
Junior dan Alina sedang tertidur pulas, satu jam kemudian mereka di bandara mereka internasional negara tersebut.
Alina pun pergi menuju ke kediaman Arthur tepat saat Arthur akan sarapan pagi bersama istri dan kedua orang tuanya, sementara ketiga anak mereka sedang beristirahat di kamar.
"Tuan, di luar ada nyonya Alina."ucap asisten pribadi Jenny.
Deg....
Tiba-tiba dada Arthur seperti ditimpa batuan besar.
"Suruh dia langsung kemari."ucap Jenny tanpa menunggu persetujuan Arthur.
Sementara Alina saat ini terlihat menatap sendu kearah seluruh sudut yang ada di sekelilingnya, dia melihat semua kenangan tentang dirinya dan Arthur kala itu. hatinya begitu terasa sakit tapi dia sadar semua adalah salahnya yang tidak bisa menjaga rumah tangganya sendiri.
Hingga saat seseorang datang menghampiri mereka lalu meminta Alina dan Junior masuk kedalam dan mengikuti langkah mereka.
Sesampainya di depan meja makan, Katrina langsung menyudahi sarapan pagi yang sungguh membuat dia tidak berselera.
Alina pun hanya berdiri mematung di tempatnya. dia merasa tidak enak hati karena kedatangannya mengganggu kedamaian keluarga baru itu.
Rasanya ingin sekali dia langsung berlari pergi meninggalkan rumah tersebut, dan rasa sakit itu semakin terasa nyata saat melihat tatapan mata dari Arthur yang sulit untuk diartikan.
"Sayang duduklah ayo kita sarapan pagi lebih dulu."ucap Jenny.
"Ah, tidak usah mom Aku sudah sarapan tadi sebelum datang kesini."ucap Alina.
"Sayang kamu tau dimana? kamar anak-anak kan ayo segera kesana mungkin mereka sudah menunggu kedatangan kita."ucap Junior.
"Aku tidak tau Jun."ucap Alina yang masih berdiri menunggu di sana.
"Sayang kamu lanjut sarapan pagi nya ya, aku antar dulu."
"Kamar mereka bertiga adalah kamar utama tempat kita dulu."ucap Arthur yang kini menyudahi sarapan pagi tersebut.
Alina langsung bergegas pergi menuju kamar tersebut, dia tidak ingin menunggu lebih lama lagi.
Junior mengekor di belakang Alina."Babe lebih baik anak-anak ikut bersama kita agar mereka tetap baik-baik saja."ucap Junior.
"Aku tidak punya apapun untuk membahagiakan mereka Jun, setidaknya disini mereka bisa hidup dengan layak."ucap Alina yang akhirnya menangis juga meskipun tanpa suara.
"Babe,,, jangan begini oke, aku yang akan menghidupi kalian semua."ucap Junior yang kini memeluk Alina.
"Tidak Jun, kamu tidak punya kewajiban untuk itu, maafkan aku aku terlalu cengeng."ucap Alina yang kini mengusap wajahnya dengan kasar.
Alina pun memejamkan mata sambil memegang handel pintu tepat saat masuk dia langsung menatap kearah ketiganya yang kini masih tertidur.
"Anak-anak mommy datang."ucap Alina yang kini menahan tangisnya.
"Mommy!!!."ucap ketiganya sambil membuka mata kompak dan langsung bergegas bangkit.
Alina yang kini tengah memeluk putri bungsunya itu pun langsung melebarkan pelukannya ketika kedua putranya yang teramat dia rindukan pun datang kedalam pelukannya.
Alina sibuk menghujani mereka dengan kecupan dengan hujan air mata yang tidak bisa terbendung lagi.
Alina masih fokus pada ketiga buah hatinya, tanpa dia sadari Junior kini tengah mencari keberadaan putrinya.
"Untuk apa? kamu datang."ucap Katrina pada Junior yang kini menggendong putrinya yang baru berusia 2 tahun itu.
"Aku datang kemanapun itu bukan urusan mu, karena tidak ada larangan untuk ku."ucap Junior yang kini hendak mengangkat putrinya tinggi-tinggi.
"Segera bawa pulang kekasih mu itu, jika perlu dengan ketiga anak mereka.... aku tidak suka merawat ketiga anak tidak tahu di untung itu."ucap Katrina.
"Aku rasa yang tak tau di untung itu bukan mereka tapi kau!! kau adalah benalu di atas kebahagiaan orang lain! bagaimana? bisa Arthur menikah dengan wanita jalanan yang dipungut oleh keluarganya yang kini mencampakkan dia kembali ke jalanan."ucap Arthur yang langsung membuat Katrina langsung bungkam.
Katrina pun tidak bisa berbicara lagi setelah kartu As itu di bongkar oleh Junior.
"Kau sudah sadar dari koma bukan, Katrina yang palsu, karena yang asli adalah wanita hebat dan sangat baik hati."ucap Junior lagi.
Sementara itu seseorang kini tengah membekap mulutnya sendiri, dia tidak menyangka bahwa ternyata Katrina yang itu bukan Katrina yang sesungguhnya.
"Jika saja daddy tidak memaksa ku untuk memiliki hubungan dengan mu, maka aku pun tidak Sudi putri ku terlahir dari mu."ucap Junior.
Katrina kini sudah benar-benar dibuat bungkam oleh Junior.
__ADS_1
Sementara itu di kamar lain kini Arthur tengah memangku kedua buah hatinya karena Alina masih memangku Alana.
"Kenapa? datang bersama pria itu."ucap Arthur yang kini mulai berbicara.
"Aku tidak punya cukup uang untuk membeli tiket pesawat pulang pergi, tiket pesawat hanya sampai bandara Qatar, sementara perjalanan masih jauh untuk tiba di sini."ucap Alina jujur.
"Sayang kamu tidak se-miskin itu, jika saja kamu tidak mengembalikan semua yang aku berikan untuk mu."ucap Arthur.
"Aku tidak punya hak atas semua itu, itu adalah haknya anak-anak dan aku tidak ingin menghancurkan semua milik mereka hanya karena aku tidak bisa mengelola itu."balas Alina.
"Maafkan aku."lirih Arthur.
"Untuk?."tanya Alina.
"Semua ini, aku menikah dengan dia karena terpaksa demi menyelamatkan mu dan anak keturunan kita."ucap Arthur.
"Tidak perlu meminta maaf, atau mengatakan terpaksa,,, kamu mencintai dia pun tidak masalah... karena kita tidak memiliki hubungan apapun selain sebagai orang tua mereka."ucap Alina.
"Aku masih sangat mencintaimu honey,,, sampai matipun cinta ini tidak akan pernah pudar."ucap Arthur.
"Tidak Ar, itu tidak benar,,, saat kamu memutuskan untuk menikah dengan dia maka tidak boleh ada cinta lain lagi untuk wanita seperti ku yang tidak pernah becus menjaga sebuah rumah tangga agar tetap utuh."ucap Alina.
"Mommy kenapa? tidak tinggal bersama kami lagi, aku merindukan mommy."ucap Arionan yang kini berpindah tempat duduknya di samping sang mommy yang kini mengelus puncak kepalanya.
"Kalian belum bisa mengerti saat ini sayang tapi percayalah mommy dan Daddy sangat mencintai dan menyayangi kalian semua."ucap Alina.
Alina pun mengecup Arionan.
"Mommy Arion ingin tinggal di rumah kita yang dulu."ucap Arion.
"Rumah itu sudah dijual sayang karena mommy butuh biyaya rumah sakit, tapi mommy janji setelah mommy memiliki rumah lagi mommy akan membawa kalian kembali bersama dengan mommy."ucap Alina yang membuat Arthur menatap tak percaya.
Arthur benar-benar merasa bersalah dengan kondisi Alina saat ini! bagaimana? bisa dia telah menghancurkan semua tentang Alina dan sekarang dia pun kehilangan rumah satu-satunya yang ia miliki peninggalan kedua orang tuanya.
"Kenapa? kamu jual rumah itu, rumah itu milikmu satu-satunya dan kenangan terindah yang tidak pernah akan terlupakan sampai kapan pun."ucap Arthur.
...*******...
"Ar, anak-anak akan tinggal bersama dengan ku di hotel untuk beberapa hari ini."ucap Alina.
"Kenapa? harus di hotel sayang disini juga masih banyak kamar yang kosong."ucap Arthur.
"Tidak Ar, aku hanya tidak ingin mengganggu ketenangan kalian, agar aku juga lebih leluasa."ucap Alina jujur.
"Al aku minta maaf, tapi anak-anak baru saja sembuh mereka tidak akan baik-baik saja jika tinggal di sana."ucap Arthur.
"Tapi Ar, aku tidak mungkin tinggal disini lagi."ucap Alina.
"Ini rumah mu sayang, aku yang seharusnya pergi dari sini."ucap Arthur.
"Tidak, aku tidak pernah mengakui barang milik orang lain."ucap Alina.
"Al,"ucap Arthur.
Tapi Alina menggeleng pelan."Aku akan bekerja keras untuk bisa membeli rumah lagi, dan aku tidak akan pernah menerima belas kasih dari siapapun hanya karena aku sudah tidak memiliki rumah dan pekerjaan. bukan berarti aku akan diam saja dan mengandalkan orang lain selagi aku masih bisa bergerak bebas."ucap Alina.
"Aku tau itu sayang."ucap Arthur.
Sementara ketiga anak mereka kini kembali tertidur pulas di pangkuan kedua orang tua mereka, karena saat ini adalah saat mereka pemulihan.
Sementara itu di ruangan lain Junior tengah bermain dengan putri kecilnya, anak itu tahu jika Junior adalah ayahnya karena wajah mereka begitu mirip meskipun dia hadir lewat inseminasi bukan berasal dari hubungan normal seperti biasa.
Alina kini duduk berhadapan dengan Arthur setelah mereka menidurkan anak mereka.
"Yank.... bagaimana? selanjutnya."ucap Arthur.
"Ar, sebaiknya panggilan itu dihilangkan, setelah kita tidak lagi bersama dan tidak sedang bersama dengan anak-anak. Aku takut akan ada yang salah faham."ucap Alina.
"Kenapa? harus salah faham aku memang masih sangat mencintai dirimu."ucap Arthur yang kini meraih tangan lembut itu.
"Tidak Ar, tidak."ucap Alina.
"Alina tatap aku,,,apa? kamu benar-benar sudah tidak mencintai ku lagi."ucap Arthur yang kini menatap lekat wajah cantik itu.
__ADS_1
Alina tidak menjawab, dia hanya berdiam diri.
"Yank,,,ayo kita pulang."ucap Junior yang baru saja muncul sambil menggendong putrinya.
"Jun,,,itu putri mu."ucap Alina tidak percaya.
"Ya, dia putri ku yang akan menjadi putri mu sebentar lagi."ucap Junior.
"Eheum..."Arthur tiba-tiba berdehem.
"Tuan Arthur yang terhormat, setelah aku menikah dengan Alina, anak-anak akan ikut dengan kami, sesuai kesepakatan ku dengan kedua orang tua mu."ucap Junior.
"Tidak bisa, mereka adalah anak-anak ku, jadi kalian tidak berhak memutuskan semuanya."ucap Arthur.
"Mommy sudah tidak bisa lagi menjaga mereka Ar, mommy sangat menyayangi mereka, tapi kamu juga harus tahu mommy juga memiliki kewajiban untuk mengurus rumah tangga mommy."ucap Jenny.
"Aku tidak akan meminta bantuan mommy, biar mereka yang membantuku untuk mengurus anak-anak ku."ucap Arthur yang kini terbakar emosi karena rasa cemburu yang begitu besar.
"Mereka tidak bahagia dengan kehidupan ini, mereka butuh ibu mereka."ucap Jenny.
"Ar, kamu masih bebas bertemu dengan mereka, dan kamu tidak akan pernah kekurangan uang untuk datang menjenguk mereka. tidak seperti ku."ucap Alina yang terhenti.
"Sayang,,, kamu tidak akan pernah kekurangan apapun lagi."ucap Junior.
"Siapkan semua perlengkapan mereka."ucap Jenny.
"Mommy."ucap Arthur yang tidak terima.
"Arthur kamu tidak bisa membiarkan mereka tertekan di sini karena hidup jauh dari ibunya."ucap Jenny.
"Dia tidak akan tertekan jika saja mommy tidak meminta ku untuk menikah lagi! Aku akan tetap bersama dengan Alina."ucap Arthur.
"Arthur, apa? kamu bisa melindungi keluarga mu sendiri dari kejahatan yang tercipta dari kecerobohan mu itu, sekarang kamu bisa menikmati kehidupan mu sendiri dengan dia."ucap Jenny.
"Ar,,, aku tidak merampas anak-anak darimu aku tau kamu sangat mencintai anak-anak kita, tapi coba fikirkan yang terbaik untuk mereka."ucap Alina.
"Baiklah, aku akan membiarkan mereka tinggal bersama dengan mu sayang tapi ada satu beberapa syarat yang harus kamu penuhi."ucap Arthur.
"Apa? itu Ar."ucap Alina.
"Kamu tinggal bersama dengan anak-anak di Mension milik mu dan ambil kembali mobil-mobil yang aku hadiahkan dulu, dan satu lagi biyaya hidup kalian aku yang tanggung, aku tidak ingin ada uang pria lain yang masuk dalam tubuh mereka."ucap Arthur.
"Baiklah jika itu mau mu."ucap Alina yang kini terlihat bingung karena Junior menatap tajam kearahnya.
Junior pun tidak bisa berbuat apa-apa, saat ini karena Alina mengiyakan semua syarat itu. lagi pula itu adalah hak Alina.
Setelah semua selesai dibicarakan, Arthur langsung bergegas menyiapkan semuanya dokumen kepemilikan Mension dan aset berharga miliknya yang kini diberikan kembali pada Alina.
Alina pun menerima itu, dengan terpaksa karena dia tau Arthur tidak ingin hidup kekurangan.
Alina pun kembali pulang saat itu juga bersama anaknya dan juga putri dari Junior yang Junior ambil karena tidak ingin putrinya mengikuti Sifat ibunya yang tidak baik itu, lagipula putrinya sejak kecil tidak minum asi eksklusif hanya susu formula saja.
Dan Junior yakin Alina bisa menjadi ibu yang baik bagi putrinya.
Sementara Arda dan Jenny pun kembali dengan menggunakan jet pribadi milik Arthur.
Arthur yang kini sudah ditinggal pergi oleh semua orang dia tengah berada di kantor, dia tidak pernah bisa bersantai di rumah apalagi melihat Katrina yang hanya bermalas-malasan tidak seperti saat pertama kali mereka bertemu. Katrina selalu memperlihatkan sisi baiknya.
Arthur pun mulai muak dengan pernikahan yang baru seumur toge itu.
Tidak ada wanita setulus Alina dan sebaik Alina, Arthur bahkan tidak pernah bisa melupakan semua tentang mantan istrinya itu.
Namun Alina sudah meyakinkan dirinya untuk menikah dengan Junior, pria yang selama ini selalu menolongnya.
Biarlah pernikahannya dengan Katrina hanya sebagai pelampiasan nafsunya saja, Arthur tidak ingin lagi mengganggu kehidupan mantan istrinya kecuali Alina yang memang memutuskan untuk kembali bersama dengan dirinya.
Junior kini tengah duduk di samping Alina setelah memastikan mereka tertidur.
"Sayang jangan melamun, nanti ada roh halus masuk bagaimana?."ujar Junior.
Alina pun tersenyum."Mahluk halus yang berani masuk itu cuma kamu."ucap Alina.
Junior pun mencium bibir Alina dengan lembut hingga ciuman itu berlanjut sampai beberapa detik kemudian.
__ADS_1