulan mengakhiri percakapannya dengan Marsel.


"Ada apa Nduk?" Tanya Adam lagi.


"Marsel, katanya dia abis meditasi, dan alhamdulillah, dia dapet jawaban dari Mawar, Mas. Tapi belum sempat bertanya, Marsel kehilangan fokusnya, jadi... Belum tau Mawar ada dimana sekarang!"


"Memangnya jawaban apa yang diberikan sama Mawar, Nduk?"


Sepertinya Umi Fatma juga mencuri dengar percakapan Wulan dengan Adam.


"Katanya sih, Mawar minta tolong Mas, dia terjebak katanya. Marsel minta aku segera buat hubungin Pak Kyai. Marsel yakin kalo Mawar benar-benar keselong, dan Dia butuh bantuan buat keluar Mas."


"Wah, Mas, koq jadi deg-degan begini ya Nduk, semoga Mawar baik-baik saja ya disana,"


"Amiin. Wulan juga deg-degan Mas. Kita langsung pulang aja ya Mas, Marsel nungguin kita di rumah."


"Waduh Nduk, mendingan belanja dulu, sekalian mumpung ada disini. Biar gak bolak-balik. Langsung beli keperluan buat satu bulan gitu loh."


"Tapi Mas, apa tidak terlalu lama?"


"Nggak, nggak. Yang penting kamu cekatan. Tenangin pikiranmu dulu biar gak grusa grusu. Masalah Mawar kita sudah tau kalo Dia keselong. Yang penting do'a jangan sampai putus."


"Iya Mas,"


Meskipun hati Wulan tidak tenang karena mendengar perkataan Marsel barusan, Dia tetap menuruti perintah Adam. Yah, memang sangat disayangkan juga, jauh-jauh datang ke mall, niat untuk berbelanja, kalo tidak jadi, rugi waktu dan tenaga juga.


Mereka akhirnya sepakat untuk berbelanja terlebih dahulu.


Sepeninggalan Wulan dan Adam, Umi Fatma merasa penasaran dengan cerita yang dibicarakan antara Wulan dan Suaminya. Kira-kira apa yang sebenarnya menimpa Mawar, dalam ceritanya.


Sebelum Wulan dan Adam pergi terlalu jauh, Umi Fatma berniat mengejarnya.


"Abi, Umi mau ke toilet dulu yah!"


"Iya, jangan lama-lama yah!"

__ADS_1


Umi Fatma mengangguk, kemudian segera bergegas mengejar Wulan dan Adam yang sudah berjalan ke arah hypermart. Untung saja Umi Fatma berhasil mengejar mereka.


"Tunggu Mbak, Mas!"


Wulan yang merasa ditarik jilbabnya dari belakang merasa kaget dan langsung menengok kebelakang diikuti oleh Adam.


"Ada apa Bu?" Tanya Wulan.


"Saya minta maaf yah karena tiba-tiba ngejar kaliyan, dan maaf karena jilbabmu saya tarik!" Kata Umi Fatma sambil mengatupkan kedua tanganya. Wulan tersenyum melihat Umi Fatma.


"Nggak papa Bu, kalo boleh tau, Ibu kenapa mengejar kami?"


"Maaf ya Mba, nama saya Fatma, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Umi Fatma. Mbak, saya minta maaf karena tadi saya, diam-diam mendengarkan obrolan kamu dengan Suamimu. Mbak, tolong save nomor saya, ada hal yang ingin saya tanyakan sama Mbak, saya gak bisa ngobrol terlalu lama, takut suami saya nyariin. Mbak, mau kan save nomor saya?"


Umi Fatma tampak gugup dan penuh harap mendengar jawaban Wulan. Wulan yang juga sebenarnya tertarik dengan obrolan Umi Fatma dengan Suaminya, langsung menyetujui Umi Fatma untuk menyimpan nomornya. "Pucuk di cinta, ulam pun tiba." Batin Wulan.


"Oke Bu, saya catat nomor Ibu yah."


"Terimakasih ya Mbak!" Umi Fatma kemudian menyebutkan nomor hapenya.


"Nomornya sudah saya save Bu, in sya Alloh saya akan segera hubungi Ibu,"


"Makasih ya Mbak, saya permisi dulu, assalamu'alaikum."


Adam memperhatikan Wulan yang tampak sangat senang mendapat nomor Umi Fatma. Wulan terus mengembangkan senyumnya, kemudian mereka melanjutkan perjalanannya lagi.


"Ada apa Nduk! Kamu senyum-senyum terus setelah di beri nomornya... Siapa tadi! Umiii,,, Umiiii,,, Fatma?"


"Nanti saja kalo sudah dirumah, Wulan ceritakan ya Mas,"


"Iya, terserah kamu saja. Yang penting kami bahagia." Jawab Adam sambil tersenyum. Wulan membalas senyuman Adam.


Setelah selesai berbelanja, Wulan dan Adam bergegas untuk pulang tanpa mampir ketempat lain. Sesampainya di rumah, Marsel sudah menunggu mereka didepan kontrakannya.


"Maaf Sel, kamu sudah menunggu lama ya?" Tanya Wulan sambil turun dari motornya dan berjalan kearah pintu rumahnya untuk membuka kunci.


"Ayo masuk Sel!" Ajak Adam. Marsel dan Adam kemudian masuk kedalam rumah. Wulan segera membuatkan kopi untuk Marsel dan juga Adam.


"Sel, kamu lebih baik cuci muka dulu sana! Wajahmu terlihat tegang dan kusut." Perintah Adam kepada Marsel, namun Marsel tidak segera menuruti perintah Adam.

__ADS_1


"Dam, sehabis sholat duha, aku mencoba untuk meditasi, seperti yang kamu bilang. Dan alhamdulillah, aku berhasil Dam, namun sayang karena aku terlalu kaget, aku tidak bisa melanjutkan meditasiku." Terang Marsel dengan penuh semangat.


Kemudian Wulan datang sambil membawa nampan yang berisi 2 cangkir kopi.


"Apa yang kamu dengar dari Mawar, Sel?" Tanya Adam kembali.


"Mawar meminta tolong Dam, Dia bilang, Dia terjebak disini. Begitu katanya."


"Tidak salah lagi Sel, Mawar pasti keselong, dan terjebak di suatu tempat." Terang Wulan.


"Iya Lan, aku juga berpikir seperti itu. Bagaimana kalo kalian menemaniku untuk kerumahnya Mawar lagi! Bertemu dengan kedua orang tuanya."


"Boleh Sel, sepertinya orang tua Mawar juga belum ada respon dengan tawaran yang aku usulkan. Mungkin dengan cerita kamu ini, mereka bisa berubah pikiran."


"Semoga saja Lan. Oh iya, ngomong-ngomong, kamu sudah menghubungi nomornya Pak Kyai lagi belum Lan?"


"Nomornya masih belum bisa dihubungi Sel, nanti aku coba lagi yah!"


Marsel mengangguk mendengar jawaban Wulan. Mereka bertiga terdiam sesaat sambil menyruput kopi masing-masing.


"Oh iya Nduk, soal Umi Fatma yang kita temui tadi bagaimana? Kenapa kamu bisa merasa senang dapat nomornya?" Tanya Adam yang teringat kejadian di mall tadi.


"Oh, itu, Umi Fatma sama suaminya sedang bercerita tentang anaknya yang sudah..." Wulan mencoba untuk mengingat-ingat percakapan Umi Fatma dan Suaminya.


"9 bulan atau 6 bulan aku lupa, yang jelas, anaknya hilang sudah lama banget kayaknya. Nah, si Umi Fatmanya ini mencoba memberi saran untuk minta tolong kepada orang pintar, namun Suaminya menolak. Nah, aku tertarik Mas, kisahnya mungkin sama seperti Mawar. Tadinya aku ingin bertanya langsung waktu kita sedang sarapan tadi. Tapi aku ngerasa gak enak Mas, jadi aku urungkan niatku. Syukurlah ternyata beliau mempunyai pikiran yang sama denganku. Sampai-sampai beliau rela mengejar kita."


"Oh begitu, yah semoga saja anaknya Umi Fatma bisa segera ditemukan yah."


"Amiin."


"Emangnya siapa Umi Fatma?" Tanya Marsel yang merasa bingung dengan obrolan sahabatnya itu.


"Orang baru Sel, kita baru aja kenal di mall tadi. Nanti aku coba hubungin nomornya." Terang Wulan.


"Oh begitu. Oh iya, Lan, Dam, kalo misalnya Pak Kyai tak kunjung bisa dihubungi, apa tak masalah jika kita pergi menemui beliau di kediamannya?"


"Sebenarnya tak jadi masalah Sel, tapi ya itu, Beliau jarang dirumah juga, sering bepergian, entah untuk silaturahmi ke rumah teman-temannya, atau untuk mengobati pasien, aku juga kurang paham."


"Lebih baik kita hubungi lewat telpon saja dulu Sel." Sambung Adam.

__ADS_1


"Baiklah kalo begitu. Aku sudah cemas sekali memikirkan Mawar Dam, saat tau jawaban dari Mawar, aku begitu semangat, artinya ada harapan untuk aku bisa bertemu dengannya lagi. Semoga Mawar disana baik-baik saja."


"Amiin, Sel. Yang terpenting kita jangan putus do'a dan harapan." Kata Adam sambil mengusap pundak Marsel.


__ADS_2