
Mada menatap Bambang dengan tatapan marah, tidak seperti biasanya. Bambang menelan ludah karena ia juga merasa takut. Bagaimanapun, demit tetaplah demit, tidak akan bisa seperti manusia.
"Kamu kenapa, Mada?" tanya Bambang dalam hatinya.
Mada tidak menjawab pertanyaan Bambang. Mada kemudian menghilang.
"Saya akan coba cek ke belakang, Pak!" ucap Bambang kemudian berdiri dan pergi dari ruang tamu.
"Iya, coba kamu periksa, Bang! Barangkali kucing itu kembali dan mulai mengacak-acak dapur lagi," ucap Ruman.
"Monggo, duduk kembali, Pak, Bu!" ucap Saras kepada para tamu undangan.
Mereka kemudian terduduk kembali. Orang tua Marsel duduk dan saling berpandangan. Mereka seperti menangkap hal lain dari rumah Ruman.
"Bambang pasti tau sesuatu. Aku harus mengikuti dia," ucap Wulan dalam hatinya.
Bambang melihat dapur yang sudah berantakan. Ia membereskan seluruh perabotan ke dalam lemari lagi.
"Mada, kenapa kamu berubah lagi? Apa yang terjadi sama kamu?" tanya Bambang sambil melihat ke seluruh penjuru dapur.
"Mada, kamu dimana?" tanya Bambang lagi setelah sekian lama tidak ada jawaban.
Wulan tiba-tiba datang dari arah belakang dan mengagetkan Bambang.
"Kamu cari siapa, mas Bambang?" tanya Wulan heran.
Bambang dengan cepat berbalik dan tersenyum kepada Wulan.
"Eh, Mbak Wulan! Anu Mbak, saya nyari kucing hitam tadi yang mbak Wulan, lihat!" jawab Bambang asal.
"Loh, emangnya kamu tau, tadi saya abis liat kucing?" tanya Wulan menatap curiga.
"Eh, anu ... Kan tadi mbak Mawar yang bilang, katanya ada kucing!" jawab Bambang kikuk.
Bambang menggaruk dahinya. Wulan sudah tau, Bambang pasti sedang berbohong.
Wulan kemudian maju dan menepuk pundak Bambang.
"Mas Bambang, kalo ada waktu, main ke rumah saya yah! Ada hal yang ingin saya tanyakan. Dan, mas Bambang harus jawab dengan jujur. Ini demi kepentingan bersama, Mas. Saya harap, kamu menyanggupi permintaan saya!" ucap Wulan dengan menekan nadanya.
Bambang terlihat grogi. Ia tetap mengembangkan senyumnya kepada Wulan kemudian mengangguk perlahan.
"Apa tadi, dapur benar berantakan?" tanya Wulan.
"Iya, Mbak! Semua barang terjatuh!" jawab Bambang.
__ADS_1
"Kita kembali ke depan, mas Bambang!" ucap Wulan masih dengan mata selidiknya.
"Eh, iya mbak, mari!" ucap Bambang menyuruh Wulan untuk berjalan lebih dahulu.
Mereka berdua kemudian berjalan keluar untuk bergabung dengan yang lain. Sementara Mada menatap mereka berdua dengan tatapan kebencian.
Mawar dan Ruman tengah berdebat masalah tamu undangan. Mawar menginginkan acara sederhana, sedangkan Ruman, menginginkan hal yang mewah.
"Masa bapak harus mengadakan acara biasa saja! Malu nanti, Nak! Kamu kan tau sendiri, bapak itu siapa! Meskipun gaya kita sederhana, tapi kita orang yang berada," terang Ruman.
Saras beberapa kali menyenggol lengan Ruman karena tidak enak kepada para tamu undangan.
"Sudahlah, Mas! Kita bahas masalah ini nanti saja! Malu, ada besan kita!" bisik Saras di telinga Ruman.
Marsel juga menyenggol lengan Mawar yang kebetulan duduk disampingnya. Karena tak mendapat respon dari Mawar, Marsel kemudian mengambil hape dari saku baju batiknya. Ia mengirim pesan kepada Mawar agar tidak mendebatkan soal tamu undangan lagi. Namun, chat dari Marsel, Mawar abaikan begitu saja.
"Pokonya, Mawar gak mau tamu banyak-banyak, Pak!" ucap Mawar kesal.
"Kalo tidak mau, mas kawin dari Marsel harus satu milyar! Apa kamu sanggup, Nak Marsel?" tanya Ruman kepada Marsel dengan wajah berang.
Semua orang yang mendengarnya kaget dengan permintaan pak Ruman dengan meminta mas kawin yang sangat besar sekali.
"Bapak!" seru Mawar dengan nada tinggi.
"Gimana? Gak sanggup kan? Sudahlah, biar bapak saja yang atur, kamu itu tinggal duduk saja! Yang penting kamu sah, dengan Marsel," ucap Ruman tak kalah kesal.
"War, kamu ingat perjuangan mu meminta restu kepada orang tuamu? Kamu sampai pergi dari rumah dan keselong di rumah Ndoro Kusuma. Lebih baik, kamu turuti saja permintaannya. Daripada kita tak jadi menikah!"
Mawar melirik ke arah Marsel dengan tatapan sedih, namun juga kesal.
Akhirnya, mereka tidak jadi berdebat. Karena hari sudah sangat terik, keluarga Marsel berpamitan untuk pulang terlebih dahulu bersama rombongan yang lain.
Sementara Wulan, Adam dan Marsel, masih berada di rumah Mawar.
Tanggal pernikahan Mawar dan Marsel sudah ditetapkan yaitu pada akhir bulan nanti. Mawar, Wulan, dan Adam duduk di teras sambil bercengkerama.
Marsel yang merasa lapar tanpa segan meminta makanan kepada calon istrinya itu.
"Hehehe, maaf ya, War! Aku lapar soalnya," ucap Marsel.
"Gak papa, ini kan emang udah waktunya makan siang!" jawab Mawar kemudian masuk ke dalam untuk mengambil makanan.
"Dasar kamu, tadi kan udah banyak makan Snack, masa belum kenyang!" ujar Adam sambil menyruput kopi.
"Kalo gak ada nasinya gak kenyang, Dam!" jawab Marsel.
__ADS_1
"Hah, terserah kamu saja ... Nduk, kamu kenapa koq diem terus?" tanya Adam beralih ke Wulan yang menunduk dengan raut wajah khawatir.
Marsel ikut memperhatikan wajah Wulan.
"Iya, ada apa sama kamu, Lan?" tanya Marsel.
Wulan mendongakkan wajahnya melihat ke arah Adam dan Marsel secara bergantian.
"Habis dari sini, kamu mampir ke rumahku, Sel! Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Soal kejadian yang ...."
"Ini Mas, nasinya," ucap Mawar datang sambil membawa sepiring nasi berisi lauk.
"Terimakasih ya, War!" ucap Marsel diiringi senyuman.
Marsel segera menerima piring itu dan mulai makan. Wulan tak melanjutkan kalimatnya kembali. Mereka asyik melihat Marsel makan yang terlihat sangat lapar itu.
Bambang yang telah selesai membereskan ruang tamu segera keluar bergabung dengan yang lain di teras.
Bambang tercengang ketika melihat Mada yang ikut menyerobot makan di piring Marsel. Mada sama rakusnya seperti Marsel. Ia mendelik ke arah Bambang yang tengah menatapnya.
Mada sesekali tersenyum menyeringai ke arah Bambang.
"Hentikan, Mada! Kamu gak boleh seperti itu!" ucap Bambang dalam hatinya.
Wulan yang melihat ekspresi Bambang mencurigai sesuatu.
"Mas Bambang, kenapa hanya berdiri disitu? Kemarilah duduk bersama kami," ucap Wulan.
Bambang mengalihkan pandangannya kepada Wulan dan tersenyum. Ia berjalan melewati Marsel yang tengah makan bersama Mada. Dalam sekejap saja, makanan itu sudah habis.
Bambang duduk di sebelah Adam. Matanya masih fokus memandang Marsel, dan Wulan memperhatikan itu.
"Makannya sudah habis, tapi aku masih lapar," ucap Marsel kemudian meletakan piringnya begitu saja.
Mawar mengambil piring bekas makan Marsel dan membawanya ke dalam.
"Mas, kalo makan berdo'a dulu," ucap Bambang tiba-tiba.
"Iya, Mas Bambang! Tadi saya sudah berdo'a tapi dalam hati,"
"Lebih baik diucapkan secara lisan saja, Mas!" ucap Bambang lagi.
"Iya, Mas!" jawab Marsel kemudian minum air putih.
Mada masih berada di sana menikmati air putih bekas Marsel. Bambang bergidik kemudian ia mengalihkan pandangan karena tidak tahan.
__ADS_1
Mada telah berubah, entah apa yang membuat dirinya berubah. Apakah karena ia tak mau menuruti nek Jamilah seperti yang dikatakan kepada Bambang di belakang tadi pagi?