
"Rasanya sungguh sangat sulit untuk bisa melupakan semua yang sudah terjadi, mungkin tidak untuk waktu yang lama."ujar Alina.
"Heumm,,, apa? tidak sebaiknya kamu pergi ke psikolog biar bisa sedikit mengurangi trauma yang kamu alami."saran Arthur.
"Sepertinya harus tapi aku belum ada keberanian untuk mengungkapkan semua itu pada orang lain."ujar Alina.
"Ya sudah jangan dipaksakan."ucap Arthur lagi.
"Arthur,, sepertinya aku harus segera kembali ini sudah larut malam."ujar Alina.
"Heumm,,, baik'lah mari aku antar pulang."ujar pria yang kini langsung menggendong Alina dan membawa nya untuk pulang ke rumah wanita itu.
"Ar,,, aku berat, turunkan saja aku masih bisa jalan sendiri kok."ujar wanita itu.
"Heumm,,, kamu berat tapi menurut aku lebih berat anak peliharaan mu."ujar Arthur sambil tersenyum.
Arthur berkata jujur, tubuh Alina yang sudah sangat ramping itu.
"Honey ayolah please aku tidak mau tidur terpisah dengan mu, apa? kamu tidak rindu dengan ku? dengan percintaan kita dulu"ujar pria itu.
Mendadak Alina pucat saat mendengar hal itu, dia seakan ketakutan karena teringat hal yang selama ini ia tutupi dari banyak orang.
Alina seakan gemetaran di pangkuan Arthur yang kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ke rumah Alina.
"Alina, apa? kamu baik-baik saja heumm."tanya Arthur yang menyadari itu bahwa kini Alina terlihat sangat kacau dan banjir air mata.
"Arthur,,, apa? semua laki-laki akan seperti itu. apa? laki-laki tidak pernah berfikir jika memperlakukan wanita seperti itu adalah perbuatan dosa."ujar gadis itu.
"Kamu salah Alina,,, tidak semua laki-laki seperti itu."ujar Arthur.
"Oke tidak semua seperti itu tapi kenapa? semua yang aku lihat seperti itu."ujar Alina.
Alina pun langsung bergegas menuju kamar mandi setelah Arthur menurunkan wanita itu.
"Aku pulang dulu Al kamu baik-baik di rumah ingat jika ada apa-apa langsung hubungi aku."ujar Arthur.
"Ya,,, kamu tenang saja aku baik-baik saja."ujar Alina.
Alina langsung meraih handuk kecil setelah membasuh wajah dan menggosok gigi nya.
Sementara Arthur setibanya di rumah nya dia pun melakukan hal yang sama.
Sampai saat mereka terlelap tidur.
Sementara itu di kediaman Almira,,,kini Arda tengah memaksa untuk masuk kedalam rumah karena dia ingin membawa kembali anak istrinya namun Arman melarangnya bahkan dia menghadang Arda yang kini terlihat membawa senjata tajam.
"Al keluar sayang Abang janji semua itu tidak akan terulang lagi! please Al temui Abang, Abang benar-benar minta maaf dan sangat menyesal Al ingat semua yang kita rintis dari nol harusnya kamu ingat itu yang semua itu hanya untuk kalian."ujar Arda.
"Percuma kamu berteriak sampai suaramu habis pun Almira tidak akan pernah mau kembali padamu."ujar pria itu.
"Bang aku mohon aku mengaku bersalah tapi aku mohon kak,,, jangan pisahkan kami berikan aku kesempatan."ujar Arda memohon.
"Yang memisahkan mu dengannya bukan aku, tapi itu adalah perbuatan mu sendiri."ujar Arman.
Pria itu langsung beranjak pergi menuju ke sebuah tempat dimana Adik dan juga keponakan nya berada sebuah apartemen yang sudah lama ia tinggalkan.
Arda tetap menunggu di kediaman Almira bahkan pria itu sampai tertidur pulas di sofa.
Kini penyesalan atas seluruh nafsu yang tidak bisa dikendalikan pun Arda rasakan.
Mungkin jika pria itu tidak datang hal itu tidak akan pernah terjadi dan rumah tangganya mungkin tidak akan sehancur ini.
Hingga saat pagi harinya Arthur sudah bersiap untuk pergi ke perusahaan sebelum dirinya berangkat ke Eropa.
Pria itu sedang ditunggu kehadirannya oleh seluruh pemegang saham saat ini karena mereka mendengar isu perselingkuhan dan keretakan rumah tangga mereka dan salah satu penyebar gosip itu adalah Tiana wanita yang selama ini menjadi duri dalam daging bagi kehidupan rumah tangga mereka.
Tiana selama ini selalu diam-diam melakukan hal yang membuat perusahaan merugi entah apa? maksud dan tujuannya yang jelas Arthur yang akan membereskan semuanya.
Sebelum pergi ke kantor Arthur langsung meminta sarapan pagi nya dibungkus sekaligus untuk Alina.
Entah sedang apa? wanita cantik itu apa? dia masih tertidur atau mungkin sudah bangun untuk merawat tanaman nya.
"Sayang,,, Bunda akan pergi ke makam kakek dan nenek mu. mungkin pulangnya sedikit larut tidak apa-apa kan jika kamu makan malam sendiri untuk persiapan keberangkatan mu Bunda akan siapkan sebelum berangkat."ujar Jenny.
__ADS_1
Jenny pun menyodorkan bekal Arthur untuk ke rumah Alina sebelum berangkat ke kantor.
"Terimakasih Mom."ujar Arthur yang melihat sang Daddy yang kini tengah menunggu giliran untuk dilayani.
Ya,,, meskipun Jenny belum bisa menerima Daniel kembali sepenuhnya tapi Jenny selalu melakukan kewajibannya sebagai seorang istri meskipun tidak untuk berhubungan intim.
Jenny menyiapkan kebutuhan harian pria yang selama ini menduakan dirinya itu.
Meskipun jarak juga mendukung perpisahan tersebut.
Daniel memang kaya raya tapi untuk urusan bepergian atau mengurus hal lainnya harus seijin kedua orang tuanya. karena sejak menikah dengan Tiana hidupnya semakin diawasi oleh kedua orang wanita itu.
Sementara saat ini, setelah kepergian kedua orang tua nya Daniel lebih sering mengabaikan keberadaan istri muda nya itu.
Arthur sudah pergi dengan membawa tas kerja nya dengan bekal yang saat ini dia simpan di jok penumpang .
Arthur langsung membawa mobil tersebut memasuki carport luas milik Alina.
Sesampainya di depan garasi Alina Arthur langsung turun dari mobil.
Arthur langsung disambut oleh dua orang pelayan rumah Jenny yang sampai saat ini Arthur minta untuk menjaga Alina.
"Alina kamu dimana?."tanya Arthur.
"Nona Alina sepertinya masih tidur tuan muda."ujar keduanya kompak.
"Heumm,,,, baik'lah biar aku bangunkan."ujar Arthur.
Pria itu pun langsung naik keatas menuju kamar Alina.
Sesampainya di depan pintu Arthur melihat Alina yang masih tertidur pulas pintu itu terbuka mungkin karena para pelayan yang sudah membukanya tanpa menutup pintu kamar itu kembali.
"Alina bangun ayo sarapan pagi,,, aku mau buru-buru ke kantor dan nanti petang harus segera pergi ke Eropa."ujar Arthur.
"Heumm,,, sudah mau berangkat ya, berangkatlah nanti kamu telat."ujar wanita itu.
"Aku mau sarapan pagi lebih dulu bersama dengan mu. nanti antar aku ke bandara oke."ujar pria itu.
"Heumm,,,"lirih Alina sambil bangkit dari ranjang.
Setelah tiga puluh menit Alina sudah turun dengan menggunakan pakaian yang rapi untuk mengajar setelah hampir satu minggu lebih tidak pergi mengajar.
...*************...
"Aku tidak akan lama disana hanya beberapa bulan saja."ujar Arthur.
"Kamu tidak perlu bilang seperti itu, itu adalah hak mu lagipula aku bukan siapa-siapa mu hanya teman kan jadi tidak perlu mikirin bagaimana perasaan ku."ujar Alina.
"Heumm,,, aku pikir sudah ada kemajuan tapi ya sudahlah aku pergi dulu."ujar Arthur.
"Hati-hati di jalan dan maafkan aku jika nanti petang tidak bisa mengantarmu pergi, hari ini setelah mengajar aku akan pergi untuk menjenguk dia di tahanan."ujar Alina yang kini membuat Arthur mengepalkan tangannya.
Pria itu tidak bicara dia langsung pergi membawa rasa kesalnya.
Bisa-bisanya Alina tidak peka dan bahkan dia berani bilang seperti itu di hadapannya.
Arthur langsung pergi dengan mobilnya menuju kantor, sesampainya di sana pria itu langsung masuk kedalam lift yang membawa dia naik ke lantai atas.
Dia langsung disambut oleh sekertaris baru dan juga asisten pribadinya.
"Siapkan ruang meeting, sebelsebelum aku pergi aku akan memberikan beberapa tugas penting untuk kalian semua hingga aku kembali, ingat aku masih bisa mengawasi pergerakan kalian."ucap Arthur tegas.
"Baik tuan kami siap melaksanakan tugas."ujar wanita itu.
"Ya sudah seharusnya seperti itu."ujar Arthur.
Sampai saat Arthur masuk kedalam ruangannya disusul oleh asisten pribadi sang Bunda pria itu langsung duduk di kursi kebesaran nya meneliti semua laporan yang ada di meja dan menandatangani itu setelah dipastikan benar-benar sudah sesuai.
Arthur terus berkutat dengan laptop dan juga berkas tersebut hingga saat waktu meeting tiba.
Kedua orang asisten mengikuti langkah Arthur yang kini berjalan menuju kamar.
Arthur pun duduk di kursi utama ruang meeting tersebut setelah itu dia langsung mengutarakan semua sambil memberitahu bahwa ia akan pergi ke luar negeri untuk beberapa bulan hingga perusahaan akan diurus oleh sang Mommy.
__ADS_1
Sampai saat nanti dia kembali dia tidak akan mentolerir semua kesalahan yang diperbuat oleh siapapun yang melakukan kesalahan.
Arthur menutup meeting penting setelah selesai mengutarakan niatnya.
Arthur tidak ingin berlama-lama di kantor dia ingin meluruskan perasaan kesalnya tadi pada Alina.
Arthur melihat jam sudah menunjukkan pukul satu itu artinya sedari tadi ia telah melewatkan makan siang nya.
Sampai saat sekertarisnya masuk dan membawa beberapa berkas yang harus ditandatangani olehnya akhirnya Arthur kembali duduk dan memeriksa berkas tersebut.
Arthur langsung bergegas pergi setelah itu dia akan bekerja setengah hari karena sebelum pergi dia akan mengajak Alina jalan-jalan Arthur melihat tatapan mata yang menunjukkan bahwa Alina tidak ingin ditinggalkan oleh nya dan saat ini dia akan membuat Alina mengerti dengan kepergian dirinya.
Hingga saat Arthur berada di depan halaman rumah Alina, rumah itu terlihat sangat sepi.
Arthur langsung masuk namun pelayan bilang Alina belum pulang dari sekolah.
Arthur merasa heran bukankah wanita itu akan mengajar hingga pukul sepuluh pagi selebihnya mungkin kah.
Pria itu menembak-nebak setelah itu dia pun langsung pulang ke rumahnya.
Arthur ingin beristirahat sebelum dia pergi.
Saat akan keluar dari dalam mobil, tiba-tiba ada mobil asing yang juga mengikuti mobilnya.
"Ah syukurlah Anda benar-benar disini."ujar wanita yang kini datang membawa anak laki-lakinya itu.
"Anda tau alamat saya darimana."ujar Arthur.
"Dari rumah sakit yang waktu itu kita bertemu."ujar Almira.
"Ada keperluan apa? nyonya datang ke mari."tanya Arthur lagi.
"Saya ingin minta bantuan anda untuk mengurus perceraian kami."ujar Almira.
"Silahkan duduk tapi maafkan saya tidak bisa membantu anda, saya tidak ingin ikut campur dalam urusan itu rumah tangga saya pun sudah hancur gara-gara itu."ujar Arthur berbohong.
"Arthur tadi kamu mencari ku."kata-kata Alina langsung terhenti saat melihat ada wanita yang pernah dia temui di parkiran rumah sakit.
Arthur langsung meraih pergelangan Alina dia tidak ingin wanita itu salah faham.
"Alina temani aku makan siang Mommy tidak ada di rumah, tapi tunggu aku bicara dulu dengan nyonya Almira kamu bisa masak dulu bersama dengan pelayan."ujar Arthur.
"Heumm,, anak manis ikut Aunty yu kita buac camilan."ujar Alina tiba-tiba saat melihat seorang anak laki-laki yang sangat tampan dan menggemaskan.
"Bunda."ujar Alif meminta izin.
"Boleh sayang tenang saja Aunty baik kok."ujar Almira.
"Heumm,,, jangan takut anak baik Aunty bukan orang jahat kita akan bermain sambil bernyanyi seperti saat sedang di sekolah."ujar Alina yang merupakan guru dari taman kanak-kanak tersebut.
Alif pun mau pergi bersama dengan Alina sementara Almira kembali mengobrol dengan Arthur.
"Tuan saya hanya meminta barang bukti yang saya yakin anda pegang itu saja tidak perlu untuk bersaksi di pengadilan saya tau anda juga korban. awalnya saya tidak ingin bercerai tapi saya ingin ini menjadi pembelajaran bagi saya dan suami saya karena tidak selamanya semua kesalahan terus termaafkan dan tidak selamanya kesabaran itu akan selalu ada jika ujian berat seperti ini tidak pernah berakhir."ujar Almira yang mengusap air mata nya atas kepedihan hatinya yang sudah gagal karena tidak pernah bisa menjadi istri yang baik.
Bukan berarti wanita itu tidak baik justru dia adalah wanita yang terbaik untuk urusan mengurus anak dan suami. tapi dia tidak berhasil membuat suami bahagia lewat kepuasan yang tidak bisa ia berikan.
Arthur sudah menganggat tangan hendak mengelus puncak kepala wanita itu namun hanya mengambang karena dia tau batasan antara wanita berhijab dan tidak.
Meskipun keduanya sama-sama harus dijaga dengan baik namun untuk wanita yang muslimah dia lebih tau sampai mana batas dari sebuah kehormatan atau peraturan.
"Baiklah jika untuk barang bukti saya bisa berikan bantuan, tapi mungkin itu saja tidak akan cukup tapi saya akan meminta orang saya untuk menyelidiki lebih lanjut."ujar Arthur.
"Maafkan saya jika saya mengganggu waktu anda."ujar Almira.
"Tidak apa-apa , sebaiknya Anda juga masuk setidaknya kita bisa bergabung untuk makan siang yang sudah terlewat."ujar Arthur.
"Heumm,,, tidak usah tuan, tolong panggilkan putra saya saja lagipula kami harus segera berangkat jika anda ingin mengirimkan barang bukti bisa langsung kesini."ujar Almira yang memberikan sebuah alamat email dan nomor pribadinya yang baru.
"Alif sayang ayo kita pulang sebentar lagi pesawat akan segera berakat."ujar Almira.
"Anda mau ke luar."ujar Arthur.
"Ya,,, kami sudah tidak punya siapa-siapa lagi disini rumah tempat ku berteduh selama ini sudah hancur karena sebuah pengkhianatan."ujar Almira.
__ADS_1
"Maafkan aku jika saja aku tidak memberitahu semua itu mungkin ini tidak akan pernah terjadi."ujar Arthur.
"Tidak tuan, justru dengan kejadian saya berterima kasih, karena dengan begitu saya tau tolak ukur kesetiaan dari seorang suami untuk istrinya."ujar Almira.