Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
28. Benarkah wanita itu Mawar?


__ADS_3

Mawar yang masih menangis tersedu, merasakan tangan Mira bergerak. ia kemudian mengadah, dan melihat wajah Mira.


"Mir, kamu sadar, Mir!"


Mira membuka matanya perlahan. Ia tersenyum ketika melihat Mawar berada di sampingnya.


"Mawar," ucapnya lirih.


"Mir, kamu gak papa kan? Kamu masih kuat kan?" Mawar berkata sambil mengusap air matanya.


"Aku akan menemanimu mencari jalan keluar, kita akan keluar dari rumah ini bersama."


"Iya, Mir, kita akan segera keluar dari rumah ini, makanya, kamu harus kuat yah!"


Mira tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Mawar, kamu harus lebih hati-hati lagi, Ndoro Kusuma, sudah tau, kalau kamu dan aku, mencoba untuk kabur. Kemaren waktu kita mencoba untuk pergi mencari jalan keluar, yang menangkapmu itu adalah Burhan, dan yang mencambukku itu, juga Burhan." kata Mira dengan suara lirih dan pelan, karena menahan sakit.


"Benarkah, Mir, apakah itu wujud asli, Burhan?"


"Bukan, Burhan mempunyai wujud asli genderuwo, tetapi kepalanya seperti banteng, dia memiliki tanduk, hidungnya berlendir, tubuhnya sangat besar sekali, lebih besar dari yang kamu lihat kemaren."


"Menakutkan sekali, Mir! Aku tidak bisa membayangkannya lagi, seperti apa wajah seram Burhan sesungguhnya."


"Jangan di bayangkan, War, itu hanya akan menambah ketakutanmu, kalo Ndoro Kusuma, ia memang seperti barong, dia juga bisa berubah menjadi manusia setengah Naga. Tapi wujud aslinya, dia hanyalah seorang nenek tua yang menyeramkan, bola matanya hampir keluar, rambutnya putih tergerai, pipinya kempot, giginya bertaring berwarna hitam. Namun, kesaktiannya luar biasa. Makanya, jika nanti kamu mendapati diriku yang tidak seperti biasanya, itu pasti Ndoro Kusuma yang menjelma diriku. Kamu harus lebih hati-hati lagi, War!"


Mendengar penuturan, Mira, Mawar kembali deg-degan, dan merasa takut, melihat pocong saja sudah lemas, apalagi melihat demit seperti kemaren, Mawar butuh kesiapan mental, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Mawar masih sedikit shock saat melihat keadaan Mira, ia juga shock mendengar cerita Mira.


"Marsel, aku menantikanmu untuk berkomunikasi denganku, aku tau, kamu sedang berupaya mencariku, bantulah aku, Sel. Bantu aku dan Mira, aku ingin keluar dari sini, sebelum semuanya terlambat." Mawar berkata dalam hatinya dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Setelah mendapat Tongkat Delima dari Kang Ridwan, Pak Kyai mencoba merogo sukmo lagi. Pak Kyai memfokuskan pikiran dan hatinya untuk mencari keberadaan mawar dia membawa tongkat delima pemberian dari Kang Ridwan. Saat memasuki jalan yang pernah ia temui, dia tidak lagi menemukan ajudan Ndoro Kusuma, tapi hanya dedemit lain yang mengganggunya. Namun, karena tahu Pak Kyai membawa tongkat delima, para demit menyingkir dengan ketakutan. Pak Kyai terus berjalan menuju jalan setapak yang akan mengarah ke dalam rumah Ndoro Kusuma. Tiba-tiba, angin lembut datang, Pak Kyai memicingkan matanya. Tak lama kemudian, angin lembut itu dirasakan semakin besar hembusannya, Pak Kyai lebih berhati-hati lagi. Dedaunan berterbangan, pohon-pohon kecil mulai tumbang. Pak Kyai kemudian menancapkan tongkat delima ke tanah. Ia memejamkan matanya, kemudian duduk bersila dan mulai berdzikir sambil memutar butir-butir tasbihnya secara bergantian.


Suara auman terdengar jelas semakin dekat dengan telinganya, disusul dengan suara tawa menggelegar, mampu merobohkan pohon Pinus yang ada di depan Pak Kyai.


"Hahahaha, huhuahahaha, huhuahahaha,"


Pak Kyai lebih memfokuskan lagi dzikirnya.


"Dasar manusia bodoh, kau pikir, aku tidak bisa sepertimu, merapalkan kalimat-kalimat yang tak mampu membuat diriku goyah. Aku hanya bisa dikalahkan oleh lawan yang sebanding. Bukan dengan manusia kecil sepertimu. Huhuahaha!"


Pak Kyai tidak terpengaruh dengan kalimat yang diucapkan oleh suara tanpa rupa tersebut. Kepulan kabur tipis mengepul ke seluruh penjuru. Kemudian, sosok gadis datang menghampiri Pak Kyai yang masih duduk bersila.


"Pak Kyai, tolong saya, saya ingin keluar dari sini, Pak Kyai!" ucap Mawar dengan sendu.


Pak Kyai mencoba membuka matanya, tetapi dia masih fokus dengan dzikirnya.

__ADS_1


"Apa kau, Mawar?" tanya Pak Kyai.


"Iya, Pak Kyai, saya, Mawar, saya hanya bisa selamat, jika Pak Kyai menyerahkan tongkat delima itu." ucap Mawar sambil menunjuk tongkat di sebelah Pak Kyai. Mendengar ucapan Mawar, Pak Kyai kemudian tersenyum dan memejamkan matanya kembali, ia fokus berdzikir lagi.


__ADS_2