Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 45


__ADS_3

Alina kini sering terdiam setiap kali teringat akan kejadian itu.


Dia berusaha untuk percaya pada kata-kata Arthur, tapi sampai saat ini hatinya seolah menolak apa? yang Arthur ucapkan.


Arthur selalu berkata bahwa dirinya semua itu tidak lah benar setiap kali Alina bertanya ulang tentang hal itu.


Suatu hari Alina yang tiba-tiba ingin pergi ke kantor untuk mengantarkan makan siang yang sengaja ia buat untuk suaminya itu.


Alina tiba di lobby kantor tersebut tapi tidak bertanya atau memperlihatkan kedatangan nya dia langsung berjalan cepat menuju lift khusus presiden direktur.


Sampai saat Alina tiba di depan meja sekertaris Arthur wanita itu hendak mencegah Alina masuk tapi dia kebingungan dan Alina langsung masuk begitu saja, ruangan itu kosong, Alina tidak kembali ke luar untuk bertanya karena gemercik air dari dalam ruangan itu terdengar karena pintu kamar istirahatnya sedikit terbuka.


Alangkah terkejutnya Alina saat melihat kedua pasangan yang bahkan tengah bercinta di bawah guyuran shower karena toilet di sana memiliki kaca transparan.


Alina hanya mematung dengan derai air mata yang terus berjatuhan hingga salah satu dari mereka melirik dan percintaan itu terhenti.


"Alina!!..."teriak Arthur yang langsung meraih bathrobe namun Alina keburu pergi meninggalkan tempat tersebut sakit yang dirasakan olehnya lebih menyakitkan dari pada kebohongan yang selama ini di bangun oleh Arthur.


Alina berulang kali terjatuh hingga di kembali bisa berdiri dan berlari menuju jalan raya.


Dia berharap akan ada kendaraan yang akan menabraknya hingga ia tewas agar rasa sakit itu tidak lagi terasa.


Tangis pedih tanpa suara itu begitu menyesakan dada, rasa sakit yang teramat sangat dan tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata itu nyata adanya.


Berulang kali dia menepuk dada yang teramat menyakitkan itu hingga mobil yang diharapkan untuk menabrak dirinya pun tiba, Alina pun sudah berdoa semoga kedua putranya bisa hidup bahagia tanpa derita seperti yang dialaminya saat ini.


Tapi sampai suara tabrakan itu terdengar nyaring tubuh Alina tidak merasakan sakit apapun.


Alina membuka mata dia melihat sebuah mobil yang hancur total berada di hadapannya.


Seseorang keluar dari dalam mobil tersebut dalam keadaan berdarah-darah dia adalah Junior.


Lagi-lagi Junior yang rela mengorbankan nyawa demi dirinya.


"Jun!!."ucap Alina yang kini tidak sadarkan diri bersama dengan Junior yang terbaring di jalan raya.


Tangan mereka saling menggenggam entah siapa yang melakukan itu terlebih dahulu yang jelas saat ini keduanya tidak dapat dipisahkan.


Arthur yang menunggu istrinya sadar namun tidak kunjung sadar juga.


Alina bahkan dinyatakan koma padahal dia tidak mengalami benturan apapun karena yang mengalami kecelakaan adalah junior yang menghadang mobil tersebut.


Junior sendiri kini sudah sadar dia hanya mengalami luka parah di bagian kepala, beruntungnya tidak kembali koma.


Bahkan setelah dia sadar dia langsung mencari keberadaan Alina.


Junior diantar oleh suster menuju ruang ICU karena Alina dalam keadaan koma.


Dua hari sudah berlalu tapi tangis penyesalan Arthur kini masih terlihat.


Dia mungkin tidak melihat istrinya itu benar-benar mati, tapi nyatanya saat ini lebih menyakitkan daripada kematian.


"Arthur pun tidak pernah beranjak dari duduknya kecuali saat dia harus makan karena Jenny yang memaksa dirinya.


Jenny tidak pernah tau apa ? yang terjadi pada menantunya itu tapi Jenny selalu berharap rumah tangga mereka akan tetap langgeng.


"Sudah waktunya istirahat sayang, kamu pulanglah kasihan kedua putramu ibunya tidak bisa menemui mereka."ucap Jenny.


"Tidak Mom, sebaiknya mommy yang pulang aku titip mereka, aku tidak ingin kemanapun sebelum istriku benar-benar pulih."ucap Arthur.


"Apa? sebenarnya yang terjadi nak, kenapa? istrimu bisa seperti ini... mommy yakin ini tidak sesederhana itu."ucap Jenny.


Yang Jenny tahu Alina kecelakaan saat melintas jalan tapi tidak ada luka sedikitpun di sana kecuali jantungnya yang bermasalah.


Arthur tetap bungkam padahal dia benar-benar melihat kejadian dimana istrinya hampir tertabrak truk tapi mobil milik Junior langsung memotong jalan


Alina tidak terseret karena truk itu juga menghindari mobil Junior yang terseret ke samping trotoar jalan tersebut.


Alina tidak tertabrak mobil manapun karena memang jalanan tiba-tiba sepi.


"Aku juga tidak tahu mom."jawab Arthur berbohong.


Arthur tidak ingin semua itu diketahui oleh ibunya karena jika tidak ibunya tidak akan pernah mengampuninya biarlah Alina yang telah menjadi korban kebodohan dirinya jangan ada lagi siapapun lagi.

__ADS_1


Arthur masih menatap sendu kearah Alina.


"Pulanglah biar mommy menjaga istrimu disini jangan biarkan kedua putramu menjadi yatim Piatu sebelum waktunya."ucap Jenny.


Mendengar kata itu benar-benar membuat Arthur merasa ditusuk dengan sebilah pedang.


Jika dia bisa mengulang waktu kembali dia benar-benar tidak ingin itu terjadi, dia benar-benar tidak bisa melihat ini.


Satu bulan sudah berlalu namun Alina masih dalam keadaan yang sama, bahkan dokter pun sudah angkat tangan karena tidak mengerti dengan apa? yang terjadi pada Alina.


Arthur bahkan sudah membawa kedua putranya yang kini tengah duduk di samping ibunya.


"Mommy bangun, Arion dan Arionan sangat merindukan mommy kenapa? mommy tidak bangun juga."ucap Arion.


"Mommy Arionan kesepian tanpa mommy Daddy juga jarang pulang."ucap Arionan.


Alina tidak kunjung terbangun juga.


Arthur pun sudah putus asa dengan semua itu, dirinya tidak tahu lagi harus bagaimana? saat ini Arthur bahkan sudah mendatangkan Dokter terbaik tapi istrinya tidak pernah mau sadar.


Hingga suatu hari dokter meminta Arthur untuk mengihklas kan Alina yang sudah tidak memiliki tanda-tanda kehidupan karena selama ini hanya alat yang menjadi penopang hidupnya.


Arthur tidak terima dengan itu, dia bahkan mengancam akan meratakan rumah sakit itu dengan tanah jika ada yang berani melakukan hal ini.


Hari demi hari telah berlalu Alina masih tidak bangun juga dan kedua putranya pun sudah mogok makan dan bahkan berat badan mereka menurun Arthur benar-benar sudah frustasi.


Saat itu Junior datang dan mengobrol dengan Alina seakan wanita itu bisa merespon ucapannya.


"Bangunlah honey... apa? kamu benar-benar selemah ini.... apa? kau tidak ingin membalas dendam atas pengkhianatan itu! aku sudah tahu semuanya sayang bangun kasihan kedua jagoan yang selama ini menjadi penguat bagimu."ucap Junior.


Namun Alina tidak merespon sedikitpun ucapan Junior.


"Baiklah sayang tetaplah seperti itu, biarkan mereka bahagia dan kemudian kamu akan mati sia-sia dan putramu akan di bunuh wanita ****** itu satu persatu."ucap Junior lantang.


Tiba-tiba suara detak jantung itu terdengar nyaring, Junior tersenyum saat mendengar dan melihat respon dari Alina.


...************...


Dua bulan sudah Alina koma, dan hari ini adalah hari bersejarah, Alina membuka mata disaat Arthur datang membawa bunga ke hadapannya.


Alina masih terdiam dan tidak merespon sedikitpun permintaan maaf Arthur padanya.


"Sayang maafkan aku, aku benar-benar menyesal."ucap Arthur.


Alina tidak sedikit pun bicara.


Arthur mengerti dengan hal itu karena siapapun akan merasakan hal yang sama dengan Alina.


Pria itu tidak akan pernah bosan untuk meminta maaf kepada Alina sampai kapanpun itu.


Alina yang kini sudah bisa duduk sendiri dia duduk tanpa bantuan siapapun.


Saat Arthur sudah pergi dari rumah sakit untuk bekerja.


Alina masih menitikkan air mata kepedihan yang mungkin tidak akan pernah terhapus kan sampai kapan pun.


Alina meminta suster untuk mengantar dia pulang ke rumah lamanya, dia juga meminta asisten pribadinya untuk membawa kedua putranya kesana.


Dia tidak peduli lagi dengan rumah tangganya setelah ini, rasa sakit itu sudah menutup harapan untuk bahagia bersama dengan pasangan hidupnya, tapi dia akan berusaha untuk bertahan hidup demi kedua putranya.


Sampai saat Alina bertemu dengan keduanya yang tampak jauh lebih kurus tangis pilu itu pecah.


"Mommy jangan menangis lagi, mommy kami tidak mau makan lagi jika mommy tidak ada."ucap kedua putranya itu.


"Sayang mulai sekarang kalian dan mommy akan hidup sederhana disini, tidak ada lagi semua mainan bagus apa? kalian siap."ucap Alina.


"Tidak apa-apa mommy yang penting mommy ada."ucap mereka berdua.


Alina kembali memeluk kedua putranya itu.


Arthur yang mendengar laporan bahwa Alina sudah keluar dari rumah sakit dan kini sudah tinggal di rumah lamanya itu.


Arthur langsung bergegas menuju ke sana, dia akan bersujud di kaki istrinya jika perlu agar Alina kembali ke rumah yang sebenarnya.

__ADS_1


Arthur yang kini terus berusaha untuk datang lebih cepat nyatanya dia harus terhenti saat wanita itu menghadang mobilnya.


"Honey... aku sangat merindukan mu, apa? Kau lupa bahwa saat ini adalah jatahku untuk bersama dengan mu."ucap Teresa.


"Tidak ada lagi, bahkan mulai sekarang hubungan itu telah usai."ucap Arthur.


"Baiklah Arthur, tapi kamu harus ingat honey anak dan istri mu akan lenyap saat kau tiba di sana."ucap Teresa.


"Jangan pernah lakukan itu!! jika itu terjadi aku juga akan melenyapkan dirimu."ucap Arthur yang kini mencekik leher Teresa tapi tiba-tiba puluhan orang bertubuh kekar datang mengelilingi mobil Arthur.


"Ayo lakukan honey... kamu ingin melenyapkan aku bukan."ucap Teresa.


"Kau tahu aku mengutuk mu, semoga kau mendapatkan balasan yang lebih pedih dari yang istriku rasakan selama ini!!." teriak Arthur.


Tapi wanita itu tidak gentar sedikitpun dia malah tertawa terbahak-bahak.


Tiba-tiba saja seseorang membuat Arthur tidak sadarkan diri.


Wanita itu meminta mereka membawa suaminya itu pergi ke Mension milik Arthur.


Wanita itu sudah merencanakan sesuatu yang lebih gila lagi saat ini.


Semua pelayan yang kini tengah ditodong pistol oleh beberapa orang pengawal tidak berkutik sama sekali kepala pelayan itu bahkan mengikuti permintaan Teresa untuk menunjukkan kamar utama milik Alina dan Arthur.


Mereka pun pergi menunjukkan sekaligus menyiapkan semua yang Teresa minta saat ini dia ingin membuat Alina benar-benar tersingkir dari Mension tersebut.


Disaat ini tengah terjadi percintaan panas antara Arthur dan Teresa, Teresa bahkan merekam adegan demi adegan yang merupakan film panas itu hingga selesai.


Arthur yang dalam pengaruh obat itu tidak sadar dengan apa? yang terjadi bahkan dia tidak tau jika saat ini Alina tengah menyaksikan semua itu, dari ponsel asisten pribadinya.


Tangisnya pecah hingga berulang kali ter-batuk dan darah segar itu keluar dari mulutnya.


Asisten pribadinya benar-benar kaget dengan kejadian itu tapi Alina terus berusaha meyakinkan bahwa dia baik-baik saja dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan itu.


Alina menyembunyikan rasa sakitnya yang teramat sangat itu.


Alina yang baru selesai membersihkan darah yang tadi keluar lebih banyak dari mulutnya itu.


"Ya Tuhan jika ini adalah saatnya aku pergi aku titipkan kedua putraku dalam penjagaan mu."lirih Alina.


Alina pun memasuki kamar utama dirumahnya yang kini ia tempati bersama dengan kedua putranya itu.


Alina berbaring di atas ranjang sambil memeluk kedua putranya itu, dia tidak peduli jika setelah itu dia tidak bisa bangun lagi setidaknya rasa sakit itu bisa pergi bersama kepergiannya.


Saat itu Junior datang ke rumah Alina, saat mendapat kiriman pesan dari asisten pribadi Alina yang mengatakan bahwa nyonya Alina muntah darah.


Junior yang kini tengah berdiri di ambang pintu kamar Alina dia menyaksikan pemandangan yang sangat menyayat hati.


"Honey...mau sampai kapan kamu bertahan dalam rasa sakit yang kamu derita."ucap Junior.


Pria itu terlihat menghubungi seseorang.


"Siapkan semua sekarang juga tidak boleh ada yang terlewat."ucap pria itu.


"Sayang bangun, bersiaplah untuk pergi."ucap Junior.


"Apa? maksudnya Jun, ini rumah ku."ucap Alina.


"Ya aku tau itu, tapi penyakit mu harus segera ditangani dan mulai sekarang kita akan membesarkan anak-anak di lingkungan yang aman, kamu tidak perlu membalas ku jika kamu tidak bisa... cukup berikan aku kesempatan untuk bisa melewati hari bersama dengan begitu aku sudah sangat bahagia."ucap Junior yang kini ingin meyakinkan Alina bahwa dirinya siap untuk menjadi teman hidup Alina untuk selamanya.


Alina pun mengangguk pelan, mungkin ini adalah jalan terbaik menjauh dari semua rasa sakit yang ada.


Alina pun membereskan barang-barang milik dirinya dan juga kedua putranya itu.


Sampai saat beberapa orang pengawal Junior datang dan membawa barang-barang milik mereka kini semua.


Saat itu juga Alina dan kedua putranya pergi menuju bandara, dimana pesawat jet pribadi milik Junior sudah siap untuk terbang.


Junior menggendong kedua putra Alina yang sudah seperti putranya sendiri tersebut.


Alina pun pergi dari tanah air menuju tempat yang Junior siapkan untuk mereka nantinya.


Arthur sendiri saat ini baru membuka matanya saat sinar mentari menyapa betapa kagetnya dirinya saat ia tersadar tengah memeluk Teresa.

__ADS_1


"Wanita ****** sialan, sedang apa? kau disini dan apa? yang terjadi!! apa yang kamu lakukan saat ini heuhhhhh."Arthur kembali mencekik wanita itu, saat ini tidak ada satupun orang lain yang bisa menolongnya.


Arthur benar-benar murka jika pun dia harus mati di tangan mereka Arthur sudah tidak perduli lagi hidupnya telah hancur biarlah Arthur pergi membawa derita yang telah menyakiti seluruh keluarganya.


__ADS_2