Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 55


__ADS_3

Alina kembali menggeleng tanda dirinya tidak pernah setuju dengan itu.


"Kenapa? honey apa? kamu tidak pernah mencintai diriku dan apa? kamu tidak menginginkan semua itu terjadi lagi."ucap Junior yang kini terlihat sangat kecewa dan marah.


"Tidak Jun, itu adalah sebuah kesalahan besar yang pernah terjadi dalam hidupku."ucap Alina.


"Itu bukan kesalahan babe kita saling mencintai dan kita melakukan itu dengan sadar aku tidak pernah melakukan hal itu dengan siapapun dan aku adalah pria yang sangat setia tidak seperti pria yang selama ini."


"Cukup Jun!! Aku mohon cukup! jangan diteruskan lagi."ucap Alina yang kini langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi.


Alina menutup pintu itu dengan cepat dan hampir membuat hidup mancung Junior mencium pintu tersebut.


Junior langsung pergi keluar kamar dengan menggunakan kimono tidurnya, saat itu juga dia bergegas masuk kedalam kamar sebelah yang tidak jauh dari kamar tersebut.


Junior langsung membersihkan diri, dirinya tidak ingin keduluan oleh Alina.


Pria itu bahkan seakan terburu-buru.


Sementara itu di kediaman Arthur saat ini, pria itu tengah mencari keberadaan istrinya karena sudah waktunya makan malam tapi Alina tidak kunjung terlihat.


"Dimana? nyonya muda."ucap Arthur yang kini sudah selesai mandi setelah pulang dari kantor.


"Nyonya tadi pamit ingin berkunjung ke makam kedua orang tuanya."jawab Luna yang kini baru keluar dari dapur.


"Jam berapa dia pergi?."tanya Arthur lagi.


"Pukul dua siang tuan."jawab Luna lagi.


"Pukul dua tapi sampai sekarang belum pulang! lalu kenapa? kau tidak melapor padaku."ucap Arthur.


"Saya kira tidak ada masalah tuan, bukanya makam kedua orang tua nyonya ada di luar kota ini mungkin dia masih dijalan."ujar Luna beralasan.


"Ya, tapi tidak akan selama ini juga Luna, aku akan pergi mencarinya kamu jaga anak-anak bilang mommy dan Daddy sedang ada urusan penting."ucap Arthur yang kini berbalik pergi menuju ke arah kamarnya.


Sementara itu di sebuah rumah mewah kedua sejoli yang memiliki hubungan terlarang itu kini tengah berdebat, karena wanita itu tetap kekeuh ingin mengakhiri hubungan diantara mereka. tapi pria itu tetap tidak terima dia bahkan mengancam akan melakukan apapun untuk kembali mendapatkan wanita itu.


Alina langsung bergegas pergi dari rumah itu, meskipun dia tidak tahu di daerah mana kini dia berada hingga saat Alina berjalan di jalan komplek tersebut dan sebuah klakson mobil yang tidak asing baginya pun membuat langkah Alina terhenti.


"Sayang kamu darimana dan kenapa? berjalan kaki dimana? mobil mu."ucap seseorang yang kini tengah Alina tatap dengan tatapan mata penuh dengan rasa bersalah dan penyesalan tidak hanya itu bulir bening itu turun begitu saja.


Arthur langsung mendekap erat istrinya itu,dia tahu jika saat ini istrinya sedang benar-benar rapuh.


"Ayo masuk kedalam mobil sayang kita bisa bicara di sana."ucap Arthur.


Ya... saat ini Arthur yang baru keluar dari rumah dan melewati barisan kedua jajaran rumah yang masih satu kompleks dengannya itu.


"Apa? yang terjadi honey, kenapa? kamu bisa berjalan kaki bahkan tanpa alas kaki."ucap Arthur.


"Aku juga tidak tahu apa? yang terjadi Ar,,, tiba-tiba aku sudah berada di area sini."ucap Alina yang memang benar namun wanita itu menatap kearah rumah yang berderet tiga yang baru ia lewati dan di rumah keempat semua itu terjadi.


Mungkin saat ini Junior masih akan menahan dirinya jika saja dia tidak berhasil mengunci pintu kamar pria yang kini sudah berada di dalam mobil hendak menyusul Alina, tapi mobil itu terhenti saat melihat mobil Arthur lewat.


Alina kini tengah berada di dalam kamar dirinya bahkan melewatkan makan malam meskipun Arthur bujuk untuk makan berulang kali.


Pria itu pun akhirnya menyerah dan pergi begitu saja ke luar untuk makan malam sendiri.


Setelah selesai makan malam ia kembali menegur Luna karena telah lalai menjaga Nyonya mudanya itu.


"Sudah berapa kali aku katakan, jangan pernah membiarkan nyonya pergi sendirian bagaimana? jika tadi terjadi apa-apa padanya dan aku tidak akan pernah bisa memaafkan mu."ucap Arthur marah.


"Maafkan saya tuan lain kali saya janji tidak akan pernah membiarkan semua itu terjadi lagi."ucap Luna.


"Ya sudah kamu boleh istirahat."ucap Arthur.


Pria itu pun langsung berjalan menuju pantry, disana ada susu yang bisa membuat seseorang kenyang setelah meminum itu.


Arthur sengaja membuat itu untuk sang istri, karena selain memberikan rasa kenyang juga sangat menyehatkan bagi tubuh.


Arthur pun mengikuti anjuran yang tertera di kemasan tersebut dan setelah selesai dia langsung membawa segelas susu itu di atas nampan dan berjalan menuju lantai dua dimana kamar utama mereka berada.

__ADS_1


Arthur pun langsung menghampiri istrinya yang kini telah tertidur sambil memeluk erat guling yang kini berada di dalam pelukannya di balik selimut tebal itu.


Arthur menyimpan susu tersebut di atas nakas, setelah itu dia duduk di tepi ranjang tempat di samping Alina.


"Honey, bangun dulu kamu tidak makan setidaknya minumlah susu ini sayang agar tubuh mu ada nutrisinya."ucap Arthur lembut.


"Heumm.... tidak boleh."gumam Alina tanpa sadar.


"Sayang.... apa? yang tidak boleh heumm."ucap Arthur sambil mencolek hidung mancung istrinya itu.


"Ah.... Ar, ada apa? aku ngantuk."ucap Alina.


"Heumm.... kamu mengigau rupanya, ayo minum dulu susu ini sayang agar kamu bisa mendapatkan nutrisi setelah seharian diluar."ucap Arthur lembut.


Alina pun mengangguk pelan, dia meminum susu tersebut dan saat baru baru seperempat tegukan dia langsung berhenti.


"Ada apa? honey... apa? susunya tidak enak. maafkan aku aku sudah berusaha."


"Tidak Ar ini justru sangat enak terimakasih."ucap Alina yang kembali meneguk susu itu dengan susah payah hingga akhirnya habis.


Arthur pun tersenyum, setelah itu mengusap puncak kepala istrinya itu dan mengecupnya dengan lembut.


Alina yang kini memejamkan mata, dia benar-benar merasa sangat bersalah terhadap suaminya itu, tapi akhirnya ia berusaha untuk bersikap seperti biasanya meskipun rasa bersalah itu terus menghantui dirinya.


Mereka pun tertidur bersama dengan saling berpelukan meskipun ada rasa yang tak nyaman dalam diri Alina tapi dia memaksakan diri untuk menerima perlakuan suaminya yang kini memeluknya dan mendekap erat dirinya hingga wajah Alina terbenam di dada bidang Arthur sebelum Alina sedikit memberi jarak.


"Tidurlah sayang hari esok pasti akan baik-baik saja."lirih Arthur yang kini didera rasa kantuk yang teramat sangat.


Alina pun hanya mengangguk pelan dan didalam hatinya dia juga berharap seperti itu.


...**********...


Waktu terus berlalu, detik demi detik telah mengiring malam berganti pagi hari yang cerah, saat ini Alina bangun seperti biasanya dia mengurus kebutuhan suaminya terlebih dahulu mulai dari pakaian kerja hingga air untuk mandi Arthur dan sarapan pagi yang dia buat untuk suaminya itu.


Setelah semuanya selesai dia pun bergegas menuju kamar ketiga anaknya yang kini masih tertidur pulas di atas ranjang masing-masing.


"Bangun sayang ini sudah pagi daddy pasti sudah siap untuk pergi ke kantor, apa? kalian tidak ingin bertemu dengan daddy terlebih dahulu."ucap Alina.


Sejak mereka tinggal bersama hanya hari weekend saja mereka bisa seharian penuh dengan sang daddy itupun jika Arthur tidak sedang ada pekerjaan.


"Mana Daddy mommy."ucap ketiganya kompak.


"Daddy ada di kamar tengah bersiap ayo kalian juga segera bersiap nanti mommy bilang Daddy untuk menunggu kalian."ucap Alina


Ketiganya langsung bangkit dibantu oleh para baby sitter menyiapkan ketiganya, mulai dari memandikan mereka hingga membantu membantu mereka berpakaian dan aksesoris yang telah Alina sediakan setiap harinya sebelum mereka bangun tidur.


"Mommy buat sarapan untuk kalian dulu ya sayang memberitahu Daddy."ucap Alina berpamitan.


"Baik mommy."ucap mereka bertiga kompak.


Alina pun pergi menuju ke kamarnya terlebih dahulu, saat itu dia tengah melihat suaminya menggunakan kemeja yang telah ia siapkan tadi.


Alina berjalan mendekat ke arah Arthur dan mengambil alih mancing-mancing itu.


"Jangan terburu-buru, anak kita sedang bersiap untuk bertemu dengan mu."ucap Alina yang dengan cekatan memasang kancing tersebut hingga beberapa detik sudah selesai, setelah itu memasang dasi.


Sementara Arthur hanya menatap lekat wajah cantik yang sudah lama dia rindukan dengan kebiasaannya yang dulu kini baru bisa ia rasakan kembali.


Cuph....


Satu kecupan hangat mendarat di kening Alina setelah wanita itu selesai memasang dasi.


"Thank babe, and I love you so much."ucap Arthur yang membuat Alina tertegun.


"Ah...ayo anak-anak pasti sudah menunggu kita."ucap Arthur.


"Heumm.... baik'lah sayang."ucap Arthur.


Alina membawakan jas milik suaminya karena Arthur biasa menggunakan itu setelah ia selesai makan, sementara itu tuksedo sudah terpasang bersama dengan kemeja tadi.

__ADS_1


Arthur merangkul pinggang istrinya sesekali ia mendaratkan kecupan di puncak kepala istrinya itu.


Entah keajaiban dunia yang ke berapa? saat ini semua kembali ke semula.


Arthur begitu bahagia dan bersemangat di pagi ini.


Sampai di meja makan, ketiga anak tercinta sudah menunggu di sana dan mereka berlari berlomba untuk memeluk sang daddy.


Jika sudah begitu, Alina akan menyingkir sambil menjinjing tas kerja milik suaminya dan juga jas yang kini di gantung di tempat biasanya.


"Owh kesayangan daddy apa? kabarnya hari ini."ucap Arthur yang bergantian memeluk dan mencium ketiganya lalu menggendong si bungsu Alana sambil berjalan perlahan karena kedua kakinya diapit oleh kedua jagoan tampan yang tidak mau kalah menempel pada sang daddy.


Sementara Alina hanya bisa tersenyum miris, hatinya terasa ngilu apa? bisa kebahagiaan ini tetap utuh jika Arthur tahu apa? yang terjadi.


Kilas bayangan percintaan yang memabukkan dan menggila di antara dirinya dan Junior pun melintas dan rasa itu masih terasa nyata, hingga membuat dirinya tidak sadar bahwa saat ini Arthur sedang melambai-lambai kan tangannya di hadapan wajah Alina.


"Honey... kamu melamun."ucap Arthur.


"Ah tidak Ar, maafkan aku."ucap Alina yang kini bicara tanpa sadar.


"Apa? yang kamu katakan honey, kenapa? harus minta maaf."ujar Arthur sambil mengecup bibir Alina dan di akhiri dengan senyuman yang manis.


"Ah, aku lupa... mau sarapan apa? sayang."tanya Alina.


"Nasi goreng seafood sepertinya sangat lezat honey apalagi istriku sendiri yang memasak."ucap Arthur.


"Kami juga mommy."ucap mereka bersamaan


"Iya sayang sabar ya, daddy dulu setelah itu baru kalian."ucap Alina.


"Mereka saja dulu Sayang aku nanti belakangan."ucap Arthur.


"Baiklah kalian memang."ucap Alina yang kini menjajarkan piring mereka bertiga lalu mengisi piring itu dengan nasi goreng seafood dan telur mata sapi yang menjadi pelengkapnya.


Arthur pun tersenyum manis saat melihat ketiga anaknya makan dengan lahap sambil sesekali berceloteh membicarakan apapun yang mereka ingin sampaikan kepada dirinya.


"Kalian habiskan makanannya dulu oke karena masih ada waktu tiga puluh menit sebelum Daddy berangkat kerja."ucap Arthur lembut disela makanya.


Akhirnya mereka pun mengangguk setuju dengan itu, hingga saat Alina selesai makan dan meminum jus buah.


diikuti oleh ketiga anaknya itu, sementara Arthur hanya minum air putih setelah itu dia pun menyeka bibir dengan tissue.


Alina pun bersiap untuk menyiapkan bekal untuk kedua putranya yang akan pergi sekolah, sementara Alana hanya akan di rumah.


Mereka bertiga pun kini tengah bercengkrama sesekali Arthur memeluk mereka bergantian setelah itu ia akan menasehati ketiganya untuk menjaga diri dan saling menjaga satu sama lainnya.


"Daddy berangkat dulu ya sayang, setelah ini daddy janji akan pulang lebih awal."ucap Arthur pada ketiga putranya itu.


Ketiganya mengangguk mengerti dengan itu, lagipula mereka sudah melepas rindu saat ini.


Alina pun membantu Arthur menggunakan jasanya setelah selesai dia pun pergi mengantar Arthur. semeantara ketiganya hanya dadah-dadah dari arah sofa.


Arthur yang kini menjinjing tas kerjanya kembali merangkul pinggang istrinya.


Alina pun membalas rangkulan tersebut.


Sesampainya di lobby Mension yang kini mereka tempati, asisten pribadi Arthur sudah berada di samping mobil yang sudah terparkir di sana.


Arthur pun menghadap Alina lalu dia membingkai wajah Alina dan sedikit membungkuk untuk mencium bibir istrinya itu.


"Aku pamit kerja dulu honey, hati-hati di rumah dan ingat jangan kemana-mana tanpa orang rumah. Aku tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi."ucap Arthur yang langsung membuat Alina terlihat gugup dan mengalihkan pandangannya saat itu juga.


"Honey hey...ada apa?."tanya Arthur.


"Tidak apa-apa ah kamu nanti terlambat."ucap Alina yang membenarkan dasi Arthur.


"Ya, sayang aku pergi bye sayang."ujar Arthur saat itu juga dia kembali mengecup bibir Alina.


"Heumm... bye."balas Alina sambil tersenyum manis pada Arthur yang kini sudah masuk kedalam mobil yang dikendarai oleh asisten pribadinya itu.

__ADS_1


Alina pun langsung masuk kedalam rumah besar itu, dia kini tengah mencari keberadaan tas yang kemarin ia bawa.


Alina yakin jika ada yang salah dengan semua itu.


__ADS_2