
Bi Minah mengambilkan minyak telon dan memberikannya kepada Wulan, Wulan mencoba untuk membaui Saras dengan minyak tersebut.
"Saya telfon, Bapak apa gimana, Nak Wulan?"
"Em, takut ganggu kerja beliau, Bi, lebih baik, kita tunggu saja sampai, Ibu Saras bangun. Takutnya, Om Ruman nanti malah panik juga, kalo dikabarin."
"Oh begitu, ya sudah, saya ambilkan air hangat dulu, Nak Wulan,"
"Iya, Bi!"
Bi Minah kemudian bergegas menuju ke dapur. Wulan mengipasi Saras, ia juga menempelkan minyak telon tersebut didepan hidung saras.
"Kayaknya, Tante Saras gak tegar orangnya, aku harus lebih berhati-hati dalam menyampaikan berita tentang, Mawar. Supaya beliau tidak kaget."
Wulan berkata dalam hatinya.
Mawar berhasil masuk ke dalam kamar Mira, ia kaget saat mengetahui, Mira masih terbaring di atas ranjang. Wajahnya terlihat pucat, banyak luka di sana sini. Rambutnya semakin jarang. Mawar prihatin melihat kondisi Mira.
"Mir, Mira, Mir, bangun, ini aku, Mawar!" Mawar menggoyang lengan Mira dengan pelan. Ia berbisik di telinga Mira.
"Mira, kamu baik-baik saja kan? Tolong, bangun lah, Mir, aku membutuhkanmu."
__ADS_1
Mawar mulai terisak, saat beberapa kali mencoba membangunkan, Mira, namun tidak berhasil. Mawar menangis bersimpuh di pinggir ranjang Mira. Ia membenamkan wajahnya di lengan Mira.
"Ya Alloh, sembuhkan Mira, berikanlah Mira kekuatan, selamatkan lah kami berdua, Ya Alloh!"
Mawar tidak bisa membendung air matanya. Ia menangis tersedu.
Sementara di sisi lain, Umi Fatma tengah melamun, memandang ke arah jalan, tatapannya kosong. Yang ada dalam pikirannya hanya Mira.
"Ya Alloh, hamba sudah ikhlas jika engkau mengambil, Mira dariku, hamba ikhlas!" kata Umi Fatma dalam hatinya, ia kemudian tersenyum. Namun, air matanya berderai.
Kang Ridwan menghubungi Pak Kyai, kali ini, ia mengobrol lewat sambungan telepon. Bukan bertemu secara langsung.
"Iya, Kang, ada apa! Sepertinya ini sangat penting." tanya Pak Kyai dengan wajah serius.
"Tapi, bukankah tidak mudah untuk mencari makam Raden K itu, Kang! Ndoro Kusuma pasti akan mengejar Mengejar Mawar."
"Itu pasti, tapi jangan takut, prajurit dan panglima Raden K akan membantu, Kyai tenang saja."
"Tapi dimana letak makam, Raden K itu!"
"Itu sangat mudah, karena dimensi di sana sama. Kyai cukup mengarahkan saja, nanti, Mawar akan sampai dengan sendirinya."
__ADS_1
"Baiklah kalo begitu, saya sangat berterimakasih, Kang, karena kamu sudah mau membantu."
"Jangan sungkan, Pak Kyai. Pak Kyai, jangan lupa, sebelum, Pak Kyai mencobanya, Kyai beritahu keluarga Mawar terlebih dahulu, dan bilang kepada mereka untuk menemui jalan yang berada di selatan yang saya beritahu sebelumnya kepada Pak Kyai. Nanti, saya akan bantu bukakan jalan di sana."
"Baik, Kang. Saya sangat berterimakasih, kamu banyak membantuku."
"Iya, Pak Kyai. Oh iya, untuk tongkat delima yang saya bilang itu, kapan mau di ambil?"
"Kalo hanya dengan mengarahkan saja, Mawar bisa kembali, sepertinya saya tidak butuh lagi tongkat itu, Kang!"
Kang ridwan tersenyum tipis. "Kyai, di sana tidaklah mudah, sebelum Mawar berhasil bertemu dengan prajurit dan panglima Raden K, dia akan melewati anak buahnya Ndoro Kusuma terlebih dahulu, apa, Pak Kyai, tidak mau merogo sukmo dan menghabisi anak buahnya terlebih dahulu?" tanya Kang Ridwan mencoba mengingatkan Pak Kyai.
"Astagfirullohal'adzim, kenapa saya tidak kepikiran ya, Kang! Astaghfirulloh, iya, nanti saya akan perintahkan Dimas atau Aziz untuk kesana, Kang! Hari ini juga," kata Pak Kyai sambil mengelus dadanya.
"Baiklah kalo begitu, saya tutup dulu teleponnya ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam,"
Pak Kyai mengakhiri panggilannya. Ia merasa bersalah karena sudah merasa sombong, dengan tidak memerlukan tongkat delima tersebut. Pak Kyai tampak beberapa kali mengucap istighfar.
Kemudian ia memanggil Aziz dan Dimas untuk mengambil tongkat tersebut di rumah Kang Ridwan.
__ADS_1
"Iya, saya minta tolong, yah sama kalian. Nanti, habis duhur, kalian bisa berangkat!"
"Nggeh, Pak Kyai," jawab Aziz dan Dimas bersamaan.