
Junior membawa Alina pulang ke Mension, dia tidak mengijinkan Alina berpergian sendirian, sifat posesif pria itu mulai terlihat.
Junior bahkan tidak membiarkan Alina berdandan saat keluar rumah seperti tadi karena tanpa berdandan pun Alina sudah sangat cantik, apalagi dandan.
"Yank,,, aku pengen sarapan pagi di luar kenapa? malah pulang ke Mension."ucap Alina.
"Aku akan buatkan sarapan pagi terenak istriku tidak boleh protes."ucap Junior.
"Belum jadi istri Junior ku sayang."ucap Alina.
"Ya, tapi sudah merasakan kenikmatan itu kan."ucap Junior yang langsung membuat Alina terdiam tanpa kata bahkan tidak bergerak saat Junior menarik tangan itu.
"Sayang,,, kenapa? kamu berhenti heumm."ucap Junior.
"Aku tidak suka kamu terus mengingatkan hal itu terus Jun,,,, rasanya sungguh sangat sakit."ucap Alina.
"Maafkan aku sayang,,, aku tidak sengaja."ucap Junior yang kini memeluk Alina .
"Aku sudah seperti wanita murahan Jun."ucap Alina.
"Tidak sayang kamu adalah wanita paling berharga di dunia ini setelah mommy."ucap Junior.
"Aku tidak tahu harus bicara apa? Jun hal itu selalu menyiksa diri ku sehingga aku meminta cerai dari mas Arthur."ucap Alina.
"Arthur,,, jangan pernah sebut nama itu lagi di hadapan ku!."ucap Junior yang kini tiba-tiba saja marah saat Alina menyebut nama itu.
"Ayo masuk sayang aku akan buatkan breakfast yang lezat."ucap Junior.
Alina pun masuk mengikuti Junior yang kini berjalan menuju pintu pintu dapur.
Pria itu melepaskan jas dengan cepat dan menggulung lengan kemeja setelah itu dia juga menggunakan celemek dan mulai memasak sarapan pagi yang lezat untuk calon istrinya itu.
"Jun biar aku saja."ucap Alina.
"Tidak sayang ku, biar aku saja."ucap Junior.
"Heumm..."ucap Alina yang kini langsung duduk di meja pantry sambil memainkan ponsel jadul milik ayahnya.
Alina, tidak punya handphone sejak dia masuk ke rumah sakit jiwa' tapi dia juga tidak suka memanfaatkan pemberian orang lain yang bahkan tidak murah lebih baik dia menggunakan ponsel jadul milik sang ayah setidaknya masih bisa digunakan untuk menelpon meskipun tidak semua Handpone bisa dia hubungi termasuk milik Arthur karena pria itu menggunakan handphone yang tidak jauh beda dari Junior.
Hanya tipe dan merek yang sama yang bisa mereka hubungi.
Sementara itu di kediaman Arthur saat ini, pria yang mendapatkan kabar jika barang-barang milik dirinya juga diantar pulang ke rumah Jenny oleh orang-orang asing, Arthur mengira rumah itu kembali dikontarkan pada orang lain itulah kenapa? Arthur mulai merasa tidak tenang karena dia akan kesulitan untuk mencari Alina.
"Kamu sedang mikirin apa? sih mas sedari tadi anteng banget."ucap Katrina.
"Tidak ada hanya sedang mencari ketenangan."ucap Arthur sekena nya.
"Memangnya ada masalah apalagi sehingga kamu mencari keterangan diri."ucap Katrina yang kini duduk di samping Arthur.
"Masalah hidup itu tidak pernah pergi selama hidup ini, tapi tergantung kita bisa menghadapinya atau tidak."ucap Arthur.
"Ar, boleh aku tanya sesuatu."ucap Katrina.
"Ya tanyakan saja."ucap Arthur.
"Apa? kamu masih mencintai Alina."tanya Katrina.
"Cinta, ya...jujur aku masih sangat mencintai dia."jawab Arthur.
"Lalu apa? artinya aku saat ini."ucap Katrina.
"Kau adalah istriku saat ini apa? ada yang kurang."ucap Arthur.
"Tidak Ar, tapi apa? aku boleh tau,,, kenapa? kamu bisa mencintai Alina sampai segitu besarnya, siapa? tahu aku bisa belajar untuk membuat mu jatuh cinta terhadap ku."ucap Katrina lagi.
"Dia adalah dia dan kamu tidak akan pernah bisa menjadi dirinya hanya untuk dicintai oleh ku! Dan satu lagi dia tidak akan pernah ada duanya. maka dari itu jadilah diri sendiri karena cinta itu urusan hati tidak bisa di arahkan kemana kita harus pergi! kecuali hati itu sendiri yang bergerak."ucap Arthur.
"Tapi aku adalah wanita yang tidak pernah beruntung untuk itu Ar, dua kali pernikahan bahkan aku hanya disentuh oleh mu."ucap Katrina.
"Heumm... maafkan aku, tapi itu adalah kewajiban yang harus aku penuhi sebagai seorang suami meskipun belum ada cinta disini untuk mu."ucap Arthur yang sedari tadi menunjuk dadanya.
Katrina pun tersenyum tulus."Tidak apa-apa aku yakin suatu hari nanti kamu pasti akan bisa mencintai ku."ucap Katrina.
"Ya Katrina, tapi aku tidak bisa berjanji namun aku akan berusaha."ucap Arthur.
__ADS_1
"Terimakasih Ar."ucap Katrina sambil memeluk Arthur.
Arthur hanya menepuk-nepuk punggung Katrina.
Sementara itu, di sebuah rumah megah lainnya, Ririn yang kini telah sembuh dari penyakit yang mematikan itu, dia mendapatkan keajaiban yang setelah berulang kali mengalami koma.
Ririn yang divonis menderita penyakit HIV waktu itu hingga bayinya meninggal dunia, akhirnya kini ia benar-benar sembuh dari penyakit tersebut setelah berkali-kali koma dalam waktu yang cukup lama.
Kini dia sudah memperbaiki diri, dan tidak lagi mau berhubungan intim dengan sembarangan orang.
Wanita itu, bahkan kini sudah memutuskan untuk menjadi biarawati di sebuah gereja di negara tersebut.
Pahitnya jalan hidup yang wanita itu lewati karena dirinya tidak pernah bisa bersyukur dengan apa? yang dia dapatkan selama ini, akhirnya menggiring dirinya kedalam kubangan dosa yang tidak berkesudahan.
Dan saat ini setelah dia kembali diberikan kesempatan hidup, Ririn pun memutuskan untuk benar-benar mengabdikan hidupnya untuk hal yang positif.
Sementara Kasandra, sejak kematian tuan Daniel, dia sudah dua kali menikah dengan suaminya yang merupakan ayah dari kedua anaknya itu.
Pertama setelah dia menjadi ibu tanpa suami karena putrinya ternyata bukan putri dari tuan Daniel.
Dan kedua setelah ia kembali terlibat dalam scandal dengan seorang artis di negara tersebut.
Kedua mantan Arthur sudah memiliki jalan hidup masing-masing sementara Alina dia masih berada di dalam pilihan.
Alina sebenarnya tidak ingin menjalani kehidupan rumah tangga lagi, tapi dia sangat berhutang budi pada Junior.
Meskipun tidak dipungkiri cinta itu pun masih ada tapi rasa sakit setelah pernikahan nya bersama dengan Arthur terus di uji membuat wanita itu kembali mengalami trauma berat.
Alina kini tengah duduk di samping Junior yang tengah fokus pada laptopnya .
"Yank sudah larut malam, aku pulang dulu ya."ucap Alina.
"Babe,,,ini rumah kita kenapa? harus pulang heumm."ucap Junior.
"Ingat Jun,,, kita belum menikah."ucap Alina.
"Kita bisa tidur di kamar yang berbeda babe..."ucap Junior lembut tapi Alina menggeleng.
"Aku sudah pesan taksi."ucap Alina.
"Sayang..... kamu masih punya banyak pekerjaan, sudah ya... lanjutkan dulu pekerjaan mu."ucap Alina yang hendak bangkit.
Namun Junior menahan pergelangan tangan Alina dengan sangat erat.
...********...
Junior kini tengah menatap penuh amarah pada Alina yang memaksa pergi dengan taksi online di saat tengah malam.
"Jun,,, maaf tapi aku hanya tidak ingin mengganggu pekerjaan mu."ucap Alina.
Junior tidak menjawab sedikit pun dia masih menatap lekat wajah cantik itu, hingga akhirnya Alina pun berlinang air mata karena Alina ditatap dengan tatapan dingin.
Alina pun memeluk Junior dan membenamkan wajahnya di dada bidang pria yang kini masih berdiri sambil bersandar di dinding bahkan tidak merespon peluk dan tangis Alina.
"Yank! maaf....hiks hiks hiks aku tidak akan pernah mengulangi itu lagi."ucap Alina yang kini mendongak menatap Junior yang kini lebih tinggi dari dirinya.
"Minta maaf,,,, semudah itu setelah kamu buat aku cemas setengah mati."ucap Junior yang kini berbicara masih dengan nada yang datar.
"Aku hanya tidak ingin kamu mengabaikan pekerjaan mu hanya demi aku."ucap Alina.
"Kamu tau, nyawaku saja tidak lebih berharga dari rasa cinta ku,,, apalagi dengan pekerjaan ku. Apa? gunanya aku bekerja jika orang yang sangat aku cintai kenapa-napa."ucap Junior.
"Terimakasih sayang,,, tolong maafkan aku."ucap Alina.
Alina pun mengajak Junior untuk duduk di sofa ruang keluarga.
"Aku sudah ngantuk sayang apa? kamu masih mau disini."ucap Alina.
"Kamu ngusir calon suami mu,,, tega sekali padahal baru saja aku disuruh masuk."ucap Junior yang kini terlihat mengeluh.
"Sayang kamu jangan salah faham aku mengatakan itu karena aku tidak ingin kamu sendirian duduk disini."ucap Alina.
"Ada kamu kenapa? harus sendiri."ucap Junior yang kini membawa tubuh Alina keatas pangkuannya.
"Yank,,, aku berat tau."ucap Alina.
__ADS_1
"Seberapa berat tubuh yang begitu ramping ini heummm."ucap Junior yang kini benar-benar memangku Alina yang kini di hadapkan padanya.
"Yank,,, kita akan segera menikah."ucap Junior.
"Tapi tuan Alercxa."ucap Alina.
"Apa? lagi yang kamu ragukan Al, daddy tidak akan menentang hubungan kita lagi."ucap Junior.
"Jun,,, aku eum..."Alina tidak bisa meneruskan kata-katanya saat ini, karena Junior benar-benar tidak memberikan Alina kesempatan untuk mengeluh.
"Sayang,,, aku tak ingin lagi mendengar keraguan mu, jangan pikirkan apapun,,, aku yang akan menghadapi Daddy untuk mu."ucap Junior.
Junior pun kini kembali mencium bibir manis itu, hingga akhirnya pria itu puas barulah ia pamit pada Alina.
Ini sudah pukul dua dini hari, Junior baru keluar dari rumah Alina dan pergi dengan mobilnya.
Sementara Alina sendiri kini tengah mengunci pintu dan memastikan semua itu aman tanpa ada masalah, barulah Alina masuk kedalam kamar utama yang sedari dulu ia tempati meskipun Arthur pernah berada di setiap sudut kamar itu.
Alina kini tengah menatap ke sekeliling, lagi-lagi rasa sepi itu membuat air matanya mengalir.
"Mas, apa? kalian bahagia di sana... tolong jaga anak-anak kita, meskipun kamu sudah tidak mencintai ku lagi."ucap Alina lirih.
"Arion,,, Arionan,,,, Alana mommy rindu kalian bertiga, semoga kalian tumbuh dengan baik meskipun tanpa mommy disisi kalian."lirih Alina.
Sementara yang ia rindukan saat ini mereka tengah berada di rumah sakit, karena demam tinggi secara bersamaan, termasuk Arionan yang lebih parah dari kedua anak lainnya.
Mereka mengigau memanggil ibunya, Jenny yang terus berada di samping mereka saat ini wanita itu menitikkan air mata.
"Apa? Tidak sebaiknya kita minta Alina untuk datang kesini."ucap Arda.
"Dia baru saja pulih aku tidak ingin menambah beban pikirannya lagi."ucap Jenny.
"Tapi anak-anak sangat merindukan ibunya."ucap Arda.
"Terserah kamu saja Yank... aku lelah, entah bagaimana? akhirnya nanti, setelah ide gila kita menikahkan Arthur dengan Katrina yang sama sekali tidak peduli dengan anak cucu ku."ucap Jenny yang kini mengeluh.
"Aku yang salah disini,,, tapi sepertinya Arthur nyaman dengan pernikahan itu hingga dia tidak pernah peduli pada ketiga anaknya."ucap Arda yang kesal.
Selama ini, selain Jenny dirinya juga ikut andil dalam mengurus ketiga cucunya itu.
Sementara Arthur sibuk mengurus perusahaan dan rumah tangganya yang baru, sementara niat Arda sejak awal menikahkan Arthur dengan Katrina adalah, agar Jenny beristirahat mengurus cucunya.
Waktu Jenny yang banyak terkuras untuk mengurus ketiganya membuat quality time antara dirinya dengan sang istri terganggu.
Bukan Arda tidak mengijinkan hal itu, tapi dia juga butuh waktu yang cukup bersama dengan istrinya yang jelas-jelas lebih tua darinya. mungpung Jenny masih sangat aktif dan energik.
"Telpon orang rumah suruh mengabari Alina untuk datang ke sini, bilang ketiganya sedang sakit dan butuh dia di samping mereka."ucap Arda.
"Saat itu juga Jenny menghubungi orang rumah dan memberitahukan kepada Alina bahwa ketiganya tengah sakit dan butuh dirinya.
Alina yang mendengar kabar itu, dia hanya bisa menangis dia bingung uang tabungan tidak cukup untuk sekedar membeli tiket pesawat.
Dia harus menunggu hingga pagi hari, untuk menggadaikan barang berharga milik ibunya, dia tidak ingin kehilangan barang kenangan itu tapi ketiga anaknya lebih butuh itu.
Sepanjang pagi Alina terus menangis, dia juga sudah bersiap dengan membawa barang-barang pribadinya yang ia masukkan kedalam koper.
Satu koper telah siap, dia pun sudah mengambil satu kotak perhiasan milik ibunya dan segera mengambil surat kendaraan roda empat miliknya yang jadul itu.
Saat pukul tujuh pagi, Alina yang tidak tidur semalaman pun kini terlihat sedikit tak enak badan, setelah sarapan pagi di pinggir jalan dengan semangkuk bubur ayam, akhirnya dia pun pergi menuju tempat pegadaian.
Alina pun harus menunggu sampai tempat itu buka meskipun tinggal satu jam lagi tapi rasanya sudah satu tahun.
Wanita itu kini tengah duduk di dalam mobil. sementara Junior kini tengah meminta asisten pribadinya untuk mencari keberadaan Alina yang sudah pergi dari rumah pagi-pagi sekali, kini dia mendapatkan laporan bahwa Alina tengah berada di tempat pegadaian.
Junior pun terus berfikir, untuk apa? Alina datang ke tempat tersebut.
Saat Junior hendak menyusul sebuah taksi berhenti di depan pintu pagar, tidak lama Alina keluar dari dalam taksi tersebut.
"Darimana? kamu Honey."ucap Junior sambil menatap kearah Alina dengan tatapan mata penuh tanya.
"Aku habis dari luar Jun, kamu sudah lama disini?."tanya Alina yang berjalan melewati Junior yang terus mengekor di belakang Alina karena heran dengan kekasihnya itu tidak ingin bertatap muka lama-lama dengan dirinya.
"Maaf kan aku Jun, aku tidak bisa menemani mu ngobol aku harus segera pergi."ucap Alina.
"Kemana?."
__ADS_1