Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
50. Janggal


__ADS_3

Mamat melangkahkan kakinya mengikuti siluman Bayong tersebut menuju meja yang berisikan banyak sekali makanan enak. Semua yang Mamat mau, sudah tersaji di sana.


Siluman ikan Bayong tersenyum, dan memerintahkan Mamat untuk makan.


Mamat sangat terharu melihat semua makanan itu. Ia ingin sekali membawanya pulang, dan memberikannya kepada anak dan istrinya.


"Silahkan, kamu boleh memakan semua hidangan ini," ucap ikan Bayong.


"Be-benarkah, Nyi?" tanya Mamat terharu.


"Iya, ini semua untukmu, cah bagus, kemarilah dan nikmatilah," perintah Bayong.


Mamat maju, dan menarik bangku. Kemudian ia terduduk dan memandangi aneka makanan tersebut. Bulir-bulir air mata mengendap dalam pelupuknya.


"Kenapa kamu sedih, cah bagus?" tanya Bayong.


"Saya teringat akan anak dan istri saya, Nyi! Kami jarang makan enak," ucap Mamat sambil menghapus air matanya yang menggenang.


"Kamu boleh membungkus semuanya jika kamu mau," ucap Bayong sambil tersenyum.


"Benarkah, Nyi!"


"Iya tapi dengan syarat,"


"Syarat? Syarat apa itu, Nyi?"


"Kamu harus menikah dengan saya,"


"Menikah dengan, Nyai?" tanya Mamat dengan mata membulat.


Mamat mendadak kaget, jantungnya berdebar merasa tak percaya dengan apa yang diutarakan oleh wanita cantik yang kini duduk dihadapannya. Jika dipikir secara logika, laki-laki mana yang tidak tertarik dengan wanita cantik seperti Nyai. Siapapun akan tersihir dengan kemolekan yang Nyai miliki. Tapi hati Mamat tidak demikian. Dalam hatinya, hanya ada gambar anak dan istrinya di rumah.


Mamat merindukan sosok keluarga kecilnya. Dalam hatinya, ia sudah punya niat, jika bayaran nanti, separuh dari uang untuk membayar hutang, ia akan mengajak anak dan istrinya belanja ke Mall, untuk pertama kalinya.


"Tapi, Nyai, sudah punya istri dan juga anak. Tak mungkin saya menikahi, Nyai!" jawab Mamat dengan halus.


Bayong tertawa kecil mendengar penuturan Mamat yang jujur dan terlihat lugu.


"Saya juga tau, kamu sudah punya anak dan istri. Siapa namamu, Cah Bagus?" tanya Bayong menatap Mamat dengan tegas.


Mamat merasa heran, darimana wanita cantik ini mengetahui kalo dirinya sudah punya anak dan istri?


"Mamat, Nyai!" jawab Mamat mantap karena sedikit gugup.


"Mamat, jika kamu menikah dengan saya, keuangan kamu akan membaik, kamu akan jadi orang yang kaya raya, di hargai orang. Kamu bisa melunasi seluruh hutang-hutangmu," terang si Bayong mencoba menggoda Mamat.


Mamat kaget mendengarnya, matanya membulat. Dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang janggal.


"Apakah aku sedang ditawari pesugihan?" tanya Mamat yang langsung dijawab dengan suara gelagak tawa oleh ikan Bayong.

__ADS_1


Mamat menyadari ada maksud tertentu dari ucapan Bayong.


"Antara iya, atau tidak. Bukankah kamu ingin membahagiakan keluargamu?" tanya Bayong dengan wajah serius.


Mamat menunduk, ia mengalihkan pandangannya dari siluman Bayong. Perlahan, bayangan-bayangan kesusahan keluarganya tergambar jelas diingatannya.


***


Rombongan telah sampai di pantai Selatan. Mereka turun dari mobil, dan berkumpul bersama. Kang Ridwan kemudian menanyakan bin bapak dari Mamat kepada Juned.


"Siapa nama bapaknya, Mamat, Jun?"


"Karsim, Kang!" jawab Juned tanpa bertanya yang lain.


Menatap kegelisahan Kang Ridwan, semuanya hanya mampu melihat, menyimak, dan pasang badan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.


"Kyai, binnya Karsim, silahkan meditasi, atau merogo sukmo dulu," ucap Kang Ridwan kepada Pak Kyai.


Pak Kyai segera mengerjakan tugasnya, ia bersila dan memfokuskan hati dan pikirannya.


Kang Ridwan kemudian memerintahkan Bambang dan Juned untuk mencari perahu milik nelayan sekitar pantai tersebut.


"Malam-malam begini mau ngapain, Mas?" tanya pemilik perahu.


"Mau nyari temen, Pak," jawab Bambang.


"Memangnya temennya dimana? Tenggelam?" tanya pemilik perahu tersebut.


"Apa perlu saya panggil tim SAR dan warga, untuk membantu mencari?" tanya pemilik perahu lagi.


"Tidak, Pak! Kebetulan jumlah kami sudah lumayan banyak. Bapak do'akan saja, supaya teman kami segera ditemukan dalam keadaan baik-baik saja," tutur Juned kemudian mengeluarkan uang pecahan seratus ribu untuk menyewa perahu tersebut.


"Oh, iya, iya," jawab pemilik perahu manggut-manggut sambil menerima uang.


***


Sementara, di rumah Mawar, hanya tersisa Marsel, Mawar, Wulan, Saras, dan Bi Minah.


Mereka habis mendengarkan cerita Mawar di rumah Ndoro Kusuma dengan rinci.


Mereka menatap iba dan menangis melihat dan membayangkan kondisi Mawar pada saat itu.


Saras akhirnya mengalihkan pembicaraan supaya tidak ada yang bertanya tentang hal itu lagi, dan mengubur cerita Mawar dan Mira dalam-dalam.


"Oh iya, Nak Marsel, karena Mawar sudah ditemukan, sesuai dengan janji saya dan suami saya. Kalian berdua akan segera kami nikahkan, insya Alloh, kami sudah siap untuk menerima lamaran kamu terhadap Mawar," tutur Saras kepada Marsel.


Marsel dan Mawar saling berpandangan, mereka tersenyum bahagia mendengar restu dari Saras. Wulan ikut senang dan memeluk Mawar dengan erat.


"Ibu serius? Ingin menikahkan kami berdua?" tanya Mawar dengan semangat.

__ADS_1


Saras menganggukan kepalanya, "iya, itu sudah jadi janji ibu dengan bapakmu, sayang. Marsel pria yang baik dan bertanggung jawab. Kami setuju, yang penting kalian bahagia,"


"Terimakasih, Bu," Mawar berangsur ke arah Ibunya dan memeluknya dengan perasaan bahagia.


Marsel mengucap syukur dalam hatinya. Ia terharu mendengar kalimat yang diucapkan oleh Saras. Setelah lama menunggu, akhirnya hubungannya dengan Mawar mendapat restu. Marsel sudah tidak sabar ingin menyanding Mawar dalam kesehariannya.


"Terimakasih, Tante, karena sudah merestui hubungan saya dengan Mawar," ucap Marsel tersenyum bahagia.


Saras mengangguk dan tersenyum. Mereka terdiam sesaat untuk menikmati momen bahagia itu.


Setelah lama terdiam, Wulan membuka suara kembali.


"Semoga, pencarian Pak Mamat berjalan dengan lancar ya," terang Wulan.


"Amin," jawab serempak.


"Kenapa Pak Mamat bisa sampai di lautan, mbak?" tanya Mawar yang tidak tahu.


"Saat menyebrangi rawa, ada larangan, dan Pak Mamat, melanggar pantangan itu, akhirnya, beliau dimakan oleh ikan yang sangat besar, War," ucap Wulan.


Semua orang yang mendengarnya kaget termasuk Marsel.


"Benarkah, Lan? Memangnya, ada kejadian apa saja saat kalian melewati rawa?" tanya Marsel penasaran.


"Banyak, Sel! Lantas, kamu sendiri, kenapa tidak ikut waktu itu?" tanya Wulan kembali.


"Oh, aku memang dilarang Kang Ridwan untuk ikut,"


"Kenapa?" tanya Wulan lagi.


"Aku tidak tau alasannya. Yang jelas, Kang Ridwan menyuruhku untuk terus berlari, tanpa menoleh ke belakang dengan mata yang tertutup. Begitu perintahnya," jawab Marsel.


"Aneh ya, Sel! Terus waktu kamu lari, ada kejadian apa?" tanya Wulan lagi, sedangkan yang lain hanya menyimak.


"Banyak! Aku merasakan jalan yang sangat panjang, terus aku menabrak sesuatu benda, eh, seperti makhluk hidup, berlendir, bau amis, dan menggeliat. Serem pokoknya, aku mau pingsan rasanya. Apalagi tenggorokanku sudah kering, hampir saja aku menyerah, Lan, kalo tak ingat, Mawar," terang Marsel sambil melirik Mawar yang kemudian menunduk karena di lihat oleh Marsel.


"Nah, kalo aku, merasakan jalan yang sangat pelan, dan licin. Tiba-tiba, ada suara Kang Ridwan, beliau bilang, bahwa truk yang kami kendarai, dibawa oleh seekor ular yang sangat besar, makanya licin, dan sangat pelan," ujar Wulan.


"Iya, Nak Wulan, saya juga merasakan, dan mendengar suara Kang Ridwan bicara hal tersebut, saya pikir, hanya saya saja yang dengar," kata Saras menimpali.


"Apalagi, saat menyebrangi rawa, sebenarnya, saya melihat banyak sekali penampakan di sana, tapi saya hanya diam sesuai perintah dari Kang Ridwan, Tante," ucap Wulan.


"Iya, saya juga, Nak Wulan, saya melihat anak saya yang telah men ...." Saras tidak melanjutkan kalimatnya lagi, ia merasa kikuk dan menggaruk tengkuknya.


Yang lain saling berpandangan dan menatap heran.


"Ada apa, Tante? Kenapa tidak dilanjutkan," ucap Wulan menyelidik.


"Iya, maksud ibu apa? Apa ibu melihat Mawar di sana?" tanya Mawar menimpali.

__ADS_1


"Iya, Ibu melihat kamu, Nak! Tatapanmu menyeramkan, ibu sangat takut waktu itu," ucap Saras diiringi senyuman.


Semuanya manggut-manggut mendengar kalimat Saras, namun, Wulan merasakan ada sesuatu yang Saras sembunyikan.


__ADS_2