Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
48. Bagaimana Nasib Mamat


__ADS_3

"Di dalam sana, kami tidak tau, malam, maupun siang. Tidak tau jam berapa, tidak tau hari apa. Yang jelas, kami melakukan aktifitas yang sama secara berulang-ulang. Makanan kami pun sama menunya," Mawar bercerita dengan membayangkan hari-hari di sana bersama Mira.


Semua orang mendengarkan cerita Mawar dengan khidmat, tanpa ada yang menyela.


"Kami makan bubur, ayam goreng, dan juga minum segelas air putih. Mulanya, aku tidak tau apa yang sebenarnya aku makan. Sebelum akhirnya, aku bertemu dengan Mira. Mira lah yang memberitahuku jika apa yang aku makan sebenarnya bukan seperti yang aku lihat. Bubur itu tanah yang sudah tercemar, berwarna hitam pekat. Ayam goreng, adalah akar-akar pohon atau serabut kelapa. Sedangkan air yang kami minum, air comberan yang sudah tercemar limbah," ungkap Mawar sambil menahan rasa mualnya.


Semua orang yang mendengar merasa prihatin, dan bergidik. Mereka kemudian fokus mendengarkan cerita Mawar kembali.


"Waktu aku pertama kali bertemu Mira, kondisinya sudah memprihatinkan. Tubuhnya banyak yang luka. Waktu itu, aku dengar suara gadis menjerit. Ternyata gadis yang selalu disiksa itu adalah, Mira. Saat aku bertemu dengannya kembali, kondisinya lebih parah. Sebagian rambutnya rontok. Hilang!" ucap Mawar dengan menutup wajahnya.


Mawar tak kuasa menceritakan kondisi Mira waktu itu. Air matanya tak terasa menetes kembali. Semua orang yang mendengarnya ikut terhanyut. Apalagi Umi dan Abi, selaku orangtua Mira. Mereka sangat terpukul, dan ikut merasakan sakit yang luar biasa.


"Kalo tidak kuat, tidak usah cerita lagi, War. Kubur saja semuanya dalam-dalam. Dan jangan pernah kamu gali lagi," terang Wulan sambil mengelus pundak Mawar.


Mawar mengangguk mendengar kalimat Wulan.


Para tetangga yang mendengarnya masih penasaran, tetapi, Mawar tidak melanjutkan ceritanya lagi, membuat mereka kecewa.


***


Pak Sopir mencoba untuk menahan nafasnya dalam-dalam ketika ia ditarik oleh ombak yang begitu dahsyat. Matanya terpejam kuat dengan bayangan-bayangan antara hidup dan mati. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya. Ia masih berharap akan ada pertolongan dari Sang Khaliq.


Tubuhnya seketika terdorong benda berat. Ia menelan banyak air. Kemudian ia merasakan ada sebuah lilitan menarik tubuhnya. Ia bisa merasakan ada suatu benda yang menariknya, sebelum akhirnya dia tak merasakan sesak di dadanya lagi karena menahan nafas yang terlalu lama.


Entah berapa lamanya ia pingsa, Sang Sopir yang diketahui bernama, Mamat, itu, kemudian mengerjapkan matanya pelan. Matanya silau ketika melihat cahaya lampu yang sangat terang menembus retinanya. Ia melihat langit-langit yang begitu indah, sungguh indah. Kabut-kabut tipis menyelimuti beberapa sudut. Seperti saat ada acara drama musikal dengan latar pemandangan seperti di negeri dongeng, dan asap-asap di sekelilingnya. Seperti itulah gambarannya.


"Apakah aku masih hidup?" batin Mamat mengedipkan matanya beberapa kali.


Mamat meraba seluruh tubuhnya. Tidak ada yang luka dalam tubuhnya. Baju yang ia kenakan juga masih utuh. Mamat kemudian terbangun dari tempat pembaringannya.


Ia tercengang melihat situasi di sekelilingnya.


"Masya Alloh, dimana ini! Indah sekali tempatnya," ucap Mamat dengan perasaan takjub.


"Apakah ini syurga?" tanyanya lagi pada dirinya sendiri.


"Kamu sudah sadar, anak muda?"


Sebuah suara tiba-tiba terdengar, membuat Mamat kaget dan beringsut mundur ketika melihat sosok ayu dengan pakaian seperti Nyi Roro Kidul, menurut Mamat, waktu pernah melihat lukisan Nyi Roro Kidul di sebuah hotel.

__ADS_1


"Kamu si-si-siapa? Nyi-nyi Ro-Ro kidul kah?" tanya Mamat terbata-bata.


Wanita tersebut tersenyum dengan manisnya, membuat Mamat terpesona dan memuji kecantikan wanita yang tengah berdiri di depannya.


"Nyi, cantik sekali! Lebih cantik aslinya, daripada di lukisan," ucap Mamat sok tau.


"Benarkah!" ucap wanita cantik tersebut.


"Iya, Nyi!" jawab Mamat dengan senyuman mengembang di bibirnya.


Wanita cantik tersebut kemudian mendekati Mamat, dan duduk di tepi ranjang.


"Apakah saya masih hidup, Nyi?" tanya Mamat.


"Tentu saja! Karena aku sudah menyelamatkanmu," ucap si Wanita cantik.


"Terimakasih, Nyi," ucap Mamat.


"Apakah kamu lapar?"


"Iya, Nyi! Saya sangat lapar sekali," ucap Mamat terus menatap wajah ayu tersebut.


***


Kedua sopir yang berada di rumah Pak Ruman, merasa bingung, karena teman mereka yang bernama Mamat, masih hilang di sana. Juned, salah satu sopir truk menghampiri Kang Ridwan yang berada di dalam.


Melihat banyak orang, Juned merasa tidak enak jika harus bicara blak-blakan. Tapi, mereka semua juga menyaksikan sendiri hilangnya Mamat saat dicaplok oleh ikan Bayong.


Dengan menguatkan tekad, Juned kemudian memberanikan diri, untuk menagih janji kepada Kang Ridwan, untuk menolong temannya itu.


"Assalamu'alaikum, permisi, Kang!" ucap Juned dengan tangan digosok-gosokan di depan perutnya.


"Wa'alaikumsalam, iya, ada apa, Pak Juned!" jawab Pak Ruman.


"Maaf, Pak! Saya ada perlu dengan, Kang Ridwan, perihal si, Mamat!" terang Juned diiringi senyuman.


"Astagfirulloh!" ucap Kang Ridwan kemudian berdiri dari tempat duduknya.


Pak Kyai yang melihat reaksi Kang Ridwan, kaget dan ikut beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Ada apa, Kang?" tanya Pak Kyai.


"Anu, Kyai! Saya lupa, saat penjemputan, Mawar, ada salah satu sopir yang melanggar larangan. Akhirnya, sopir tersebut di makan sama si penghuni rawa itu," tutur Kang Ridwan dengan sedikit panik.


"Mana ini sudah malam, bagaimana jika ...."


Kang Ridwan tidak melanjutkan kalimatnya lagi, membuat semua orang penasaran.


"Kyai, bisakah kita sekarang menuju pantai Selatan?" ucap Kang Ridwan.


"Baiklah. Aziz, Dimas, kita bersiap-siap ya," perintah Pak Kyai.


Aziz dan Dimas segera melaksanakan perintah dari Pak Kyai.


"Mamat juga karyawan saya. Saya punya tanggung jawab juga untuk dirinya. Bagaimana kalo saya ikut kalian, Kyai!" sambung Ruman menawarkan diri.


"Iya, Kyai, biarkan suami saya untuk ikut bersama kalian. Mamat juga sudah ikut andil dalam penyelamatan, Mawar," sambung Saras.


"Kalo begitu, saya juga ikut yah," terang Adam.


Kang Ridwan dan Pak Kyai saling berpandangan. Pak Kyai kemudian mengangguk tanda setuju.


"Baiklah kalian boleh ikut," jawab Kang Ridwan.


"Mohon maaf, saya tidak bisa ikut ya, saya mau di sini saja, menemani Mawar, dan juga Tante Saras," ucap Marsel yang merasa tidak enak.


"Iya, kamu di sini saja, Sel," jawab Adam diiringi senyuman.


Semua orang sudah memahami perasaan Marsel. Mengingat, Mawar adalah calon istri Marsel, dan mereka sudah berpisah lama.


Wulan sendiri juga tidak ikut dengan mereka. Sementara, Abi Ilham dan Umi Fatma sudah pulang terlebih dahulu, setelah mendengar cerita tentang anaknya yang keselong di rumah Ndoro Kusuma.


Rombongan sudah bersiap untuk pergi menuju pantai Selatan. Tak lupa, Ruman menyuruh Bi Minah untuk menyiapkan bekal makanan dan juga air minum yang banyak untuk berjaga-jaga.


"Hati-hati, semoga lancar yah," teriak Marsel kepada Adam dan rombongan yang lainnya.


Kedua mobil pun pergi meninggalkan kediaman Mawar, menuju pantai Selatan. Mobil pertama ada Pak Kyai, Kang Ridwan, Aziz, dan Dimas.


Mobil kedua ada Ruman, Adam, dan kedua sopir, antara lain, Juned dan Bambang.

__ADS_1


__ADS_2