Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 66


__ADS_3

Arthur terus menepis semua gosip yang beredar di berbagai media cetak dan sosial tentang pernikahan itu.


Dia jelas menolak itu karena dia dan Katrina memang hanya sebatas teman biasa.


Sementara Luna yang mendengar kabar tersebut dia percaya bahwa memang itu bisa saja terjadi, apalagi saat ini Alina dan Arthur sudah berpisah. jadi kemungkinan itu bisa saja terjadi dulu saja saat mereka masih bersama Arthur bisa menduakan Alina apalagi sekarang.


Namun yang membuat Luna menitikan air mata adalah keadaan Alina yang sangat menyedihkan itu, Arkan sendiri bahkan menyayangkan kenapa? semua itu terjadi.


Pria yang berprofesi sebagai dokter tersebut, dia meminta bantuan kepada rekan sejawatnya untuk mencarikan dokter terbaik untuk mantan majikan istrinya itu.


Arkan tidak tega melihat Luna yang masih sering melamun dan kadang menangis karena Alina saat ini.


Luna yang menganggap Alina sebagai kakaknya sendiri, selama ini ia selalu melakukan yang terbaik untuk wanita itu.


Meskipun selama ini Alina adalah majikannya tapi Alina memperlakukan Luna seperti saudaranya sendiri.


Sementara itu di rumah sakit jiwa, Alina tegah duduk melamun di ruangannya sambil memeluk guling dengan posisi duduk.


Dia tidak berkata apapun seperti pasien yang lainnya.


Hari ini Alina tidak diikat tangan dan kakinya karena dia tidak berontak seperti kemarin.


Namun tidak diperbolehkan untuk dijenguk oleh siapapun kecuali dokter dan wali pasien.


Sementara Alina tidak punya siapa-siapa di sini, Junior pun tidak bisa dijadikan sebagai wali pasien karena tidak ada hubungan persaudaraan diantara mereka.


Meskipun Junior bilang dia adalah calon suaminya Alina.


Alina masih anteng dengan lamunannya, saat ini dia bahkan menolak untuk makan, dokter yang datang pun hanya memeriksa kondisinya yang sudah sedikit membaik.


Namun baiknya itu bukan berarti Alina langsung sembuh begitu, yang dimaksud dokter membaik adalah Alina tidak sehisteris kemarin saat dia baru dibawa kesana. selain dia terus berusaha menyakiti dirinya sendiri dia juga mengancam akan membunuh siapapun yang berani mendekat padanya.


Alina yang terbiasa meminum obat penenang itu tidak sempat meminum obat tersebut saat masalah terbesar baginya itu di alami.


Kini seperti do'a yang dikabulkan oleh yang maha kuasa,agar dirinya bisa melupakan rasa sakit, tapi ternyata tuhan juga menghapuskan bahagianya itu.


Sementara itu di Eropa sana tepatnya di kota Swiss, ketiga anak Alina yang baru selesai main salju pun berhenti sejenak untuk beristirahat.


Mereka ditemani oleh Jenny dan Katrina yang kini juga bersama dengan putra pertamanya dari Junior yang baru berusia 1 tahun.


Katrina yang memutuskan untuk berpisah dengan Junior karena pernikahan mereka tidak pernah sejalan dengan harapan.


Mereka juga memiliki anak itu dari hasil inseminasi karena mereka memang tidak bisa bersentuhan dengan orang salah satunya.


Seperti halnya Junior, Katrina yang juga sudah lama berteman dengan Arthur pun dia tidak alergi saat berhadapan dengan Arthur.


Bahkan mereka sering bersentuhan tangan satu sama lain, selama ini.


"Kenapa? kalian berhenti heumm."tanya Jenny.


"Kami ingin perlihatkan salju pada mommy omah."ucap Alana dan Arionan.


"Owh baiklah pasti mommy kalian sedang tidur."ucap Jenny.


"Telfon saja omah mommy pasti menjawab telefon dari kita."ucap Arion yang kini terlihat sangat antusias dari keduanya.


Jenny pun berusaha untuk menghubungi Alina tapi sampai sepuluh kali panggilan pun Alina tidak menjawab telpon tersebut.


"Mommy kalian mungkin sedang tidur sayang besok kan dia harus mengajar."ucap Jenny lirih.


Wanita itu juga merasa sangat heran karena tidak biasanya menantunya seperti itu, tapi Jenny tidak mengatakan apa-apa di hadapan mereka hanya saja dia mengirim pesan pada suaminya Arda yang kini tengah berada di kantor bersama dengan Arthur.


"Istriku meminta mu untuk menghubungi Alina sekarang juga karena mereka ingin bertemu dengan mommy mereka."ucap Arda.


"Ya, hubungi saja langsung mommy juga punya nomor itu begitu juga anak-anak."ucap Arthur.


"Itulah kenapa? mereka saat ini tidak bisa menghubungi mu maka dari itu aku dan kamu diminta untuk mencari tahu tentang hal itu."ucap Arda lagi.


"Baiklah aku akan menghubungi asisten rumah di rumah lama."ucap Arthur.


"Ya, sebaiknya segera."ucap Arda.


Arthur pun menghubungi asisten rumah Jenny, dan mereka bilang bahwa sudah hampir satu minggu mereka tidak bertemu dengan Alina.

__ADS_1


Arthur jelas kaget karena Alina tidak pernah pergi selama itu tanpa memberitahu dirinya terlebih dahulu meskipun mereka sudah berpisah, itu semua mereka lakukan untuk berjaga-jaga jika ketiganya ingin bertemu dengan Alina.


Dan lagi Alina tidak pernah berpergian kemanapun selain jalan-jalan ke mall, karena dia tidak memiliki kerabat di manapun.


Hingga saat Arthur meminta asisten pribadinya yang berada di Indonesia mencari tahu tentang keberadaan Alina saat ini.


Tiga hari kemudian, seseorang menghubungi Arthur untuk mengabarkan apa? yang Arthur minta selidiki saat ini.


Arthur langsung menjatuhkan handphone miliknya saat mendengar kabar tersebut lututnya terasa sangat lemas hingga dia terduduk di lantai.


"Ada apa?putraku apa? ada masalah yang terjadi dengan perusahaan atau apa?.. apa? Yang terjadi."ucap Jenny yang kini terlihat sangat khawatir dengan putranya yang terduduk lemas di lantai.


"Alina mom,,,, Alina masuk rumah sakit jiwa, dan sudah hampir dua Minggu dia dirawat di sana..."lirih Arthur.


Air mata pria itu terus berjatuhan, kala teringat mantan istrinya yang selama ini terlihat sangat baik-baik saja, meskipun Arthur melihat mantan istrinya itu lebih tirus dari saat mereka sebelum berpisah.


"Apahhh!!."Jenny langsung tidak sadarkan diri.


Arda yang sigap menangkap tubuh istrinya itu dia langsung membawa istrinya menuju sofa dan meminta bantuan dari pelayan karena sampai saat ini Arthur pun masih menangis sesenggukan.


Arthur dan Jenny benar-benar terpukul dengan semua itu.


Sementara itu di Indonesia sendiri, Junior kini tengah duduk di samping Alina yang tengah melamun sambil menitikkan air mata.


"Babe,,, sadarlah dan katakan apa? yang telah menyebabkan kamu bisa seperti ini... aku mohon."ucap Junior lirih sambil menggenggam tangan Alina dengan lembut.


Tapi tidak satupun jawaban yang terlontar dari bibir Alina selain air mata yang sungguh membuat hati Junior benar-benar merasa sakit.


"Babe aku mencintaimu lebih dari nyawaku, katakan hal apa? yang telah membuat mu seperti saat ini."ucap Junior .


"Mendengar kata nyawa, Alina langsung menoleh ke arah Junior, wanita itu menatap lekat wajah Junior yang saat ini tengah menatap sendu padanya.


"Jun.."lirih Alina.


"Ya,,, sayang aku adalah Jun mu, aku Jun sayang kamu mengingat ku."ucap Junior yang kini menatap lekat wajah Alina.


...********...


Junior yang kala itu melakukan penyelidikan secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun, dia menemukan hal yang janggal.


Saat itu dia memergoki seseorang yang bukan perawat masuk kedalam ruangan tersebut.


Junior terus mengikuti orang itu hingga dia keluar dari ruangan Alina.


Kini Junior tau apa? penyebab Alina menjadi seperti itu.


Junior langsung mengeluarkan Alina dari dalam kamar rawatnya meskipun kini kondisinya jauh lebih parah, dari kemarin.


Junior dan membawa Alina paksa dari rumah sakit itu, meskipun dokter tidak mengijinkan hal itu karena bisa membahayakan keselamatan Alina tapi Junior berkata akan membawa Alina berobat di luar negeri.


Alina yang kini terlihat ketakutan pun terus memeluk erat Junior.


"Tenang sayang kamu aman sekarang aku akan membawa mu ke tempat teraman dan ternyaman."lirih Junior .


Junior yang kini membawa Alina menuju ke sebuah rumah sakit yang sudah dia siapkan selama beberapa hari ini dengan berberapa kali berberapa kali.


Sesampainya di sana, dokter tersebut menemukan zat yang sungguh akan mencelakakan Alina hingga Alina bisa benar-benar gila total bahkan akan kehilangan nyawanya jika terus seperti itu.


Sementara Arthur saat ini tengah berada di perjalanan menuju Indonesia bersama dengan keluarganya.


Arthur yang sudah dua Minggu ini merasa tidak tenang karena kondisi Alina akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia.


Arthur mendengar kabar bahwa Alina sudah tidak menghuni rumah sakit tersebut, karena seseorang telah memindahkan dia ke rumah sakit jiwa yang lainnya.


Hati Arthur tidak tenang, hingga dia bergegas kembali ke Indonesia, jelas kesembuhan Alina yang Arthur inginkan saat ini. karena dia adalah ibu dari tiga orang anak mereka.


Arthur yang masih sangat berharap Alina bisa kembali sembuh, dan juga kembali ke sisinya. meskipun itu adalah sesuatu hal yang tidak pernah mungkin terjadi.


Sesampainya di Indonesia Arthur langsung meminta orang untuk mencari tahu dimana? keberadaan Alina saat ini.


Sampai seseorang mengatakan bahwa dia berada di sebuah rumah sakit yang kini benar-benar dijaga ketat oleh orang-orang Junior.


Bahkan mereka tidak memperbolehkan siapapun untuk menjenguk Alina tanpa berhadapan langsung dengan Junior.

__ADS_1


Satu hari sudah Alina dirawat di sana, keadaannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


Saat ini Dokter tidak memberikan obat apapun, karena di tubuh Alina masih banyak zat berbahaya yang harus segera dikeluarkan secara perlahan.


Alina pun terlihat anteng dengan lamunannya,namun sesekali ia akan berkeliling ruangannya itu seolah mencari sesuatu yang telah hilang.


Hingga saat dokter datang bersama dengan Junior mereka tidak langsung masuk tapi mereka memperhatikan pergerakan Alina terlebih dahulu.


Alina pun menatap kearah mereka, lalu tiba-tiba mundur dan menjauh.


"Tidak-tidak jangan bunuh aku, aku akan memberikan apapun yang aku punya tapi tolong jangan bunuh aku."ucap Alina tegas


"Babe,,, aku Jun, aku bukan penjahat aku Junior."ucap Junior yang kini membingkai wajah Alina.


"Tidak-tidak kau ingin merebut semuanya dariku, maka ambillah tapi jangan rebut mereka."ucap Alina yang kini menunjuk kearah bantal guling.


"Siapa? mereka sayang."ucap Junior.


"Jangan mendekat mereka ketiga anak ku,,,,jangan mendekat mereka tidak bersalah."ucap Alina semakin berteriak.


"Babe aku Junior dan aku juga daddy mereka, kau ingat siapa? ketiga anak kita."tanya Junior.


"Mereka anak ku jangan sentuh mereka jangan!."ucap Alina yang kini menghalangi Junior yang mendekati bantal guling itu.


"Baiklah babe, tidak akan ada yang mendekati mereka tapi kamu harus di periksa dulu oke."ucap Junior yang kini mengelus puncak kepala Alina dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Baiklah tapi jangan sentuh anak-anak, biarkan mereka bahagia bersama ku, kau bisa mengambil dia...kau bisa memiliki dia,,, aku tidak akan marah padamu."ucap Alina.


Wanita itu terlihat menitikkan air mata, setelah itu dia kembali tersenyum.


"Kau sangat tampan,,, tapi sayang laki-laki seperti mu tak bisa dipercaya. kamu selalu selingkuh."ucap Alina yang kini menangis sesenggukan.


"Honey,,,."ucap Junior lembut.


"Aku sudah ikhlas,,, ya, ikhlas karena kamu memang tercipta bukan untukku."ucap Alina.


Junior pun langsung bergegas memeluk Alina, ada tetes air mata yang tidak bisa terbendung lagi dari sudut mata Junior saat ini.


Dokter pun tertegun menyaksikan begitu besar cinta Junior untuk wanita yang jelas-jelas tidak ada hubungan apapun dengan Junior saat ini.


Alina pun mulai tenang, dokter mulai memeriksa kondisi Alina, saat ini Dokter bilang kondisinya semakin membaik.


Sampai saat Junior kembali memeluk Alina lalu berbisik."Ingat sayang aku Junior, aku sangat mencintaimu sayang Alina ku."ucap Junior yang kini membawa Alina duduk di atas ranjang empuk yang khusus Junior berikan untuk Alina.


"Dokter, bagaimana? apa? bisa saya bawa pulang Alina untuk dirawat di rumah saja."ucap Junior.


"Begini tuan Junior, kondisi nyonya Alina saat ini masih belum stabil jadi tidak bisa ditawar di rumah sebelum benar-benar stabil.


"Tapi bisakah anda pastikan bahwa saat ini dia benar-benar membaik."ucap Junior.


"Seperti yang Anda lihat dia sudah mulai mengingat sesuatu yang mungkin berkaitan dengan yang selama ini ia derita."ucap dokter itu.


"Ya, dia mengingat ketiga anak mereka dan dia sepertinya sudah mengigat mantan suaminya."ujar Junior.


"Bukankah itu sebuah kemajuan tuan?."ucap dokter itu lagi.


Mereka pun akhirnya meninggal Alina yang kini sudah terlihat jauh lebih tenang.


Alina bahkan tertidur pulas di dengan memeluk bantal guling tersebut.


Sementara itu di kediaman Arthur seseorang telah memberitahu tentang informasi yang berkaitan dengan Alina saat ini.


Alina dirawat di rumah sakit terbaik yang ada di kota itu, Arthur pun merencanakan kedatangannya bersama Jenny kesana.


Sementara Junior yang kini mengetahui siapa? orang dibalik luka Alina saat ini dia kini tengah mencari orang itu dan berniat untuk menangkap orang itu dengan tangannya sendiri.


Sampai saat ini orang itu pergerakannya masih sulit di prediksi, Junior sudah mengerahkan orang-orang kepercayaannya untuk mencari tempat persembunyian orang yang dulu pernah ia tangkap tersebut.


Dia bukan wanita biasa, pergerakannya bahkan lebih licin dari seekor belut.


Dia adalah Teresa mantan istri kedua Arthur yang dinikahi secara terpaksa saat itu.


Teresa ingin benar-benar melenyapkan Alina agar tidak ada lagi yang akan bersaing dengan dirinya untuk mendapatkan Arthur karena saat ini yang menjadi ambisi Teresa bukan hanya Arthur tapi juga harta kekayaan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2