
Alina kembali menemukan ketenangan jiwa meskipun ditengah kepedihan karena sudah kehilangan orang-orang yang ia cintai.
Alina, sudah tidak mengajar dia juga mengantarkan mobil hadiah ulang tahunnya pemberian dari Arthur ke rumah Jenny Alina tidak bisa terus mengenang masa lalu, biarlah dia tidak punya apapun yang penting dia tidak melihat masalalu nya lagi.
Dia juga mengembalikan mobil tersebut siapa tahu saat Arionan dan kakanya dewasa nanti ia bisa melihat bukti cinta ayahnya padanya lewat mobil tersebut.
Alina kini hanya mengandalkan uang tabungannya yang tidak seberapa, rencananya setelah ini dia akan melamar pekerjaan di cafe atau restaurant meskipun hanya sebagai pelayan yang penting dia bisa bertahan hidup meskipun dengan uang pas-pasan.
Dua hari sudah berlalu, Alina tinggal di rumah miliknya itu yang sampai saat ini masih terawat dengan baik meskipun berdebu tapi semua masih kokoh dan tidak perlu renovasi karena dulu sempat di renovasi saat dirinya masih bersama dengan Arthur.
Alina pun mulai beres-beres rumah sedikit demi sedikit karena saat ini dia sendiri masih butuh istirahat untuk pemulihan.
Saat dia masuk kedalam kamar lama milik kedua orang tuanya itu, Alina kembali menitikkan air mata saat melihat semua masih sama seperti saat mereka masih ada karena Alina juga selalu menjaga itu letak barang-barang pribadi milik sang ayah dan kotak perhiasan milik ibunya pun masih utuh begitu juga isinya.
Alina tidak sekalipun ingin menjual emas tersebut karena itu adalah barang kenangan milik sang Bunda, Alina akan tetap menyimpan itu hingga Alana besar nanti dia akan menggunakan itu kelak jika putrinya minta sesuatu darinya.
Rasa rindu yang begitu besar membuat Alina berulang kali menitikkan air mata.
Setelah selesai membersihkan kamar tersebut dari debu dan kotoran yang menempel.
Alina pun pergi menuju dapur, dia ingin membuat makan siang untuknya setelah tadi membeli beberapa bahan makanan dari supermarket setelah mengantarkan mobil ke garasi rumah Jenny yang kini hanya dihuni oleh para asisten rumah tangga tersebut.
Mereka pasti sudah menyampaikan kabar tersebut pada Arthur tentang mobil itu.
Alina tidak mau terima apapun, atau menyimpan barang-barang pemberian mantan suaminya karena hanya menambah rasa pedih di hatinya.
Alina selesai menumis sayuran yang ia beli tadi dan ada ikan goreng, cukup untuk dirinya makan siang sendirian.
Hingga saat seorang pelayan dari rumah Jenny datang bertamu dan menyodorkan ponsel dimana Arthur melakukan video call.
"Hi... apa? kabar Ar,,, dimana anak-anak."ucap Alina berusaha untuk bersikap biasa saja dan tersenyum seolah dirinya baik-baik saja.
"Kabarku baik sayang... anak-anak di rumah, aku sedang berada di luar."ucap Arthur yang terlihat berada di dalam mobil.
"Lalu ada apa? menelpon di jam segini."ucap Alina.
"Kenapa? mobilnya di kembalikan."ucap Arthur to the points.
"Aku sudah tidak punya uang untuk merawat mobil itu, dan mungkin saat Alana besar nanti dia akan menyukai mobil itu jadi lebih baik di simpan di sana saja."ucap Alina yang kini berusaha untuk mencari alasan.
"Aku sudah memberikan semuanya padamu Al, tapi semuanya kau kembalikan.... aku tidak tahu lagi harus bagaimana?."ucap Arthur.
"Jangan Fikirkan aku Ar, aku hanya sendirian di dunia ini sementara kamu ada anak-anak jadi semua itu hak mereka."ucap Alina.
"Kau salah Al, kamu masih punya kami jadi jangan pernah katakan jika kamu tidak punya siapa-siapa lagi,,,ada anak kita."ucap Arthur.
"Mereka ada bersama mu, dan itu jauh lebih baik daripada bersama ku."ucap Alina yang kini menyimpan ponsel tersebut di atas meja disandarkan pada keranjang buah.
"Makan Ar."ucap Alina sambil mengambil nasi dan ikan goreng juga tumis kangkung yang dia buat tadi tidak lupa sambal kecombrang buatannya.
"Kamu makan apa? Al, aku akan kirimkan uang ke rekening bank mu."ucap Arthur.
"Tidak Ar jangan lakukan itu, lagipula rekening bank ku sudah aku tutup."ucap Alina .
"Aku bisa buatkan yang baru."ucap Arthur.
"Tidak usah Ar, aku masih bisa makan dengan cukup dan aku bersyukur dengan ini, lagipula besok aku sudah mulai bekerja."bohong Alina.
"Yank... apa? kamu begitu membenci ku hingga kamu bersikap seperti ini."tanya Arthur.
"Tidak Ar,,, aku tidak pernah membenci mu, kamu pria yang baik jadi tidak ada alasan untuk membenci dirimu."ucap Alina.
"Al, aku sudah menikah dengan dia, maafkan aku."ucap Arthur.
"Syukurlah Ar, selamat atas pernikahan mu semoga selalu bahagia dan tetap langgeng."ucap Alina.
"Kamu benar-benar ikhlas."ucap Arthur.
__ADS_1
"Heumm... ya, aku hanya bisa mendoakan dengan baik, dan semoga anak-anak akan lebih bahagia karena memiliki ibu baru yang sangat cantik dan baik juga sempurna. jadi mereka bisa melupakan aku yang terlalu banyak kekurangan dan bahkan sudah pernah menjadi pasien rumah sakit jiwa, aku tidak ingin mereka malu dengan keberadaan ku nanti, jadi kamu bisa katakan pada mereka bahwa aku sudah tiada."ucap Alina yang kini memakan banyak sambal agar dia memiliki alasan saat dia menangis nanti karena saat ini Alina tengah pura-pura fokus pada sambal yang ia siapkan kedalam mulutnya itu.
Arthur terus menatap lekat wajah cantik yang kini menundukkan pandangannya itu.
"Aku tidak akan pernah melakukan hal itu, karena sampai kapanpun ibu mereka adalah cinta pertama dan terakhir ku."ucap Arthur.
Alina yang kembali menatap Arthur dengan derai air mata dan pura-pura kepedesan itu tersenyum kecut.
"Rasa itu perlahan akan pudar dan bahkan sudah tergantikan dengan yang baru Ar, jangan terus melihat kebelakang karena masalalu adalah hal yang tidak patut untuk dikenang beda dengan masadepan yang akan terus kamu hadapi berbahagialah.... mulai sekarang jika memang anak-anak mengingat ku, minta mommy saja untuk menghubungi asisten rumahnya jangan kamu aku tidak ingin ada salah faham antara kamu dengan istrimu."ucap Alina yang kembali menyuapkan makanan tersebut ke mulutnya.
Sementara Arthur hanya menatap lekat wajah cantik itu.
"Aku merindukan mu Yank..." lirih Arthur.
"Jika rindu sebaiknya segeralah pulang ke rumah istrimu mungkin tengah mencemaskan mu."ucap Alina yang kini memberikan Handpone tersebut pada pelayan rumah Jenny.
"Nyonya tuan Arthur belum selesai bicara katanya."ucap pelayan itu.
"Saya sedang makan lain kali saja kalau ada anak-anak."ucap Alina.
Wanita itu pun tidak bisa berbuat apa-apa, dia pun pergi setelah Arthur menutup panggilan itu.
Sementara Alina kini tengah hujan air mata hingga makanan yang ia makan pun bercampur dengan air mata itu.
...**********...
Sudah dua hari Alina bolak-balik menyusuri tempat satu ke tempat lainnya, namun tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, saat ini Alina terus ditolak karena mereka bilang persyaratan tidak memenuhi syarat.
Alina pun hanya bisa pasrah, jika tidak ada pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya dia terpaksa menunggu keajaiban datang.
Hingga dia bertemu dengan pemuda yang dulu ia titipkan tiga ekor anjing peliharaan Alina.
Mereka pun mengobrol ringan sambil makan siang, pria muda itu bilang jika saat ini ketiga anjing itu sudah memiliki keluarga yang utuh dengan anak-anak yang juga lucu-lucu.
"Al, kamu sekarang tinggal dimana?."ucap pria tampan itu.
"Aku sudah bertunangan jadi jangan panggil bocah lagi."ucap pria yang kini berusia 25 tahun itu.
"Ya, pria dewasa."ucap Alina mengulanginya.
"Kamu ngapain bawa itu, sudah seperti orang yang butuh pekerjaan saja."ucap pria itu.
"Jangan mengejek ku Ray, aku memang sedang mencari pekerjaan."ucap Alina jujur.
"Ah,,, apa? istri seorang miliarder dunia masih membutuhkan semua itu."ucap Ray sambil terkekeh geli.
"Jangan meledek ku Ray, aku sekarang sudah tidak punya siapa-siapa lagi."ucap Alina.
"Serius!! ucap Ray yang kini terlihat kaget.
"Apa? pernah aku membohongi mu."ucap Alina.
"Tapi setidaknya kamu pasti punya tunjangan yang cukup besar dan Gono gini."ucap Ray.
"Aku mengembalikan semua itu Ray, aku tidak mau ada kenangan yang tertinggal kecuali anak-anak yang juga kini tinggal bersama dengan dia."ucap Alina.
"Kenapa? kamu kalah di persidangan atau bagaimana?."ucap Ray yang kaget.
"Aku yang meminta berpisah Ray, terlalu panjang jika harus di ceritakan Ray... tapi ah sudahlah tidak perlu bahas tentang cerita ku, kita bahas tentang mu saja, siapa? wanita yang beruntung dapat cogan kaya kamu."tanya Alina.
"Ganteng dilihat dari Monas menggunakan sedotan iya kan."ucap Ray sambil tertawa terbahak-bahak.
Sementara Alina kini tengah menyedot jus tersebut sambil menatap kearah lain.
"Alina kemana selama beberapa tahun ini."ucap seorang pria yang dia tahu sebagai orang tua murid yang dulu sakit-sakitan.
"Tuan Bagaimana kabar putri anda."ucap Alina yang mengingat putri kecil pria yang telah diracuni oleh wanita yang merupakan calon istrinya itu.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja, dia sering nanyain kamu kapan katanya ketemu ibu bidadari."ucap pria itu.
Obrolan mereka pun berlanjut, Ray menawarkan pekerjaan sebagai pramu saji di cafe milik nya, sementara pria itu menawarkan Alina untuk mengajar di sekolah yang dia bangun untuk mewujudkan impian putrinya.
Alina bingung yang mana yang harus ia terima karena keduanya adalah sama-sama orang baik bagi Alina.
"Sudah pilih saja seperti yang cocok untuk mu saat ini Alina."ucap keduanya.
Alina pun memilih Cafe sebagai tempat ia bekerja, dan sekolah. Dan itu artinya Alina dapat dua pekerjaan sekaligus.
Pagi sampai siang ia mengajar dan sore hingga malam dia bekerja di cafe.
Dia akan pulang pukul satu dini hari dan istirahat hingga pukul enam pagi. waktu yang cukup untuk beristirahat.
Alina pun sangat bersyukur karena disaat uangnya benar-benar sangat tipis dia bisa mendapatkan pekerjaan.
"Mulai hari ini dia memutuskan tidak akan kemana pun selain di negara kelahirannya.
Setelah pertemuan itu berakhir akhirnya Alina pun memutuskan untuk segera kembali ke rumah, karena waktu sudah sangat sore.
Alina pun langsung mengistirahatkan tubuhnya yang kini terasa sangat lelah.
Alina yang sama sekali tidak memiliki handphone saat ini dia hanya menggunakan telpon rumah untuk berkomunikasi dengan Ray dan juga pria itu.
Hingga saat makan malam tiba, Alina pun bangkit dan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum dia membuat makan malamnya.
Setelah hampir 30 menit Alina berada di dalam kamar mandi, dia pun masuk kedalam walk in closed yang kini tersisa kenang-kenangan dimana pakaian Arthur masih ada banyak di sana dan beberapa aksesorisnya.
Alina selalu berurai air mata saat melihat itu, hatinya benar-benar sakit, andaikan saja saat itu dia tidak ikut membalas rasa sakit akibat pengkhianatan yang Arthur lakukan mungkin saat ini dia adalah wanita yang paling berbahagia, tapi dosa yang Alina perbuat lebih menyakitkan dari yang diperbuat oleh Arthur.
Sampai saat Alina keluar dari dalam kamar betapa terkejutnya dia saat melihat Junior tengah duduk di sofa yang tidak jauh dari tangga bersama kedua asisten pribadinya dan orang-orang yang selalu mengawalnya kemanapun mereka pergi.
"Jun!."ucap Alina yang mempercepat langkahnya.
Junior pun langsung bangkit dan memeluk Alina erat dan mendaratkan kecupan di bibir manis itu.
"Apa? kabar babe."ucap Junior yang kembali mengecup bibir Alina.
"Baik Jun, kamu sendiri bagaimana? kabar mu."ucap Alina.
"Kabar ku buruk sayang karena kamu tidak ada bersama ku."ucap Junior.
"Heumm... tidak usah lebay sayang aku baru beberapa hari disini."ucap Aluna yang kini tengah berada di dalam pelukan Junior.
"Tega kamu Honey bilang lebay,,, aku benar-benar sangat merindukan mu cinta."ucap Junior.
"Heumm... ya sayang ku.... maafkan aku."ucap Alina yang kini kembali mencoba untuk membuka hati untuk Junior.
"Yank,,, aku dapat pekerjaan dua pekerjaan sekaligus."ucap Alina begitu antusias.
Namun Junior malah menatap lekat wajah cantik itu, dia tidak pernah bisa terima jika wanita cantik yang ada di hadapannya harus bekerja keras.
"Tidak sayang,,, aku tak akan pernah membiarkan mu bekerja atau aku akan mengurung mu di Mension."ucap Junior.
"Yank... aku harus bekerja, setidaknya aku bisa memberikan ketiga anak ku uang jajan meskipun tidak seberapa? tapi aku ingin menjadi ibu yang berguna."ucap Alina.
"Tidak bisa aku yang akan menanggung biaya hidup mu. dan anak-anak kita."ucap Junior yang benar-benar tidak bisa dibantah.
"Sayang kamu tau sendiri aku tidak bisa melakukan bergantung pada siapapun."ucap Alina.
"Jangan membantah sayang atau kamu tahu akibatnya."ucap Junior tegas.
Alina pun tidak bisa mengelak lagi, karena Junior tidak pernah main-main dengan kata-katanya itu meskipun dia lebih muda darinya dua tahun.
Alina pun pergi ke dapur untuk mengambil minum untuk Junior dan kedua asistennya.
Namun Junior mengikuti Alina hingga ke dapur. sayang kamu tidak boleh buat minum untuk mereka, hanya boleh untukku saja biarkan mereka buat itu sendiri."ucap Junior yang super posesif.
__ADS_1
"Kasihan mereka Yank... mereka sudah bekerja keras untuk melayani mu, sekali-kali kita yang memberikan itu pada mereka.