
Kini Alina sudah berada di Mension bersama dengan Arthur dan kedua putranya itu, mereka disambut penuh suka cita oleh para pelayan.
Kedua tuan muda yang baru berusia satu Minggu itu kini tengah berada di dalam kamar mereka yang luas tersebut yang sudah di dekorasi sedemikian rupa.
Keduanya kini tengah tertidur pulas.
Alina dan Arthur kini tengah berada di dalam kamar pribadinya Alina sedang membersihkan diri dibantu oleh suaminya yang terlihat tidak berkonsentrasi pada apa? yang ada di hadapannya saat ini.
Arthur terlihat sering melamun setelah dia kembali dari Swiss.
Alina yang melihat keanehan itu mengira bahwa mungkin suaminya masih dalam suasana berduka, tapi yang sebenarnya yang ada di hati Arthur hanya Arthur dan tuhan yang tau.
"Jangan melamun disini, aku bisa sendiri kok, pergilah."ucap Alina yang tiba-tiba menghentikan lamunan Arthur.
"Ah, maafkan aku sayang aku terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini mungkin karena tuntutan pekerjaan yang akan menyibukkan ku seperti dulu."ucap Arthur.
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu khawatir kamu pasti bisa melewati itu seperti dulu."ucap Alina .
Wanita itu terus menyemangati suaminya itu.
Alina pun membingkai wajah Arthur yang kini tengah membungkuk di hadapannya.
"Tapi dulu dan sekarang berbeda sayang dulu aku belum punya anak seperti sekarang, aku juga tidak pernah mencintai istri ku dan tidak seperti aku yang selalu merindukan mu setiap saat. dulu rumah tangga ku mengalir begitu saja."ucap Arthur.
"Mas tidak perlu khawatirkan aku dan anak-anak akan tetap menunggu mu disini jika mas sibuk disana."ucap Alina.
Arthur kembali terdiam, dirinya semakin merasa sangat bersalah akan pengkhianatan itu, disaat istrinya tengah berjuang melewati antara hidup dan mati demi kebahagiaan mereka tapi Arthur sudah berkhianat padanya.
"Sayang, bagaimana? jika suatu hari nanti aku melakukan kesalahan, misalkan aku tanpa sengaja telah mengkhianati cinta kita."ucap Arthur.
"Tidak sayang.... itu tidak mungkin terjadi, dan yang harus kamu tahu aku tidak akan pernah bisa menerima semua itu kamu sudah tahu sejak dulu bukan."ucap Alina tegas.
Arthur langsung terlihat cemas dan ketakutan saat itu dia langsung memalingkan wajahnya kearah lain.
"Ada apa? mas, jangan katakan jika kamu melakukan itu saat disana."ucap Alina sambil menggoyangkan tangan Arthur meminta jawaban.
"Mas jangan katakan jika kamu melakukan itu kemarin saat aku sedang berjuang disini."
"Tidak sayang jangan berfikir yang macam-macam, mas tidak perlu melakukan hal itu. apa? mungkin mas berkhianat disaat mas memiliki istri secantik kamu."ucap Arthur.
Alina pun terdiam, jawaban yang diberikan oleh Arthur terlihat meragukan.
Alina pun melepaskan tangan Arthur dari pipinya, setelah itu dia pergi kedalam walk-in closed.
Arthur menatap kepergian istrinya itu, dirinya tahu jika saat ini istrinya tengah meragukan jawaban darinya.
Arthur pun menyusul Alina dan memeluk istrinya yang kini terlihat ingin menjauh darinya.
"Honey... maafkan aku, aku tidak pernah melakukan hal itu. aku bertanya seperti itu karena tidak jarang dalam berbisnis itu selalu ada jebakan atau siasat yang akan melibatkan banyak hal termasuk wanita didalamnya."
"Aku bertanya seperti itu karena aku takut jika setelah itu ada sesuatu yang terjadi seperti dulu meskipun aku tidak pernah melakukan hubungan terlarang tersebut, tapi resiko itu bisa menghancurkan hubungan keluarga dan saat itu bukan tidak mungkin skandal itu akan menghancurkan segalanya."ucap Arthur.
"Mas aku percaya kamu bisa menghindari semua itu. maka tolong jangan khianati kepercayaan ku itu! karena jika sekali saja kamu berbuat seperti itu, maka selamanya aku tidak akan pernah bisa memaafkan dirimu."ucap Alina.
"Aku akan pastikan semua itu tidak akan pernah terjadi honey."ucap Arthur tegas.
Alina pun mulai memejamkan matanya saat Arthur mendekat dan mencium lembut bibir itu, tapi lagi-lagi dia merasakan keraguan hati Arthur lewat sentuhan itu.
"Mas, aku harus segera menyusui kedua putra kita."ucap Alina.
"Tentu saja Sayang, aku akan meminta mereka membawa kedua jagoan kita kesini."ucap Arthur.
"Tidak usah mas aku yang akan kesana."ucap Alina.
__ADS_1
"Tidak sayang kamu akan kelelahan, besok kita akan menyiapkan tempat tidur mereka disini agar kita tidak perlu berjauhan dengan mereka."ucap Arthur.
"Aku juga berfikir begitu mas."ucap Alina.
Arthur pun menghubungi kedua asisten rumah tangga kini menjaga kedua putranya itu, untuk sementara waktu sebelum kedua baby sitter itu datang.
Arthur sudah melakukan penyeleksian untuk kedua Baby sitter profesional tersebut sebelum dia berangkat ke Swiss.
Besok mereka akan datang untuk mulai bekerja membantu istrinya itu disaat Arthur tidak berada di samping istrinya.
Karena Alina tidak akan sepenuhnya memberikan kedua putranya diasuh oleh mereka.
Mereka akan bekerja untuk menjaga keduanya disaat Alina sedang mengurus diri disela menjaga putranya itu.
Alina pun pergi meninggalkan Arthur yang kini tengah duduk dan bersandar di kepala ranjang dia hendak beristirahat, tapi lagi-lagi pria itu larut dalam lamunannya.
Alina sendiri tengah menyusui putranya di dalam kamar tidur yang luas dan bernuansa putih tersebut.
Putra mommy yang tampan kalian haus ya, sekarang kalian minum asi dulu yang banyak karena mommy ingin melihat kalian cepat tumbuh besar dan sehat kita akan menjenguk ketiga teman hidup mommy setelah kakek nenek kalian meninggal dunia."ucap Alina sambil tersenyum manis pada putranya yang kini tengah minum asi dari sumbernya langsung.
Kebahagiaan Alina saat ini membuat dirinya bisa melupakan keraguannya atas suaminya itu.
Malam pun berlalu begitu cepat, saat ini tidak ada suami yang biasa merengek meminta jatah malam, selain tau jika selama nifas tidak boleh berhubungan intim. Arthur masih sangat merasa bersalah pada istrinya itu.
Dia hanya tidur sambil memeluk istrinya itu.
Hingga pagi tiba Alina hanya bangun dua kali seperti biasanya, karena kedua putranya itu tertidur begitu pules setiap malamnya.
"Mereka akan terbangun ketika benar-benar haus, dan tangis mereka yang nyaring menjadi alarm bagi Alina.
Kamar mereka memang memiliki pintu yang menghubungkan keduanya, jadi tangis mereka masih akan terdengar, tapi Alina yang sudah tahu jam berapa kedua putranya akan minum asi Alina akan bangun di jam itu.
Kini dia sudah bangun untuk menyiapkan keperluan suaminya meskipun Arthur duo melarang istrinya untuk melakukan hal itu.
Alina tetap kekeuh ingin melakukan hal itu.
Arthur yang kini dibangunkan oleh sang istri dia menatap lekat wajah cantik itu, dirinya ingin meyakinkan bahwa dia tengah bersama istrinya bukan sama mantan istrinya seperti waktu itu.
...************...
Hari demi hari mereka lalui seperti biasanya saat ini sudah satu bulan lebih satu minggu terlewati pasca Alina melahirkan.
Alina tidak pernah melihat suaminya mengeluh karena tidak mendapatkan jatah malam seperti kata ibu mertua dan para pelayan yang ada di sana.
Arthur bahkan masih sibuk dengan pekerjaannya seperti biasanya, bahkan dia semakin sibuk.
Mungkin itulah yang membuat suaminya tidak pernah membahas tentang hubungan suami istri.
Alina pun bisa mengerti, hingga tiga bulan berlalu, sejak saat itu Alina tidak pernah lagi mendapati Arthur yang manja dan selalu merengek seperti biasanya.
Padahal saat itu jujur Alina selalu merindukan sentuhan dari suaminya itu karena itu alamiah bagi wanita ataupun pria normal yang memiliki pasangan.
Suatu malam setelah Arthur baru kembali dari Swiss setelah urusan bisnis, Alina yang sudah berdandan cantik dan sudah menggunakan lingerie seksi tersebut. dia mencoba untuk mendekati Arthur dan Alina pun duduk di pangkuan suaminya.
Wanita itu menatap wajah yang selama ini selalu ia rindukan tapi saat ini terlihat sangat dingin.
"Mas, aku sangat merindukan mu."ucap Alina yang kini membingkai wajah suaminya yang hanya membalas dengan senyuman.
Alina hendak mencium bibir suaminya tapi tiba-tiba Arthur memegang kedua bahu Alina.
"Maafkan aku sayang, aku sudah sangat lelah."ucap Arthur yang langsung membuat Alina merasa benar-benar terluka dan luka itu sangatlah perih meskipun tidak berdarah.
"Ah, maaf mungkin tidak sepantasnya aku seperti ini."ucap Alina yang langsung pergi meninggalkan Arthur mengambil jubah yang merupakan pasangan dari lingerie seksi tersebut.
__ADS_1
"Yank, aku minta maaf."ucap Arthur saat melihat istrinya langsung pergi.
Alina pun menghentikan langkahnya, dia pun mencoba untuk tersenyum meskipun senyum terpaksa.
"Tidak apa-apa kamu bisa istirahat lebih dulu aku akan menemui putra kita."ucap Alina yang kini tengah menahan air mata agar tidak jatuh di hadapan suaminya itu.
Alina pun berjalan cepat meninggalkan Arthur yang kini tengah menatap istrinya dengan tatapan penuh rasa bersalah yang menyelimuti hatinya.
Ada hal yang tidak pernah bisa ia ungkapkan saat ini pada siapapun dan semua itu cukup menyiksa batin karena rasa bersalah pada Alina dan kedua putranya itu.
Alina sendiri kini tengah menangis sesenggukan di dalam kamar mandi di kamar milik putranya.
Tangis pilu itu pecah saat dia mengingat hari dimana? tanpa sengaja dia melihat pesan masuk di handphone suaminya itu yang sungguh menyakitkan.
(Ar, aku hamil bagaimana? dengan tanggung jawab yang kamu katakan saat itu) pesan itu berasal dari nomor tak dikenal.
Alina masih bisa berfikir positif saat itu, mungkin itu termasuk skadal yang rekayasa seperti yang pernah Arthur katakan saat itu.
Namun semakin kesini, suaminya semakin berubah dingin. Alina menatap dirinya di cermin mungkin selama ini ia sudah benar-benar banyak kekurangan. dia kurang cantik dan perubahan bentuk tubuh yang terlihat berisi, Alina sadar dirinya terlalu banyak kekurangan.
Alina kembali sadar diri dan tidak lagi bertanya-tanya kenapa? Arthur tidak pernah lagi menyentuh dirinya.
Alina pun memutuskan untuk mulai merawat diri, wanita itu akan mengisi waktu luang yang sebenarnya tidak pernah ada karena harus memprioritaskan keluarga nya, terutama kedua putranya.
Hari itu setelah Arthur pergi ke kantor, Alina menitipkan kedua putranya itu pada Jenny dan baby sitter yang memang sangat senang menjaga kedua putra mahkota dari Arthur tersebut.
Alina pergi ke sebuah pusat kebugaran untuk mulai merawat diri, tapi sebelum itu dia sudah menyetok asi untuk kedua putra kesayangannya itu.
Alina yang kini sudah mulai berolahraga ditemani oleh instruktur olah raga yang benar-benar berpengalaman dalam bidang tersebut.
Hari pertama dia berolahraga Alina merasa sedikit kewalahan, namun di hari kedua dia mulai terbiasa dan di hari berikutnya seperti itu.
Di satu bulan pertama perubahan bentuk tubuh Alina sudah mulai terlihat memuaskan, sesekali dia akan mengajak kedua putranya ke tempat bermain sambil menunggui dirinya berolahraga.
Dan tidak hanya olahraga yang dia jalani saat ini Alina bahkan selalu melakukan perawatan kecantikan dan juga daerah kewanitaan dengan sering berkonsultasi dengan dokter spesialis.
Alina yang kini tengah berjuang untuk kembali mendapatkan perhatian suaminya itu terus berusaha untuk melakukan semua itu disela waktu mengurus rumah tangganya.
Hari ini disaat Arthur pulang lebih awal dia tidak menemukan istrinya di manapun di setiap ruangan yang ada di Mension tersebut.
Arthur yang bertanya kepada Jenny yang kebetulan tengah menjaga putranya itu dia mendapatkan jawaban yang mencengangkan saat ini dan rasa bersalah itu semakin besar.
"Jangan tanyakan istrimu kemana? tapi tanya dirimu sendiri dimana? selama ini disaat istrimu membutuhkan perhatian mu."ucap Jenny yang selama ini mengerti dengan apa yang terjadi pada menantunya itu.
"Apa? maksud mommy."ucap Arthur.
"Kamu jauh lebih tau dengan apa? yang mommy maksud Arthur, mommy tidak pernah mengajarkan putra mommy untuk bersikap seperti pengecut apa? kamu tidak pernah belajar dari kesalahan mu di masa lalu."ucap Jenny.
"Apa? Alina mengadukan sesuatu pada mommy."ucap Arthur yang kini terlihat gundah.
"Istrimu bukan wanita yang akan mengumbar aib pasangannya, bahkan dulu saat ia tersakiti oleh pernikahan pertamanya dia tidak pernah mengatakan semua yang terjadi dalam pernikahan tersebut, dia lebih suka instrospeksi diri ketimbang menyalahkan pasangannya."ucap Jenny.
"Aku pulang... maaf sedikit terlambat tadi antrian."ucapan Alina terhenti saat melihat sang suami sudah berada di hadapannya.
Arthur memindai penampilan istrinya dari atas kepala hingga ujung kaki, Alina yang kini menggunakan pakaian khusus untuk gym yang terlihat pas di badan dari atas hingga bawah dan hanya tertutup oleh kardigan yang dia kenakan saat ini. dan membawa beberapa paper bag dan juga tas miliknya itu membuat Arthur memalingkan wajahnya.
Pria itu merasa menjadi seorang penjahat yang menelantarkan keluarga kecilnya itu.
Arthur bahkan tidak pernah sadar bahwa saat ini perbuatannya telah melukai istrinya begitu dalam.
"Maaf mas, aku tidak pernah minta izin."ucap Alina.
Arthur masih terdiam saat ini, pria itu masih menatap lekat wajah istrinya yang kini terlihat biasa saja dan tidak pernah menunjukkan rasa sakit akibat perbuatannya.
__ADS_1
"Mas bisa ceraikan aku, yang sudah terlalu banyak kekurangan dan tidak mematuhi peraturan dalam rumah tangga, aku sadar jika selama ini aku tidak bisa memberikan kebahagiaan padamu dan kamu bisa kembali bersamanya dan tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi bahkan mengatasnamakan bisnis untuk bisa bersama dengan dirinya."ucap Alina yang kini terlihat sangat tegar.
Arthur seakan mendapatkan hantaman keras.