Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 54


__ADS_3

Berulang kali Arthur menjelaskan semuanya. tapi sampai saat ini hati kecil Alina belum juga bisa memaafkan perbuatan Arthur padanya.


Meskipun wanita itu sudah berusaha untuk melupakan semuanya.


Namun luka itu tidak pernah benar-benar bisa sembuh seratus persen, luka goresan yang membekas itu membuat dirinya tidak lagi sebahagia dulu saat dirinya masih sangat mencintai Arthur.


Meskipun rasa itu masih ada meskipun tidak seutuh dulu, karena sudah terkikis oleh luka ter pedih yang pernah ia rasakan dalam hidupnya.


Sudah satu bulan sejak mereka bersama uang yang direncanakan untuk membangun sebuah kos-kosan tersebut batal karena Arthur bilang uang itu dibelikan kembali pada sebuah Mension yang memang Arthur persembahkan untuk Alina.


Arthur tidak ingin semua uang impiannya dulu hilang begitu saja.


Dia memimpikan kebahagiaan yang dibangun di Mension tersebut meskipun karena kesalahannya dia tidak sengaja telah menghancurkan semua itu, Arthur kini tengah berusaha untuk mengganti kepingan puzzle yang telah rusak dengan yang baru.


Namun tanpa Arthur sadari. jika puzzle yang telah rusak bentuknya tidak akan pernah serasi dengan yang baru, meskipun bentuk itu sama tapi itu hanya akan menjadi pelengkap dan tidak akan sama berartinya dengan yang dulu.


Hari berganti Minggu, dan Minggu berganti bulan sejak mereka rujuk sampai saat ini Arthur tidak pernah bisa lagi menyentuh Alina dengan bebas seperti dulu.


Saat ini Alina lebih sering menolak Arthur dengan alasan lelah padahal Alina sekarang sudah tidak memiliki kesibukan yang menyita waktu selain mengurus rumah tangga dan itupun hanya melayani dia seperti biasanya menyiapkan segala keperluan Arthur, karena untuk urusan anak-anak mereka sudah dikerjakan oleh para baby sitter dan juga asisten rumah tangga juga Luna yang selalu ada untuk membantu Alina.


Arthur kini bahkan hanya mengijinkan Alina untuk berolahraga untuk menjaga kebugaran tubuhnya itu, namun tidak untuk menyiapkan makanan meskipun sesekali istrinya itu tetap memasak untuk dirinya dan anak-anak jika dia tengah merindukan dapur.


Arthur pun bisa paham jika memang Alina lelah batin selama ini, tapi Arthur tidak pernah melihat Alina mengeluh.


Arthur sudah terlalu sering mengajak istrinya itu untuk saling berbagi beban, tapi Alina tetap bungkam dengan beban yang ia pikul selama ini.


Beban yang Arthur tau mungkin tidak mudah untuk berbagai dengan siapapun tapi istrinya tetap menyimpan itu rapat-rapat.


Arthur hanya berharap, ada keajaiban yang membawa mereka kembali bahagia.


Sementara itu di kediaman Junior, pria yang kini sudah resmi menjadi tunangan dari gadis yang kini tinggal bersama dengannya.


Meskipun sampai saat ini Junior masih tetap tidak bisa bersentuhan dengan Katrina karena alergi itu akan kambuh saat Junior dan Katrina saling melepaskan sarung tangan mereka dan mencoba untuk berpegangan tangan.


Sampai saat ini mereka masih menjaga jarak dan hanya berbicara lewat earphone saja seolah mereka adalah pasangan mata-mata.


Junior yang sering pergi ke tempat dimana? Alina sering mengunjungi tempat tersebut.


Tapi Junior melakukan hal itu secara diam-diam bahkan Junior hanya bisa melihat wanita yang sangat ia cintai itu dari kejauhan.


Junior ingin sekali mendekat dan memeluk Alina.


Meskipun dia sendiri tahu bahwa Alina kini sudah kembali rujuk dengan Arthur.


Seperti saat ini, saat dimana Alina dan sikecil Alana tengah berada di taman kompleks perumahan tersebut, Junior yang sedang berada di dalam mobil sedikit lebih jauh dari tempat mereka berada dia menatap ke arah Alina menggunakan sebuah alat pemantau jarak jauh tersebut.


Junior terlihat menatap sendu pada wanita yang kini tengah melamun saat dirinya tengah menunggui putrinya yang tengah bermain bersama dengan Baby sitter nya.


Hingga sebuah panggilan masuk ke handphone yang sedari tadi ia pegang tanpa digunakan, Alina langsung tersadar dari lamunannya.


"Halo...ini siapa?.."ujar Alina yang terdengar jelas di handphone yang ada di hadapan Junior.


Namun Junior tidak pernah bisa menjawab pertanyaan itu, tapi Junior juga tidak mematikan panggilan itu.


Baginya mendengar suara seseorang yang sangat ia cintai sudah merupakan sebuah keajaiban.


Alina pun langsung memutuskan panggilan tersebut namun Junior tetap mengulanginya lagi dan lagi.


Pria itu tidak menyerah meskipun Alina tetap mengacungkan panggilan tersebut dia langsung mengirim pesan.


✉️"Tetaplah bicara aku rindu padamu... aku rindu mendengar suaramu meskipun aku tidak bisa berbicara apapun saat ini mohon jangan akhir sambungan telepon ini."


Alina pun mematung di tempatnya lalu panggilan itu kembali berulang datang dan akhirnya Alina mengangkat telepon tersebut.


"Jun, kau kah itu."ucap Alina lirih.


Namun tidak ada jawaban.


"Aku tidak tau apa? yang aku katakan itu benar atau tidak tapi yang jelas kata hatiku mengatakan bahwa ini adalah kamu Jun."ucap Alina pelan.

__ADS_1


"Maafkan aku, maaf."lirih Alina seakan menahan tangisnya tapi Junior melihat itu.


Dia melihat Alina yang kini tengah mengusap wajah, entah itu Air mata atau debu tapi yang jelas suara parau itu sudah mewakili semua rasa penasaran Junior.


Pria itu mengeratkan genggaman tangannya, saat dirinya ingin sekali berlari dan memeluk wanita yang kini tengah menangis dalam diam.


"Jun, aku tidak punya pilihan lain.... semua aku lakukan demi masadepan anak-anak aku bahkan sudah lupa dengan kebahagiaan ku sendiri maaf."lirih Alina lagi.


Namun tidak ada jawaban sama sekali di handphone.


"Bagaimana? kabar mu Jun.... apa? kamu bahagia....ah maafkan aku yang konyol ini, sudah pasti kamu bahagia dia bahkan jauh lebih baik dari ku bahkan dari semua hal semoga langgeng ya Jun...... maafkan aku yang selalu menjadi beban untuk mu dulu."lirih Alina yang langsung mematikan panggilan tersebut.


Junior kini melihat Alina berjalan cepat menuju ke arah mobil yang Alina bawa.


Wanita itu langsung masuk kedalam dan tidak pernah keluar lagi.


Junior ingin sekali menghampiri Alina dan mendekapnya erat namun hingga kini Junior lebih memilih diam seribu bahasa daripada Alina lenyap karena dirinya.


Ancaman sang daddy memang tidak pernah main-main, bahkan hingga saat ini dirinya hanya bisa menahan sakit atas perpisahan dan menahan perih atas pertemuan tanpa sapaan ataupun sentuhan seperti biasanya.


Alina sendiri saat ini tengah menangis sesenggukan sambil membenamkan wajahnya di atas telapak tangan yang bertumpu pada lututnya.


Jika saja pilihannya antara Junior atau kematian, dan bukan antara Junior dan anak-anak nya.


"Aku mencintaimu..." lirih Alina yang kini masih menangis."Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan dirinya."lirih Alina lagi.


Sungguh tidak dapat di benarkan tapi itulah Alina saat ini.


Wanita itu jatuh cinta pada Junior.


...************...


Satu Minggu telah berlalu sejak saat itu Alina memutuskan untuk melupakan semuanya meskipun sulit tapi dia sadar rasa itu salah.


Kini Alina dan Arthur tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan saat ini Alina sedang menemani ketiga anaknya berbelanja dan bermain seperti biasanya.


Sementara Alina tengah berbelanja kebutuhan ketiganya saat ini.


Ibu tiga anak yang kini tampil lebih cantik dari biasanya meskipun hanya menggunakan celana jeans panjang berwarna merah marun dan t-shirt berwarna putih dengan aksen love di bagian dada sebelah kirinya itu.


Pakaian yang mereka gunakan satu keluarga itu membuat mereka menjadi pusat perhatian karena mereka terlihat begitu serasi sungguh terlihat seperti keluarga yang sangat harmonis dari kekompakan mereka.


Lagi-lagi saat ini seseorang tengah memperhatikan Alina yang cantik itu dari arah sebrang.


Tatapan mata penuh damba dan luka bersamaan di sana.


Pria itu hanya bisa melihat interaksi wanita itu dari jauh.


"Babe... aku bisa saja menjumpai mu, tapi mungkin aku juga yang akan menjadi malaikat maut mu. jika saja semua ini mudah mungkin saat ini yang tengah berdiri di sampingmu adalah aku."gumam Junior dalam hati.


Junior tidak sadar jika saat ini Katrina tengah menatap kearah yang sama dengan yang ia tatap sedari tadi.


"Bagaimana honey apa? ini cocok."ucap Katrina tiba-tiba mengejutkan Junior.


"Ah ya... itu jauh lebih baik."ucap Junior tanpa menoleh membuat Katrina semakin yakin bahwa saat ini Junior tengah melamun.


"Babe.. what happen?."ucap Katrina sambil menggerakkan tangannya ke kanan dan kiri.


"Ah... tidak apa-apa aku hanya sedang memikirkan sesuatu tentang pekerjaan."ucap Junior beralasan.


"Heumm...."lirih Katrina yang kembali memilih barang yang ia sukai.


Sementara di sebrang sana terlihat Arthur tengah membetulkan anak rambut Alina yang tergerai menutupi wajah cantiknya itu.


Junior merasa semakin terbakar cemburu melihat hal itu, padahal itu adalah sebuah hal yang wajar dilakukan oleh seorang pasangan suami istri.


Tapi hati Junior tidak terima akan hal itu.


Tiba-tiba Alina melirik ke arahnya dan pandangan mereka bertemu! pandangan mata yang tadinya biasa-biasa saja kini terlihat berbeda seperti pandangan dimana saat mereka belum terpisah.

__ADS_1


"Jun." lirih Alina yang membuat Arthur langsung menatap kearah yang istrinya tatap tapi sayang Arthur tidak melihat adanya Junior.


Yang ia lihat saat ini adalah wanita cantik yang tengah tersenyum manis padanya.


Dia adalah Katrina, wanita yang ia tolong dua hari yang lalu saat dia hampir tertabrak mobil saat hendak menyeberang menuju sebuah restaurant berbintang.


Arthur membalas senyuman itu dengan anggukan, dia tidak mungkin tersenyum pada wanita lain saat ia tengah bersama dengan istri tercinta dan buah hati mereka saat ini.


Arthur pun langsung meraih pinggang Alina yang kini menundukkan kepalanya entah apa yang terjadi.


"Honey... ada apa? heumm..."lirih Arthur yang mengeratkan rangkulannya di pinggang istrinya itu.


Alina pun hanya bisa menggeleng pelan.


Sampai saat Arthur mendaratkan kecupan mesra di bibir manis itu.


"Yank...malu tau banyak orang."ucap Alina.


"Kenapa? harus malu honey kita sudah halal, justru kita adalah contoh keluarga yang bahagia."ucap Arthur.


Alina pun hanya mengangguk pelan, sementara seseorang kini tengah mengerat kan kepalan tangannya.


Siapalagi jika bukan Junior yang merasa haknya telah direnggut.


"Aku tidak rela."gumam Junior.


Sejak saat itu Junior terus mengatur strategi, dia yang kini kembali menghubungi Alina lewat nomor tidak dikenal membuat Alina kembali bingung orang itu meminta bertemu di sebuah tempat yang merupakan tempat tidak biasa untuk melakukan pertemuan.


Awalnya Alina ragu, tapi kemudian diapun pergi menuju sebuah shorum mobil yang kini terlihat sangat sepi.


Hanya ada mobil-mobil mewah yang ada di sana yang di tata secara acak.


Alina yang bingung harus bagaimana dia mencoba untuk menghubungi seseorang tapi tiba-tiba ruangan itu menjadi gelap lampu-lampu yang tadinya menyala terang kini tidak ada lagi hanya terlihat sebuah cahaya dari layar handphone yang memperlihatkan wajah seseorang muncul di hadapannya.


"Jun."lirih Alina.


Junior langsung memeluk erat Alina di kegelapan ruangan tersebut dan mencium bibir manis yang ia rindukan.


Alina pun seakan merasakan hal yang sama dengan yang Junior rasakan saat ini dia membalas ciuman tersebut hingga menjadi cumbuan mesra yang sudah lama mereka tinggalkan.


Alina seolah kehilangan kendali atas dirinya saat ini bahkan dia tidak sadar dengan apa? yang dia lakukan saat ini, saat itu Alina langsung tak sadarkan diri dan saat tersadar sudah berada di dalam sebuah ruangan yang merupakan kamar tidur yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya.


"Honey..."lirih Junior yang kini mendekat dan kembali mencumbu bibir Alina yang lagi-lagi membalas itu.


Junior bahkan tidak menyianyiakan kesempatan saat Alina menerima perlakuan manis yang ia lakukan hingga saat semua hal yang harusnya tidak pernah terjadi kini tengah berjalan dengan sangat lancar dan bahkan membuat Junior yang baru pertama kali merasakan hal itu dia pun menggila.


Pria itu merenggut apa? yang bukan miliknya, hingga percintaan itu terjadi berulang kali dan tanpa Alina sadari semua itu adalah jalan kehancuran yang tengah ia lalui.


Tepat pukul tujuh malam semua selesai dilakukan, keduanya tampak berbaring di balik selimut tebal itu saling menatap.


Namun air mata Alina jatuh tak tertahankan, dan itu membuat Junior kaget dan panik karena dia sendiri tidak tahu apa? yang terjadi pada Alina saat ini.


Menyesal..... dan merasa berdosa itulah yang ia rasakan saat ini.


Andaikan saja dia tidak terbawa suasana romantis dan rasa rindu yang membuncah dari cinta yang pernah ada mungkin saat ini semua itu tidak akan pernah terjadi.


Sekarang penyesalan pun tak ada gunanya, dan apa? bedanya dirinya dengan Arthur.


"Honey ada apa? heumm..."lirih Junior sambil mengusap lembut Air mata itu.


Alina tidak menjawab, wanita itu langsung bangkit dan menggulung tubuhnya dengan selimut tebal itu berjalan menuju sebuah kamar mandi di hotel tersebut.


"Babe... tunggu kamu kenapa? heumm... apa? ada yang sakit."ucap Junior yang kini memeluk erat Alina dan mengecup tulang selangka wanita itu.


Alina pun memejamkan mata, tapi kemudian dia berbalik.


"Jun, ini untuk pertama dan terakhir kalinya aku mohon jangan pernah lakukan ini lagi.... anggap kita tidak pernah saling bertemu dan saling mengenal."ucap Alina.


"Tidak honey... setelah ini aku akan berkata pada dunia bahwa kamu hanya milikku."

__ADS_1


__ADS_2