
Malam menjelang, Pak Ruman tidak seperti biasanya. Ia tiba-tiba berjalan ke halaman belakang. Pak Ruman mengitari pohon mangga dengan mulut komat-kamit. Entah apa yang tengah di lakukan Pak Ruman.
Bu Saras dan Mawar, diam-diam mengikuti Pak Ruman. Mereka mengintip di sela-sela jendela dapur. Meskipun tidak jelas, tapi mereka masih bisa melihat pergerakan Pak Ruman yang bergerak mengelilingi pohon mangga itu.
Pak Ruman juga terlihat menaburkan sesuatu. Entah apa yang tengah ia taburkan.
"Bapak lagi ngapain ya, Bu? Koq tengah malem begini di sana?" tanya Mawar dengan suara lirih.
"Ibu juga tidak tau, tapi sepertinya bapak sedang melakukan ritual," jawab Saras.
"Hah? Ritual? Ritual apa, Bu?"
"Mana ibu tau,"
"Dorrrr"
"Astaghfriullohaladzim," teriak Saras dan Mawar bersamaan.
Bu Saras dan Mawar reflek berbalik dan memegang dadanya yang hampir copot karena Pak Ruman menepuk bahu mereka sambil mengucap "dorrr"
"Hayo, ngapain kalian berdua malem-malem di dapur?" tanya Ruman menyelidik.
"Loh, bapak! Bapak koq ada di sini?" tanya Saras kaget.
Mawar dan Saras sama-sama kagetnya. Mereka tidak percaya jika Pak Ruman ada dua. Kecuali jika yang satunya adalah nek Jamilah.
"Koq balik nanya. Bapak kan nanya itu tadi, kalian ngapain di sini? Ngintipin siapa?" tanya Ruman lagi.
Saras kemudian segera menarik tangan Ruman. Mereka bertiga meninggalkan dapur.
"Mawar, ambil kunci mobil," perintah Saras.
"Baik, Bu!" jawab Mawar bergegas ke kamar ibunya untuk mengambil kunci mobil.
Sementara Saras terus menarik tangan Ruman agar terus mengikutinya.
"Ini ada apa, Bu? Koq kamu narik-narik tangan bapak keras banget. Kita mau kemana?" tanya Ruman tidak mengerti.
Saras membuka pintu rumah tanpa melepaskan genggamannya dari tangan Ruman. Tak berapa lama, Mawar muncul sambil membawa kunci mobil.
"Ini Bu, kuncinya," ucap Mawar.
Saras menerimanya. Dengan wajah serius, Saras membuka pintu depan mobil, dan mendorong Ruman, agar masuk ke dalam.
"Astaghfirulloh, apa yang terjadi sama kamu sih, Bu? Kasar sekali sama, Bapak!" seru Ruman.
__ADS_1
Saras segera menutup pintu mobilnya.
"Mawar, kamu buka gerbanya dulu, setelah itu, kamu ikut masuk ke dalam mobil," ucap Bu Saras.
Mawar menurut, ia segera membuka pagar, Bu Saras menyuruh Ruman untuk segera menyalakan mobil dan keluar dari halaman.
"Tengah malam begini mau kemana, Bu? Kalo gak ada hal penting, bapak ogah," ucap Ruman kesal.
"Bapak nurut saja. Kalo bapak gak nurut, lebih baik bapak ceraikan ibu," ucap Saras mengancam.
"Apa! Kamu gak waras ya, Bu? Anak mau menikah tiba-tiba minta begitu. Istighfar, Bu!" ucap Ruman dengan marah.
"Makanya, bapak turutin apa kemauan ibu sekarang. Cepat nyalakan mobil, dan kita pergi dari rumah ini sekarang juga!"
Bu Saras mengeluarkan jurus andalan dengan meminta cerai. Dengan begitu, Ruman akan menuruti keinginannya. Mawar yang sudah selesai membuka pagar segera berlari ke dalam mobil dan duduk di belakang.
Ruman mau tak mau menuruti istrinya. Ia kemudian menyalakan mesin dan pergi meninggalkan rumahnya.
Mereka berhasil keluar dari rumahnya sendiri.
"Alhamdulillah, bapak akhrinya bisa keluar juga dari rumah. Dari kemaren, bapak selalu sibuk di rumah, berlalu lalang menemui tamu dari pagi hingga sore. Bapak gak pernah mendengarkan perintah ibu,"
"Iya, bapak sibuk banget. Sampai-sampai kami diabaikan," sambung Mawar.
"Iya, kalian sendiri juga sibuk. Bapak bertanya aja kalian acuh. Ya sudah bapak ikut-ikutan acuh," jawab Ruman fokus menyetir.
"Siapa yang memutar balikkan fakta. Memang itu yang bapak rasakan,"
Mereka bertengkar kecil sepanjang perjalanan. Mawar sudah menduga, ada yang salah di penglihatan dan pendengaran bapak. Demikian juga dengan dirinya dan ibunya.
"Sudah-sudah jangan bertengkar, bapak, kita langsung ke rumah Marsel sekarang juga," ucap Mawar.
"Ke rumah Marsel? Untuk apa? Kita pihak wanita, tidak boleh kesana sebelum pernikahan di mulai," terang Ruman kaget.
"Kata siapa gak boleh, yang punya rumah aja ngijinin koq," jawab Saras masih dengan wajah sebalnya.
"Lagian untuk apa bertamu tengah malam begini? Apa tidak mengganggu," ucap Ruman.
"Tidak! Cepat kita kesana saja sekarang!" perintah Saras.
Dengan berat hati, Ruman menuruti Saras dan anaknya. Mereka menuju rumah Marsel. Mawar yang membawa hape, sudah menghubungi Marsel lewat pesan yang ia kirimkan. Untung saja, Marsel belum tidur, jadi, dia bisa memberitahu kedua orang tuanya akan kedatangan calon mertuanya itu.
Mobil pun sudah sampai di depan rumah Marsel. Ruman segera mematikan mesinnya ketika sudah masuk halaman rumah.
"Yakin mau bertamu tengah malam begini?" tanya Ruman lagi.
__ADS_1
"Yakin! Bila perlu kita menginap!" ucap Saras dengan lantang.
"Hush! Ngawur kamu! Nanti kita dan keluarganya Marsel, jadi bahan gunjingan orang, ada-ada saja kamu!" jawab Ruman dengan kesal.
"Lagian kamu ini ngeselin," jawab Saras.
Mawar hanya menggelengkan kepala saat melihat pertengkaran kecil orang tuanya.
Belum sampai menginjakan kaki di teras, Marsel membuka pintu rumahnya karena tadi mendengar suara deru mobil.
"Om, Tante, Mawar, silahkan masuk!" tutur Marsel menyambut kedatangan Pak Ruman.
"Eh, kamu belum tidur, Sel? Maaf ya, malam-malam begini, kami mengganggu kamu dan keluargamu," tutur Pak Ruman.
"Tidak, om. Bapak sama ibu juga sudah menunggu di dalam. Mari silahkan masuk," ucap Marsel kembali.
Ruman mengernyitkan dahi dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ruman tak menyangka jika kedatangan keluarganya sudah diketahui.
"Mohon maaf, Pak Ahmad, saya dan keluarga tidak bermaksud untuk mengganggu sampean. Tapi, istri dan anak saya, ngotot sekali membawa saya kemari," terang Ruman.
"Oh, tidak apa-apa, Pak! Saya justru sangat senang dengan kehadiran bapak di sini," jawab Pak Ahmad.
Dari arah dapur, Bu Ahmad datang sambil membawa nampan berisi minuman untuk disuguhkan kepada besannya itu.
"Aduuuhh, Bu Ahmad, repot-repot," ucap Bu Saras merasa tidak enak.
"Ah, mboten, Bu! Namung toya petak mawon. Monggo diunjuk riyin, mumpung masih anget," ucap Bu Ahmad dengan sopan.
"Nggeh, nggeh, Bu. Matursuwun," jawab Bu Saras seraya tersenyum.
Bu Ahmad kemudian ikut duduk disamping suaminya.
"Maafkan kami, Pak Ahmad, kami baru bisa datang kemari. Susah sekali untuk membawa suami saya keluar kemaren," terang Bu Saras.
"Looh! Kamu memang sudah ada rencana mau bawa, bapak kesini? Pantes aja, ngotot," ucap Ruman yang kaget mendengar penuturan istrinya.
Saras tidak menjawab pertanyaan Ruman. Saras melanjutkan kalimatnya lagi.
"Sebenarnya tadi, saya dan Mawar, melihat suami saya berjalan ke arah belakang. Dia terlihat ...."
"Loh, bapak gak kemana-mana loh, Bu. Justru ibu sama Mawar, ngapain tadi di dapur?" tanya Ruman yang tak terima.
"Bapak diam saja. Lebih baik, ikut nyimak. Bapak kan gak tau kejadian tadi," ucap Saras kesal.
Mawar meremas tangan ibunya agar tidak emosi.
__ADS_1
Ruman menelan ludahnya sambil melirik Saras. Ia kemudian memilih diam dulu sebelum mendengar ketuntasan cerita istrinya itu.