
Bambang terdiam sejenak. Namun, di sela kediamannya, justru suasana tambah mencekam. Ia merutuki Pak Ruman. Kenapa sampai pukul satu belum juga kunjung pulang.
"Ngilang dimana sih, pak Ruman! Teganya saya harus berjaga sendirian bersama demit ini!" gerutu Bambang dengan lirih.
Bambang melirik Mawar yang tengah menatapnya dengan tajam dan senyuman miring. Bambang ikut tersenyum miring juga sambil menggaruk dahinya.
"Mbak, kenapa diam? Ayo kita ngobrol lagi, supaya tidak hening," ucap Bambang.
"Hihihi, apa kamu tidak takut denganku?"
"Ah, mana mungkin saya takut denganmu, Mbak! Wajahmu cantik begitu," ujar Bambang jujur dari dalam hatinya.
"Benarkah?"
"Iya, tentu saja. Wajahmu mirip sekali dengan mbak Mawar. Anak pemilik rumah ini," ucap Bambang.
"Aku juga anak pemilik rumah ini," jawab Mawar palsu dengan tajam.
"Oh iya yah! Lalu, namamu siapa? Kamu bukan Mawar kan?" tanya Bambang dengan kaki gemetar.
Entah apa yang dia pikirkan, bisa-bisanya berkenalan dengan demit yang belum jelas asal usulnya. Mentang-mentang dia jomblo, kurang dengan wanita di dunia ini, demit pun ia embat juga.
"Hihihi, apa kamu sudah sadar dengan diriku? Kenapa kamu tidak memanggilku Mawar lagi!" tanya Mawar dengan menyunggingkan senyum.
Meskipun ia demit, tapi ia tak menunjukan wajah seramnya. Hanya tampang pucat dan mata hitam yang ia tonjolkan. Entahlah, mungkin si demit juga menyukai Bambang.
"Eh, sebenarnya, sebenarnya, aku memanggilmu Mawar karena wajahmu yang mirip. Memangnya siapa dirimu? Kenapa kamu menyerupai Mawar!" tanya Bambang.
Bambang menepuk mulutnya sendiri. Ia ingin sekali mengerem mulutnya itu agar tak lagi bertanya apapun. Tapi, mulutnya itu seperti sepeda yang sedang menuruni jalan terjal dan remnya blong. Badan Bambang juga terasa berat untuk diajak kabur dari sana. Seperti sudah terpatri dengan bangku tersebut.
"Apakah wanita ini menaruh lem di kursi yang aku duduki! Kenapa lengket sekali rasanya, pantatku tak mau diangkat!" ucap Bambang dalam hatinya.
Wanita tersebut terus memandang Bambang dengan tajam.
"Aku tak menyerupai siapapun. Wajahku memang seperti ini. Yang suka menyerupai wajahku adalah nek Jamilah. Dialah yang suka merubah wujud menjadi sesiapa yang ia mau," jawab Wanita tersebut.
Bambang merasa bingung dengan ucapan Mawar palsu itu.
"Nek Jamilah? Siapa lagi dia? Apakah dia nenekmu?" tanya Bambang.
"Bisa dibilang begitu. Tapi dia sebenarnya pemuja setan. Anak buah Ndoro Kusuma, yang telah bebas dari belenggu di rawa selama 22 tahun yang lalu," ucap Mawar palsu.
__ADS_1
Bambang lebih tidak mengerti lagi. Tapi soal nama Ndoro Kusuma, ia pernah curi dengar di sela-sela obrolan Pak Kyai, Kang Ridwan, Marsel, Adam, dan Wulan.
"Ndoro Kusuma siapa?"
"Pemimpin sarang demit. Tapi sekarang dia sudah dimusnahkan oleh orang yang pernah singgah di rumah ini. Salah satu kekuatan Ndoro Kusuma masuk ke dalam tubuh Nek Jamilah saat berada di rawa," terang Mawar dengan tajam dan serius.
Bambang tidak tau kenapa wanita horor ini memberitahunya hal itu. Bukankah itu adalah rahasia yang harus ia tutupi?
Bambang memproduksi keringat lebih banyak dari sebelumnya. Punggungnya terasa sangat panas. Rasanya ia ingin muntah juga. Tapi tercekat di tenggorokan.
"Kenapa, kenapa kamu memberitahuku hal itu! Padahal aku tidak tahu siapa orang yang sudah kamu sebutkan tersebut," tanya Bambang lebih gemetar.
Bambang dan demit sepertinya sudah akrab, sehingga panggilan saya berubah menjadi aku dan kamu.
Wanita itu kemudian bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan dan menunduk menatap wajah Bambang dengan jarak dekat. Hanya sejengkal saja.
Bambang menahan nafas. Bau amis tercium dari wanita tersebut. Bambang ingin rasanya memejamkan mata. Namun, matanya tak mau berkedip biarpun sedetik saja.
Nafas Bambang kian menderu ketika wajah itu semakin mendekat.
"Karena kamu sudah memberiku kopi, hihihihi!"
Bambang terengah-engah. Ia terus mengusap dadanya dengan mulut terus menyebut istighfar.
Bambang dikagetkan lagi oleh bunyi klakson mobil dari pagar. Bambang kemudian segera berlari dan membukanya.
Mobil masuk ke dalam halaman. Lalu turun lah Ruman, Mawar, dan Bi Minah sambil menenteng tas berwarna hitam.
"Bapak, kenapa baru sampai? Sudah malam begini!" tanya Bambang sambil mengusap keringatnya.
Rasa mual dan punggung yang panas berangsur menghilang. Keadaan Bambang sudah mulai normal kembali.
"Gak tau, Bang! Kami tadi berputar-putar terus di jalan. Untung saja BBM nya gak habis," ucap Ruman sambil menghela nafas.
Mereka semua kemudian berjalan untuk masuk ke rumah. Ruman menghentikan langkahnya ketika melihat dua cangkir di atas meja.
"Bang! Kamu ngopi sama siapa? Ibu?" tanya Ruman.
"Ah, bukan Pak! Saya ngopi bersama ...." Bambang menggantung kalimatnya, kemudian melirik Ruman, Mawar, dan Bi Minah bergantian.
Mereka bertiga memandang Bambang dengan niat ingin mendengarkan kelanjutan kalimat Bambang yang menggantung.
__ADS_1
"Ah, tadi saya ngopi lagi, pak! Biar terus melek," jawab Bambang berbohong.
"Oh begitu. Tapi tadi, saya sempat lihat kamu tengah mengobrol loh Bang! Ngobrol sama siapa?" tanya Ruman lagi.
"Oh, anu Pak! Sama itu, sama teman bapak!" jawab Bambang diringi senyuman dan kedipan mata kepada Ruman.
"Mana mungkin ada tamu di jam malam seperti ini. Kalaupun ada, itu bukan manusia, mas Bambang!" ucap Mawar dengan nada wajah cemberut kemudian segera masuk ke dalam di susul Bi Minah.
Bambang merespon dengan senyuman mendengar jawaban Mawar.
"Bang, sebaiknya kamu tidur dulu sana. Kamu pasti ngantuk berat itu," kata Ruman.
"Tadi iya memang ngantuk, Pak! Tapi setelah bertemu dengan wanita yang mirip Mawar, mata saya langsung melek hingga sekarang," jawab Bambang dengan sedikit kesal.
Ruman lalu menarik Bambang untuk segera masuk ke dalam rumah. Dan mengunci pintu rumahnya.
"Ada apa, Pak! Kenapa gugup begitu!" tanya Bambang bingung.
"Sudah, sekarang tidur saja dulu. Kamu boleh cerita besok saja! Saya benar-benar lelah malam ini. Kamu mau tidur sendiri atau dengan saya?" tanya Ruman.
"Kalo bapak tidur sama saya, bagaimana dengan Bu Saras, Pak! Nanti marah lagi," jawab Bambang menahan senyum.
"Kamu ini, ya sudah kamu boleh tidur dimana saja lah. Saya masuk ke kamar dulu yah," ucap Ruman sambil menepuk bahu Bambang.
"Iya, Pak! Selamat istirahat! Semoga bisa tidur nyenyak!" jawab Bambang.
Ruman kemudian berjalan ke arah kamarnya. Sementara Bambang melihat ke seluruh penjuru di ruang tamu untuk memilih tempat yang cocok ia gunakan tidur.
Bambang akhirnya memutuskan untuk rebahan di depan tivi karena matanya masih melek dengan tajam.
Bambang menyalakan tivi dan menonton serial drama horor. Suara-suara yang berasal dari tivi seperti terdengar nyata. Seperti suara cekikikan, eraman, dan deruan nafas yang dapat Bambang rasakan di samping kirinya.
Bambang fokus menonton tivi hingga ia merasa ada seseorang yang menyolek telinganya dari sebelah kiri.
Bambang hanya mengusapnya sekilas kemudian fokus menonton lagi. Hal yang sama dirasakan oleh Bambang lagi. Demikian terus berulang hingga sepuluh kali. Kali sebelasnya, Bambang mulai memberanikan diri untuk menengok ke arah kiri.
Bambang membulatkan matanya dan langsung bangun karena kaget melihat Mawar tersenyum kepadanya. Kali ini, busana yang dipakai Mawar berbeda. Bukan warna hitam lagi. Melainkan warna putih.
Jam menunjukan pukul dua pagi. Bambang mengelus dadanya yang mau copot. Mawar terus tersenyum kepadanya wajahnya tidak lagi pucat.
"Mbak Mawar kenapa ada di sini?" tanya Bambang heran.
__ADS_1