Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
61. Mati Listrik


__ADS_3

Bambang berjaga di rumah Ruman. Sedangkan Ruman pergi ke rumah sakit untuk menjemput Mawar dan Bi Minah. Bi Minah sudah diperbolehkan untuk pulang karena keadaannya sudah membaik.


Mawar sudah selesai beres-beres. Ia sampai lupa kalo ada pesan dari Marsel yang dari kemaren belum sempat ia buka.


Mawar terduduk di tepi brankar bersama Bi Minah. Ia mengamati Bi Minah yang terlihat melamun dan raut wajahnya seperti risau.


"Bibi tidak apa-apa kan?" tanya Mawar sambil menepuk pundak Bi Minah.


"Tidak apa-apa, mbak!" jawab Bi Minah dengan lesu.


"Bi, jangan suka melamun, gak baik!" ucap Mawar menasehati.


"Iya, Mbak! Saya cuman keinget dengan kejadian waktu menimpa saya. Saya takut jika terjadi hal yang sama lagi, mbak!" keluh Bi Minah.


"Seinglah berdo'a Bi, supaya kita dihindarkan dari hal-hal yang tidak baik,"


"Iya mbak Mawar," jawab Bi Minah.


"Kalo begitu, kita tunggu Bapak di lobi aja gimana?"


"Baiklah, mbak!" jawab Bi Minah kemudian turun dari brankar dengan dibantu Mawar.


Mawar menenteng tas jinjing yang berisi pakaian. Mereka menelusuri koridor rumah sakit yang masih tampak sepi.


Hening, sunyi, begitu terasa. Di tambah lagi tidak ada percakapa antara Mawar dan Bi Minah. Lampu yang terpasang tiba-tiba meremang dan mati.


Mawar dan Bi Minah kemudian mengehentikan langkahnya. Mereka saling mengeratkan tubuh dan berpegangan tangan.


"Mati listrik ya, Bi?" tanya Mawar.


"Iya mungkin, Mbak!" jawab Bi Minah.


"Kita jalan pelan-pelan saja ya, Bi!"


"Iya, mbak!"


Mereka kemudian berjalan pelan sambil meraba-raba tembok. Mereka memilih menepi karena takut menabrak orang yang datang dari arah berlawanan.


Bi Minah berjalan lebih dulu di depan sedangkan Mawar mengekor di belakangnya.


Bi Minah menghentikan langkahnya ketika ia merasa telah memegang sebuah tangan yang dingin. Dengan refleks, Bi Minah segera menarik tangannya ke belakang.


"Ada apa, Bi?" tanya Mawar yang kaget karena tangan Bi Minah mengenai wajahnya.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, Mbak! Sebaiknya kita berhenti saja gimana?" ucap Bi Minah.


"Kalo tidak ada apa-apa, lanjut saja, Bi!" perintah Mawar.


"Tunggu sampai listriknya menyala lagi, mbak!" ucap Bi Minah yang mulai merinding.


"Tapi kita tidak tau kapan akan menyala lagi listriknya," ucap Mawar.


Mereka berdua terdiam sejenak dan berdiri mematung di dekat tembok. Tiba-tiba dari ujung koridor ada sebuah cahaya putih. Mereka berdua mengembangkan senyum.


"Lihat, ada orang yang membawa senter, ayo kita juga segera berjalan ke arah orang itu mbak, kita bisa diantarkan sampai lobi," ucap Bi Minah.


"Baiklah Bi, pelan-pelan saja," ucap Mawar.


Mawar sebenarnya merasa sedikit aneh. Seharusnya jika mati listrik, semua orang yang berada di sini gaduh. Karena semua peralatan yang menggunakan daya listrik, pasti akan mati tidak berfungsi. Tapi, dari tadi ia tak dengar suara gaduh. Yang ada hanya sunyi tanpa suara apapun, membuat bulu kuduknya meremang.


Bi Minah dan Mawar segera berlari ke arah orang yang membawa senter tersebut.


"Mba, mati listrik yah? Bisa antar kami ke lobi gak?" tanya Bi Minah kepada orang yang belum terlihat wajahnya tersebut.


Orang yang memegang senter tersebut kemudian mengangkat senter dan menyodorkan ke wajahnya sendiri.


Bi Minah seketika kaget hingga terjingkat ke belakang menimpa tubuh Mawar.


"Ada apa, Bi?" tanya Mawar yang tertabrak tubuh Bi Minah.


"Hihihi!" suara tawa dari orang yang memegang senter.


Tiba-tiba listrik kembali menyala. Semua orang berlalu lalang seperti biasa. Ruman sendiri rupanya sedari tadi mengejar Mawar dan Bi Minah. Hingga ia terlihat marah.


"Mawar, bibi! Ada apa dengan kalian, bertingkah seperti orang aneh! Aku kejar malah berlari, sampai-sampai orang pada ngliatin kalian tau!" ucap Ruman dengan nafas terengah-engah.


Mawar dan Bi Minah tidak mengerti dengan ucapan Ruman. Bi Minah masih ketakutan saat melihat sosok orang yang membawa senter tadi.


"Loh, bapak kapan sampai di sini!" tanya Mawar merasa heran.


"Dari tadi saat kalian keluar kamar! Bapak bertanya kalian diam saja. Malah kalian berlari. Kan aneh!" terang Ruman.


"Tadi mati listrik, Pak! Emangnya bapak gak tau?" tanya Mawar kembali.


"Mati listrik gimana? Orang dari tadi nyala. Kalo mati listrik pasti ribut tuh semua orang," terang Ruman kesal.


Bi Minah dan Mawar saling berpandangan. Ada hal ganjil memang yang baru saja merek berdua alami bersama.

__ADS_1


"Sudah-sudah, koq malah pada bengong, ayo kita pulang sekarang! Sebelum hari gelap lagi," ucap Ruman kemudian mengambil alih tas yang Mawar bawa.


Mawar dan Bi Minah mengekor di belakang Ruman.


Ruman membuka pintu mobil dan meletakan tas Bi Minah sembarang. Mawar duduk di depan menemani Ruman. Mobil mereka segera melaju meninggalkan rumah sakit.


Bi Minah masih terngiang wajah orang di rumah sakit tadi. Ia bergidik ngeri. Ruman tampak memperhatikan Bi Minah lewat spion.


"Bi, bibi sudah sehat kan? Koq keringetan begitu!" tanya Ruman.


Mawar menengok ke belakang sekilas untuk melihat kondisi Bi Minah. Dan benar saja, keringat mbrobol dari tubuh Bi Minah.


"Bibi gak papa kan?" tanya Mawar.


"Pak, tadi di rumah sakit, saya, saya melihat dukun bayi itu!" ucap Bi Minah sambil meremas bajunya sendiri karena takut.


"Benarkah, Bi? Bagaimana dia bisa lepas lagi? Ayah sudah mengurungnya sejak 22 tahun yang lalu," jawab Ruman.


"Dukun bayi? Kalian sedang membicarakan siapa?" tanya Mawar yang tidak paham.


"Memangnya orang yang bibi lihat siapa? Dukun bayi? Dukun bayi siapa, Bi?" tanya Mawar kembali kepada Bi Minah.


Ruman dan Bi Minah tampak terdiam, mereka berkutat dengan pikiran masing-masing.


POV Ruman.


Waktu menjemput Mawar, aku memang melihat wajah nek Jamilah dalam rawa. Aku juga melihat anak perempuan yang sangat mirip dengan Mawar, mungkinkah dia Mada? Saudara kembar Mawar yang telah meninggal? Entahlah, sebenarnya banyak sekali yang ingin aku tanyakan kepada Pak Kyai dan juga Kang Ridwan, tetapi, mereka terlalu tergesa untuk segera pergi dari rumahku. Aku tak enak jika harus mencegah mereka terlalu lama.


Bagaimana mungkin nek Jamilah bisa kembali lagi setelah 22 tahun telah berlalu tanpa jejak.


Aku benar-benar bingung. Di saat hari bahagia akan datang, justru malah bertambah masalah dalam keluargaku.


Apa yang sebenarnya sekarang terjadi di rumahku. Banyak kejadian aneh semenjak kepulangan Mawar. Apakah ini semua ada kaitannya dengan penglihatan ku di rawa?


Ayah, sayang sekali. Kenapa engkau meninggal tanpa memberitahu kami dimana nek Jamilah engkau hukum. Dan dimana penguburan Mada berada bersama dengan ari-ari yang tinggal separuh itu?


Setelah malam pertempuran itu, aku hanya fokus mengurus Saras dan Mawar. Sementara Ayah yang mengurus semua penguburan Mada dan ari-ari tersebut.


Setelah orang-orang pergi dari rumah, Ayah menggendong Mawar dengan raut wajah yang begitu bahagia. Akan tetapi, ia tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri.


Dengan panik, aku segera menghubungi dokter langganan ku kembali untuk ke rumah. Saat di periksa, Ayah ternyata sudah meninggal. Aku tak bisa mengungkapkan betapa hancurnya perasaanku kala teringat kejadian itu.


"Bapak, kenapa malah bapak diam saja! Mawar bertanya, Pak!" seru Mawar sambil mengguncang tubuh Ruman yang asyik melamun.

__ADS_1


__ADS_2