
Di hari berikutnya, Umi Fatma berkunjung ke rumah Wulan, dengan bekal alamat yang Wulan berikan waktu itu.
"Ini kali ya rumahnya," pikir Umi Fatma yang sudah berada di depan teras rumah Wulan. "Oh, rupanya kontrakan, semoga benar ini rumahnya."
Umi Fatma melangkahkan kakinya menuju pintu rumah Wulan, kemudian ia mengetuknya.
"Assalamu'alaikum, assalamu'alaikum."
Umi Fatma menjeda salamnya. Beberapa detik kemudian terdengar jawaban Wulan dari dalam.
"Wa'alaikumsalam," jawab Wulan sambil membuka pintu.
"Eh, Umiii," Wulan tersenyum kemudian menjabat tangan Umi Fatma dan mencium punggung tangannya.
Umi Fatma merasa senang karena itu benar rumah Wulan.
"Saya pikir, saya salah rumah loh, Nak Wulan."
"Maaf, saya habis nyuci piring, silahkan masuk, Umi."
Wulan mempersilahkan Umi Fatma masuk ke dalam dan duduk di sofa yang hanya berjumlah satu, tetapi panjang. Sementara lantainya di alasi dengan tikar.
"Saya buatkan minum dulu ya, Umi."
Wulan kemudian masuk ke dalam dapur, dan membuatkan teh hangat beserta aneka camilan untuk disajikan.
Tak butuh waktu lama bagi Wulan, Wulan segera datang dan menyajikan-nya di meja.
"Silahkan, Umi, di minum dulu," kata Wulan sambil tersenyum.
"Aduh, jadi merepotkan, terima kasih ya?" Kata Umi sambil mengambil tehnya, dan meminumnya sedikit.
"Sama sekali tidak, Umi. Saya malah seneng, Umi Fatma bisa berkunjung ke rumah saya. Sebenarnya bukan rumah sih, melainkan kontrakan. Tapi karena saya sudah lama tinggal disini, jadi, sudah seperti rumah sendiri, hehehehe." Terang Wulan diiringi dengan tawa ringan.
"Ow, lah kamu asli orang mana, Nak Wulan?"
"Saya asli orang K, Umi, ngontrak disini sudah hampir 15 taun lebih lah. Sampai saya menikah. Tapi saya belum diberi momongan sama Sang Kuasa."
"Ooo, sabar ya, Nak Wulan," kata Umi Fatma sambil mengelus-ngelus pundak Wulan. "Jangan berhenti berdo'a kepada Alloh, dan juga ikhtiarnya jangan lupa."
"Iya, Umi. Umi, naik apa kesini?"
__ADS_1
"Saya naik kendaraan umum saja, masuk kesini ya pake ojek yang ada di depan gang." Tutur Umi Fatma.
"Saya tidak mengganggu aktifitas kamu kan?" Tanya Umi lagi.
"Oh, tidak, Um. Saya sudah menyelesaikan pekerjaan rumah saya." Jawab Wulan dengan ramah.
"Syukurlah." Kata Umi Fatma. Kemudian ia menghela nafas panjang, dan mulai bercerita. "Begini, Nak Wulan, sebelum saya menanyakan ceritamu kemaren, tentang Mawar. Saya akan bercerita tentang anak saya, Mira. Anak saya, sudah hilang selama sembilan bulan. Dia tak kunjung pulang ke rumah, bahkan polisi belum juga menemukan jejak, Mira. Saya hampir putus asa, dengan harapan dan do'a-do'a saya, Nak Wulan." Kata Umi Fatma dengan perasaan sedihnya.
Wulan tersentak dengan cerita Umi Fatma. Wulan sudah menduga, jika Mira mungkin keselong, seperti Mawar.
"Umi, kalo boleh tau, Mira hilangnya pada saat jam berapa?"
"Kalo tidak salah, waktu itu, mau masuk sholat ashar, Nak Wulan."
Wulan manggut-manggut mendengar cerita Umi Fatma.
"Waktu itu, dia pergi karena mau saya jodohkan dengan anak teman saya. Ternyata, dia tidak setuju. Dia masih ingin fokus sekolah. Terus pergi dari rumah. Saya sangat bersedih karena Mira anak semata wayang. Saya dan suami, menunggu kelahirannya juga lumayan lama, Nak Wulan. Hampir 10 taun."
"Masya Alloh, perjuangan yang cukup panjang ya, Umi. Semoga, saya juga segera diberikan momongan, setelah penantian panjang." Kata Wulan penuh harap.
"Amiin, makanya, kamu jangan berhenti berdo'a dan berusaha yah."
"Insya Alloh, Umi."
"Umi, Mira sepertinya keselong, sama seperti Mawar." Tegas Wulan.
"Keselong? Maksudmu, Nak?" Tanya Umi Fatma penasaran.
"Keselong itu, orang yang di sesatkan jalannya, sehingga orang tersebut terjebak, dan tidak bisa pulang ke rumah. Kecuali, jika ada orang yang menuntunnya."
"Apa ada cerita seperti yang kamu bicarakan, Nak Wulan?"
"Tentu saja, Umi, kalo tidak ada, mana mungkin saya bisa berkata demikian. Mungkin, Umi tidak percaya dengan apa yang saya katakan karena penampilan, Umi sendiri terlihat seperti Ustadzah, kalo dugaan saya benar!"
"Ah, jangan menilai saya karena hanya melihat penampilan luarnya saja, saya sama seperti kamu, Nak Wulan. Baiklah, ceritakan lebih jelas lagi, apa itu Keselong?"
Wulan tersenyum mendengar penuturan Umi Fatma.
"Seperti yang saya katakan tadi, Umi, bahwa orang yang keselong itu orang yang di sesatkan jalannya. Misal nih, Umi ingin pergi ke rumah saya, arah rumah saya lurus. Kalo, Umi di sesatkan, artinya, Umi berjalan tidak sesuai dengan jalan yang, Umi tuju. Melainkan, Umi berbelok tanpa, Umi Fatma sadari."
Umi Fatma mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Wulan kemudian melanjutkan ceritanya lagi.
__ADS_1
"Umi, sebaiknya jangan berhenti berdo'a untuk keselamatan Mira. Kalo, Umi mau, saya berencana ingin menghubungi Pak Kyai yang berpengalaman dalam bidang spiritual. Beliau suka membantu orang yang hilang. Dan Alhamdulillah, beliau selalu berhasil membawa pulang orang yang hilang tersebut. Meskipun sudah lama. Yang penting tidak sampai 365 hari karena kalo sudah lewat lebih dari itu, orang yang hilang itu tidak akan bisa kembali, jiwa dan raganya akan menetap. Dan menjadi penghuni tetap disana." Tutur Wulan dengan tatapan serius menatap Umi Fatma.
"Saya tiba-tiba merasa deg-degan ketika mendengar ceritamu ini, Nak Wulan. Bagaimana jika, Mira benar-benar keselong? Sekarang sudah 9 bulan. Saya sebenarnya ingin meminta bantuan orang pintar juga. Tetapi, suami saya tidak mengijinkannya. Saya bingung harus bagaimana untuk membujuk suami saya." Kata Umi Fatma menunduk.
"Umi, Pak Kyai, kenalan saudara saya ini, beliau bukan seperti Mbah dukun yang harus pake piranti seperti, kemenyan, obong dupa, pake bunga tujuh rupa, dan sebagainya. Pak Kyai hanya merapalkan ayat-ayat Alloh saja. Dan beliau juga tidak mematok harga. Beliau menerima berapapun nominal yang di berikan oleh pasiennya. Umi, sebaiknya mendiskusikan hal ini terlebih dahulu dengan suami, Umi. Supaya tidak menimbulkan keributan nantinya. Soalnya, jika salah satu diantara, Umi, maupun suami Umi, tidak sejutu, Pak Kyai juga akan sulit di hubungi karena ini kan termasuk bentuk ikhtiar kita juga." Kata Wulan menjelaskan.
"Iya, Nak Wulan, saya sangat berterima kasih dengan saran yang kamu berikan. Semoga, suami saya nanti mau mendengar dan menyetujui keinginan saya ini,"
"Amin, semoga ya, Umi. Insya Alloh, saya akan mendo'akan untuk, Mira juga, Umi." Jawab Wulan sambil tersenyum. "Silahkan sambil di nikmati camilannya, Umi." Kata Wulan lagi sambil menunjuk ke camilan.
"Terimakasih ya, Nak Wulan. Saya bersyukur bisa mengenalmu. Semoga, baik Mawar maupun Mira, mereka segera di temukan dalam kondisi yang baik-baik saja. Tidak kurang suatu apapun."
"Amin, yarobbal'alamin, saya juga berharap demikian, Umi."
Umi Fatma kemudian menikmati camilan yang di sajikan oleh Wulan, sebelum dia kembali pulang ke rumahnya.
Mira tengah berada di kamar Mawar, setelah Ndoro Kusuma dan Burhan pergi meninggalkan kamar Mawar.
"Mir, aku kemaren sudah mencoba lubang itu, aku masuk, dan tiba-tiba berada di belakang panggung. Begitu aku masuk ke dalam hutan, banyak sekali setan yang bergentayangan di sana. Aku tidak kuat, kemudian aku jatuh pingsan. Saat aku terbangun, ternyata aku sudah berada di kamarku. Kenapa bisa begitu, Mir?" Tanya Mawar dengan suara lirihnya.
"Memang seperti itu, War. Jika kita gagal, kita akan otomatis kembali ke kamar kita. Aku juga tidak tau, tapi memang seperti itulah. Bagaimana, apa kamu sudah ada gambaran untuk bisa keluar dari rumah ini?"
"Aku belum ada, Mir. Aku saja masih bingung dengan kondisi rumah ini. Tapi, Mir, aku penasaran dengan sebuah kayu, entah itu pusaka atau apa! Benda itu ada di singgasana, Ndoro Kusuma. Bentuknya separuh Naga dengan mata merah yang menyala. Apakah itu, Mir?"
Mira terdiam sesaat. Dia mencoba mengingat, apakah dirinya pernah melihat benda itu atau tidak.
"Aku tidak terlalu memperhatikan singgasana, Ndoro Kusuma, War. Jika besok aku menghadap, Ndoro Kusuma, aku akan coba untuk melihatnya." Bisik Mira.
"Iya, Mir. Aku penasaran karena bentuk Naga itu hanya separuh badan, separuhnya lagi, badan hingga ekornya, tidak ada di sana. Siapa tau, ada teka-teki di sana yang bisa kita pecahkan, Mir."
"Aku akan cari tau, War. Mawar, sebaiknya, kamu harus lebih hati-hati lagi. Jangan sampai kamu ketahuan oleh, Ndoro Kusuma."
"Aku pasti berhati-hati, Mir."
Mereka terdiam sesaat, kemudian, Mawar kembali bertanya. "Mir, aku masih penasaran dengan, Burhan. Siapa sebenarnya, Burhan, Mir?"
"Dia, ajudan setia, Ndoro Kusuma. Wujudnya genderuwo. Sama persis dengan penjaga gerbang rumah, Ndoro Kusuma. Namun, Burhan lebih menyeramkan daripada itu. Dia bisa berubah menyerupai mahluk lain, tapi terbatas. Tidak seperti, Ndoro Kusuma. Ndoro Kusuma bisa berubah bentuk menjadi yang ia mau, bahkan, ia bisa merubah wujud sepertiku, maupun sepertimu, War."
Mawar tercengang, bagaimana jika nantinya, Ndoro Kusuma merubah wujud menjadi Mira, dan dia tidak tau hal itu.
"Bahaya, Mir, jika sampai hal itu terjadi. Apa yang harus aku lakukan, jika nanti, Ndoro Kusuma melakukan hal itu."
__ADS_1
"Aku tidak tau, War. Tapi, coba kamu baca ayat kursi. Siapa tau, kamu akan melihat sosoknya jika hal demikian terjadi. Jika kamu merasa janggal, kamu jangan banyak bicara dengannya, jika nanti dia menyamar menjadi diriku, atau dia menjadi dirimu. Ataupun yang lain. Batasi percakapan apapun tentang rumah ini. Semoga hal itu tidak terjadi."
Mawar dan Mira saling memandang dengan tatapan sendu. Merasa frustasi dan sedih. Mereka berharap, akan ada keajaiban datang menghampiri mereka.