
"Mada, aku sudah di sini, kamu ada dimana?" tanya Bambang sambil celingukan.
Ia merasa heran karena biarpun jam pagi ataupun siang, kondisi belakang rumah pak Ruman tetap gelap tertutup rimbunya pohon mangga yang lumayan tinggi.
"Pohon mangga ini harusnya di tebang saja! Untuk membantu penerangan cahaya matahari," gumam Bambang.
Bambang terlihat ganteng dan manis saat mengenakan batik lengan panjang dan celana bahan. Rambutnya dipotong seperti anak muda pada umumnya.
Bambang masih memanggil Mada. Namun, Mada belum muncul juga. Ternyata eh ternyata, Mada keasyikan memandang Bambang dari atas pohon Mangga. Kakinya berayun seperti anak kecil. Ia tampak malu-malu memandangi Bambang.
"Mada, kamu dimana? Kalo gak muncul, aku mau pergi! Gak enak sama pak Ruman!" ucap Bambang.
Mada kemudian segera menampakan dirinya di depan Bambang secara tiba-tiba. Bambang kaget hingga tubuhnya terjatuh ke belakang.
"Astaghfirulloh," pekik Bambang mengelus dadanya.
"Hihihi, maaf, aku ngagetin kamu ya?" tanya Mada diiringi senyuman.
"Iya, permisi dulu dong kalo mau muncul!" ucap Bambang sambil mengusap baju belakanganya.
"Maaf deh!"
"Ada apa, kenapa kamu memanggilku kesini?" tanya Bambang.
Bi Minah rupa-rupanya mengintip dari sela-sela lobang sirkulasi udara di dapur. Ia memperhatikan Bambang yang tengah mengobrol sendiri.
Saat Bambang terjengkang tadi, Bi Minah sempat tertawa karena tidak ada angin tidak ada hujan, Bambang terjatuh ke belakang dengan lucunya. Padahal sebenarnya, Bambang kaget melihat Mada yang tiba-tiba muncul.
"Ngapain sih, mas Bambang di sana? Ngomong sendirian lagi! Aneh!" gumam Bi Minah masih memperhatikan gerak-gerik Bambang.
"Lagi ngapain, Bi?" tanya Wulan sambil menepuk pundak Bi Minah.
"Astaghfirulloh!" pekik Bi Minah sedikit melompat karena kaget.
"Ih, kenapa, Bi?" tanya Wulan lagi sambil menahan senyumannya.
"Mbak Wulan, bikin saya kaget saja deh! Hampir-hampir jantung saya copot!" terang Bi Minah sambil mengelus dadanya.
"Ada apa? Tante Saras nyuruh ngeluarin snacknya, acaranya udah kelar tuh! Masa makanannya belum keluar!" ucap Wulan sambil tersenyum.
"Eh, benarkah? Perasaan baru saja datang koq sudah selesai saja!" ucap Bi Minah sambil menata Snack dalam piring ke nampan.
"Sebentar gimana? Ini udah hampir setengah jam! Coba lihat jam dinding tuh! Tadi, saya nyampe sini jam delapan loh!" ucap Wulan sambil membantu.
Bi Minah iseng menengok ke arah jam dinding. Eh Busyet! Bi Minah membulatkan matanya. Ternyata sudah jam sepuluh!
"Ada apa, Bi? Kaget lagi?" tanya Wulan menahan senyuman.
__ADS_1
"Bibi ngelamun ya? Sampai-sampai acara selesai gak tau,"
"Lah, perasaan tadi masih ngobrol biasa, mbak! Acara intinya jam berapa tadi?"
"Lah, saya gak lihat jam! Intinya ya dari ngobrol biasa langsung ke serius. Acaranya cuman setengah jam aja! Lama di ngobrol biasanya," terang Wulan sambil membawa nampan keluar.
Bi Minah ikut menyusul Wulan. Setelah dua nampan dihidangkan, Wulan dan Bi Minah kembali masuk ke dapur untuk mengeluarkan Snack lagi.
Bi Minah masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Wulan, padahal ia hanya beberapa detik saja mengintip Bambang, kenapa jamnya berputar sangat cepat?
"Bibi, jangan banyak melamun! Gak baik!"
"Saya gak melamun, mbak! Saya tadi ngintip mas Bambang. Sebentar aja koq, tapi kenapa tiba-tiba waktunya udah jam sepuluh aja! Saya jadi bingung!" terang Bi Minah.
Wulan berhenti sebentar dari aktifitasnya. Ia kemudian melihat ke arah Bi Minah.
"Bambang sudah cukup lama ijin ke toilet, Bi! Lalu, dimana Bambang sekarang?" tanya Wulan penasaran.
"Itu, Mbak! Ada di belakang, ngomong sendiri!" ucap Bi Minah sambil menunjuk ke arah sirkulasi udara.
Wulan memasang wajah serius dan penasaran, ia kemudian berjalan mendekat ke arah sirkulasi tersebut, dan mulai melihat Bambang yang memang benar tengah berbicara sendiri.
Bicaranya terlihat sangat asyik, namun terkadang menunjukan raut wajah khawatir.
Wulan terhanyut dalam pandangannya, hingga tanpa ia sadari, wajah nek Jamilah tiba-tiba muncul di depannya.
"Astaghfirulloh!" pekik Wulan.
Prang! Saura piring pecah di lantai, mengagetkan Bambang. Mada kemudian menghilang begitu saja. Bambang segera berlari ke arah dapur.
Adam, Marsel, dan Mawar segera berlari ke dapur untuk melihat apa yang terjadi. Sementara yang lain memilih untuk tetap duduk dan menanti ada cerita apa di dapur.
"Ada apa, Mabk Wulan?" tanya Bi Minah sambil memegangi tubuh Wulan yang gemetar.
Wulan belum bisa bicara. Bayangan wajah nek Jamilah yang tengah tersenyum memperlihatkan gigi hitam penuh darah itu terus terbayang. Ia benar-benar shock. Sampai-sampai jantungnya hampir melompat dari tempatnya.
"Ada apa, Nduk?" tanya Adam mengambil alih tubuh Wulan dari Bi Minah.
"Mbak Wulan, kenapa?" tanya Mawar.
"Ada apa, Bi?" tanya Marsel.
Bambang melihat sudah ramai di dapur. Ia tak kalah heran, ikut bertanya apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi, Mas? Mbak?" tanya Bambang melihat ke arah mereka semua satu persatu.
Mawar mengambil segelas air putih dan memberikannya kepada Wulan.
__ADS_1
"Minum dulu, mbak!" ucap Mawar.
" Minumlah pelan-pelan!" titah Adam kepada istrinya yang tengah hamil itu.
Wulan kemudian didudukkan di kursi yang berada di dapur. Sementara Bi Minah membersihkan serpihan beling di lantai.
Marsel memunguti Snack yang terhambur, dibantu oleh Bambang.
Wulan mengatur nafasnya. Sementara Bi Minah melanjutkan kembali menyiapkan Snack yang tersisa untuk disajikan kepada tamu, dengan di bantu Bambang.
"Apa yang terjadi, Nduk? Kenapa kamu berkeringat? Seperti ketakutan begitu!" tanya Adam lagi.
Wulan melihat ke arah Bambang, Bambang tersenyum kepadanya. Wulan pun membalas senyumannya.
"Ah, kaget saja, tadi ada kucing lompat!" jawab Wulan bohong.
Bi Minah melirik ke arah Wulan. Ia tau, Wulan tengah berbohong. Bi Minah memahami keadaan yang tengah ramai. Ia kemudian membawa snack keluar dengan di bantu Bambang. Mereka memutuskan untuk ke ruang tamu semua.
"Sebaiknya, aku akan bicarakan tentang hal ini jika acara sudah selesai," batin Wulan.
Mereka kembali duduk di tikar sambil mengobrol.
"Ada apa tadi di dapur? Saya dengar ada suara benda jatuh!" tanya Ruman.
"Anu, Pak! Tadi ada kucing, gak sengaja nyenggol," jawab Mawar mewakili.
"Ah, iya bener, Pak! Mbak Wulan, sampe kaget," sambung Bi Minah.
"Oh, saya pikir ada apa!"
Mereka terdiam sejenak kemudian mulai membahas masalah perkawinan Marsel dan Mawar kembali.
"Oh iya untuk tamu undangan, saya akan mengundang tamu 1.500 saja, Pak Marno," ucap Pak Ruman kepada calon besannya.
Mendengar 1.500 tamu undangan, Mawar membulatkan matanya.
"Pak, gimana kalo hanya teman dan kerabat dekat saja! Mawar gak mau yang mewah-mewah, sederhana saja!" ucap Mawar memberi usul.
"Kamu kan anak satu-satunya, jadi harus serba meriah den mewah, Nak!" balas Ruman.
Kluntang! Kluntang! Kluntang!
Semua orang dikagetkan lagi dengan suara benda berjatuhan di dapur. Semuanya sontak berdiri karena kaget.
Bambang melihat Mada berdiri di jalan arah dapur dengan jubah hitamnya, matanya tajam. Ia tampak beringas memperlihatkan giginya yang runcing dan hitam.
Tentu saja Bambang heran, kenapa Mada bisa berubah kembali. Padahal, tadi dia menggunakan jubah putih, dan terlihat manis. Tapi sekarang terlihat menyeramkan.
__ADS_1