
Mawar hendak beristirahat di dalam kamarnya. Masih jam sembilan pagi, tapi dia merasakan kantuk yang luar biasa.
Mawar bercermin sebentar untuk sekedar menyisir rambutnya. Beberapa detik menyisir, ia merasakan hawa yang sedikit aneh. Ia merasakan ada seseorang yang berdiri di belangakanya. Bulu kuduknya meremang, ia mengusapnya perlahan.
Mawar kemudian menaruh sisirnya di meja. Ia tidak melanjutkannya lagi. Perlahan ia memutar badannya. Begitu berhasil berbalik, tak ada seseorang di sana.
Mawar mengusap lengannya sendiri. Ia merasakan hawa dingin yang tidak biasa. Sayup-sayup lirih, Mawar mendengar sebuah suara serak mengucapkan sebuah kalimat.
"Aku kembali ...."
Mawar merinding, ia kemudian segera berlari dari dalam kamarnya, dan menemui kedua orangtuanya yang tengah berada di ruang tamu.
Orangtua Mawar terlihat heran mendapati anaknya dengan nafas yang tersengal.
"Hosh, hosh, hosh," bunyi nafas Mawar terdengar jelas.
Mawar memegangi kedua lututnya. Padahal jarak antara kamarnya dengan ruang tamu tidak jauh, ia seperti berlari lama.
"Mawar, ada apa, Nak?" tanya Saras kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Ruman masih duduk di sofa sambil memperhatikan sikap Mawar. Saras kemudian mengambil air mineral di dalam kardus, dan memberikannya kepada Mawar.
"Minumlah dulu," ucap Saras kepada Mawar.
Mawar menerimanya, dan langsung menublesnya dengan sedotan. Saras kemudian mengiring Mawar untuk duduk di sofa bersama dirinya.
"Ada apa? Koq kamu kelihatan capek sekali!" tanya Saras.
"Tidak apa-apa, Bu! Mawar hanya melatih otot-otot Mawar, saja. Ngomong-ngomong, apa yang sedang kalian lakukan di sini?" tanya Mawar melirik sebuah buku tulis di meja.
"Kami tengah mencatat, siapa saja nantinya yang akan kami undang, saat acara resepsi mu nanti," jawab Ruman.
"Oh, Mawar, pengin biasa saja, Pak, jangan yang megah-megah," ucap Mawar sambil menggaruk dahinya.
"Kenapa? Kami mampu mengadakan acara yang besar, kamu jangan khawatir, bila perlu, acaranya, akan kami selenggarakan tujuh hari tujuh malam," jawab Ruman mantap.
"Bukan seperti itu, Pak! Tapi, Mawar ingin ...."
Klumprang! Klumprang! Klumprang!
Belum sempat, Mawar menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara gemerontang peralatan di dapur. Ruman, Saras, dan Mawar beranjak dari tempat duduknya.
"Suara apa itu?" tanya Mawar kaget.
"Mungkin, Bi Minah?" jawab Saras.
__ADS_1
"Bi, Bi Minah, suara apa itu, Bi?" seru Ruman dengan nada tinggi.
Tak ada jawaban dari Bi Minah, Ruman kemudian memanggil nama Bi Minah lagi.
"Bi, Bibi! Bi Minah!" teriak Ruman.
"Iya, tuan," suara Bi Minah terdengar jauh.
Bi Minah tergopoh-gopoh, muncul dari pintu utama. Saras, Ruman, dan Mawar membulatkan matanya. Tak di sangka, Bi Minah ternyata muncul dari depan.
"Ada apa, tuan, nyonya?" tanya Bi Minah dengan sopan.
"Bibi habis darimana?" tanya Mawar.
"Oh, saya sedang menyapu halaman depan rumah, Non! Sampahnya masih banyak belum dibakar," jawab Bi Minah.
"Oh ...." Mawar menganggukan kepalanya.
"Bi, coba cek di dapur, apa ada barang-barang yang jatuh di sana, soalnya, tadi, kami dengar suara," perintah Saras dengan sedikit cemas.
"Baik, Nya," jawab Bi Minah.
Bi Minah orang yang plin plan, memanggil majikannya saja suka berubah-ubah, kadang tuan dan nyonya, kadang bapak atau ibu. Kadang memanggil Mawar dengan sebutan, mbak, kadang juga nona. Tapi mereka semua tak menaruh curiga dengan Bi Minah, yang selalu berubah memanggil gelar untuk mereka.
"Siapa sih, yang berantakin ini semua, masa iya, Mbak Mawar," keluh Bi Minah.
Ia berhenti memunguti barang yang jatuh, ketika melihat ada kaki berdiri tepat di hadapannya. Bi Minah mendongakkan kepalanya perlahan, begitu melihat wajah tersebut, Bi Minah langsung terjengkang ke belakang, matanya membulat, mulutnya menganga.
Sosok tersebut tersenyum menyeringai di hadapannya. Bi Minah tidak bisa berkata apa-apa, tenggorokannya tercekat.
"Aku kembali ...." ucap sosok tersebut yang menyerupai Bi Minah.
Sosok tersebut kemudian menghilang begitu saja. Bi Minah bergetar hebat, ia mendadak demam. Seluruh badannya terasa panas.
"Bu, Mawar akan membantu Bi Minah, sepertinya, memang banyak perabotan yang terjatuh," ucap Mawar yang menunggu Bi Minah tak kunjung datang.
"Iya, coba kamu cek dia," ucap Saras.
Saras dan Ruman kembali membahas soal tamu undangan, sedangkan Mawar menuju dapur untuk mengecek Bi Minah.
"Astagfirulloh, Bi Minah!" Mawar ber seru melihat Bi Minah yang tengah meringkuk di bawah dengan menekuk kedua lututnya.
Mawar segera berlari mendekati Bi Minah. Tubuh Bi Minah panas, dan menggigil.
"Bapak, ibu! Tolong ...." teriak Mawar.
__ADS_1
Ruman dan Saras saling berpandangan ketika mendengar teriakan Mawar.
"Ada apa, Bu?" tanya Ruman heran.
Saras dan Ruman kemudian beranjak dari tempat duduknya dan segera berlari ke dapur menghampiri Mawar dan Bi Minah.
Mereka berdua tak kalah terkejut ketika mendapati Bi Minah terbaring di lantai dengan tubuh gemetar.
"Apa yang terjadi, Nak?" tanya Ruman.
"Gak tau, Pak!" jawab Mawar panik.
Ruman kemudian membopong asisten rumah tangganya itu dan membawanya ke kamar Bi Minah di belakang. Ruman membaringkannya di sana.
Mawar menyiapkan kompres, Saras membuatkan teh hangat untuk Bi Minah.
Ruman mengeluarkan hapenya, dan segera menghubungi dokter langganannya.
"Iya, dok, saya tunggu, terimakasih," ucap Ruman mengakhiri percakapannya.
Mawar dan Saras datang bersamaan, Bi Minah lalu di selimuti. Mulutnya menyeracau tak jelas. Badannya terus bergetar.
Mawar kemudian mengusapkan kompres di dahi Bi Minah. Mereka bertiga tampak panik.
"Ya ampun, Bi, bibi kenapa?" tanya Mawar dalam hatinya.
"War, koq Bi Minah bisa seperti itu, apa yang terjadi?" tanya Saras.
"Aku tidak tau, Bu! Begitu masuk dapur, bibi sudah terkapar di lantai," jawab Mawar gugup.
"Terus, itu dapur masih berantakan, siapa yang ngacak-acak, War?" tanya Saras lagi.
"Mana aku tau, Bu!" jawab Mawar sedikit kesal.
"Kita hubungi anaknya saja, Pak! Suruh untuk menjemput Bi Minah," ucap Saras.
"Ya jangan dong, biarkan, Bi Minah di sini saja. Kalo mau ngasih tau anaknya, ya kasih tau saja, biar anaknya kesini, merawat Bi Minah, di sini. Jangan disuruh untuk menjemput. Nanti siapa yang akan beres-beres di rumah kita, kalo tidak ada Bi Minah," jawab Ruman.
"Iya, tapi kalo bibi sakit juga, gak ada yang beres-beres, Pak!" jawab Saras.
"Masalah beres-beres kan bisa kita yang tangani, Bu! Kalo perlu, sewa pengganti dulu, jangan berdebat soal ini lah! Yang terpenting sekarang adalah kesehatan, Bi Minah," Mawar menimpali Ruman dan Saras.
"Nah, benar kata Mawar, Bu! Ya sudah, bapak mau ke depan dulu, siapa tau dokter dah sampai," kata Ruman kemudian berlalu dari kamar Bi Minah.
Ruman kemudian berjalan meninggalkan kamar Bi Minah. Sebelum melangkah ke dapur, Ruman tampak mengamati pohon mangga yang ada di samping Mushola. Meskipun hari sudah terang, tapi pohon mangga itu masih terlihat menyeramkan.
__ADS_1