
Ruman terhenyak ketika Mawar menggoyangkan lengannya.
"Eh iya, kamu bertanya apa, Nak?" tanya Ruman melirik Mawar sekilas.
Mawar sedikit kesal dengan sikap Ruman yang mengacuhkannya tadi.
"Bapak sama bi Minah kenapa sih sebenernya? Aneh! Dukun bayi itu siapa, Pak!" tanya Mawar.
"Dukun bayi itu, orang yang membantu ibumu melahirkan. Tapi sudahlah, jangan dibahas. Ngomong-ngomong, ada kabar dari Marsel, tidak, Nak?" tanya Ruman mengalihkan pembicaraan.
"Belum ada, Pak! Kemaren, Marsel menelpon, tapi Mawar tidak tau," jawab Mawar sambil melihat pemandangan dari kaca mobil.
"Oh, coba nanti kamu tanyakan, mau ke rumah kapan? Bapak dan ibu sudah siap kapan saja,"
"Iya, nanti saja kalo sudah sampai rumah. Hape Mawar juga sudah mati kehabisan batrey," jawab Mawar.
"Iya baiklah," jawab Ruman datar.
Ruman tau, jika Mawar kesal karena tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Ruman merasa, belum tepat waktunya memberitahu masalah itu kepada anaknya.
***
Bambang merasa tidak enak karena tak ada teman untuk mengobrol. Ia menyesap satu batang rokok lagi di teras, sambil menikmati secangkir kopi dan kue kering yang diberikan Bu Saras.
Bambang menantikan kepulangan pak Ruman yang masih dalam perjalanan menjemput Bi Minah.
Saat tengah asyik menikmati sepuntung rokok dan mendengarkan alunan musik dari hapenya, Bambang melihat seorang wanita membuka pagar rumah. Bambang seketika terbangun dari tempat duduknya dan segera menghampiri wanita tersebut.
Bambang perlahan mendekat ke arah wanita itu. Saat berbalik, ternyata wanita itu adalah Mawar.
"Loh, Mbak Mawar toh? Koq sendirian, mbak? Bapak dan bibi mana?" tanya Bambang sambil menggaruk kepalanya.
"Oh, Bapak sama Bibi tadi mampir ke warung. Gak tau mau beli apa. Koq kamu masih di sini?" tanya Mawar kepada Bambang.
Bambang menyesap rokoknya kembali sambil berjalan beriringan dengan Mawar.
"Bapak minta saya buat berjaga di rumah, mbak!" jawab Bambang datar.
Mawar hanya diam sambil terus berjalan. Bambang memperhatikan Mawar dari atas sampai bawah. Pakaian yang dikenakan Mawar serba hitam, bahkan lingkar matanya juga hitam seperti mata panda. Wajahnya sedikit pucat.
Mawar tidak segera masuk, ia memilih duduk di bangku teras. Bambang kemudian ikut duduk di bangku samping meja.
"Mbak Mawar, kenapa tidak langsung masuk dan istirahat saja! Wajah mbak Mawar pucet banget loh, matanya juga hitam. Apa mbak Mawar tidak tidur selama di rumah sakit?" tanya Bambang sambil mengamati Mawar.
__ADS_1
"Benarkah?" ucap Mawar sambil meraba wajahnya sendiri.
Bambang mengangguk.
"Oh, aku hampir tidak tidur setiap hari,"
Bambang mengernyitkan dahinya mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh majikan mudanya. Tiba-tiba saja, hawa dingin mulai terasa disekitarnya.
"Maksud mbak Mawar apa? Masa iya tidak pernah tidur. Memangnya kuat mbak?" tanya Bambang diiringi senyuman.
"Ya tentu saja bisa, setiap malam aku selalu memantau rumah ini," jawab Mawar sambil melihat ke atas.
Bambang merinding mendengar penuturan Mawar. Ia mulai merasa ada yang tidak beres dengan Mawar yang ada di sebelahnya. Bulu kuduk Bambang meremang. Ia meraba tengkuknya dengan tangan kanannya.
Rokok yang masih menyala itu mendadak ia padamkan. Bambang menyruput kopi dalam cangkirnya. Tapi aneh, kopi yang masih panas mendadak dingin seperti es, hingga gigi Bambang sedikit ngilu ketika kopi itu mengenai gigi grahamnya.
"Eh, mbak Mawar mau kopi tidak? Saya buatkan," tanya Bambang yang menahan rasa takut.
"Boleh, tapi jangan dikasih gula ya, saya tidak suka!"
"Memangnya tidak pahit, mbak?" tanya Bambang.
"Mungkin bagimu, kopi tanpa gula itu pahit, tapi bagiku, kopi itu nikmat! Sudah buruan sana buatkan, aku juga sudah haus," ucap Mawar sambil memandang Bambang.
"Yang kentel ya, Bang!" teriak Mawar dari luar.
"Baik, Mbak!" seru Bambang yang baru saja menginjak ruang tamu.
Mawar tersenyum menyeringai. Saras yang kebetulan berada di dapur kaget saat Bambang datang dengan terburu-buru dan mengambil gelas.
Bambang segera mengambil dua sendok kopi dari toples. Hampir saja ia menuangkan gula namun tidak jadi.
Saras menepuk pundak Bambang. "Bang! Kamu kenapa?"
"Eh, ibu! Sejak kapan ibu di sini?" tanya Bambang yang kaget.
"Dari sebelum kamu masuk, saya juga sudah di sini, Bang! Kamu gugup begitu kenapa? Sampai-sampai tidak melihat saya! Terus, itu kopi buat siapa? Buat kamu lagi?" tanya Saras kemudian meminum segelas air putih hangat.
"Ouh, maafkan saya, Bu! Saya tidak lihat ... Ini kopi buat mbak Mawar," ucap Bambang.
"Mawar? Mawar sudah pulang?"
"Sudah, Bu! Ada di teras," jawab Bambang kemudian memasak air sedikit di panci.
__ADS_1
Saras yang merasa penasaran kemudian pergi meninggalkan Bambang yang tengah menunggu air mendidih.
"Sudah pulang? Kenapa malah di luar saja! Mas Ruman juga tidak terdengar suaranya," gumam Saras sambil terus berjalan ke teras dengan membawa segelas air hangat di tangan kanannya.
Saras celingukan dan menggaruk kepalanya.
"Mana? Katanya ada Mawar! Wah, Bambang ngawur saja! Dia pasti tadi ngantuk. Bikin kopi buat dirinya sendiri karena malu, jadi dia bilang untuk Mawar. Dasar bocah itu,"
Saras menggelengkan kepalanya sendiri. Ia kemudian memutuskan untuk istirahat lagi di kamarnya.
Jam sudah menunjukan jam setengah dua belas, tapi Ruman belum kunjung pulang. Padahal dia berangkat jam tujuh malam.
Bambang kembali ke teras sambil membawa secangkir kopi pahit. Ia meletakannya di atas meja.
"Ini mbak, kopinya. Tapi masih panas!" ucap Bambang kemudian duduk kembali di bangku.
Meskipun merasa takut, tapi Bambang masih saja duduk di sana menemani Mawar. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh Bambang. Dia sepertinya ingin mengorek informasi dari Mawar yang duduk di sebelahnya.
"Terimakasih, Bang! Kamu baik sekali. Saya minum sekarang yah!" Mawar meminta ijin kepada Bambang dengan diiringi senyuman.
"Boleh saja mbak, tapi awas panas hlo," Bambang memperingatkan Mawar lagi.
Namun, peringatannya tidak diindahkan. Mawar mengambil cangkir tersebut dan langsung menenggaknya sampai habis.
Bambang lebih merinding dan bergidik ngeri.
Bambang tak bisa membayangkan kopi panas yang langsung masuk ke dalam kerongkongan, masuk ke dalam perut melewati usus-usus yang melingkar di dalam perut. Seperti apa rasanya?
"Segar sekali! Sudah lama aku tidak menikmati kopi," ucap Mawar sambil tersenyum.
"Mbak Mawar haus banget ya? Eh, kuenya sekalian di makan, Mbak! Barangkali Mbak Mawar lapar juga, saya ambilkan makanan,"
"Kopi pahit saja sudah cukup buatku. Tapi kalo kamu punya ayam cemani, boleh di bawa kemari,"
"Wah, kalo itu saya tidak punya mbak. Lagian, saya juga tidak bisa masak," jawab Bambang yang memang sudah merasa kalau orang yang ia sebut dengan Mawar, itu bukanlah Mawar yang asli.
"Lebih enak lagi jika di makan hidup-hidup, Bang!"
"Ah, kalo saya sukanya di masak. Apalagi di bumbu santan. Gurih mbak!" jawab Bambang asal, diringi senyuman.
"Kapan-kapan aku akan mencobanya,"
"Hehehehe!" Bambang tertawa mendengar jawaban Mawar.
__ADS_1
Bambang sudah tau kalo wanita itu mungkin demit. Dari permintaannya saja sudah tak masuk akal. Tapi Bambang malah senang meladeninya. Mungkin karena demit itu grapyak(easy going).