
Junior lalu memeluk Alina.
"Jun, jangan seperti ini lagi aku masih istrinya sampai saat palu hakim itu di ketuk."ucap Alina.
"Maafkan aku sayang aku terburu-buru."ucap Junior.
Alina pun mengangguk pelan, dia masih bisa bersikap wajar karena dia lebih faham dengan sifat Junior.
Junior sangat sulit jika di kerasin.
"Aku akan membawa anak-anak pulang."ucap Alina lembut.
"Sebentar lagi honey, aku masih ingin bersama dengan mu karena besok aku akan kembali bersibuk."ucap Junior.
"Baiklah Jun."ucap Alina yang kembali duduk meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Honey, setelah kamu pulang nanti mungkin kita akan jarang bertemu tapi kamu tidak perlu khawatir aku akan melakukan apapun untuk menjaga kalian terutama kamu."ucap Junior.
"Tidak perlu Jun, mungkin ini sudah jalannya aku sudah ikhlas kapanpun yang maha kuasa memanggil ku, entah itu lewat sakit atau lewat hal yang tidak terduga aku pasrahkan hidupku padanya."ucap Alina yang sudah tidak ingin lagi menambah hutangbudi pada Junior.
Sementara itu Arthur kini sudah berada di kediaman Jenny setelah menyisir seluruh rumah setelah karena takut ada kamera tersembunyi atau alat lainnya yang bisa memperlihatkan aktivitas Arthur saat ini.
Arthur tengah mengadakan meeting online di rumah ruang baca yang ada di sana dengan keadaan wajahnya yang ditutupi oleh topeng khusus yang dibuat oleh seseorang secara diam-diam.
"Arthur ya ampun lihat ini sayang! Alina!!."teriak Jenny yang kini tengah melihat sebuah kiriman video handphone lama milik Arthur yang di periksa oleh Arda dan kawannya.
"Ada apa? dengan istriku mom ucap Arthur tanpa sadar.
"Alina! teriak Arthur yang kini tengah melihat Alina muntah darah dan tidak hanya sedikit, saat itu Alina pun masih ditangani beberapa dokter dan Junior.
"Honey... ucap Arthur yang kini tengah terduduk lemas di kursi kebesaran yang ada di ruang baca tersebut.
Air mata Arthur menetes deras dia tidak menyangka kehancuran itu terus berlanjut, istrinya kini sudah menjadi korban dia benar-benar menyesal karena tidak membunuh Teresa saat itu juga.
"Alina sayang... maafkan aku."lirih Arthur.
"Arthur sayang Bunda ingin bertemu dengan dia, dimana? sebenarnya istri dan kedua Putra mu itu."ucap Jenny.
"Aku tidak tahu mom, aku pun sedang mencari tahu."ucap Arthur yang sudah lebih dari dua bulan ini tidak bertemu dengan istri yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan tersebut.
Junior adalah kunci untuk menemukan keberadaan Alina saat ini.
Arthur menghubungi orang-orang kepercayaannya yang selama beberapa hari ini membantu dirinya.
Arda pun terlibat di dalamnya, pria yang selama ini menjadi ayah sambungnya itu.
Arda membuktikan bahwa dirinya kini telah berubah dan dia tidak pernah lagi bermain perempuan.
Sampai saat ini Jenny adalah wanita terbaik yang tuhan kirimkan untuk menjadi penyelamat hidupnya dari kesesatan dan dosa yang selama ini ia anggap halal tersebut.
Dia tidak pernah malu memiliki istri yang jauh lebih tua darinya meskipun bonusnya Jenny masih sangat cantik dan awet muda.
Arthur yang tidak tenang itu kini tengah berusaha untuk menghubungi Junior.
Arthur sudah mencari nomor Junior dari pengacara yang kini tengah mengurus proses perceraian mereka.
Arthur ingin segera bertemu dengan istri dan anak-anaknya, tapi sayang sampai saat nomor tersebut dia dapatkan nomor tersebut bukan nomor Junior melainkan asisten pribadi Junior.
Arthur meminta pria itu untuk menyambungkan panggilan tersebut tapi dia menolak itu karena sebuah perintah.
Junior memerintahkan kepada asisten pribadinya itu untuk tidak melakukan itu.
Arthur bahkan sudah berulang kali memohon dan meminta kemurahan hati pria itu, tapi kesetiaan pria itu tidak bisa diragukan.
Sementara Alina sendiri kini tengah bersiap untuk kembali ke Indonesia setelah dua bulan lebih pergi dari rumah tersebut.
Sekarang Alina hanya bisa meminum penawar racun tersebut untuk untuk sementara waktu sampai obat tersebut benar-benar ditemukan.
Saat ini Alina juga sudah pasrah dengan hidupnya.
Dia hanya ingin kedua putranya bertemu dengan Daddynya dan juga sang omah yang akan merawat mereka kelak jika ia benar-benar pergi dari dunia ini.
"Honey sudah dipikirkan baik-baik bukan, saat ini keadaan mu masih belum pulih sepenuhnya."ucap Junior.
__ADS_1
"Jun... aku sudah pasrah dengan semua ini, aku hanya ingin mereka hidup bahagia dengan Omah dan juga Daddynya."ucap Alina.
Alina pun duduk sejenak di samping Junior.
"Jun, kelak jika aku sudah tidak ada, aku harap kamu bahagia cobalah membiasakan diri dan belajar untuk menerima siapapun yang mendekat kepada mu. aku berdoa semoga kamu bisa bahagia."ucap Alina.
"Honey...selain kau dan mommy aku tidak ingin mengenal siapapun lagi kecuali kalian titik."ucap Junior yang kini medekat memeluk erat tubuh Alina.
"Jangan pernah tinggalkan aku Honey, aku sangat mencintaimu."ucap Junior.
"Jun, aku hanya manusia biasa dan tidak bisa menentukan takdir hidupku akan bagaimana? nantinya."ucap Alina.
"Heumm... kamu benar sayang tapi setidaknya jangan pernah menyerah dengan keadaan karena aku yakin kamu akan tetap baik-baik saja."ucap Junior
"Amin."ucap Alina.
"Aku akan mengunjungi mu sesering mungkin dan aku juga akan menghubungi mu nanti."ucap Junior.
"Baiklah tuan tampan yang baik hati, tapi ingat kamu juga harus menjaga kesehatan mu."ucap Alina.
"Tentu saja sayang."balas Junior.
Sementara kedua anak laki-laki yang kini tengah bermain di halaman rumah bersama dengan beberapa orang pengawal keduanya begitu terlihat tertawa bahagia dan sangat riang gembira.
Alina sesekali tersenyum melihat itu.
"Aku ingin menjadi daddy yang seutuhnya bagi mereka kelak, dan mungkin jika ada keajaiban dunia aku ingin memiliki anak perempuan untuk melengkapi kebahagiaan kita."ucap Junior.
"Segeralah menikah, aku yakin kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang berkali-kali lipat."ucap Alina.
Alina yang hendak pergi menuju kamar tiba-tiba Junior menahan tangannya.
"Aku tidak pernah ingin menikah dengan wanita manapun karena hanya kamu yang ada di hatiku."ucapnya tegas.
"Terimakasih atas cinta yang kamu berikan Jun, tapi maafkan aku... aku masih belum bisa untuk membalas semuanya itu."ucap Alina lembut.
"Kamu tidak perlu terburu-buru untuk itu Honey... aku masih akan menunggu mu."ucap Junior.
"Menunggu yang tidak pasti itu akan membuat mu lelah Jun."ucap Alina.
"Baiklah terserah kamu saja Jun."ujar Alina.
Alina pun melanjutkan langkahnya menuju kamarnya sementara Junior kini tengah menghubungi seseorang untuk mengurus keberangkatan Alina.
Alina yang sudah siap dengan beberapa koper dan tas tas kecil milik kedua putranya itu.
...***********...
Indonesia tepat pukul tujuh malam Alina dan juga kedua putranya itu kini tengah berada di dalam mobil jemputan yang kini menuju ke rumah lamanya.
Saat ini kedua anak itu tengah tertidur pulas di atas pangkuan Alina dan asisten pribadi Alina.
Sesampainya di depan pintu pagar, mobil mewah milik Junior yang dibawakan oleh asisten pribadi Junior tersebut memasuki pintu pagar.
Sementara itu di kediaman Jenny yang mengetahui kedatangan mobil itu, Arthur meminta Jenny membawa Arthur ke rumah itu.
saat semua orang telah masuk kedalam rumah tersebut Jenny dan Arthur yang berada di kursi roda dengan sebelah wajah yang ditutupi oleh topeng membuat Alina mematung di tempatnya.
"Mommy."lirih Alina sambil menatap kearah pria yang masih sangat ia kenali.
"Darimana? saja kamu nak, kenapa? kamu tega ninggalin mommy."ucap Jenny yang langsung menghambur memeluk tubuh Alina yang kini terlihat semakin langsing dan tirus.
"Anak-anak ingin berlibur mom, jadi aku membawa mereka pergi daripada di sini dia akan menyaksikan kekacauan yang terjadi."ucap Alina berbohong.
"Owh maafkan mommy tidak tahu disaat kalian mengalami masalah."ucap Jenny.
"Tidak apa-apa Mom lagipula semuanya sudah berakhir sebentar lagi persidangan juga selesai."ucap Alina yang kini terlihat biasa saja seolah tidak merasa terluka sama sekali.
Alina pun mulai melirik ke arah Arthur yang sedari tadi menatap lekat wajah cantik yang semakin terlihat tirus dan pucat itu.
"Bagaimana? keadaan mu Ar, maaf aku tidak menjenguk mu kala itu."ucap Alina berbasa-basi seolah tak pernah terjadi apa-apa pada mereka.
Arthur tidak menjawab pertanyaan tersebut hanya ada tatapan mata penuh rasa bersalah di dalamnya.
__ADS_1
"Dimana? anak-anak."ucap Arthur yang kini tidak memperdulikan Alina sama sekali.
"Nak Alina bertanya tentang kabar mu.... apa? salahnya dijawab dulu."ucap Jenny.
"Tidak apa-apa Mom, akan lebih baik seperti ini toh sekarang kami bukan siapa-siapa lagi."ucap Alina.
"Aku bertanya dimana? anak-anak."ucap Arthur lagi.
Sebenarnya hatinya teramat sangat sakit saat melihat keadaan Alina saat ini tapi Arthur tidak ingin semakin menyakiti Alina dengan berlama-lama di sana.
"Anak-anak di atas, mereka masih tidur sejenak dari pesawat."jawab Alina.
"Mulai sekarang mereka akan tinggal bersama dengan ku dan mommy."ucap Arthur.
"Aku tidak akan melarang asal demi kebaikan mereka apapun itu silahkan saja lagipula mereka berhak bahagia dengan pilihan mereka."ucap Alina.
"Nak apa? yang kamu katakan, tidak baik bicara seperti itu, mereka juga baru kembali dan masih harus istirahat."ucap Jenny yang merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Mom, sepanjang perjalanan kami juga istirahat, silahkan jika kalian ingin membawa mereka."ucap Alina.
"Tidak itu tidak perlu rumah mommy masih rumah kalian semua jadi kamu dan anak-anak bisa tinggal di sana atau pun sekedar berkunjung."ucap Jenny.
"Bawa mereka pulang mom."ucap Arthur tegas.
"Sebentar biar aku bawa keduanya Luna tolong bantu saya."ucap Alina yang kini tengah berusaha untuk tetap tegar.
Ini adalah jalan terbaik bagi anak-anak agar mereka bisa hidup layak bersama mereka berdua dan lagi mereka harus sudah terbiasa saat dirinya sudah tidak ada lagi di dunia ini lagi.
Alina pun pergi bersama dengan Luna. sementara Jenny kini merutukki sikap Arthur yang bahkan sudah berbuat kejam.
"Arthur mommy tidak mengerti apa? isi otak mu saat ini."ucap Jenny.
"Aku hanya tidak ingin kedua putraku hidup di rumah ini."ucap Arthur berbohong.
Alina pun datang dengan menggendong Arion dan Arionan di gendong Luna.
"Sayang, daddy sedang sakit karena mengalami kecelakaan, dan kini dia ingin kalian menemani daddy di rumah Omah kalian harus jadi anak yang baik dan menurut apa? kata daddy dan omah."ucap Alina.
"Arion ingin mommy dan Daddy tinggal bersama bukankah kemarin kita berlibur tanpa daddy."ucap Arion yang kini mewakili hati Arthur.
"Daddy sedang sakit sayang dan memerlukan kursi roda, sedang disini tidak ada lift yang bisa digunakan untuk naik keatas menuju kamar, dan mommy tidak bisa meninggalkan rumah ini.... tapi kalian bisa datang setiap hari temui mommy disini oke."ucap Alina lembut.
"Kenapa? kalian harus tinggal terpisah, kenapa? kalian bisa punya banyak rumah kenapa? tidak di hancurkan saja yang lainnya agar kita tetap bisa tinggal bersama."ucap Arionan.
"Arionan sayang untuk saat ini kamu belum bisa mengerti tapi setelah dewasa nanti kalian akan tahu semua dan mommy berharap kalian tetap menyayangi kami."ucap Alina lembut sambil membingkai wajah tampan putranya itu.
Seolah tak terjadi apa-apa, Alina tetap bersikap tegar, hingga keduanya dibawa oleh Jenny dan Luna sementara Arthur masih berada di sana.
"Anak-anak sudah berada di tangan mu, dan satu yang aku pinta tolong jangan biarkan mereka tau jika perpisahan kita disebabkan karena perselingkuhan. Aku tidak ingin mereka membenci ku karena telah gagal menjadi istri dan ibu yang baik bagi mereka."ucap Alina.
Wanita itu langsung berbalik dan pergi berlari meniti tangga menuju lantai dua dimana kamar dia berada.
Alina tersungkur di lantai tepat saat dia masuk kedalam kamar nya, darah itu tidak bisa dia hentikan bersama dengan tangis dan rasa sesak di dada.
Arthur tidak tahu itu karena dia berada di bawah hingga saat Luna datang dan langsung bergegas menuju kamar Alina.
"Nyonya!!!."teriak Luna yang kini benar-benar tidak menyangka dengan yang ia lihat.
"Tuan tolong panggilkan ambulans!! teriak Luna yang kini tengah berada di atas.
Arthur yang kaget pun langsung bergegas bangkit dan berlari tidak peduli jika saat ini ada orang yang melihat itu.
Keselamatan istrinya adalah yang utama.
Arthur langsung berteriak keras saat melihat Alina sudah tidak sadarkan diri dengan genangan darah di lantai.
Arthur langsung meraih tubuh istrinya dia berlari membawa istrinya yang sudah tidak sadarkan diri tersebut menuju mobil yang terparkir di halaman rumah.
"Mommy... Alina mom."ucap Arthur yang kini dibantu oleh sopir segera berangkat ke rumah sakit bersama dengan Luna dan Arda yang berlari saat itu juga masuk kedalam mobil.
Arda tidak ingin rahasia Arthur terbongkar dia juga harus membantu menolong menantunya itu.
"Sayang apa? sebenarnya yang terjadi."ucap Arthur.
__ADS_1
"Nyonya akan seperti ini tuan apalagi jika jiwanya tengah bergejolak, virus yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya membuat nyonya hampir tewas jika saja tuan Junior tidak menolong dia, wanita itu yang sudah menyuntikkan virus pada nyonya saat dia pingsan."ujar Luna.