
Sementara Arthur yang kini keluar dari dalam ruangan tempat Alina dirawat dia melirik kearah Luna dan seorang dokter yang dia tau seorang dokter ahli syaraf.
Arthur pun mendekat.
"Luna tolong jaga nyonya sebentar saya ada urusan sebentar."ucap Arthur.
"Baik tuan saya juga sengaja kesini untuk menggantikan tuan menjaga nyonya karena anak-anak tadi terbangun ingin tidur dengan tuan."ucap Luna.
"Mommy dimana?."tanya Arthur.
"Nyonya besar ada di apartemen bersama dengan anak-anak dan tuan Arda. tapi nyonya bilang anda harus kembali ke apartemen secepatnya."ucap Luna.
"Lalu baby sitter mereka dimana.? Aku tidak mungkin pulang dimana saat istriku sudah menunjukkan kemajuan,,, hubungi mereka untuk mengurus anak-anak kamu juga harus pulang setelah saya kembali."ucap Arthur yang langsung pergi begitu saja.
"Owh,,, benarkah.? Yang aku dengar tadi nyonya sudah memiliki kemajuan."ucap Luna yang bertanya kepada dokter yang kini ada di sampingnya itu.
"Kau punya kuping nona, jika kamu bukan baby sitter lalu apa? pekerjaan mu."ucap Dokter tadi.
"Kepo banget."ucap Luna.
"Heumm,,, ya sudah jika tidak mau jawab permisi."ucap dokter itu yang melewati Adista begitu saja.
"Heumm,,, untung ganteng jika tidak sudah ku pelintir tangannya yang satu itu."ujar Luna.
Sementara Dokter itu hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Luna langsung masuk kedalam ruangan Alina. tanpa dia sadari saat ini ada seseorang yang tengah memeriksa rekap medis milik Alina dan juga meneliti hasil pemeriksaan lanjutan.
Aluna tidak melirik kearah meja dokter yang ada di ruangan Alina. dia justru mendekat ke arah Alina.
"Nyonya selamat ulang tahun, nyonya pasti mendengar suara Luna kan nyonya pasti ingat Luna bukan?."ucap Luna.
"Bertanya itu satu-satu jangan sekaligus lagipula dia tidak akan pernah menjawab mu."ucap dokter tadi.
Luna yang kaget langsung melirik ke arah dokter tadi.
"Ah, sejak kapan Anda disini."ucap Luna.
"Apa? harus aku jawab."ucap dokter itu membalas perkataan Luna tadi.
Luna langsung diam dan meraih tissue untuk mengusap sudut mata Alina yang kini berlinang air mata.
"Nyonya bilang akan hadir di pesta pernikahan ku, apa? nyonya tau jodoh Luna ada di sini."ucap Luna sedikit berbisik agar tidak bisa didengar oleh dokter itu.
Tapi Luna salah karena dokter itu punya pendengaran yang sangat tajam.
"Apa? kau tau berbohong pada orang sakit' itu dosa."ucap pria tampan itu.
"Apa? sih nyambung terus padahal di antara kita tidak ada kabel per sambungan."ucap Luna.
"Aku hanya mengingatkan. terserah jika kamu tidak mau mendengarkan."ucap dokter itu.
"Lagipula siapa? yang bohong."ujar Luna.
"Kamu."ucap dokter tadi.
"Aku bicara apa adanya dokter Jalaludin Akbar."ucap Luna.
"Nama siapa itu?."ucap dokter yang kembali fokus pada hasil foto scene tersebut.
"Tentu saja nama dokter."ucap Luna cuek.
"Kamu buta huruf ya?."ucap dokter itu.
"Memang itu kenyataannya."ucap Luna.
"Lihat ini nona Luna. Aksan! ."ucap Dokter yang memiliki nama Aksan Wijaya.
"Ya terserah dokter mau Aksan atau aksesoris pun aku tak peduli yang jelas jodoh Luna."ucap Luna cuek.
"Coba ulangi sekali lagi."ucap dokter Aksan.
"Jodoh Luna,,, L u n a... Luna."ucap Luna tegas.
"Maaf nyonya Luna saya sudah punya istri."ucap dokter tampan itu.
"Tidak ada yang nanya!."ucap Luna.
Sementara dokter itu geleng-geleng kepala.
"Lalu mana yang kamu bilang jodoh mu ada disini."ucap Aksan.
__ADS_1
"Apa? dokter lihat disini ada orang lain."ucap Luna.
"Tidak ada."ucap Aksan sambil menggeleng.
"Tuh tau berarti hanya anda."ucap Luna.
Dokter itu pun terdiam dan hanya ada senyum kecil yang sungguh manis jika saja wanita itu bukan Luna mungkin wanita itu sudah baperan.
Namun sayang Luna tidak tertarik sama sekali dia hanya ingin mencairkan suasana. karena setiap kali Luna datang Air mata itu jatuh tak tertahankan.
"Nona Aluna, tuan Arthur kecelakaan.! dia sedang berada di IGD rumah sakit ini."ucap asisten pribadi Arthur.
"Tidak!!!... ini tidak mungkin Nyonya masih seperti ini! tuhan,,, tolong jangan ambil mereka dari kami mereka semua orang yang sangat baik kasihanilah ketiga anak mereka yang masih sangat kecil."ucap Luna yang kini terduduk lemas sambil menangis sesenggukan di lantai.
"Luna bangun kalau bukan kamu siapa? yang akan mengurus tuan saat ini, disini ada dokter jaga keadaan tuan sangat parah."ucap asisten pribadi Arthur.
Luna langsung bangkit dan berjalan cepat sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya itu.
Sementara itu di ruangan Alina tiba-tiba monitor detak jantung Alina mengejutkan Dokter Aksan yang kini langsung meminta bantuan dokter lain lewat emergency room , tidak lama dokter dan beberapa orang perawat langsung menuju kesana.
Kali ini Alina terlihat terlihat kejang-kejang dan dengan detak jantung yang terlihat sangat cepat Dokter langsung menangani Alina dengan sangat serius asisten pribadi Arthur yang tadi menggantikan posisi Luna yang kini tengah mengurus prosedur persetujuan tindakan yang harus dilakukan pada pasien pun sedang sibuk menandatangani berkas bersama dengan Arda yang menyusul diikuti oleh Jenny yang kini tengah menangis pilu.
Belum usai urusan Alina kini musibah itu dialami oleh Arthur.
Luna yang ditujuk oleh Arthur saat dia masih sehat dulu pun untuk mengurus semuanya itu kini ikut menandatangani surat itu.
Arthur kini dilarikan ke ruang operasi karena keadaannya saat ini tengah kritis luka di kepala dan juga benturan keras di bagian dada membuat Arthur mengeluarkan darah dari hidung dan juga bibirnya kepala sudah tentu parah.
Tangis itu kembali pecah saat Luna mendengar Alina juga kritis.
Luna berlari menuju ruang NICU tersebut, dia melihat dokter tengah berjuang untuk menyelamatkan nyawa Alina.
"Nyonya Luna mohon bertahanlah lihat tuan Arthur yang sudah berjuang untuk nyonya, tolong jangan menyerah. kasihan anak-anak."ucap Luna sambil menangis sesenggukan.
Hingga akhirnya dokter berhasil menyelamatkan Alina saat ini kondisinya sudah stabil meskipun Alina belum sadar sepenuhnya.
"Jangan menangis berdoalah semoga semuanya kembali membaik."ucap dokter Aksan yang lebih dulu keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Apa? boleh aku melihat pasien dokter."tanya Luna.
"Pasien belum bisa di jenguk bersabarlah."ucap dokter itu yang langsung bergegas pergi meninggalkan Luna.
Asisten pribadi Arthur kini tengah berdiri di samping Luna.
"Baiklah, jika seperti itu, berdoalah semoga semuanya akan baik-baik saja."ucap pria itu.
"Ya,,, Amin."ucap Luna yang kini menatap ke arah ruangan tersebut.
...************...
Selesai sudah Arthur di operasi saat ini keadaannya masih belum sadarkan diri, beruntung Arthur tidak sampai koma seperti Alina, meskipun Arthur saat ini dipastikan akan mengalami kebuntuan yang bersifat sementara karena benturan keras itu melukai syaraf mata.
Namun dokter bilang itu masih bisa diatasi dengan mengkonsumsi obat secara teratur.
Jenny pun masih belum sadarkan diri saat ini karena syok berat yang dialaminya tadi.
Arthur kini sudah berada di ruang rawat VVIP menunggu pria itu sadar.
Luna pun langsung bergegas pergi menuju ruangan tersebut karena saat ini ada Arda yang menjaga Alina.
Sementara Jenny masih di temani oleh suster.
Semua orang kini tengah bergantian saling menjaga Arthur dijaga oleh Luna yang lebih tau kondisi Arthur bersama dengan asisten pribadi Arthur yang kini tengah menunggu Arthur tersadar karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat Arthur sadar bahwa ia tidak bisa melihat saat ini.
Arthur pun sadar tepat pada saat pukul sembilan pagi.
"Dimana? ini kenapa? semuanya gelap kenapa? Aku tidak bisa melihat."ucap Arthur.
"Bersabarlah tuan karena kecelakaan tuan mengalami kebuntuan, tapi tidak usah khawatir tuan itu hanya bersifat sementara. karena setelah luka di kepala anda sembuh anda akan segera bisa melihat lagi."ucap Luna.
"Kenapa? kenapa? ini bisa terjadi,,, Teresa aku melihat dia sebelum aku mengalami kecelakaan ini."ucap Arthur.
"Apahhh?. Teresa."ucap Luna spontan.
"Ya, sepertinya dia berada di sekitar kita saat ini tolong jaga istriku dengan baik,,, aku tidak ingin terjadi apa-apa pada istriku jika perlu kerahkan orang-orang mu untuk menjaga dia."ucap Arthur tanpa sepengetahuan mereka saat ini seseorang sudah berada di dalam ruangan itu dan berhasil membuat Arda dan Jenny tertidur pulas di atas sofa.
Wanita itu datang dengan angkuhnya dan berjalan menghampiri Alina yang kini masih belum sadarkan diri.
"Bagus matilah kau wanita ******,,, karena kau sudah membuat suamiku berpaling dariku dan sekarang keluarga ku hancur tak bersisa."ucap seorang wanita yang kini hendak menyuntikkan sesuatu kedalam cairan infus tersebut.
Tiba-tiba.
__ADS_1
Bug......
Wanita itu terjatuh di lantai, karena ada seseorang yang telah melumpuhkan wanita itu dengan pukulan mematikan meskipun hanya tidak sadarkan diri.
Seseorang yang kini melumpuhkan wanita jahat itu, memberikan isyarat pada seseorang yang tidak terlihat bayangannya sama sekali.
Setelah itu ia menyeret wanita itu dan mengangkat wanita itu ke kursi roda dan dibawanya entah kemana? setelah keluar dari dalam rumah sakit tersebut.
Tanpa semua orang sadari bahwa selama ini Alina dijaga oleh pengawal bayangan yang diperintahkan oleh seseorang.
Alina pun selamat atas bantuan orang yang selama ini memantaunya dari jauh.
Arthur pun masih meratapi nasibnya saat ini tapi dia memiliki tekad yang kuat untuk kesembuhannya itu.
Arthur pun meminum obat dengan bantuan dari Luna, dia bahkan disuapi oleh gadis itu.
Luna sesekali merawat Arthur sesekali pula menjaga Alina.
Arda pun membantu Luna menjaga Arthur.
Dia meminta orang-orang kepercayaan untuk mengawasi kediaman Arthur dimana saat ini istri dan ketiga cucu sambungnya berada.
Arda semakin menunjukkan sikap baiknya pada keluarga Arthur karena dia terlalu mencintai Jenny.
Sementara untuk Alif sesekali ia akan berkunjung bersama dengan Jenny ke negri sebrang tempat dimana? putranya itu berada.
Sudah hampir tujuh bulan Alina koma, selama itu Arda selalu sibuk bolak-balik perusahaan rumah dan rumah sakit. tapi pria itu tidak pernah sekalipun mengeluh semua itu dia jalani dengan ikhlas.
Setidaknya dengan begitu Arda bisa mengurangi sedikit dosa-dosa nya di masalalu dengan amal yang baik.
Sementara di luar sana, kedua sejoli yang tidak pernah bersentuhan kulit hingga saat ini mereka tinggal satu rumah tapi tidak tinggal satu kamar bahkan keduanya jarang bertemu.
Mereka adalah Junior dan juga katerina. sepasang suami istri itu, tidak pernah bisa bersentuhan meskipun mereka sudah resmi menikah.
Selain tidak ada cinta dan kecocokan mereka juga tidak bisa bersentuhan.
Apalagi Junior yang hingga saat ini masih mencintai wanita yang dia jaga dengan sepenuh hati, wanita yang pernah ia miliki secara tidak halal saat itu. hanya dia yang bisa membuat Junior bisa menikmati hidupnya.
Tapi kini wanita itu tengah berjuang antara hidup dan mati.
Junior hanya bisa melindunginya dari jauh lewat orang-orang kepercayaannya selama hampir tujuh bulan lamanya.
Setiap hari Junior hanya bisa menitikan air mata melihat wanita yang ia cintai terbaring seakan tak bernyawa lagi.
Junior bahkan menangis sesenggukan saat melihat Arthur membawa cake ulang tahun dan buket bunga terindah yang ia berikan untuk wanitanya itu.
Tapi sampai lilin matipun Alina tidak kunjung bangun untuk meniup lilin tersebut.
"Babe,,, bangun sayang."lirih Junior.
Itulah kata yang selalu terucap dari bibir Junior saat itu.
sementara yang tengah ia rindu saat ini dia membuka mata, perlahan tanpa ada orang yang tau. Alina kini terbangun dari koma.
Wanita itu hanya mengeratkan bola matanya kekananan dan kiri.
Namun dia belum bisa menggerakkan anggota tubuhnya yang kini bahkan terasa sulit untuk digerakkan.
Hingga saat Luna datang ke dalam ruangan tersebut.
"Nyonya, sudah bangun."ucap Luna yang kini terlihat begitu bahagia.
Alina hanya menatap lekat wajah wanita muda itu.
"Nyonya saya Luna,,, asisten pribadi nyonya. tunggu saya panggil dokter dulu."ucap Luna yang kini terlihat kebingungan karena Alina tidak merespon perkataan Luna.
Luna pun menghubungi asisten pribadi Arthur untuk memberikan kabar pada pria itu untuk disampaikan kepada Arthur.
Saat dokter datang ke ruangan tersebut lalu memeriksa kondisi Alina ternyata Alina mengalami hilang ingatan.
Luna langsung terlihat sedih tapi ada rasa lega di hati Luna setidaknya Alina masih bertahan hidup hingga saat ini setidaknya itu sudah lebih baik.
Arthur yang hanya bisa mendengar bahwa istrinya sudah sadarkan diri pun kini tengah duduk bersandar bersama dengan Jenny yang tengah menyuapi putranya mereka berdua begitu bahagia saat ini.
Tapi satu hal yang Luna tidak beritahukan adalah tentang Alina yang hilang ingatan.
Luna tidak ingin semuanya bersedih biarlah mereka tahu nanti apalagi Arthur yang kini mengalami kebutaan.
Sementara Junior yang mengetahui itu lebih dulu saat ini dia tengah menyusun rencana untuk bisa kembali bersama dengan Alina.
Dia tidak akan berbuat jahat tapi dia akan mencoba masuk sebagai orang baru dalam kehidupan Alina.
__ADS_1
Sementara itu di kediaman Arthur, ketiga anak mereka yang mendengar kabar tentang sang mommy yang sudah bangun dari tidur panjangnya saat ini mereka begitu bahagia.