Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
58. Dukun Bayi


__ADS_3

"Bu, bapak keluar dulu ya, menemui anak buah Bapak. Kasian, mereka sudah menunggu lama," ucap Ruman sambil mengelus rambut istrinya.


"Iya, pak! Tolong ambilkan plastik dulu, perut ibu rasanya sudah tidak enak," jawab Saras.


"Iya," jawab Ruman kemudian mengambil plastik untuk istrinya.


Setelahnya, Ruman menemui Mamat dan teman-temannya sambil membawa obat.


"Bang, obati lukamu dengan ini," perintah Ruman sambil duduk di sofa, dan menaruh obat oles itu di meja.


"Tanda gores itu, menandakan, kalo kejadian tadi, nyata, bukan ilusi semata," tutur Ruman.


Bambang kemudian mengoleskan obat tesebut di lukanya. Ada rasa dingin di sana yang membuat Bambang rileks.


"Memangnya, apa yang sebenarnya terjadi, Pak! Kenapa nenek tua yang saya lihat keluar dari mobil bapak, justru malah masuk ke dalam raga Bu Saras!" tanya Mamat penasaran.


Juned melirik Mamat dengan kesal, baru saja diperingatkan, tapi Mamat sudah kepo lagi.


"Ada peristiwa di masa lalu keluarga saya. Oh iya, ini gaji kalian, ini untukmu, Mat ... Juned ... Bambang," Ruman menyerahkan amplop cokelat ke masing-masing anak buahnya.


Mereka bertiga menerimanya dengan riang, dan wajah berubah cerah mendapati amplop tebal tersebut.


"Terimakasih, Pak!" ucap Juned dan teman-temannya.


"Yah, saya juga berterimakasih, kepada kalian karena sudah membantu masalah saya. Mumpung hari belum gelap, sebaiknya, kalian segera pulang," ucap Ruman.


"Kami akan mengantarkan perahu, dan truk dulu, Pak!" ujar Juned.


"Oh iya, saya lupa, kalian harus mengembalikannya. Em, kalian boleh libur tiga hari, tidak usah masuk kerja," ucap Ruman lagi.


Mereka bertiga lebih sumringah mendengar tawaran dari Ruman.


"Terimakasih banyak, Pak!" jawab Bambang.


"Iya, iya, kalian pasti capek, dan perlu istirahat," ucap Ruman.


"Kalo begitu, kami pamit pulang dulu, Pak!" ucap Juned.


"Semoga, Bu Saras segera baikan lagi," ucap Bambang.


"Bang, kamu belum menikah kan?" tanya Ruman tiba-tiba menghentikan langkah mereka bertiga.


"Iya, belum, Pak! Ada apa yah?" tanya Bambang membuat penasaran.

__ADS_1


"Kebetulan, saya sedang butuh bantuan untuk berjaga di rumah, kamu mau tidak berjaga di rumah saya?" tanya Ruman.


Bambang melirik kedua temannya. "Em, sebenarnya, saya juga butuh istirahat, Pak!"


"Oh tentu, tentu, kamu boleh istrirahat, Bang! Istirahatlah di rumah saya sehabis mengantarkan truk dan perahu, sekalian menemani saya, jika ada sesuatu yang terjadi, Bang! Kamu bersedia kan?" ucap Ruman dengan tatapan memohon.


Karena merasa tidak enak, akhirnya, Bambang mengiyakan tawaran Ruman. Karena perintah baru dari Ruman, Bambang tidak jadi membantu Mamat untuk kembali lagi membawa truk miliknya.


"Maaf ya, Mat. Aku mencabut janjiku, kamu tau sendiri kan, permintaan pak Ruman tadi," ucap Bambang sebelum masuk ke dalam truk miliknya.


"Iya, tidak apa-apa, Bang! Oh iya, kalo ada apa-apa di rumah Pak Ruman, kamu kabarin aku, yah!" ucap Mamat.


"Dasar kepo! Kenapa bukan kamu saja yang berjaga di rumah, pak Ruman, Mat!" seru Juned kemudian masuk ke dalam truknya.


Mamat tidak mengindahkan seruan Juned. Mereka bertiga kemudian mengantarkan truk-truk tersebut ke pabrik.


***


Mawar berjaga sendiri di rumah sakit. Dokter bilang keadaan Bi Minah sudah lumayan baik. Setalah makan siang, Mawar mencoba untuk bertanya kepada Bi Minah. Hal apa yang sebenarnya terjadi hingga Bi Minah jatuh sakit.


"Minum obatnya dulu, Bi!" ucap Mawar sambil menyerahkan obat dan air minum.


Bi Minah yang masih berbaring setengah duduk meminum obatnya dengan cepat karena tidak tahan dengan bau obatnya. Bi Minah meminum sedikit air minum yang di berikan oleh Mawar.


Mawar meletakkan kembali gelas tersebut di atas meja. Mawar memijit-mijit kaki Bi Minah dengan telaten.


"Sudah, Mbak! Terimakasih sudah mau menunggu bibi di sini," ucap Bi Minah dengan suara yang masih lemas.


Mawar tersenyum mendengar penuturan Bi Minah.


"Sama-sama, Bi! Bi, kalo boleh tau, apa yang sebenarnya terjadi waktu itu?" tanya Mawar.


Bi Minah memandang Mawar dengan sayu. Ia kemudian beralih memandang tembok depan brankarnya.


"Saya melihat wanita yang menyerupai wajah saya, Mbak!" ucap Bi Minah.


Mawar mengernyitkan alis tanda tak paham.


"Maksud bibi?" tanya Mawar.


"Waktu itu, saya sedang berada di belakang, menjemur pakaian, lalu bibi dengar suara barang-barang berjatuhan di dapur. Bibi segera menengoknya, dan ternyata banyak sekali barang yang tergelatak di sana. Pada saat bibi memungutnya, tiba-tiba ada wanita datang di hadapan saya. Begitu saya mendongak, wajah itu wajah saya, dan tersenyum menyeringai. Dia bilang katanya ... Aku kembali ...." tutur Bi Minah dengan ngeri.


Mawar terdiam dan ikut merinding mendengar cerita Bi Minah.

__ADS_1


"Kenapa bisa seperti itu, Bi? Siapa wanita itu sebenarnya?"


"Saya tidak tau, Mbak!"


Setelah di ingat-ingat, Mawar juga pernah mendengar suara "Aku Kembali" saat ia ingin tidur di kamarnya kemaren.


"Ya sudah, bibi istirahat lagi saja, tidak usah memikirkan hal yang lain, Mawar tinggal dulu ya, Bi! Mau cari makan," ucap Mawar diiringi senyuman.


"Iya, Mbak!" jawab Bi Minah.


***


Niken dan Wati bercerita ke enakan hingga tak mengenal waktu.


Niken beberapa kali mengulang cerita Wati karena tidak percaya dengan apa yang dituturkan oleh Wati.


"Seram sekali ya, Wat. Jadi, nenek yang membantu melahirkan Bu Saras, sekarang masih di rawa itu? Bersama ari-arinya? Dan jasad saudara Mawar, di kubur dimana, Wat?" tanya Niken.


"Kalo soal jasad saudaranya Mawar, aku tidak tau di kuburkan dimana, sudah lah, ini sudah sore loh, kamu gak mau pulang apa? Nanti di cariin anak dan suamimu loh," ucap Wati mengingatkan Niken.


"Ya tentu saja pulang. Tapi aku masih penasaran saja sama ceritamu, Wat. Koq bisa itu pak Ruman menemukan nenek itu,"


"Gak tau, bilangnya dukun bayi koq. Gak tau juga aku, Ken! Tapi aku juga kerap lihat nenek itu lewat depan rumah," ucap Wati mengingat kejadian 22 tahun yang lalu.


Saat itu, hujan turun sangat deras, Saras sudah tidak tahan akan melahirkan bayi yang dikandungnya. Ayah mertuanya waktu itu sedang berada di luar kota dan dalam perjalanan pulang ketika mendapat kabar anak mantunya akan melahirkan.


Ruman waktu itu masih bekerja di kantor. Dia terlihat panik karena di rumah hanya ada istri dan pembantunya saja. Dengan tergesa-gesa ia segera pulang dari kantornya.


Ditengah perjalanan, tiba-tiba mobilnya mogok. Ruman keluar dari dalam mobil untuk mengecek mesinnya.


Pada saat itu juga, datanglah seorang nenek tua pawakan tinggi dengan jalan membungkuk dan membawa payung menghampirinya. Bukan tanpa alasan, nenek itu sepertinya yang membuat mobil Ruman mogok di sana.


Nenek itu memperkenalkan dirinya sebagai Nek Jamilah, seorang dukun bayi.


"Coba saya bantu lihat ya, Nak Ruman," ucap nek Jamilah kala itu.


Ruman yang sudah basah kuyup dan tidak bisa mengatasi masalah mesinnya, membiarkan nek Jamilah mengecek mobilnya. Begitu disentuh oleh nek Jamilah, dan Ruman mencoba menghidupkan mobilnya kembali, ternyata berhasil. Mobil kembali menyala.


Ruman sangat senang dan berterimakasih kepada nek Jamilah.


"Terimakasih, Nek atas bantuannya. Nenek mau kemana? Biar saya antar!" Ruman menawarkan diri.


"Saya mau ke tempat orang yang katanya mau melahirkan anak kembar!" ucap Nek Jamilah.

__ADS_1


Ruman yang mendengar penuturan nek Jamilah mengernyitkan alis.


"Anak kembar? Istriku juga akan melahirkan anak kembar. Apa tujuan nek Jamilah ini mau ke rumahku? Apa Bi Minah yang sudah menghubungi nek Jamilah?" Ruman bertanya-tanya dalam hatinya.


__ADS_2