Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
Bab 19 : Berjumpa Pocong di Pabrik


__ADS_3

Wulan masih memikirkan pesan Pak Kyai. Dia sampai terbengong-bengong.


Jam menunjukan masih jam delapan pagi. Wulan tidak sabar ingin sekali memberitahu suaminya.


"Perasaanku mendadak gelisah seperti ini, mudah-mudahan, Pak Kyai sanggup menolong, dan Mawar bisa kembali dengan selamat. Amiiinnn." Wulan membasuh kedua wajahnya dengan kedua tangannya.


Mawar tersadar dari pingsannya, rupanya ia sudah berada di dalam kamarnya lagi.


Mawar kemudian beringsut mundur di sudut kamarnya. Ia memandangi sekeliling kamarnya. Ia membayangkan kejadian yang baru saja terjadi padanya. Mawar bergidik ngeri, seluruh tubuhnya gemetar.


"Semoga saja, apa yang aku dan Mira lakukan tidak di ketahui oleh Ndoro Kusuma maupun Burhan. Aku harus tetap berpura-pura, bahwa aku berada di dalam pengaruh Ndoro Kusuma."


Mawar berkata sendiri dengan mulut yang bergetar karena masih ketakutan.


Sementara di kamar, Mira. Mira tampak kesakitan, ia merasakan perih di punggungnya. Ia yakin, sabetan yang ia rasakan terasa nyata dan sakit sekali. Mira tampak meringis menahan perih.


Mira kemudian bangun dari tempat tidurnya. Ia merogoh bajunya, dan menyentuh luka yang terasa perih itu. Mira tampak kaget, karena memang punggungnya sedikit basah, mungkin punggungnya terluka dan sedikit berdarah. Mira menangis, bagaimana ia bisa mengobati lukanya? Terlalu banyak luka di dalam tubuhnya. Ia sepertinya tidak sanggup menahan sakit di dalam tubuhnya. Mira menangis sejadi-jadinya.


"Ya Alloh, tolong keluarkan aku dari tempat ini, aku rela, meskipun aku kembali dalam keadaan sudah tak bernyawa, asalkan aku bisa keluar dari dalam tempat ini."


Mira meratapi nasibnya, ia menangis pasrah penuh penyesalan.


Jika diberi kesempatan untuk mengulang kembali, Mira akan menuruti kedua orang tuanya, tanpa melawan.


Seperti merasakan apa yang tengah, Mira rasakan, Umi Fatma bersimpuh di atas sajadahnya, air matanya terus mengalir di tiap lantunan do'a-do'a yang ia panjatkan untuk Mira. Hatinya terasa sesak karena terus menangis. Umi Fatma menumpahkan segala rasa sakitnya dan mengadu kepada Sang Khaliq.


"Ya Alloh, Ya Robbi, dengarkanlah do'a hamba-Mu yang hina ini. Hamba, hanya ingin, anak hamba kembali, biarpun tinggal jasad, tak masalah untuk kami, asalkan kami bisa melihat anak kami kembali. Hamba sudah putus asa dengan penantian panjang ini, Ya Robbi."


Umi Fatma menangis tersedu-sedu. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi untuk berkata-kata.


Setelah beberapa menit merasa tenang, Umi Fatma mengelap air matanya. Ia menajamkan matanya menghadap sajadah. Umi Fatma kemudian duduk bersila, memejamkan kedua matanya dan memfokuskan pikiran dan hatinya. Ia berdzikir melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Pikiranya terus mengingat Alloh, sementara hati kecilnya mulai memanggil nama Mira.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Mira ... Assalamu'alaikum! Mira, Mira, kamu dimana, Nak? Dapatkah kamu mendengar suara Umi? Assalamu'alaikum, Mira." Suara batin, Umi Fatma terdengar nyaring.


Mira yang terisak, mendadak kaget, begitu mendengar suara memanggil namanya, hatinya bahagia mendengar suara yang sudah lama ia rindukan, tangisnya pecah kembali. Ia bersyukur bisa mendengar suara Uminya.


"Wa'alaikumsalam, Umiiii ... Umiiii, Umiii, Mira kangen, Umiii ..." Mira terisak menyebut Umi nya.


Umi Fatma menangis karena suara batinya dapat di dengar oleh anaknya. Untunglah, Umi Fatma masih bisa fokus dengan meditasinya.


"Anak Umi, ada dimana? Pulanglah, Nak, Umi dan Abi merindukanmu," tanya batin, Umi Fatma.


"Umiiii, tolong, Mira, Umiii, Mira tidak bisa keluar dari sini. Mira terjebak, Umi, Mira sudah tidak kuat disini, Umi tolong, Miraaa ..." Mira menangis pilu, hingga terdengar jelas di telinga Umi Fatma, seketika meditasi Umi Fatma buyar. Umi Fatma kembali menangis, ia tersungkur di atas sajadahnya, sambil memukuli lantai yang beralaskan sajadahnya, Umi Fatma menangis dengan keras sambil menyebut nama anaknya.


"Miraaaaaa,,, ya Alloh, tolonglah, Miraaaa, tolong selamatkan Mira, dia anak satu-satunya yang Engkau titipkan kepadaku. Selama sepuluh tahun, aku menanti kedatanganya, kenapa sekarang aku harus menanti kembali, Ya Alloh! Kembalikan, Mira padaku, Ya Robbi..."


Umi Fatma terus menangis tanpa henti.


Jam telah menunjukan pukul empat sore. Anak pabrik waktunya pulang, Namun, sayang sekali, Adam dan Marsel kejatah lembur, mereka tidak bisa pulang lebih awal, padahal, mereka sudah berencana untuk pergi ke rumah Mawar setelah pulang kerja. Adam mencoba menghubungi Wulan, memberitahunya jika dirinya dan Marsel lembur.


Adam mendengarkan suara Wulan dari seberang sana.


"Iya, nanti Mas, tanyakan sama, Marsel, kamu kirimkan saja nomor platnya. Iya, iya, ya sudah ya, kamu hati-hati di rumah. Mas juga mau sholat ashar dulu, iya, iya, assalamu'alaikum."


Adam menutup teleponnya, kemudian memasukannya ke dalam saku celananya.


"Ada apa, Dam?" tanya Marsel, sambil makan roti.


"Mau tanya nomor plat motor, Mawar, Sel. Wulan di beritahu sama Pak Kyai. Tapi nanti sajalah, mari kita sholat ashar dulu."


Adam mengajak Marsel untuk ke mushola, begitu roti dalam tangan Marsel sudah habis,


mereka berdua menunaikan sholat ashar berjamaah. Sepuluh menit kemudian, mereka selesai, dan segera pergi menuju tempat produksi untuk bekerja kembali.

__ADS_1


Marsel berada di mesin A, sedangkan Adam berada di mesin D. Mereka tidak bisa mengobrol karena jarak mereka yang jauh, dan suara bisingnya mesin, saat mencetak komponen-komponen elektronik.


Mereka menguap karena mengantuk.


"Yang sift dua koq, belum pada masuk!" Marsel bergumam sambil mengambil komponen-komponen dari mesin.


Marsel kemudian berbalik memasukan komponen ke dalam tray. Saat berbalik lagi, mesinnya tiba-tiba saja mati. Marsel menggaruk kepalanya.


"Koq mati, perasaan aku tidak mencet tombol stop." Marsel mencoba untuk mengecek mesin tersebut, mesin masih ON, tetapi, mesin tidak produksi. Marsel mengecek kabel-kabel yang tersambung, saat melihat kolong mesin, Marsel kaget hampir saja terpental melihat sosok pocong yang dengan wajah merah penuh darah, matanya melotot hampir keluar, bibirnya lebar melebihi ujung wajahnya. Pocong tersebut tersenyum menyeringai.


"Astaghfirullohal'adzim," Marsel terjerembab ke belakang dan membentur mesin di belakangnya. Pocong tersebut tertawa kemudian menghilang.


Marsel seketika pucat pasi, ingatan wajah pocong tersebut masih jelas di pikirannya. Mesin hidup kembali, Namun, Marsel masih ternganga karena kaget.


Leader Marsel datang karena ada bunyi alarm dari mesin Marsel.


"Ya ampun, rusak dah ini mesin! Marsel, kemana kamu? Ini barang kenapa gak di ambilin?" Teriak leader dengan suara keras.


Adam yang mendengarnya, sesegera menyetop mesin, dan berjalan ke arah mesin Marsel.


"Ada apa, Pak?" tanya Adam.


"Mana temanmu! Si Marsel itu! Mesin dibiarkan menyala, kalo mau ke toilet atau break sebentar, harusnya di matikan, biar gak macet. Satu molding ini mahal, asal kamu tau." Leader tersebut tampak marah.


"Koq, jadi saya yang di marahin." ucap Adam sambil menggaruk kepalanya.


"Lah, kamu ngapain di sini? Kamu lanjutkan kerja sana! Ini belum waktunya pulang,"


"Iya, pak!" Adam hendak kembali ke mesinnya, tapi ia kaget saat mendapati Marsel yang melongo tatapannya kosong, wajahnya pucat, berada di belakang mesin.


"Marsellll!" Adam berteriak sambil menunjuk Marsel. Leader pun mengikuti arah tangan Adam. Mereka berdua tercengang melihat kondisi Marsel, yang badanya terasa dingin di sisi depan, sedangkan di sisi belakang terasa panas.

__ADS_1


__ADS_2