
Obrolan mereka berakhir saat Alif keluar sambil membawa camilan yang dia buat tadi.
Arthur pun mengusap puncak kepala putranya itu.
"Saya tidak tahu dengan kehidupan kami nanti tapi semoga saja akan lebih baik."ujar Almira.
Sementara Alina yang kini berdiri di hadapan mereka berkata tanpa sengaja.
"Bagaimana jika kalian menikah saja aku rasa kalian cocok,,, jika menurut novel yang aku baca tadi wanita dan pria yang pernah dikhianati akan hidup bahagia setelah mereka memutuskan untuk menikah dengan pasangan korban perselingkuhan."ujar Alina sambil tersenyum.
Sementara Arthur mengeratkan genggaman tangannya.
Pria itu menatap kearah wanita yang jelas-jelas tidak pernah peka dengan perasaan Arthur selama ini.
"Apa? tadi kau membaca novel yang berjudul kau khianati aku aku akan mengkhianati mu balik iya begitu."ujar Arthur.
Sementara Almira sedikit salah tingkah saat ini dia pun langsung bergegas pamit pada keduanya.
"Tuan dan nyonya saya pamit pulang dulu terimakasih atas bantuannya."ujar Almira.
"Nyonya Almira bisa pertimbangkan ucapan saya barusan."ujar Alina yang kini mendapatkan tatapan tajam dari Arthur.
Arthur bahkan langsung pergi meninggalkan mereka.
"Nyonya sepertinya bercandaan anda membuat tuan Arthur marah sebaiknya anda bujuk pria itu. daripada nanti anda menyesal karena cerita fiksi tidak sama dengan realita kehidupan nyata."ujar Almira.
"Heumm,,, sepertinya kalian berdua benar-benar cocok untuk menjadi pasangan. karena yang satu gampang ngambek yang satu lagi penyabar."ujar Alina sambil nyengir kuda.
"Kami pamit pulang dulu Nona Alina."ujar Almira.
Wanita itu bergegas pergi meninggalkan rumah Arthur begitu juga Alina yang langsung pergi menuju rumahnya.
Wanita itu tau suasana hati Arthur sedang buruk maka dia tidak ingin memperkeruh suasana itu.
Wanita itu pun bersiap untuk pergi menemui mantan suaminya yang hingga saat ini masih berada di tahanan. Alina tidak dendam kepada Akbar, dia bahkan sudah memaafkan pria itu, hanya saja proses hukum masih berjalan selama Alina belum mencabut laporan.
Lebih tepatnya Arthur yang membuat laporan.
Saat dia hendak masuk mobil, tiba-tiba tangan kekar itu menghentikan langkahnya.
"Apa? aku tidak penting bagimu hingga kamu pergi saat aku ingin ditemani makan siang oleh mu."ujar Arthur.
"Heumm,,, aku sudah telat untuk menemui bang Akbar di tahanan."ujar wanita itu.
"Heumm,,, ternyata cerita novel telah berubah karena berawal dari sebuah kebohongan cinta pertama itu mulai tumbuh."ujar Arthur.
"A apa? maksud mu."ujar Alina.
"Tidak ada sudahlah kamu sudah terlambat."ujar Arthur.
Pria itu hendak pergi namun langkahnya terhenti.
"Arthur aku tidak punya rasa cinta hanya aku tidak pernah tega melihat orang lain tersiksa."ujar Alina.
Namun Arthur kembali melanjutkan langkahnya.
Sementara Alina melanjutkan perjalanannya.
Keduanya kini sama-sama merasakan kegundahan dalam hatinya.
Alina atau pun Arthur mungkin tengah merasakan hal yang sama saat ini tapi ego mereka lebih besar akhirnya Arthur memutuskan untuk tidur sebelum dia berangkat meskipun tidak sedikitpun makanan masuk kedalam perutnya.
Saat ini Arthur hanya ingin melupakan rasa gundah dalam hatinya itu.
Arthur pun memejamkan mata nya.
Sementara itu Alina yang kini baru tiba di kantor polisi, wanita itu disambut baik oleh pihak kepolisian.
Alina yang sedang mengisi buku tamu dia melirik ke kanan dan kiri dia melihat kearah petugas yang bersibuk.
Setelah mengatakan maksud dan tujuannya Alina pun kini sudah berada di sebuah ruangan tempat dimana bisa membesuk tahanan.
"Bang,,, apa? kabar."ujar Alina lembut
"Beginilah Alina,,, tidak ada yang baik-baik saja hidup di dalam penjara, apalagi dengan kecemasan ku selama ini."ujar Akbar terlihat kasihan.
"Abang menghawatirkan keadaan mu Alina,,, syukurlah jika kamu baik-baik saja."ujar Akbar.
"Aku baik-baik saja berkat pertolongan Aunty dan anaknya."ujar Alina.
__ADS_1
"Maafkan aku Alina, aku hanya bisa memberikan bencana padamu selama ini."ujar Akbar.
"Alina sudah memaafkan Abang jauh sebelum kejadian itu, yang Alina harap. semoga Abang bisa hidup dengan baik tanpa adanya Alina kembalilah pada istri Abang yang sangat mencintai Abang karena biar bagaimanapun dia adalah wanita yang sangat mencintai Abang dia istri yang seharusnya menjadi prioritas utama mu. maafkan Alina jika selama ini kehadiran Alina membuat rumah tangga kalian berantakan."ujar Alina.
"Tidak Alina kamu tidak salah Abang yang salah karena telah memaksakan kehendak atas rasa cinta Abang padamu maafkan Abang tidak bisa memberikan mu apa-apa selama ini hanya rasa sakit, maafkan Abang Alina."ujar Akbar.
"Tidak Abang tidak salah apa-apa,, justru Alina yang minta maaf karena telat datang Abang pasti menderita disini."ujar Alina.
"Abang tersiksa bukan karena hal lainnya justru hukuman ini sungguh masih sangat kurang jika ingat saat kamu hampir meregang nyawa."ujar Akbar.
Akbar terlihat menitikkan air mata.
"Tidak apa-apa bang semua sudah lewat sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. makanlah Alina bawa makanan kesukaan Anang. sebentar lagi Abang bebas mungkin ini pertemuan kita yang terakhir setelah ini Alina berharap Abang akan hidup jauh lebih baik dari sebelumnya."ujar Alina.
"Tidak Alina Abang mohon jangan lakukan itu. Abang sudah menceraikan istri Abang dan Abang ingin kita kembali bersama tanpa ada gangguan dari siapapun."ujar Akbar.
"Heumm,,, maafkan Alina bang Alina masih trauma dengan pernikahan. Abang bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari Alina."ujar wanita itu.
"Abang pikir Alina sudah benar-benar memaafkan Abang tapi nyatanya perbuatan Abang tidak termaafkan."ujar pria itu.
"Abang salah faham Alina sudah benar-benar memaafkan Abang hanya saja Alina tidak bisa kembali bersama dengan Abang, Alina masih ingin sendiri."ujar Alina.
"Akbar sekarang kamu bebas."ujar seorang sipir penjara tersebut.
"Terimakasih Bu."ujar Akbar.
"Berterimakasih lah pada mantan istri anda yang sudah mencabut perkara."ujar sipir itu.
"Terimakasih Alina,,, Abang tidak tau harus bagaimana membalas semua kebaikan mu."ujar Akbar.
"Cukup hidup dengan baik dan kembalilah pada keluarga besar Abang itu sudah jauh lebih cukup."ujar wanita itu.
"Abang janji akan hidup dengan baik sampai saat kamu mau kembali bersama dengan Abang nanti."ujar pria itu.
"Heumm,,,"Aku antar Abang pulang dulu bersiap lah."ujar Alina.
Akbar pun mengangguk pelan.
Pria itu mengambil barang pribadi nya seperti handphone dan juga dompet nya yang berada di dalam tas pakaian miliknya setelah ia mengganti pakaian yang Alina bawa dari rumahnya.
Sejak mereka berpisah Alina tidak membuang pakaian yang Akbar tinggalkan.
...**************...
Alina baru keluar dari dalam salon setelah meminta Akbar untuk memperbaiki penampilan nya yang lusuh setelah keluar dari dalam penjara.
Itu dia lakukan karena dia tidak ingin Akbar dipandang rendah oleh orang-orang di luar sana karena dia bukan seorang penjahat dia orang baik dan sangat bertanggung jawab.
"Sudah terlihat jauh lebih baik bang . ini ada tiket pesawat dan baju-baju Abang sudah berada di dalam koper. setidaknya temui Bunda minta maaf padanya dan aku yakin setelah ini kehidupan Abang akan jauh lebih baik."ujar Alina.
"Alina,,, kamu tidak perlu repot-repot untuk menyiapkan semua ini. Abang masih memiliki tabungan yang cukup untuk bekal hidup Abang disini."ujar pria itu.
"Aku tau itu. anggap saja ini sebagai kado ulang tahun Abang yang hanya beberapa hari lagi."ujar Alina.
"Terimakasih sayang,,, tapi Abang mohon ambilah ini untuk bekal mu. setiap bulan akan Abang isi dan kamu tidak perlu bekerja lagi."ujar pria itu memberikan sebuah kartu ATM.
"Tidak bang,,, simpan itu untuk bekal perjalanan aku masih ada uang pensiun Ayah selama ini dan itu sudah cukup. aku bekerja karena aku tidak suka berdiam diri."ujar Alina sambil tersenyum.
"Kamu sungguh wanita yang sangat baik yang sangat Abang cintai semoga saja kamu bisa kembali membuka hati untuk Abang maafkan Abang sudah menorehkan luka di hati mu."ujar Akbar tulus.
Alina hanya menggeleng pelan.
"Apa? mau aku antar ke rumah istrimu dulu bang."tanya Alina.
"Tidak Alina karena tidak ada lagi yang harus Abang pertanggung jawabkan, anak yang selama ini digadang-gadang sebagai putra ku ternyata itu bukan darah daging ku. anaknya lahir dua hari yang lalu dan ayah kandung bayi itu datang memberitahu ku."ujar Akbar yang membuat hati Alina semakin merasa bersalah.
Wanita itu datang satu tahun lalu dengan kondisi hamil tua dengan anak laki-laki saat pernikahan Alina baru beberapa hari dan tidak lama setelah wanita itu melahirkan baru beberapa bulan dia kembali hamil itulah yang membuat Alina tidak bisa memberikan kesempatan kedua bagi suaminya itu.
Saat Akbar kembali menginginkan rujuk.
Sampai saat ini barulah Alina tau bahwa Akbar selama ini dijadikan sebagai tameng atas cinta yang tak direstui oleh kedua keluarga wanita itu.
Mereka yang menjodohkan Akbar pada putrinya itu.
"Aku tidak tau tentang semua yang terjadi,,, mungkin ini adalah sebuah pelajaran yang berharga bagi kita agar kedepannya lebih baik lagi."ujar Alina sambil tersenyum lembut.
"Alina,,, Abang bisa pergi sendiri kamu belum boleh banyak bergerak kenapa? memaksa ingin mengantar Abang."ujar Akbar.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin memastikan Abang benar-benar kembali ke keluarga abang dan ingat jangan melawan kehendak orang tua lagi salam untuk mereka berdua semoga sehat selalu."ujar Alina.
__ADS_1
Tanpa sadar mereka sudah berada di depan parkiran bandara.
Alina pun tersenyum setelah pria itu memarkir mobilnya.
"Ambil dua mobil Abang yang ada di rumah wanita itu, kamu bisa jual untuk menambah uang jajan mu atau kamu gunakan itu terserah mungkin Abang akan lama tidak kembali tapi percayalah Abang masih sangat mencintai dirimu."ujar Akbar.
"Heumm,,, tidak apa-apa semoga Abang bisa datang kemari dengan anak dan istri Abang."ujar Alina.
"Abang datang untuk menjemput mu."ujar pria itu yang kini menurunkan koper nya.
"Aku tidak ingin menikah lagi bang,,, sekarang Ayah dan Bunda sudah tidak ada lagi. jadi aku tidak perlu lagi menikah untuk membuat mereka bahagia."ujar Alina.
Sampai saat wanita itu menemani mantan suaminya itu untuk menunggu jadwal penerbangan hingga saat Arthur tiba dengan satu koper di tangan nya.
Pria tampan dengan setelan jas mahal nya itu hampir beriringan dengan kedatangan Almira dan putranya Alif.
Alina hanya diam saja saat melihat keduanya melakukan pengecekan paspor dan tiket pesawat milik mereka masing-masing.
"Abang penerbangan nya hanya tinggal beberapa menit lagi. aku pulang dulu ya aku lupa minum obat."ujar Alina.
"Terimakasih sayang,,, jaga kesehatan mu, setelah sampai Abang bisa kabarin aku lewat bibi."ujar wanita itu.
"Ya sayang tentu."ujar Akbar.
Sementara sedari tadi telinga seseorang terus mendengarkan percakapan mereka dibalik keramaian.
Alina pun berlalu pergi meninggalkan Akbar yang kini terlihat menatap sendu kepergian nya itu.
Sementara seseorang yang baru saja selesai melakukan pengecekan paspor tersebut.
Pria itu langsung mengejar Alina.
pria itu meninggalkan kopernya begitu saja dia langsung berlari hingga sampai dia berhasil meraih pinggang ramping itu.
"Apa? dia lebih berarti dari diriku."ujar Arthur.
"Pertanyaan konyol, Arthur lepas lihat calon istri mu melirik ke arah kita."ujar Alina.
"Kau cemburu, baik'lah jika seperti ini,,, aku akan mewujudkan keinginan mu."ujar Arthur dengan nada datar.
"Lakukanlah dia adalah wanita yang sangat baik dan Solehah."ujar Alina sambil beranjak pergi.
"Aku harap kau tidak menyesal."ujar Arthur lagi.
"Kau akan lebih menyesal jika kehilangan dia."ucap Alina lirih.
Wanita itu berlalu pergi namun satu kali hentakan keras Alina kini sudah menubruk dada bidang Arthur yang kini memeluk erat tubuh nya itu.
"Arthur sakit."ucap Alina lirih.
"Aku kamu yang bikin."ujar Arthur.
"Aku tidak bikin ulah apapun, itu faktanya kalian bahkan datang bersamaan dan lihat outfit yang kalian kenakan keduanya tampak serasi."ujar Alina yang membahas wanita yang diam-diam tengah melirik ke arahnya.
Sementara Akbar sudah pergi saat Alina pergi.
pesawat nya bahkan sudah terbang beberapa menit yang lalu.
"Temani aku di ruang tunggu."ujar Arthur.
"Tidak bisa Arthur aku bukan penumpang pesawat yang akan terbang bersamamu. kenapa? tidak minta temani calon istrimu saja kelihatan nya tujuan nya sama."ujar Alina.
"Cuph....
Ciuman itu mendarat di bibir Alina yang manis kebetulan dia tengah berdiri di samping pilar kokoh itu dan membelakangi kamera Cctv.
Arthur pun semakin memperdalam ciuman tersebut tanpa penolakan entahlah Alina juga merasa tidak bisa menolak itu.
Hingga akhirnya Arthur menarik Alina untuk pergi ke arah ruang tunggu namun Alina tetap menolak.
"Arthur aku belum minum obat, kamu bisa menunggu di ruang tunggu bersama dia oke."ujar Alina yang tidak kunjung mau melihat Arthur.
"ALINA aku tidak terima penolakan."tekan Arthur.
"Baiklah."ujar Alina.
Temani aku makan malam dulu setelah itu kita akan masuk ke sana."ujar Arthur yang langsung menarik Alina ke area restaurant.
"Duduk di sini."ujar Arthur memilihkan kursi yang kosong di dalam ruangan tersebut setelah pelayan menyodorkan menu makanan Arthur langsung memilih .
__ADS_1