
Sampai di dalam kamarnya, Alina tidak menemukan tas tersebut, dia bahkan kaget karena sadar tas itu berada di dalam mobil malam itu dia lupa membawanya.
Hati Alina benar-benar bergemuruh tidak tenang, dia takut kejadian itu terbongkar.
Alina berharap Junior tidak menghubungi dirinya lagi.
Saat itu juga Alina pergi mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor Arthur untuk mengambil handphone sekaligus tas nya.
Bayang-bayang kejadian sore itu hingga petang terus mengganggu pikiran Alina.
Wanita itu tidak bisa melupakan apa? yang terjadi padanya kala itu, perlakuan Junior yang lebih istimewa dari Arthur .
Namun Alina sadar setiap orang memiliki perbedaan, entah itu Arthur atau pun Junior keduanya memiliki cara yang berbeda dalam menyalurkan hasrat bercintanya.
Alina pun memejamkan mata, sejenak lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya.
"Hilang.... dan lupakan semua yang pernah terjadi."ucap Alina.
Tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar, Alina kaget bukan main karena baru saja dia tersadar dari lamunannya.
"Siapa?."ucap Alina.
"Ini saya nyonya di luar ada tamu, katanya disuruh seseorang."ucap seorang pelayan tersebut.
Deg.....
Kata seseorang itu membuat Alina seakan ditimpa batuan besar dan tidak bisa lagi bernafas.
Alina pun pergi menuju ruang tamu yang tadi disebutkan oleh pelayan itu.
Sampai saat dia bertemu dengan orang tersebut, Alina tidak pernah bertemu dengan orang itu sebelumnya.
"Nyonya, ada seseorang yang memerintahkan saya untuk memberikan ini."ucap pria itu yang memberikan sebuah handbag yang entah apa? isinya.
Alina yang sedikit melamun pun dia tersadar saat pria itu pamit.
Alina pun pergi meninggalkan ruangan tersebut dan membawa handbag di tangannya.
Sesampainya di dalam kamar dia langsung membuka handbag berisi sebuah gaun malam yang sangat indah namun tidak hanya itu disana ada sebuah amplop berukuran kecil Alina kaget saat menemukan flash disk yang ada di sana, dia langsung membawa itu ke atas tempat tidur dimana Arthur meletakkan laptop miliknya.
Alina langsung menghidupkan layar laptop tersebut lalu menancapkan flashdisk itu.
"Hi... sayang nanti malam aku ingin kamu datang dan gunakan gaun malam itu karena aku ingin kau menghadiri pesta ulang tahun sahabat ku, ingat hanya sendiri jika tidak aku tidak akan segan-segan untuk memberikan video malam pertama kita pada suamimu."ucap Junior yang kini menggunakan topi dan masker berwarna hitam.
Tidak lupa disana juga ada cuplikan video panas antara dirinya dengan Junior yang membuat Alina syok.
"Jun, apa? mau mu."ucap Alina yang kini berlinang air mata.
Alina benar-benar merasa seperti menjadi seperti seorang wanita murahan yang benar-benar tidak ada harganya.
Hatinya sakit karena telah diperlakukan seperti itu.
Junior bilang bahwa dia sangat mencintai Alina tapi apa? cinta bisa seperti itu.
Bukankah cinta itu adalah sebuah kasih dan sayang, lalu kenapa? Junior menjadikan kesalahan tersebut menjadi ancaman.
"Aku memang bodoh... aku bodoh!."ucap Alina yang kini memukul kepalanya sendiri dan menjambak rambutnya seperti orang kehilangan akal.
Alina mencabut flashdisk tersebut lalu menghancurkan itu dengan cara di bakar dan di tumbuk menggunakan martil yang ia ambil dari perkakas yang ada di gudang.
Alina tidak ingat jika di rumah itu banyak Cctv yang memata-matai gerak geriknya. hingga saat ia selesai menghancurkan itu dia pun kembali bergegas menuju kamar dan merapihkan penampilannya lagi.
Alina pun meraih kunci mobil milik Arthur dan membawa sebuah file yang Arthur lupakan mungkin itu akan sangat dibutuhkan saat ini.
"Alana sayang mau ikut mommy tidak."ucap Alina pada putrinya yang kini tengah bermain bersama baby sitter nya.
"Mommy mau kemana."ucap putri kecilnya yang cantik dan menggemaskan itu.
"Pergi ke kantor daddy."ucap Alina.
"Ikut...hole aku akan kekantol Daddy."ucap gadis kecil yang cadel itu.
"Ayo, bersiap dulu sayang mommy tunggu disini, jangan lupa bawakan baju ganti suster takutnya harus ganti nanti."ucap Alina.
"Nyonya biar saya yang menyetir." ucap Luna.
"Ah tidak usah Luna kamu dirumah saja nanti jangan lupa jemput kedua putra ku saja."ucap Alina.
"Tapi nyonya, tuan Arthur meminta saya untuk mengikuti anda kemanapun anda pergi."ucap Arthur.
__ADS_1
"Tidak perlu Luna, lagipula saya akan tinggal seharian disana."ucap Alina.
"Baiklah nyonya."ucap Luna yang kini diam-diam mengirim pesan pada Arthur.
"Saya permisi dulu nyonya."ucap Luna.
"Ya, Luna sebaiknya kamu istirahat."ucap Alina.
"Ya... nyonya."ucap Luna yang langsung pergi meninggalkan Alina yang kini tengah duduk di sofa sambil menunggu putri kesayangannya itu.
"Mom, aku sudah cantik belum."ucap Alana yang kini sedang memegang dress yang ia kenakan sambil berputar-putar di hadapan sang mommy yang tersenyum manis pada putrinya itu lalu menggendong putrinya itu sambil mencium gemas putri kecilnya itu.
"Putri mommy memang sangat cantik dan pintar, sudah saatnya tuan putri berangkat."ucap Alina yang kini diikuti oleh Baby sitter yang membawa perlengkapan milik Alana menuju mobil.
Sesampainya di garasi Alina langsung membuka pintu mobil tersebut dan memanaskan mesin mobil sebentar sambil menyiapkan Alana di jok kemudi samping jok kemudi yang tengah di duduki olehnya dibantu oleh Baby sitter nya itu.
"Saya pergi dulu, bilang pada Luna jika anak-anak sudah pulang suruh mereka mandi sebelum tidur siang setelah itu baru siapkan makan siang."ucap Aluna titip pesan pada baby sitter nya itu.
"Baiklah nyonya."balasnya.
Mobil tersebut pun keluar dari garasi mobil yang luas itu, Alina pergi menuju kantor suaminya.
Setelah hampir satu jam mengemudi, Alina pun tiba di basement kantor milik suaminya itu.
Wanita itu langsung mematikan mesin mobilnya dan membuka seat belt yang terpasang pada tubuhnya dan juga Alana.
Tunggu mommy turun lebih dulu ya sayang, mommy mau mengambil barang-barang milikmu."ucap Alina sambil tersenyum.
"Baik mommy."balas Alana.
"Princess mommy memang pintar."ucap Alina lagi.
Alina pun turun lalu berjalan mengitari mobilnya membuka pintu mobil bagian samping dimana jok penumpang kedua berada Alina masih mengajak bicara putrinya itu, sambil membawa tas perlengkapan milik putrinya itu.
Alina pun membuka pintu mobil dimana kini putrinya tengah menunggu, tiba seseorang menghampiri dirinya pria paruh baya yang merupakan sopir kantor.
Dia datang karena melihat mobil Arthur sang bos ada di sana.
"Nyonya ada yang bisa saya bantu."ucap pria itu sopan.
"Ah ya, tolong bawakan tas putri saya, saja pak jika bapak tidak keberatan."ucap Alina sopan.
"Tidak nyonya mari saya bawakan."ucap pria itu.
Alina yang baru saja tiba di lobby kantor tersebut tepat di samping meja resepsionis dia langsung mematung saat melihat seseorang yang baru dua jam yang lalu mengirimkan sebuah kejutan yang membuat dia syok.
"Daddy Juniol "ucap Alana yang langsung minta turun karena ingin digendong oleh pria yang kini baru melirik kearah mereka karena sedari tadi ia sibuk mengobrol dengan salah satu staf perusahaan.
"Honey... kamu disini, Owh princess daddy juga ikut."ucap pria tampan yang kini berjalan cepat menghampiri Alina yang masih terdiam di tempatnya.
Alina hendak pergi menghindar Junior tapi pria itu tiba-tiba merangkul pinggang Alina.
"Honey... kamu tau aturan mainnya kan, semakin kamu mencoba untuk pergi kamu akan melihat kehancuran itu."bisik Junior di kuping Alina.
Alina pun menatap tajam kearah Junior.
"Pergi Jun, atau aku akan benar-benar membenci dirimu."lirih Alina yang kini melepaskan tangan Junior dari pinggang rampingnya itu.
"Honey.... semua akan benar-benar terjadi jika kamu membangkang."ucap Junior yang terlihat dibakar api amarah yang terlihat dari tatapan matanya itu.
"Mommy mau di gendong Daddy."ucap Alana.
"Kemarilah princess daddy."ucap Junior.
"Sayang kalian datang."ucap seseorang yang kini terlihat tengah berjalan kearah mereka.
"Ya mas, aku ingin makan siang dengan mu."ucap Alina yang kini memeluk dan menerima kecupan sayang dari Arthur.
"Melihat itu dada Junior benar-benar terbakar api cemburu yang begitu besar.
"Tuan Arthur, saya juga datang untuk mengurus semuanya."ucap Junior yang kini ingin memisahkan mereka.
"Owh saya hampir lupa jika saat ini anda disini, silahkan sedari tadi saya sudah menunggu kedatangan anda."ucap Arthur.
Tangan Arthur meraih putrinya yang kini tengah berada di dalam gendongan Junior.
Arthur pun berjalan dengan satu tangan menggendong putrinya dan satunya lagi merangkul pinggang sang istri.
Junior sendiri kini berada di belakang mereka.
__ADS_1
Tangan Junior pun meraih tangan Alina dan meremas jemari tangan Alina perlahan tapi pasti lama-lama membuat Alina kesakitan namun ia tahan.
Sampai saat mereka keluar dari dalam lift tersebut, barulah Junior melepaskan genggaman tangan itu karena sudah pasti akan ada yang melihat itu.
Junior pun berjalan di samping Alina, pria itu kembali bicara pada Alina.
Alina, kamu sudah jauh lebih baik ya sekarang syukurlah Teresa tidak kembali jika dia kembali mungkin bahaya masih mengancam mu."ucap Junior.
Arthur langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap tajam kearah Junior.
"Aku baik-baik saja."ucap Alina.
Alina pun pergi lebih dulu kedalam ruangan tersebut, tapi saat itu tiba-tiba dadanya terasa sesak saat melihat seluruh ruangan yang masih sama seperti saat dia datang dan memergoki suaminya yang tengah berhubungan intim dengan wanita licik itu.
Alina pun kembali ke luar, bertepatan saat Arthur dan Junior hendak masuk kedalam.
"Ada apa? honey."tanya Arthur.
"Aku tunggu di luar saja... oh iya kunci mobil mu dimana yang aku ketinggalan tas."ucap Alina beralasan.
"Tas yang itu sudah dibawa kedalam tadi."ucap Arthur.
"Terimakasih, aku akan langsung mengambilnya dan segera pulang jika kamu masih sibuk."ucap Alina.
"Tidak sayang tunggu di ruang istirahat saja dengan putri kita."ucap Arthur tapi Alina menggeleng.
"Aku pulang saja."ucap Alina yang kini menahan air matanya.
Dadanya semakin terasa sesak dan sangat menyakitkan saat melihat Junior juga ada di hadapannya.
Alina sudah benar-benar hancur saat ini, dia sudah tidak tahan lagi berada di sana Alina buru-buru berlari masuk kedalam ruangan Arthur dan langsung mengambil tas miliknya lalu kembali ke luar.
"Sayang.... tunggu aku di bawah satu jam saja tidak lama ko."ucap Arthur.
"Tidak Ar, ayo sayang kita pulang."ucap Alina yang langsung meraih putrinya tapi Arthur tidak memberikan putrinya.
"Alana tetap disini bersama Daddy nanti kita pergi bersama dengan mommy oke."ucap Arthur.
"Ar aku ingin pergi terserah jika Alana ingin disini yang jelas aku akan pergi."ucap Alina yang kini pergi begitu saja tanpa menghiraukan panggilan dari kedua orang tercintanya itu.
Tangis Alina pecah saat dia tengah berada di dalam lift, hatinya begitu perih saat mengingat bayangan Arthur yang tengah bercinta dengan wanita lain, dan oleh karena itu kini dirinya juga sudah seperti wanita tidak berharga yang terjerumus dalam kehancuran tersebut.
"Aku benar-benar kotor aku bodoh dan ini begitu menyakitkan, apa? yang harus aku lakukan tuhan apa? yang harus aku lakukan hiks...hiks...sakit sekali."ucap Alina.
Sampai lift itu turun di bawah Alina langsung mengusap kasar air matanya beruntung dia tidak menggunakan makeup saat ini.
Sementara Arthur yang sedang bingung pun tidak fokus dalam membahas tentang kerjasama mereka saat ini begitu juga dengan Junior.
Kedua pria tampan itu seolah kehilangan haluan karena pikiran mereka tengah terganggu.
"Ah sepertinya pembahasan ini cukup sampai disini tuan Junior, saya bisa minta asisten pribadi saya untuk datang ke kantor anda nantinya."ucap Arthur. ah baik'lah jika seperti itu, saya juga sedang ada urusan."ucap Junior yang langsung membereskan berkas miliknya.
"Sayang ayo ikut daddy kita cari mommy."ucap Arthur.
"Baik daddy."ucap Alana yang kini terlihat ngantuk mungkin karena jam tidurnya atau karena dia bosan berada di dalam ruangan sunyi dengan pembahasan tentang masalah orang dewasa tersebut.
Sementara itu Alina yang kini tengah berada di tepi danau buatan itu dia tengah menangis sesenggukan sambil memeluk lututnya.
Ingin rasanya dia bunuh diri, tapi ketiga anaknya masih sangat membutuhkan dirinya.
Hatinya sangat sakit saat mengingat mereka.
"Aku harus apa?."ucap Alina lirih.
Sampai beberapa menit kemudian seseorang tiba-tiba memeluk erat dirinya dari belakang.
"Honey... jangan pernah menangis sendirian aku ada disini untuk mu."ucap seseorang yang tadi Alina temui.
Alina pun melirik.
"Lepaskan aku Jun, aku sudah menikah kamu tidak bisa melakukan ini padaku."ucap Alina tegas.
"Aku tidak perduli kamu sudah menikah atau pun belum, karena bagiku kamu hanya milikku."ucap Junior.
"Jangan ngaco Jun, aku milik suamiku."ucap Alina.
"Benarkah itu, bahkan kamu lupa dengan malam pertama kita."ucap Junior yang kini menatap lekat wajah cantik yang kini terlihat sembab itu.
"Aku tidak lupa dengan itu Jun, kamu bisa menganggap semua itu sebagai balasan atas kebaikan mu padaku, kamu juga bisa menganggap ku murahan atau wanita panggilan terserah karena semua itu adalah sebuah kesalahan terbesar ku dan akan aku ingat sampai aku mati."ucap Alina.
__ADS_1
"Cukup!! Alina! cukup!! Aku tidak pernah menganggap mu wanita seperti itu, aku sangat mencintaimu dan aku sangat menghargai dirimu bahkan lebih berharga dari nyawaku."ucap Junior.
"Jun."lirih Alina yang kini tangisnya pecah.