
Alina kini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke 29 tahun, wanita cantik itu kini tengah berderai air mata.
Air mata itu terus berjatuhan saat dirinya mengingat akan perjalanan hidupnya selama ini.
Dimalam yang sunyi ini Alina tengah sendirian di rumah besar itu, karena Junior sedang berada di luar negeri sudah dua hari ini hanya ada orang-orang kepercayaan Junior yang tinggal di luar rumah karena mereka diperintahkan untuk menjaga keselamatan Alina.
Alina yang sudah bisa beraktivitas sendiri pun kini tengah duduk di sofa yang ada di balkon kamarnya.
Dia masih menangis dalam diam karena merindukan anak-anak nya saat ini.
Alina berharap Junior akan segera membawa dirinya untuk kembali ke Indonesia agar bisa kembali bertemu dengan ketiganya.
Dia juga berharap Arthur masih berada di sana, bersama dengan ketiga anaknya.
Soal pernikahan Arthur dengan Katrina, Alina sudah merelakan itu, karena dia sadar dirinya bukan wanita yang baik untuk siapapun.
Sampai suara helikopter terdengar nyaring dan Alina melihat seseorang turun dengan gagahnya dari helikopter tersebut.
Alina menatap lekat pada pria yang kini berjalan membawa buket bunga terindah yang yang dulu pernah Arthur berikan kepadanya saat dia tengah dalam keadaan koma.
Alina kembali menitikkan air mata saat teringat akan semua kejadian yang menimpa dirinya setiap kali ia berulang tahun.
Dulu saat ulang tahun ke 22 tahun saat dia menikah dengan Akbar, dia harus mendapati kenyataan bahwa suaminya adalah suami dari wanita lain. dan setelah itu berita buruk kembali datang kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan.
Dan saat bersama dengan Arthur, dia mendapatkan pengkhianatan , lalu mengalami kecelakaan dan sekarang dia pun menjadi pasien rumah sakit jiwa.
Alina masih belum tersadar dari lamunannya dengan derai air mata yang masih mengalir deras bahkan dia tidak sadar jika saat ini Junior berada di hadapannya menyodorkan buket bunga sambil mengusap air mata yang jatuh.
"Babe kamu kenapa? heumm... apa? ada yang menyakiti mu lagi."ucap Junior yang kini tengah mencoba menyadarkan Alina dari lamunannya.
Alina baru sadar saat Junior mengecup bibirnya itu.
"Jun,,,"ucap Alina kaget.
"Babe... kenapa? menangis apa? ada yang menyakitimu."Tanya Junior.
"Ah,,, maafkan aku Jun, tidak ada kok, hanya saja aku merindukan anak-anak."ucap Alina.
"Sayang... mereka sudah kembali ke Eropa jadi kamu harus benar-benar pulih dulu baru kita akan segera berkunjung ke sana."ucap Junior.
"Terimakasih Jun, atas segala kebaikan mu... aku akan pulang saja ke Indonesia."ucap Alina.
"Babe,,, rumah itu sudah tidak aman untuk mu... sebelum wanita itu benar-benar lenyap dari muka bumi ini."ucap Junior.
"Aku, akan menghadapinya sendirian Jun,,, lagipula nyawaku sudah tidak berharga lagi, semua sudah tergantikan dengan yang baru... ketiga anak ku juga sudah mendapatkan pengganti ku.. sekarang apalagi yang aku tunggu di dunia ini."ucap Alina yang kini menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada."ucap Alina.
"Babe... apa? Aku tidak berarti apa-apa untukmu, kenapa? kamu bicara seperti itu."ucap Junior yang kini menatap lekat wajah cantik yang sembab itu.
"Tidak Jun,,, hidup mu terlalu berharga, jadi jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk wanita seperti ku... yang hanya akan membuat hidup mu dalam masalah."ucap Alina sambil bangkit dari duduknya.
Wanita itu terus berjalan tanpa menoleh kearah Junior yang kini terus memanggil namanya.
"Babe,,, aku tidak pernah menyia-nyiakan hidup ku saat bersama dengan mu. justru saat aku berada di sisimu aku merasa sangat bahagia sekarang mommy sudah tiada lagi, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu dan Daddy aku mohon jangan pernah menjauh dariku."ucap Junior.
"Tapi Jun, aku bukan wanita yang baik, aku bahkan wanita yang yang kurang waras itulah kenapa? aku tiba di sini aku bukan."ucapan wanita itu terhenti saat Junior membungkam bibir nya dengan bibir Junior.
Ciuman itu terjadi dalam beberapa detik sampai saat Alina mendorong dada bidang itu agar menjauh.
"Jun aku bukan wanita yang baik untukmu, kamu pria yang baik. Jangan pernah sia-siakan hidupmu dengan membuat pilihan yang salah, aku hanya pembawa sial."ucap Alina yang kini kembali menangis sesenggukan.
"Tidak sayang jangan pernah katakan itu aku mohon kamu terima aku untuk tetap berada di sisimu."ucap Junior yang kini berlutut di hadapan Alina.
"Jun,,, bangun, tolong bangun jangan lakukan itu, kamu orang baik jangan sakiti diri sendiri karena memilih ku."ucap Alina.
"Aku tidak mau bangkit!!jika kamu tidak mau menerima ku menjadi bagian dari hidup mu."ucap Junior yang kini tiba-tiba berteriak hingga Alina terdiam.
Wanita itu, pun ikut berlutut di hadapan Junior.
"Jun,,,mari kita lihat siapa? yang akan bertahan disini,ego mu.... atau aku yang menolak mu demi kebaikan mu sendiri."ucap Alina lirih.
Junior pun hanya menatap lekat wajah cantik itu, bagaimana? bisa ada wanita yang keras kepala menolak pria sepertinya dan beralasan demi kebaikan dirinya.
Wanita terus memikirkan tentang kebaikan orang-orang yang ada di sekelilingnya, sementara dirinya sendiri tidak pernah ia fikirkan.
Sementara itu di negara Eropa sana, pasangan suami istri yang sudah dua Minggu menikah itu baru saja selesai berhubungan intim.
Meskipun Arthur tidak mencintai Katrina sebenarnya, tapi dia punya kewajiban untuk memenuhi kebutuhan istrinya itu mulai dari materi dan nafkah batin.
Meskipun bayang-bayang Alina tidak pernah lepas dari pikirannya sampai saat ini tapi Arthur berharap Alina tidak tahu dengan pernikahan itu, sebelum dia benar-benar sembuh dari depresi yang tengah dia alami.
Tapi Arthur salah, sejak saat pesta pernikahan itu digelar, Alina sudah melihat itu secara langsung, dari Luna yang hendak memberitahu Junior.
__ADS_1
"Ar, mau kemana? tanya Katrina yang kini tengah menggengam tangan Arthur yang akan beranjak pergi dari atas ranjang.
"Tidurlah, aku ada ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."ucap Arthur.
"Ar apa? tidak bisa ditunda."tanya Katrina.
"Aku tidak pernah menunda pekerjaan Kat, sekalipun keluarga ku tengah sakit... karena akan ada lebih banyak lagi orang yang sakit karena kelaparan jika aku tidak bekerja."ucap Arthur yang langsung membuat wanita itu terdiam.
Katrina merasa Arthur tengah menghindar dirinya selama ini. tapi mendengar jawaban Arthur, Katrina teringat saat Alina tengah koma, saat dirinya masih berstatus sebagai istri dari Junior Alexander.
Hingga akhirnya, Katrina melepaskan Arthur pergi karena jawaban Arthur saat ini ada benarnya.
Setibanya di dalam ruang baca miliknya, Arthur langsung mengepalkan tangannya karena lagi-lagi dia merasa sudah mengkhianati rasa cintanya terhadap Alina.
Arthur kini terus berkata maaf pada Alina dalam hati, hingga wanita yang kini ia sebut dihatinya menitikkan air mata, tepat di hadapan Junior yang masih sama-sama berlutut setelah dua jam berlalu.
"Babe,,,menyerah lah, aku tau kamu sudah tidak tahan lagi bukan."ucap Junior.
Tapi Alina dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak Jun, meskipun aku harus mati disini...maka aku akan memilih itu! daripada aku harus menjadi penghancur hidup pria baik seperti mu."ucap Alina yang kini sudah tidak merasakan pergerakan kakinya yang kini terasa kebas.
"Babe,,, kamu tidak akan pernah bisa melakukan itu, aku sudah berlatih untuk ini, sementara kamu aku tau kamu tidak akan pernah bisa tahan."ucap Junior lagi.
"Tidak Jun, kamu salah... sudah pernah di posisi ini bahkan dengan berbulan-bulan lamanya, jadi aku pasti bisa menghilangkan ego mu."ucap Alina.
"Aku ini laki-laki honey, jadi wajar jika aku memiliki ego tinggi lagipula aku melakukan semua itu karena aku sangat mencintaimu."ucap Junior.
Alina pun terdiam, dia tidak tahu harus bicara apa? lagi saat ini. karena Junior memang tidak pernah bisa dibantah.
Sampai saat Alina jatuh pingsan karena kelelahan, saat itu Junior langsung berusaha untuk bangkit dan bergegas menggendong tubuh Alina saat itu juga.
Alina masih belum sadarkan diri sendiri setelah satu jam pingsan, hingga saat dokter memasang infus di tangan Alina dan memberikan sebuah obat yang disuntikkan ke dalam cairan infus tersebut.
Junior masih setia menunggu Alina sadar, untuk membuktikan bahwa dirinya pemenangnya.
Sampai Alina benar-benar bangun dari tidurnya, saat ini Junior tersenyum manis padanya.
"Aku kenapa? lagi Jun... ucap Alina lirih.
"Kamu pingsan sayang dan itu artinya aku adalah pemenangnya."ucap Junior.
Alina pun menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya tepat di hadapan Junior.
Junior pun terus menatap lekat wajah cantik itu mencari kebohongan di mata Alina, tapi sayang Junior tidak menemukan itu.
Tapi pria itu tidak percaya begitu saja hingga dia kembali berkata."Heummm....baiklah sayang berarti tidak ada lagi penolakan atas diriku, saat ini Tepat di hari ulang tahun mu. Aku melamarmu untuk menjadi istriku."ucap Junior dengan lantang sambil memasang cincin berlian itu di jemari tangan Alina yang sampai saat ini masih menggunakan cincin kawin yang dulu pernah Arthur sematkan.
Selama dua tahun lebih cincin itu masih tersimpan di sana dengan baik bukan karena Alina tidak tahu, tapi itu untuk menjaga diri dari laki-laki hidung belang dan demi ketiga putrinya itu.
"Jun,,, jangan lepas itu, ini tidak boleh di lepas, biarlah dua cincin ini menempel di jemariku.
"Dua cincin untuk dua hati yang berbeda, aku tidak bisa terima itu sayang."ucap Junior.
"Tidak Jun, cincin ini hanya akan aku lepaskan setelah anak-anak ku dewasa nanti! atau saat kematian mendahului ku.... aku tidak ingin ketiganya terluka saat mereka tau bahwa aku tidak mengenakan cincin ini lagi dan itu artinya aku dan Arthur benar-benar bercerai.... bagaimana? bisa aku menghadapi mereka setelah selama ini kami berdua membohongi mereka bahwa kami masih bersama....itu semua kami lakukan agar tidak melukai hati mereka."ucap Alina.
"Tapi mereka pasti sudah tahu dengan kalian tinggal terpisah, dan dengan kebersamaan Arthur dengan wanita itu."ucap Junior.
"Aku yakin mas Arthur bisa mengatasi semua itu, jika dulu dia bisa menyimpan pernikahan keduanya dengan sangat rapi...maka aku yakin sekarang pun sama."ucap Alina.
Junior hanya tertegun melihat keyakinan seorang wanita cantik yang benar-benar memiliki hati yang lembut.
"Aku menyesal karena tidak bertemu dengan mu lebih awal Honey,,, tapi baik'lah jika ini yang kamu mau... karena aku yakin sekarang cincin itu sudah tidak memiliki arti apa-apa."ucap Junior.
Junior pun mengelus puncak kepala Alina dengan sayang sambil berkata."Babe... selamat ulang tahun, dan katakan kado apa? yang kamu inginkan saat ini."ucap Junior.
Alina hanya menggelengkan kepalanya, sampai saat Junior kembali bertanya."Kenapa honey."ucap pria itu lembut.
"Aku tidak ingin lagi mengingat hari ter-sial dalam hidup ku,,, dan jangan pernah lagi mengingatkan ku akan hari kelahiran ku yang sudah tidak lagi suci ini."ucap Alina.
"Sayang.... tidak ada hari seperti yang kamu bilang tadi, semua hari adalah hari baik dan kamu tidak boleh bilang seperti itu lagi... kasihan Ayah dan ibu mu dia pasti sangat sedih jika kamu mengutuk hari kebahagiaan bagi mereka... dimana? hari kelahiran buah cintanya justru dikutuk oleh buah cintanya sendiri."ucap Junior.
Alina hanya hanya menitikkan air mata saat mengingat kedua orang tuanya yang begitu menyayangi dan mencintai dirinya. Junior benar, Alina tidak boleh mengatakan itu.
"Maafkan aku Ayah dan Bunda, Alina hanya merasa sedih karena setiap kali Alina akan berulang tahun, Alina selalu mendapatkan rasa sakit yang teramat sangat.
"Aku mengerti sayang tidurlah,ini sudah larut. besok aku akan membawa mu ketempat terindah yang ada di negara ini."ucap Junior yang kini mengecup bibir Alina sekilas.
Sementara Alina kini masih menggenggam erat cincin yang tadi Junior sempat lepaskan.
"Aku tidak bisa memilih akan bagaimana? hidup ini kedepannya, tapi sebelum aku mati aku hanya ingin melihat kalian semua bahagia."ucap Alina.
Kini tidak ada lagi rasa takut pada dirinya untuk menghadapi Teresa meskipun dia harus berakhir di penjara atau pun mati, yang dia inginkan saat ini adalah membalas semua rasa sakit yang telah wanita itu berikan pada dirinya.
__ADS_1
Alina akan tetap pulang ke Indonesia, untuk memancing wanita jahat itu agar segera menghadapi dirinya secara langsung.
Alina benar-benar sudah memiliki tekad yang bulat karena kini Arthur sudah memiliki istri yang baik dan dia bisa menjaga ketiga anaknya tanpa dirinya. jadi sudah tidak ada lagi kecemasan dalam dirinya saat ini.
Alina bahkan akan benar-benar membuat wanita itu tercabik-cabik dan dia akan meminum darah wanita itu jika dia benar-benar berhasil menghabisi wanita keji itu dengan tangannya sendiri.
Tangan Alina terkepal semakin erat, saat ini hingga akhirnya dia memejamkan matanya.
Keesokan harinya, disaat Junior hendak mengajak Alina untuk pergi, dirinya begitu terkejut saat melihat kamar Alina kosong, Junior bergegas mencari keberadaan Alina lewat kamera Cctv namun dia tidak melihat Alina ada di manapun saat ini.
Junior pun meminta anak buahnya berkumpul dan menanyai mereka satu persatu siapa? yang sudah membawa Alina pergi, karena tidak mungkin Alina pergi begitu saja saat dirinya tengah berada di rumah. dan jika Alina ingin pergi kenapa? tidak saat dirinya tidak ada di rumah.
Junior benar-benar murka saat ini, karena tidak ada satupun orang yang tau kemana? Alina pergi dan siapa? yang sudah membawa dirinya pergi.
Sementara itu wanita yang saat ini tengah ia cari dia berada di sebuah gedung tua yang terbekalai pembangunannya entah apa penyebabnya.
Alina tengah terikat di atas sebuah meja besi dan tubuhnya tidak bisa bergerak sedikit pun.
Entah siapa? orang yang sudah membawa dirinya kesana.
Hingga saat Alina membuka mata karena ada tetesan air yang terpercik di wajahnya.
Alina terbangun dari tidurnya.
"Teresa,,, wanita iblis, lepaskan aku jika kau benar-benar wanita tangguh ayo kita bertarung."ucap Alina yang kini terlihat menatap tajam kearah Teresa yang kini tertawa terbahak-bahak.
"Kau, wanita wanita ****** yang sudah tidak waras berani melawan ku... hahaha yang benar saja, lebih baik kau pasrah saja karena hari kematian mu sudah ditentukan."ucap Teresa.
"Aku mungkin akan mati, tapi setelah kau benar-benar lenyap dari muka bumi ini."ucap Alina.
"Hahaha,,, apa? kau pikir kau bisa mengalahkan ku, sampai di langit ketujuh pun mimpi itu tidak akan pernah terwujud.*ujar Teresa.
"Aku akan membuktikan itu sekarang kau lepaskan ikatan ini."ucap Alina.
"Kau lepaskan sendiri wanita gila, dan segeralah sambut kematian mu."ucap Teresa.
"Kau yang seharusnya mengatakan itu pada dirimu sendiri."ucap Alina.
Alina pun tengah berusaha untuk melepaskan tali yang kini tengah melilit tubuh nya.
Dengan memejamkan mata dan kembali terbuka dia kembali melepaskan tali pertama yang ada di lengannya saat ini.
Tapi saat tali itu lepas tiba-tiba meja besi itu bergerak menuju pinggir gedung tanpa dinding tersebut, hingga tampak ketinggian yang benar-benar menciutkan nyali siapapun itu, tapi Alina sudah bertekad untuk tetap berusaha membunuh Teresa agar wanita itu lenyap dari dunia ini.
"Ah,,, aku pikir Teresa yang merupakan seorang putri dari seorang mafia yang sangat disegani itu, adalah seorang pemberani dan jago berkelahi... tapi nyatanya hanya seorang pecundang."ucap Alina sambil meludah ke sembarang arah.
"Sialan kau wanita ****** berani' menghinaku, maka tunggu kematian mu yang sangat mengerikan itu kau akan dapatkan dan terus saja katakan keinginan terakhir mu sekarang sebelum kau benar-benar sudah tidak bisa berbicara lagi."ucap Teresa.
"Tapi tunggu sampai saat Arthur menandatangani surat pengalihan seluruh aset berharga miliknya sebagai tebusan dari wanita yang tidak akan pernah kembali hidup-hidup dan utuh."ucap wanita keji itu.
"Hahaha,,, apa? kau pikir Arthur akan melakukan hal itu demi wanita yang bukan siapa-siapa lagi baginya! disaat dia juga sudah memiliki istri yang cantik dan sangat sempurna baginya... yang benar saja."ucap Alina yang kini didengar jelas oleh Arthur yang benar-benar kaget dan tidak menyangka bahwa pernikahan dirinya dan Katrina sudah diketahui oleh Alina.
Alina bahkan tidak tahu jika saat ini Arthur tengah berjuang untuk membebaskan dirinya, tapi Alina sudah salah faham padanya.
"Aku sudah bukan siapa-siapa pria itu lagi Teresa,,, aku sekarang hanya wanita sebatang kara yang bahkan sudah terlupakan,,, tapi jika kamu penasaran ingin menghabisi ku saat ini juga mari kita bertarung."ucap Alina.
Alina pun sudah terlepas dari jerat tali itu hingga akhirnya dia melompat dari meja yang terjatuh kebawah dengan suara yang terdengar sangat nyaring.
Mungkin jika Alina tetap berada di sana, maka saat ini Alina mungkin sudah jadi mayat.
"Sialan."ucap Teresa yang kini menyerang Alina.
Sementara itu di negeri yang jauh di sana, Arthur benar-benar tengah buat cemas setengah mati, dia menghubungi Junior hingga berulang kali, namun pria itu masih tetap tidak mengangkat panggilan tersebut.
Arthur benar-benar merasa sangat cemas saat ini karena Alina sudah berulang terjatuh tidak bisa menahan serangan dari Teresa.
Teresa bahkan hampir jatuh tersungkur saat Alina tiba-tiba memukul telak dengan menggunakan besi yang tadi digunakan untuk menghajarnya.
Alina pun tengah berusaha untuk bangkit saat melihat kepala Teresa mengeluarkan darah.
"Wanita sialan."ucap Teresa yang kini hendak menghantam Alina. tapi tangan Alia refleks menahan besi tersebut.
Entah kekuatan dari mana saat itu Alina bahkan menghajar wanita itu habis-habisan.
"Aku tidak takut akan kematian, karena hidupku sudah benar-benar hancur... jika pun aku harus mati tidak akan ada orang yang akan berduka atas diriku."ucap Alina yang kini tengah duduk di atas dada Teresa dan hajar wajah wanita itu habis-habisan hingga saat.
Cep....
Sebuah pisau belati itu menancap di punggung punggung Alina sebelah kiri, sesaat sebelum Teresa meregang nyawa.
Alina pun tergeletak di samping mayat Teresa dan bersimbah darah, Air mata itu menetes dari sudut matanya bayangan kebahagiaan masa lampau saat dirinya masih bersama dengan ketiga anaknya dan mantan suaminya itu melintas di ingatan mata Alina pun terpejam.
Sementara anak buah Teresa pun tidak berbuat apa-apa karena tuan mereka sudah tiada mereka pun malah pergi begitu saja meninggalkan mayat yang sudah tidak lagi berharga.
__ADS_1
Arthur hanya bisa menangis menjerit memanggil nama wanita itu.