Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
43. Bersyukur


__ADS_3

Mawar merasakan ketakutan yang luar biasa. Bersamaan dengan Ndoro Kusuma yang hendak menyerang Mawar, Mawar berhasil menyatukan pusaka tersebut. Naga tersebut memancarkan sinar terang.


Dengan mata terpejam, Mawar kembali memasukan Pusaka Naga tersebut ke dalam nisan Raden K.


"Aarrgghhhh ... Tidaaaakkkk!" seru Ndoro Kusuma.


Tubuh Ndoro Kusuma perlahan terbakar, dan wujudnya lenyap menjadi asap. Para dayang Ndoro Kusuma ikut lenyap tanpa sisa.


***


Kang Ridwan dan rombongan telah sampai di tepi rasa dengan selamat. Meskipun banyak gangguan datang menerpa mereka.


Setelah perahu di tepikan, Kang Ridwan dan rombongan tiba di sebuah jalan yang tidak terlalu lebar dan masih bebatuan dan tanah.


Kang Ridwan memimpin di depan. Suasana di tempat tersebut begitu mencekam, tak ada suara apapun. Bahkan jangkrik pun tak terdengar suaranya.


Sepinya suasana di sana, membuat bulu kuduk mereka meremang.


Mereka kemudian sampai di jalan bercabang.


"Dimas, Aziz!" seru Kang Ridwan kepada santri Pak Kyai.


Dimas dan Aziz menghampiri Kang Ridwan dengan cepat.


"Iya, Kang!" ucap Aziz dengan sopan.


"Kalian majulah ke arah kiri, bukalah semak-semak tersebut," perintah Kang Ridwan dengan halus.


Dimas dan Aziz sendiko dawuh. Mereka berdua berjalan ke kiri, dan kemudian membuka semak-semak yang disebutkan oleh Kang Ridwan. Ternyata, dalam semak-semak tersebut ada sebuah motor yang sudah tidak karuan wujudnya.


Adam, Wulan, Ruman, Saras, dan kedua sopir kaget bersamaan.


"Kang, kami menemukan motor matic, sama hape!" teriak Dimas.


"Iya, bawa kemari ... Pak sopir, tolong bantu yah. Angkat motor tersebut, dan segera bawa ke perahu untuk kita bawa," perintah Kang Ridwan.


"Nggeh, Kang!" ucap kedua sopir bersamaan.


Saras dan Ruman tak kuasa menahan tangis, motor anaknya telah di temukan.


"Itu motor Mawar, Pak!" ucap Saras diiringi tangisan.


"Iya, Bu! Sebentar lagi, kita akan bertemu dengan Mawar," ucap Ruman bahagia.


"Mas, ayo kita bantu mereka," ucap Wulan kepada Adam.


"Iya, Nduk!" jawab Adam yang kemudian menghampiri Dimas dan Aziz, bersama Wulan.


Setelah motor Mawar berhasil ditemukan, dan diangkut oleh kedua sopir, Dimas tiba-tiba melihat satu benda lagi, yang dirasa seperti motor matic juga. Teronggok lima meter dari lokasi ditemukannya sepeda motor Mawar.


"Ziz, coba lihat itu," tunjuk Dimas.


"Ada apa, Mas?" tanya Aziz.


Wulan dan Adam ikut melihat ke arah yang Dimas tunjuk.

__ADS_1


"Itu sepertinya motor juga kan?" tanya Dimas.


Aziz, Wulan dan Adam memicingkan mata mereka. Takut kalo salah melihat.


"Eh, iya! Kayak motor, Mas. Coba kita ke sana saja," ajak Aziz.


Saat hendak berjalan, Kang Ridwan menegur mereka.


"Hey, kalian mau kemana? Motor sudah diangkut, kita kembali meneruskan perjalanan," teriak Kang Ridwan.


"Maaf, Kang! Kami melihat ada satu motor lagi di sana!" Seru Aziz dengan lantang, sambil menunjuk lokasi.


Kang Ridwan sedikit mengangkat kakinya supaya dapat melihat motor yang di tunjuk oleh Aziz.


"Coba kalian hampiri saja, kalo memang benar itu motor, angkut juga, bawa kemari!" perintah Kang Ridwan.


"Baik, Kang!" jawab Aziz.


Mereka ber empat kemudian berjalan mendekati benda tersebut. Semakin dekat, semakin jelas bahwa itu motor juga. Namun, kondisinya lebih parah, sudah berlumut, dan berkarat.


"Ayo, mas, bantu kami angkat ini motor," ucap Dimas kepada Adam.


"Iya, mari, mari!" ucap Adam, kemudian ikut menarik motor tersebut.


Mereka bertiga terlihat kesusahan.


Wulan memperhatikan motor tersebut, dibawahnya, ternyata ada sebuah tas slempang.


Setelah motor tersebut berhasil diangkat, Wulan mengambil tas tersebut dengan hati-hati.


"Ayo, kita langsung bawa ke perahu saja," ucap Dimas.


"Ayo angkat bertiga," ucap Adam.


"Iya, bismillahirrahmanirrahim," ucap mereka bertiga.


Motor telah digotong oleh mereka bertiga. Wulan mengekor di belakang, sambil memeriksa isi dalam tas tersebut. Ada hape dan juga dompet.


Wulan memutuskan untuk melanjutkan keponya nanti, setelah Mawar ditemukan.


"Motor lagi? Motor siapa kira-kira?" batin Kang Ridwan.


"Kalian langsung bawa ke perahu saja, setelah ini, kita langsung mencari Mawar," ucap Kang Ridwan.


Aziz, Dimas, dan Adam mengantar motor tersebut ke perahu.


Sopir mengatur tempat untuk motor Mawar dan motor yang baru saja di temukan lagi oleh Dimas.


"Kira-kira, ini motor siapa ya, Mas?" tanya Aziz.


"Mana aku tau," jawab Dimas dengan mengangkat kedua bahunya.


"Ayo cepat, kita segera bergabung dengan Kang Ridwan," ucap Adam, yang kemudian disetujui oleh yang lain.


"Kang, saya menemukan tas ini, dibawah motor tadi," ucap Wulan sambil menunjukan tas tersebut.

__ADS_1


"Apa isi dalam tas itu!" tanya Kang Ridwan.


"Dompet sama hape, Kang!" jawab Wulan.


"Kamu simpan saja dulu, Nak Wulan. Kita akan melanjutkan perjalanan lagi," ucap Kang Ridwan.


"Baik, Kang!" jawab Wulan sopan.


Kedua sopir dan Adam cs, sudah datang. Akhirnya, rombongan Kang Ridwan melanjutkan perjalanannya mencari Mawar ke arah kanan.


Kang Ridwan memimpin di depan sambil bercerita.


"Jalan bercabang ini, sebenarnya sama-sama mengarah ke makam. Namun, tujuan makamnya berbeda," ucap Kang Ridwan.


"Memangnya, makam siapa, Kang?" tanya Adam penasaran.


Pertanyaan Adam sudah mewakili perasaan semua rombongan di sana. Wulan dan yang lainnya, menanti jawaban dari Kang Ridwan.


"Yang ke kiri itu, adalah makam Ndoro Kusuma bersama pengikutnya, sedangkan yang ke arah kanan, yang sedang kita tuju ini, adalah tempat makam Raden K bersama para prajurit, leluhur, dan masyarakatnya," terang Kang Ridwan.


"Raden K, itu siapa, Kang?" tanya Adam kembali.


"Dia masih keturunan Raja Majapahit, sebentar lagi, kita akan sampai di makam. Tolong lepas saja sandalnya yah, kita tenteng, atau tinggal di depan gapura saja. Jangan lupa ucapkan salam, kirim do'a untuk mereka lebih baik juga,"


"Kirim do'a nya bagimana, Kang?" tanya salah satu sopir yang tidak mengerti.


Kang Ridwan tersenyum mendengar pertanyaan sopir.


"Cukup Fatihah saja, atau sholawat juga boleh, Pak! Ucapkan salam kepada ahli kubur, lalu baca sholawat tiga kali," tutur Kang Ridwan.


"Oh begitu, baiklah, Kang!" jawab Sopir.


Mereka sampai di depan gapura makan Raden K. Mereka mengucap salam, dan masuk tanpa menggunakan alas kaki, demo menghormati tempat tersebut.


***


Mawar memejamkan kedua matanya, sinar terang tersebut seperti membawanya masuk ke dalam suatu jalan yang entah tidak dapat ia ketahui. Mawar merasakan semilirnya angin yang begitu dingin menusuk kalbunya.


Beberapa menit kemudian, sinar terang itu menghilang. Mawar merasakan suasana yang berbeda. Ia merasakan tubuhnya lebih hangat dari sebelumnya.


Perlahan, Mawar membuka matanya. Ia mengucek kedua matanya. Ia berdiri merasa kebingungan. Kini, ia berada di tengah-tengah sebuah makam, dengan kondisi yang sangat sepi. Tidak ada makhluk apapun di sana.


***


Pak Kyai menghela nafas panjang, ia mengakhiri semedinya. Marsel menunggunya dengan jantung berdebar. Tak sabar ia ingin menanyakan keberadaan Mawar.


Pak Kyai membuka matanya perlahan, bibirnya tersenyum ketika memandang wajah Marsel. Ia kemudian mengucap hamdalah sambil membasuh wajahnya dengan kedua tangannya.


"Alhamdulillah," puji Pak Kyai kepada Alloh, yang sudah membantunya.


"Alhamdulillah, bagaimana, Pak Kyai? Mawar sudah berhasil keluar?" tanya Marsel penasaran.


"Alhamdulillah, Nak Marsel," jawab Pak Kyai.


Marsel merasa sangat bahagia mendengar hal tersebut. Tubuhnya sedikit grogi, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Mawar. Sepuluh bulan sudah, ia menunggu Mawar untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2