Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 40


__ADS_3

Sudah dua Minggu sejak Alina tinggal di rumah Jenny Arthur tidak sekalipun menampakkan diri, hal itu membuat Alina semakin merasa yakin jika suaminya sudah benar-benar berubah.


Alina pun memutuskan untuk menggugat cerai Arthur, lagipula sekarang rumah pribadinya sudah kosong tidak ada penyewanya, Alina akan hidup di sana bersama dengan kedua putranya itu.


Meskipun Jenny tidak mengijinkan Alina untuk menggugat cerai dan meminta wanita itu untuk bersabar dan memberikan sedikit waktu bagi suaminya itu, tapi tekad Alina sudah bulat.


Biarlah semua itu berlalu dengan rasa sakit mungkin rasa itu juga akan lenyap seiring berjalannya waktu.


Yang penting saat ini adalah Alina akan kembali menata hidupnya lagi, mulai saat ini dia akan mulai beraktivitas seperti dulu, dia akan bekerja atau membuka usaha mungkin akan kembali ke tempat yang dulu, dimana? dia membuka warteg.


Sementara itu di tempat lain, Jenny tengah menasehati putranya yang baru kembali dari luar negeri.


Arthur pergi untuk kembali mengurus perusahaan dan juga mencari bukti, meskipun bukti itu masih samar-samar, tapi dia yakin jika yang terjadi saat itu adalah sebuah jebakan.


Mungkin saja Arthur pernah bercinta dengan Ririn, tapi kehamilan Ririn yang sebenarnya saat ini dipertanyakan.


Ataukah Ririn memang sudah hamil dan saat itu dia sengaja menjebak Arthur karena dia ingin Arthur yang menanggung kehamilan tersebut.


Dua kemungkinan itu yang saat ini membuat Arthur sedikit merasa lega, setidaknya dengan begitu dia bisa kembali memperbaiki hubungannya dengan istri tercintanya itu.


Namun saat Jenny mengatakan hal itu, Arthur begitu syok dia bahkan tidak menyangka istrinya akan seperti itu.


Saat itu tepat pukul tujuh malam, disaat Alina baru akan makan malam, Arthur datang ke rumah tersebut untuk bicara dengan istrinya itu.


Namun respon yang Arthur dapat malah membuat pria itu mengamuk, dan saat yang bersamaan seseorang datang ke rumah tersebut.


"Junior."ucap Alina, saat Junior datang membawa buket bunga dan sebuah paper bag.


"Oh, jadi ini alasan kamu sebenarnya!."ucap Arthur.


"Jangan bawa-bawa orang lain Ar, semua kehancuran ini kamu yang buat kamu yang menghancurkan rumah tangga kita dengan berselingkuh di belakang ku hingga wanita itu hamil."kata Alina.


"Lalu kamu apa? Alina! kamu berselingkuh dengan bajingan ini."ucap Arthur.


"Aku tidak berselingkuh!! justru kamu yang selingkuh! kamu tanya saja apa? pernah aku bertemu dengan dia selama ini, ini adalah kali pertamanya aku bertemu lagi dengan dia."ucap Alina, dengan nada tinggi.


"Alasan, jika maling ngaku penjara akan penuh."ucap Arthur yang kembali berkata dengan sinis nya.


"Aku bukan orang seperti itu, tidak seperti kamu yang pengecut! kamu tidak pernah mengakui kesalahan mu secara langsung! kamu yang sudah berselingkuh jadi sudah sepantasnya aku menggugat cerai dirimu."ucap Alina.


"Asal kamu tahu Alina, sampai kapan pun aku tak akan pernah menceraikan mu! mari kita buktikan siapa? yang akan menang kamu atau aku dan satu lagi mulai saat ini anak-anak akan kembali tinggal di Mension terserah jika kamu mau ikut pulang atau tidak yang jelas aku tidak akan pernah membiarkan dia untuk bertemu dengan mu jika kamu memilih hidup dengan dia."ujar Arthur panjang lebar.


"Jangan pernah bawa putra-putra ku, kau tidak punya hak atas mereka! kau bahkan tidak peduli dengan mereka saat mereka lahir kau malah bersenang-senang dengan selingkuhan mu itu."ucap Alina yang kini berlinang air mata.


Tapi Arthur tidak peduli dengan itu, pria itu terus menerobos masuk kedalam kamar untuk mengambil putranya itu.


"Arthur jangan ambil putraku, mereka putraku kau sudah punya anak lainnya dari istri tercinta mu. Arthur!!."teriak Alina yang kini terbangun di sebuah ruangan berwarna putih dengan jarum infus yang menancap di punggung tangannya.


Alina terbangun di sebuah ruangan serba putih dan seseorang kini tengah duduk di sofa ruangan tersebut dengan sebuah laptop di pangkuannya.


Alina menatap pria yang kini tengah menatap kearahnya.


Pria itu bangkit dan menghampiri Alina.


"Kamu sudah bangun honey."ucap Junior.


"Jun, ini dimana?."ucap Alina.


"Kamu dirumah sakit sayang."ucap Junior yang kini menggenggam tangan Alina penuh kelembutan.


"Dimana? Arion dan Arionan."tanya Alina.


"Mereka diambil pria itu."ucap Junior.

__ADS_1


"Junior kenapa? kamu tidak beritahu aku sedaritadi."ucap Alina yang panik.


Alina hendak melepaskan jarum infus di tangannya tapi Junior dengan sigap menahan tangan satunya.


"Honey, lihat keadaan mu dulu... apa? kamu bisa mengambil mereka disaat keadaan mu seperti ini heummm, bersabarlah nanti kita akan berusaha untuk membawa kembali putra mu."ucap pria itu dengan lembut.


"Tapi aku takut putraku di bawa pergi jauh, dia masih sangat kecil Junior... dia butuh aku."ucap Alina.


"Ya,,, pergilah karena kamu lebih memilih hidup dengan cinta yang menyakiti mu, daripada dengan ku yang sudah pasti tidak akan pernah mengkhianati cinta ku."ucap Junior.


"Jun, kamu bicara apa?."ucap Alina yang kini terlihat kesal.


"Tidak ada, pergilah cari dia dan ambil putramu sendiri jika kamu bisa, dan jika kamu tidak mampu untuk melakukan hal itu kamu bisa kembali padanya dan bertahan dengan penghianatan itu akan terus berlanjut."ucap Junior.


"Junior aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan kedua putraku apapun caranya."ucap Alina.


"Tapi setidaknya tunggu kondisi mu stabil, kau bahkan baru saja sadar setelah kecelakaan itu."ucap Junior.


Alina pun mematung mengingat kejadian itu.


Saat Arthur membawa kedua putranya dengan gerakan cepat dan tidak lama setelah itu Arthur pergi, Alina yang meraung-raung menangis sesenggukan sambil mencoba mengejar Arthur pun malah terjatuh di tangga kepalanya terbentur keras hingga membuat kepalanya mengeluarkan darah begitu banyak dan berguling-guling di tangga.


Junior yang masih berada di sana dia langsung bergegas menolong Alina sambil berteriak memanggil Arthur, namun pria itu tidak pernah kembali.


Alina pun menitikkan air matanya, tak kuasa menahan kepedihan.


Mungkin ini adalah rasa sakit yang sering terjadi pada orang-orang yang rumah tangganya hancur gara-gara pengkhianatan.


Alina langsung mengusap wajahnya dengan kasar dia tidak peduli dengan rasa sakit itu, yang dia pedulikan saat ini adalah kedua buah hatinya itu.


Sementara itu di kediaman Arthur, pria yang saat ini sengaja tidak masuk kantor dan menghandle perusahaan itu dari rumah akhirnya mendengar kabar kecelakaan yang menimpa Alina yang kini terbaring di rumah sakit.


Pria itu berniat untuk pergi menengok dan menjaga Alina, tapi lagi-lagi asisten pribadinya bilang jika saat ini Alina dijaga oleh Junior. pria itu langsung mengurungkan niatnya dan hanya bisa menahan amarah yang begitu besar.


Alina yang memaksa untuk datang bahkan masih menggunakan baju pasien dengan kepala terbalut perban tersebut akhirnya tiba di Mension tempat dirinya dan Arthur tinggal dulu.


Alina tidak menunggu dibukakan pintu terlebih dahulu, dia langsung menerobos masuk kedalam tanpa izin.


Arthur yang mendengar kabar kedatangan istrinya itu langsung bergegas menuju ruangan keluarga dimana saat ini kedua putranya tengah diasuh oleh kedua baby sitter tersebut.


"Arion... Arionan, mommy datang untuk menjemput kalian sayang ayo pulang bersama mommy disini bukan tempat kalian."ucap Alina yang hendak meraih keduanya namun suara Arthur yang kini berdehem keras mengejutkan Alina.


"Ingat juga untuk pulang honey, setelah membalas ku dengan perselingkuhan."ucap Arthur.


"Berucap lah sepuas hati mu, tapi ingat saat semua sudah selesai, aku harap kamu tidak akan pernah menyesali kata-kata mu itu. karena aku akan melakukan apapun yang kau tuduhkan."ucap Alina tegas.


Arthur langsung meraih pinggang Alina dia membawa Alina ala bridal style tidak peduli jika saat ini istrinya meronta dan memukuli dirinya dan meminta dilepaskan.


Sampai mereka tiba di kamar tersebut Arthur yang sudah mengubah kunci pintu kamar tersebut langsung menguncinya dan membawa Alina masuk ke atas ranjang empuk milik mereka yang sudah lama tidak pernah mereka gunakan sejak tujuh bulan lalu.


Arthur langsung mengungkung Alina yang kini terus berontak di bawah Arthur yang kini tengah melucuti pakaiannya istrinya tidak peduli dengan keadaan istrinya itu.


"Arthur lepas, Arthur kita akan bercerai aku tidak ingin ada anak lainnya lagi yang akan menjadi korban perceraian..... lepaskan aku."ucap Alina tapi tidak sedikitpun Arthur melepaskan Alina, hingga percintaan itu terjadi di sore hari yang cerah itu.


Alina yang kini tengah diperiksa untuk melakukan hubungan suami istri ditengah kekalutan hati dan pikirannya itu kini hanya bisa pasrah karena tidak sanggup untuk melepaskan diri tenaganya kalah Arthur yang jelas-jelas dua kali lipat lebih banyak.


Bahkan bayangan Arthur yang tengah bercinta dengan wanita lain pun kini terlintas jelas di dalam kepalanya.


"Lepaskan aku Arthur jangan buat aku semakin membuatku untuk membenci dirimu."ucap Alina setengah De***an yang lolos dari bibir Alina yang kini masih berada di dalam percintaan paksaan tersebut.


"Kamu bisa benci aku sayang, benci aku sepuas hati mu tapi jangan pernah mencoba untuk melupakan ku."ucap Arthur.


Alina kini membuang pandangannya ke arah samping namun lagi-lagi Arthur membingkai wajah cantik itu yang kini berlinang air mata.

__ADS_1


Sampai percintaan yang berakhir di puncak kejayaan yang membuat penanaman benih itu kembali terjadi, Arthur tidak akan pernah melepaskan cintanya itu.


Apalagi untuk orang lain.


"Maafkan aku yang pernah melakukan kesalahan yang begitu besar, tapi harus kamu tahu aku tidak pernah menghamili wanita manapun kecuali istriku yang sangat aku cintai dan hanya kamu tidak ada yang lainnya. dan aku janji itu yang pertama dan terakhir kalinya.


Arthur pun langsung bergegas pergi meninggalkan Alina yang kini masih menangis sesenggukan di balik selimut tebal itu.


Sementara Arthur kini tengah menghubungi seseorang untuk datang ke rumahnya saat itu juga.


Tidak lama setelah itu Arthur langsung berbalik dan berjalan kembali menuju ranjang lalu menyibak selimut tebal itu dan meraih tubuh Alina untuk pergi menuju kamar mandi,dia akan memandikan istrinya itu, sementara di bagian luka dia akan menjaganya agar tetap kering.


Setidaknya keadaan Alina sudah segar saat dokter datang.


Tepat setelah Arthur memakaikan baju di tubuh Alina yang sudah mandi dan sudah terlihat rapi dan wangi, dokter pun datang bersama dengan asisten pribadinya yang kini membawa sebuah berkas di tangannya yang Arthur minta tadi dan pria itu menyimpan semua itu di atas meja depan sofa.


Dikala Dokter sibuk memeriksa Alina dan luka-luka yang berada di bagian kepala terus akhirnya dia meminta Arthur untuk mengambil hasil rekap medis milik Alina di rumah sakit dan menebus resep obat yang di anjurkan tersebut.


Alina pun hanya berdiam diri di atas ranjang empuk tersebut sambil bersandar di headbord.


"Tuan kepala pelayan bilang saat ini kedua tuan muda tengah menangis dan tidak bisa ditenangkan oleh siapapun."ucap asisten pribadi nya yang kini masih berada di dalam kamar mereka yang tengah menunggu perintah selanjutnya dari Arthur.


Bawa mereka kemari untuk bertemu dengan nyonya.*ucap Arthur.


"Baiklah tuan."ucap asisten pribadi Arthur yang kini langsung pergi dari hadapan pria itu.


"Kita akan memulai semuanya dari nol Honey bersama dengan kedua putra kita buah cinta kita."ucap Arthur.


Alina tidak menjawab, dia hanya terus menatap ke arah pintu kamar yang cukup jauh itu yang terhalang di dinding kaca yang menjulang tinggi itu.


"Tuan muda itu mommy kalian."ucap sang asisten pribadinya itu.


Yang kini menggendong kedua bayi berusia tujuh bulan yang sangat menggemaskan tersebut.


"Sayang mommy."ucap Alina yang kini memeluk keduanya yang langsung terdiam.


Alina membawa keduanya kedalam selimut bermaksud untuk memberikan asi untuk keduanya.


"Honey, mereka dua hari ini minum susu formula."ucap Arthur.


Alina pun tidak mendengarkan kata-kata Arthur mereka langsung bergegas meraih


Arion dan Arionan dan langsung membiarkan mereka minum asi langsung dari sumbernya.


Unik memang Alina selalu memangku keduanya saat mereka minum asi secara langsung dari ibunya itu.


Arthur sendiri meminta asisten pribadinya itu untuk pergi dari hadapan mereka karena dia ingin istrinya menyusui keduanya dengan leluasa.


Sayang gantian ya, nanti mommy kesusahan, Arion main dulu dengan daddy."ucap Arthur.


Arthur hendak menggendong Arion tapi putranya menolak dan menyingkirkan tangan sang daddy.


Alina hanya menatap lekat wajah pria yang kini berada dekat di hadapannya, Arthur langsung mengecup puncak kepala istrinya itu.


Sampai saat Arthur duduk di samping istrinya yang kini tengah memangku kedua putranya yang tengah meminum asi.


Alina mengelus puncak kepala keduanya penuh kelembutan, kini mereka sudah sangat lucu dan menggemaskan.


Bahkan kedua putranya itu sudah pandai berceloteh meskipun bahasa yang tidak bisa dimengerti.


Alina pun hanya akan tersenyum dan mengajak mereka berbicara meskipun mungkin tidak sesuai dengan yang mereka bicarakan setiap saat.


Alina kini tengah duduk dengan Arthur setelah kedua putranya tertidur pulas di atas ranjang milik kedua orang tuanya itu.

__ADS_1


Arthur mengajak Alina untuk melihat bukti-bukti yang selama ini Arthur cari meskipun bukti tersebut harus ia bayar dengan mahal ya itu perselisihan antara mereka.


__ADS_2