Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 52


__ADS_3

Arthur berjalan menuju mobil jemputan bersama dengan kedua asisten pribadinya sementara Jenny dan Arda saat ini bersama asisten pribadinya yang sengaja menjemput Arda dan istri.


Arthur sendiri masih sibuk dengan pekerjaannya sejak berada di dalam mobil.


Pria itu kembali menjadi pria yang gila kerja.


Dia melakukan itu untuk menutupi luka batin yang selama ini membelenggu dirinya.


Rasa bersalah Arthur pada mantan istri dan juga ketiga anaknya selalu menghantui dirinya disaat waktu senggangnya.


Bayangan masalalu yang selama ini berseliweran di kepalanya bagai film yang diputar berulang-ulang, Arthur pun harus meminum obat tidur untuk bisa beristirahat barang sejenak.


Setelah itu barulah ia akan tertidur nyenyak.


Arthur pun tiba di rumah Jenny tepat pukul tujuh malam seperti biasanya jadwal kepulangan Arthur selalu di jam itu.


Arthur yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan ketiga anak dan juga putrinya yang baru ditemukan itu dia nekad pergi menuju rumah Alina yang kini tengah menyuapi putrinya karena kedua putranya sudah pintar makan sendiri.


"Sudah kenyang mommy"ucap sikecil.


"Satu suap lagi sayang, ini tanggung."ucap Alina.


"Nyonya di depan ada tuan Arthur."


Deg.....


Ucapan Luna langsung membuat Alina merasa di timpa beban berat di bagian dadanya.


"A Arthur."ucap Alina yang tiba-tiba melihat Arthur sudah muncul di hadapannya.


"Ya sayang... aku datang untuk menemui kalian terutama putri kita."ucap Arthur tegas.


"T tau dari mana kamu tentang Alana."ucap Alina yang kini terlihat gugup karena tidak menyangka jika mantan suaminya itu datang karena mengetahui keberadaan putrinya itu.


"Kenapa? harus dipertanyakan sayang, bahkan perselingkuhan mu dan Junior pun aku tau, hanya saja aku membiarkan itu dan aku anggap sebagai balasan atas perbuatan ku dulu."ucap Arthur.


"Aku tidak pernah berselingkuh seperti dirimu, kedekatan kami sejak dulu kamu juga tau itu bahwa kami hanya berteman."ucap Alina membela diri.


"Heeuh.... teman tapi mesra maksudnya yang selalu dibumbui dengan peluk dan cium."ucap Arthur yang kini mendekat ke arah Alana.


"Daddy."ucap gadis itu cadel.


"Owh putriku tersayang dan satu-satunya yang daddy milik."ucap Arthur yang kini langsung menggendong dan memeluk gadis kecil itu dengan erat dan tangis pilu.


Disusul oleh kedua putranya yang juga memeluk kedua kaki Arthur.


Arthur pun langsung bergegas berjongkok dan memeluk ketiganya.


"Sayang daddy,,, maafkan daddy yang sudah berbuat banyak kesalahan pada kalian semua."ucap Arthur yang kini masih memeluk ketiga anaknya itu.


Arthur langsung bergegas membawa mereka keatas sofa yang tidak jauh dari sana.


"Daddy sangat merindukan kalian sayang, bagaimana... apa? mommy memberikan kalian semua yang kalian mau."ucap Arthur.


"Apa? maksud mu Ar, aku memang tidak kaya raya seperti dirimu! tapi aku mampu memberikan makan untuk mereka dan berpakaian layak meskipun aku tidak seperti mu."ucap Alina yang tiba-tiba berteriak marah karena merasa tersinggung.


"Sayang... aku hanya bertanya kepada mereka, kamu tau sendiri dengan apa? yang aku maksud, nafkah yang aku berikan tidak pernah kamu gunakan kalaupun ada mungkin hanya beberapa rupiah saja! kenapa? semua itu kamu lakukan Alina.... aku tahu kamu membenci ku tapi tidak seharusnya kamu lakukan itu! karena ketiga anak kita masih sangat membutuhkan semuanya."ucap Arthur.


"Bisa bicara pelan-pelan, mereka pasti kaget."ucap Alina yang kini meraih putrinya dari pangkuan Arthur.


"Daddy jangan marah sama mommy, mommy sudah lelah mengurus kami juga mengurus pekerjaannya setiap hari."bela Arion si cikal.


"Iya Daddy mommy sibuk berjualan, di rumah makan apalagi Daddy Junior sudah tidak bersama dengan kita lagi."ucap Arionan.

__ADS_1


Arion, dan Arionan pun mengatakan hal yang mengejutkan.


"Benarkah itu honey, kenapa? kamu tidak menggunakan uang yang aku berikan untuk mencukupi kebutuhan kalian berempat, bukankah sudah aku bilang itu adalah hak kalian."ucap Arthur.


"Aku menghemat semua itu untuk masadepan mereka, dan lagi aku ingin mereka belajar hidup sederhana karena tidak selamanya aku bisa bekerja dan menghasilkan uang untuk menghidupi mereka."ucap Alina.


"Alina sayang aku bekerja untuk kalian semua."ucap Arthur.


"Mungkin untuk ketiga anak kita, tapi tidak untuk ku Ar kita sudah tidak memiliki kewajiban apapun untuk menafkahi ku."ucap Alina.


"Yank.... aku tidak pernah menganggap mu sebagai mantan istri ku, karena tujuan awal ku menceraikan mu itu karena aku ingin melindungi mu! Aku mengikuti saran dari Arda."ucap Arthur.


"Arthur, apapun itu kita tetap sudah bercerai dengan begitu kita sudah tidak memiliki hubungan lagi kecuali untuk anak kita."ucap Alina yang kini langsung mengajak ketiganya untuk gosok Gigi dan bersih-bersih sebelum tidur.


Arthur yang kini terus mengekor di belakang Alina dan membantu membawa kedua putranya yang kini sudah tumbuh besar di usia tiga tahun enam bulan.


Arthur juga membantu keduanya menggosok gigi setelah melepaskan jas yang ia kenakan dan menggulung lengan kemeja sampai ke sikut .


Arthur pun membantu putrinya untuk menggosok gigi dengan penuh kehati-hatian dan kelembutan sesekali Arthur juga mengelus rambut putrinya yang halus dan lembut itu dan mengecup puncak kepala gadis kecil itu.


"Daddy sudah selesai."ucapnya lagi.


"Kamu benar-benar sayang yu ganti baju dengan piyama tidur mu Honey."ucap Arthur yang terlihat leluasa melakukan hal itu.


Arthur pun langsung bergegas pergi menuju kamar tidur mereka bertiga saat ini.


Bersama Alina dan Luna mereka mengurus ketiganya.


Setelah memastikan ketiga anak itu tidur Arthur menarik Alina ke arah balkon sementara Luna pergi ke kamar pribadinya.


"Duduklah kita harus bicara Honey."ucap Arthur yang terlihat arogan seperti dulu.


"Kita tidak ada yang harus dibicarakan, anak-anak sehat seperti yang kamu lihat tidak ada keluhan sama sekali."ucap Alina.


"Ar, kita tidak punya lagi masadepan kecuali masadepan anak-anak kita, semua buku harian kita sudah ditutup."ucap Alina.


"Yank... aku akan lakukan apapun untuk bisa menebus semua kesalahanku padamu, tapi tolong..... tolong maafkan aku honey."ucap Arthur.


Alina hanya menggeleng pelan.


"Kamu bisa membangun keluarga baru dengan wanita lain Ar, lupakan semua tentang kita lupakan aku kamu hanya perlu mengingat ketiga anak kita saja. karena aku sudah tidak punya harapan untuk semua itu."ucap Alina sambil menatap Arthur.


"Alina, yang aku cintai itu hanya kamu bagaimana? bisa aku membangun keluarga baru dengan orang asing."ucap Arthur.


"Bisa Ar, dulu kamu bisa menikah dengan Ririn tanpa cinta tapi hanya dengan nafsu pun kamu bisa menikah dengan Teresa."ucap Alina sambil memandang ke arah lain.


...*************...


Setelah hampir tiga puluh menit mereka saling diam, Arthur pun kembali bicara'.


"Aku menikahi keduanya karena desakan Alina, aku terpaksa."ucap Arthur.


Alina pun terlihat menatap Arthur, wanita itu tersenyum penuh luka. terlihat dari tatapan matanya.


"Keterpaksaan ataupun bukan, yang penting kamu bisa merasakan nikmatnya bercinta dengan begitu bergairah....lalu apa? bedanya."ucap Alina.


Arthur kembali terdiam, perkataan itu bagaikan Hujaman belati yang menembus hati sanubari.kala teringat Alina memergoki dirinya tengah bercinta di dalam kamar mandi pribadinya di kantor.


"Maafkan aku honey, saat itu aku dalam pengaruh obat."ucap Arthur.


"Ar, kamu tidak salah apa-apa saat ini jadi tidak perlu meminta maaf aku hanya sebuah masalalu yang tidak pernah berarti dan berharga Dimata siapapun."ucap Alina lirih.


"Alina sayang kamu salah.... justru kamu adalah yang paling berharga didalam hidupku selama ini. ditambah dengan ketiga anak kita bahagia ku sudah jauh lebih besar..... tapi sepertinya terlalu banyak kekurangan ku yang tidak pernah bisa menghadapi ujian dan aku tidak bisa melindungi kalian."ucap Arthur.

__ADS_1


"Ah... sudahlah, kita tidak perlu membahas tentang semua itu lagi... sejak kamu memutuskan untuk membuang ku dari hidupmu sejak saat itu aku sudah tidak ada disana lagi."tunjuk Arthur pada dada sebelah kiri Arthur.


"Kamu salah yang kamu benar-benar salah."


"Cukup! Ar aku bilang cukup."ucap Alina yang langsung pergi meninggalkan Arthur disana.


"Honey, aku bisa pastikan semua itu adalah benar adanya... sampai saat ini dan selamanya kamu adalah satu-satunya wanita yang sangat aku cintai."ucap Arthur tegas.


Alina yang sudah jauh dari arah Arthur pun berbalik menatap kearah Arthur.


"Pulanglah ini sudah sangat larut kamu bisa kembali besok untuk menemui mereka atau mengajak mereka main seharian penuh jika tidak ada pekerjaan aku tidak bisa menemanimu mengobrol karena harus menyiapkan semuanya."ucap Alina yang kini kembali turun dan berjalan menuju dapur.


Alina menyiapkan semuanya saat itu juga mulai dari perbumbuan dan juga bahan masakan itu sendiri, semua dikerjakan oleh dirinya sendiri.


Arthur yang kini masih setia berdiri di sana pun menyaksikan semua kegiatan Alina mulai dari meracik bumbu dari seabrek menu yang ia masak nantinya hingga membersihkan ikan dan daging yang ia potong-potong dan setelah ditiriskan dimasukkan kedalam wadah dan ditaruh di freezer.


Sementara itu dia juga membersihkan sayuran dan tidak hanya satu jenis sayuran yang ia buat.


Alina dengan cekatan mengerjakan semua itu, hingga akhirnya selesai di jam sebelas malam.


Alina pun menatap Arthur yang sedari tadi belum juga pergi.


"Maafkan aku, aku tidak tahu jika kamu masih ada di sini dan tidak membuatkan kopi untukmu aku sudah tidak menyimpan semua itu di sini."ucap Alina.


Arthur hanya menggeleng dengan tatapan mata penuh kepedihan, hatinya benar-benar teriris melihat Alina yang sampai saat ini belum istirahat dan masih harus bekerja di tengah kondisi yang belum benar-benar stabil.


"Maafkan aku sayang hiks hiks hiks maafkan aku."Arthur menangis sesenggukan di hadapan Alina dia bahkan bersujud di kaki Alina memohon pengampunan atas segala dosa dan kesalahan yang telah membuat semua menjadi seperti ini.


"Ar, apa? Yang kamu lakukan bangun Ar... aku sudah memaafkan mu, dan aku yang seharusnya meminta maaf karena tidak pernah bisa menjadi istri yang sempurna dulu untuk mu."ucap Alina.


Arthur yang kini sudah bangkit, dia menggelengkan kepalanya."Tidak sayang kamu adalah wanita paling sempurna yang pernah ada dalam hidup ku, kamu adalah perempuan hebat, jangan pernah merendahkan dirimu aku adalah pria yang paling beruntung karena telah mendapatkan wanita terhebat seperti dirimu aku benar-benar menyesal karena telah terburu-buru mengambil keputusan."ucap Arthur.


"Kita mungkin tidak ditakdirkan untuk hidup bersama lagi Ar, tapi kita bisa bekerja sama untuk merawat dan membesarkan mereka."ucap Alina.


"Aku akan berusaha untuk bisa menebus dosa-dosa ku, dan aku akan berusaha lebih keras untuk bisa mendapatkan hatimu kembali."ucap Arthur.


"Pulanglah kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh, aku juga akan istirahat sampai pukul tiga nanti."ucap Alina.


"Aku mohon jangan lakukan itu lagi, kamu masih harus banyak istirahat agar kesehatan mu tidak lagi terganggu."ucap Arthur.


"Aku baik-baik saja Ar, aku masih bisa bekerja keras untuk mereka setidaknya selama sisa hidup ku. aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk ketiga anak kita."ucap Alina.


"Tidak sayang, kamu sudah melakukan semuanya sejak mereka tumbuh dan hadir di kehidupan kita."ucap Arthur.


"Itu belum cukup Ar, waktu masih begitu panjang... mereka butuh semua itu hingga mereka dewasa nanti dan berumah tangga, kelak jika aku sudah tiada tolong bilang pada mereka bahwa aku sudah berusaha untuk membahagiakan mereka meskipun pada akhirnya aku harus pergi lebih dulu."ucap Alina.


"Tidak sayang, jika kamu ingin kita menjadi partner untuk mengurus mendampingi mereka, maka kamu harus tetap sehat dan bertahan hidup disisi kami."ucap Arthur yang kini memeluk erat Alina.


"Ar, lepas aku bau."ucap Alina.


"Aku tidak peduli meskipun kamu kotor sekalipun."ucap Arthur yang kini mencium puncak kepala Alina.


"Ar."ucap Alina lirih.


"Aku menyesal karena tidak bisa menjadi perisai bagimu dan bagi keluarga kecil kita selama ini semua karena aku yang terlalu pengecut."ucap Arthur.


"Sudah Ar , semua sudah takdir sekarang kamu lebih baik pergi istirahat karena besok mereka akan meminta mu untuk bermain seharian, dan usahakan jangan terlalu mengikuti semua keinginan mereka untuk membeli ini dan itu karena aku tidak akan sanggup memenuhi itu nanti saat kamu kembali kesana."ucap Alina.


"Aku tidak akan pernah pergi lagi kecuali jika ada keadaan mendesak saat ini hidupku akan kehabisan bersama kalian semua."ucap Arthur yang kembali memeluk Alina lalu mengusap lembut puncak kepala mantan istrinya itu dan pergi dengan derai air mata.


Alina pun pergi menuju lantai dua karena pintu akan terkunci otomatis saat pintu itu di tutup.


Alina pun hanya bisa menitikan air mata, tapi bukan karena dia menyesal telah menolak Arthur untuk kembali, tapi dia teringat perlakuan Junior seperti yang Arthur lakukan tadi hanya kecupan di bibir yang tidak ia dapat dari Arthur.

__ADS_1


Sementara Junior sendiri saat ini tengah menatap langit, sambil memohon agar langit itu menyampaikan rasa rindunya pada Alina, saat ini dia tengah berada di Kanada untuk sebuah pertunangan.


__ADS_2