Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 43


__ADS_3

Kondisi rumah tangga mereka kembali adem ayem, Arthur semakin memprioritaskan keluarga.


Arthur akan pulang setelah bekerja seharian dan dia akan terus berada di samping istri dan anaknya itu.


Alina yang sedari kemarin tengah kurang enak badan dia kini tengah diperiksa oleh dokter di dalam kamarnya.


Dokter yang memeriksa kondisi Alina pun tersenyum pada kedua orang yang kini tengah menunggu hasil pemeriksaan tersebut.


"Selamat nyonya Alina kini tengah mengandung dan untuk memastikan hal itu, silahkan lakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit."ucap sang dokter.


"Aku hamil dokter, tapi mereka masih sangat kecil."ucap Alina.


"Hal itu wajar nyonya karena rahim anda sehat dan subur."ucap sang dokter.


Alina sempat terdiam, tapi Arthur langsung memeluk wanita itu.


"Oh sayang ku, selamat atas kehamilannya semoga anak kita sehat selalu dan mulai saat ini aku tidak ingin kamu kecapean."ucap Arthur.


"Tapi mas, putra kita."ucap Arthur.


"Apa? kamu tidak suka hamil lagi ia."tanya Arthur.


"Tidak mas bukan begitu."ucap Alina.


"Lalu apalagi sayangku."tanya Arthur yang kini membingkai wajah cantik itu.


"Aku hanya takut kamu seperti waktu itu lagi."ucap Alina.


"Tidak akan sayang aku pastikan semua itu tidak akan pernah terjadi, kamu tau sendiri bukan itu tidak pernah terbukti."ucap Arthur.


"Heumm,,, kamu benar Yank, tapi apa? kamu tau semua itu sungguh membuat aku sakit hati."ucap Alina.


"Maafkan aku honey, aku tidak akan pernah meninggalkan mu untuk saat ini bahkan saat kita berpisah pun itu hanya murni karena aku sedang bekerja."ucap pria itu lagi.


"Aku pegang janji mu mas."ucap Alina.


"Tentu saja Sayang."ucap Arthur.


Mereka pun kini tidur bersama kerena hari sudah larut.


Saat pagi menjelma, Alina akan bangun dan menyiapkan segalanya, istri Arthur itu memang sangat sulit untuk di larang.


Wanita itu bahkan tidak pernah absen untuk memperhatikan kebutuhan rumah tersebut meskipun semua sudah di urus oleh kepala pelayan.


Siang harinya, saat Alina tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan, seseorang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya tiba-tiba saja memaki Alina habis-habisan.


"Dasar kau pelakor pengganggu rumah tangga orang, kau merebut suamiku hingga saat ini suamiku tidak pernah pulang ke rumah."ucap wanita itu.


Tiba-tiba saja seseorang menghadang wanita itu.


Dia adalah Junior yang kini menatap ke arah wanita tadi.


"Siapa? suamimu dan mana buktinya jika dia memang merebut suamimu jangan asal nuduh karena jika tidak ada bukti saya akan tuntut balik anda."ucap Junior.


"Tentu saja saya ada buktinya, ini anda lihat."ucap ibu-ibu tadi.


Sontak Junior tertawa terbahak-bahak saat melihat, ternyata suaminya begitu buruk rupa menurut Junior jika dibandingkan dengan dirinya.


"Yonya bisa mata anda di buka lebar-lebar, wanita mana yang akan mau dengan suami Anda ini maaf bukan saya menghina tapi itu adalah sebuah fakta, wanita cantik ini sudah bersuami dan sudah memiliki kedua putra! apa? anda kenal dengan suaminya."ucap Junior yang kini memperlihatkan foto Arthur yang ada di ponsel tersebut saat bersama dengan Alina.


"Jadi itu artinya saya salah orang."ucap wanita itu.


"Jelas saja! dan silahkan pergi setelah ini karena saya tidak akan pernah melepaskan anda jika berada lebih lama lagi."ucap Junior.


Alina pun terkekeh saat melihat tingkah Junior yang geregetan tersebut.


Pria yang baru menginjak usia dewasa itu begitu bersemangat dalam membela dirinya.


"Sudah-sudah Jun, malu ribut dengan wanita."ucap Alina.


"Itu sih bukan wanita Honey."ucap Junior.


"Heumm... ada-ada saja jika bukan wanita lalu apa? lagi."ucap Alina.


Alina pun kembali sibuk memilih berbagai jenis makanan yang dibutuhkan oleh kedua putranya.


"Honey,,, dimana para pelayan kenapa? kamu sendiri yang berbelanja kebutuhan pokok! bukankah itu tugas pelayan di rumah mu."ucap Junior.


"Ini untuk Putra dan juga suamiku Jun, selain urusan pekerjaan rumah dan pangan mereka baru mereka yang urus semeantara untuk kebutuhan aku dan suami selalu aku yang mengurus semuanya."ucap Alina tegas.


Alina pun kembali melanjutkan proses belanja tersebut hingga selesai.


"Jun kamu tidak kuliah atau bekerja?."tanya Alina.


"Tidak honey untuk apa? semua itu, toh aku juga sudah bekerja di memiliki tanggung jawab untuk mengurus soal perusahaan tersebut."balas Junior ..


"Heumm kamu benar Jun."ucap Alina sambil kembali meraih kebutuhan pokok tersebut.


Alina kini dibantu oleh Junior untuk memilih sayur dan buah-buahan segar tidak hanya itu mereka juga memilih daging yang kini tengah dipilih oleh Alina.


Keduanya seolah tengah bermain bersama tanpa sadar troli belanja itu penuh dengan semua yang mereka pilih.

__ADS_1


Junior membantu mendorong troli tersebut hingga tiba di depan kasir pria itu langsung memberikan black card miliknya.


Alina pun lagi-lagi tidak bisa menolak semua itu karena Junior tidak akan bisa ditolak.


Hingga saat mereka selesai berbelanja, Junior meminta Alina untuk menemani dirinya makan siang.


"Honey, ini ambilah untuk mu."ucap Junior menyodorkan sebuah menu yang memang Junior pesan untuk Alina.


"Terimakasih Jun."Alina pun sudah mulai memakan makanan tersebut hingga selesai makan siang Alina pun buru-buru pamit pulang.


Junior yang hendak mengantar pun ditolak oleh Alina karena dia membawa mobil sendiri, semeantara belanjaan tadi sudah dibawa pulang oleh asisten pribadinya tadi.


Alina pun mulai menghidupkan mesin mobilnya saat dirinya melambaikan tangan pada Junior yang sama-sama melakukan hal itu.


Sementara Junior kini tengah berbunga-bunga saat dirinya bisa makan siang bersama wanita pujaannya itu.


"Alina sayang mungkin butuh waktu lama untuk aku bisa mendapatkan dirimu tapi dengan begini pun aku sudah bahagia kamu tidak pernah menolak ku."ucap Junior.


Sementara Alina pun hanya tersenyum kecil, saat mengingat kejadian tadi dimana? Junior membela dirinya dan rela ribut dengan wanita karena dirinya.


"Jun, aku takut tidak bisa membalas Budi baik mu."ucap Alina.


Alina pun tiba di rumah, dia disambut oleh kecupan hangat dari Arthur yang saat ini sudah berada di rumah.


"Pelayan bilang kamu belanja sayang, beli apa heumm."ucap Arthur.


Belanja bahan makanan mas, tapi tadi dibayar oleh Junior dan aku diminta untuk makan siang bersamanya."ucap Alina.


Arthur pun terdiam sejenak, jujur hatinya tidak terima tapi saat melihat wajah bahagia istrinya yang kini memeluk erat dirinya Arthur pun tidak bisa marah.


"Sayang memangnya kamu tidak bawa dompet, atau kamu kekurangan uang, hingga Junior bayar belanjaan itu."ucap Arthur lembut.


"Bawa mas, tapi kamu tahu sendiri Junior itu tidak bisa di larang tidak apa-apa kan mas, lain kali kita bisa ganti uang itu."ucap Alina.


Arthur pun mengangguk.


...**********...


Kini keduanya tengah berada di dalam kamar, setelah Alina menyusui kedua jagoannya itu, meskipun seharusnya sudah berhenti menyusui karena kini Alina tengah hamil muda.


"Sayang, apa? kamu tidak lelah."tanya Arthur yang kini membelai rambut istrinya itu.


"Tidak sayang, memangnya ada apa? heumm."jawab Alina


"Aku pengen."ucap Arthur .


"Pengen apa? heumm.."balas Alina sambil menggoda suaminya sambil menggerakkan jemarinya di dada bidang suaminya itu.


Arthur langsung membalikkan keadaan, kini Alina dibuat terkekeh geli karena dia berhasil membuat suaminya tidak tahan menahan godaan yang Alina berikan.


"Honey....eum ."Alina tidak bisa bicara lagi saat Arthur menjelajahi seluruh titik sensitifnya.


Alina bahkan terus men***ah dibuatnya.


Arthur yang sudah siap untuk memasuki goa keramat itupun tidak menunda lagi.


Arthur yang kini tengah berpetualang sambil sambil sesekali minum air susu sebagai pelepas dahaga sementara Alina tengah menikmati pisang super yang diberikan oleh Arthur.


Keduanya saling memberi hingga tiba di puncak teratas pegunungan Meratus berdua pun terbaring lemas.


Petualangan pun berakhir hingga dua jam perjalanan.


Mereka pun tertidur di sore hari yang cerah tersebut.


Hari demi hari mereka lalui penuh kebahagiaan.


Tidak terasa dua tahun sudah mereka melewati kehidupan rumah tangga yang bahagia.


Kini Alina sudah tidak lagi memikirkan tentang kehilangan bayi perempuan yang pernah ada di dalam rahimnya itu.


"Sudah dua tahun berlalu, mungkin jika putri ada saat ini rumah akan semakin ramai."ucap Alina.


Sayang jangan pikirkan itu lagi, lebih baik kita lupakan semua itu mungkin bukan rejeki kita."ucap Arthur.


"Mommy! Arion mau ini." teriak Arion yang menunjukkan sebuah gambar es krim yang ada di gadget miliknya.


Alina pun mengangguk.


"Arionan juga mau mommy."ucap Arionan.


"Baiklah kita akan pergi untuk membeli es krim tapi janji sama mommy jangan lari-lari di tempat umum bahaya."ucap Alina.


"Baiklah mommy."ucap keduanya kompak.


"Sayang bawa pengawal oke."ucap Arthur yang kini tengah sibuk menatap kearah laptopnya jemarinya juga tidak tinggal diam.


"Heumm... Aku malas mas, pergi bertiga saja dengan anak-anak."ucap Alina.


"Baiklah sayang tapi ingat langsung hubungi aku jika terjadi sesuatu."ucap Arthur.


"Tentu saja sayang."balas Alina.

__ADS_1


Wanita itu pun bersiap untuk pergi dengan mengganti dress yang kini ia kenakan dengan dress yang baru.


"Sayang aku titip belikan sesuatu."ucap Arthur.


"Apa? itu Honey."tanya Alina.


"Cheese cake."ucap Arthur.


"Baiklah honey."ucap Alina yang mengecup bibir Arthur sekilas.


"Mommy ayo."ucap kedua putranya itu.


"Heumm... sudah tidak sabar rupanya jagoan mommy yang teramat sangat tampan ini."ucap Alina.


Alina pun memeluk keduanya saat itu tidak lama langsung pergi menggunakan mobil miliknya.


"Mommy aku juga mau beli mainan baru yang terbaru."ucap Arionan.


"Tentu saja sayang tapi ingat kata Mommy yang lama harus di."


"Sumbangkan mom."jawab keduanya.


"Pintar putra mommy harus sudah belajar berbagai tidak hanya barang bekas yang layak pakai saja, tapi jika kalian punya rejeki kalian juga harus membaginya."ucap Alina.


"Ya, mommy."ucap keduanya.


Setibanya di kedai es krim yang tidak jauh dari area pusat perbelanjaan tersebut.


Alina kini memesan es krim kesukaan putranya itu.


Alina pun meminta mereka duduk di kursi yang tersedia dan mereka pun menurut .


Sampai saat Alina membawa dua buah eskrim dalam cup itu dia langsung membersihkan itu pada kedua putranya.


Alina duduk di hadapan mereka yang kini sudah sibuk memakan es krim .


Pelan-pelan sayang kalian bisa tambah lagi jika masih mau."ucap Alina sambil mengusap bibir sang putra dengan tissue.


"Mommy ini enak sekali."ucap Arion.


"Enak ya, tapi tidak boleh terlalu sering tidak baik."ucap Alina memberitahu pada putranya yang kini sudah berusia Dua tahun delapan bulan itu.


Mereka pun tersenyum manis.


"Bunga terindah untuk wanita paling cantik di dunia."ucap seseorang yang sudah lama tidak terdengar suaranya.


Sejak insiden kecelakaan itu pria tampan itu menghilang begitu saja.


"Junior!."ucap Alina yang kini menatap lekat wajah tampan itu.


"Aku disini honey, apa? kabar."ucap Junior.


"Kabar ku baik Jun, bagaimana? dengan mu apa? kamu baik-baik saja... maafkan aku saat itu aku tidak tahu lagi apa? yang terjadi."pertanyaan itu sudah mewakili sebuah perasaan yang memang tidak pernah Alina sadari.


"Aku baik-baik saja sayang lihatlah."ucap Junior yang kini memeluk erat wanita yang ia rindukan selama berada di alam bawah sadarnya.


"Ya, sejak tragedi kecelakaan itu Alina yang mengalami kehilangan, dan Junior yang hampir kehilangan nyawa gara-gara menyelamatkan Alina dari tabrak lari yang hingga saat ini belum diketahui siapa? pelakunya.


"Syukurlah Jun, aku sangat takut satu tahun lebih aku menunggu hari ini."ucap Alina.


"Daddy Junior."ucap keduanya.


"Ya sayang ini daddy Junior, kalian berdua sangat tampan."ucap Junior yang masih memeluk Alina.


"Ah, Jun lain kali jangan pernah lakukan itu lagi."ucap Alina.


"Aku tidak apa-apa sayang aku lebih takut kehilanganmu, maaf tidak bisa menyelamatkan dia."ucap Junior yang kini beralih memeluk kedua jagoan itu.


"Tidak apa-apa Jun, mungkin bukan rejeki."ucap Alina.


"Ya, mungkin kamu benar honey."ucap Junior.


Pria yang mengalami koma selama satu tahun itu, kini telah kembali berada di tengah-tengah mereka.


"Jun."ucap seorang gadis yang baru datang dan menghampiri Junior.


"Jun, siapa? ini."ucap Alina yang penasaran.


"Ah, kenalkan aku tunangan Junior."ucap pria itu.


"Owh, selamat ya Jun."ucap Alina yang kini menyembunyikan rasa sakit di hatinya.


Alina merasa sedih saat dia tau jika dirinya sudah tergantikan oleh gadis itu di hati Junior.


Mungkin jika itu dulu, Alina akan sangat senang, tapi saat ini Alina merasakan sakit yang teramat padahal jelas-jelas dia bukan siapa-siapa bagi Junior.


"Jun, kami sudah ingin pulang sekali lagi terimakasih untuk semuanya."ucap Alina yang langsung bergegas mengusap bibir kedua putranya dengan tissue.


"Al tidak bisakah tinggal barang sebentar saja temani kami makan siang."ucap Junior yang tidak pernah bisa melihat Alina pergi dari hadapannya.


"Mungkin lain kali, aku juga harus membeli pesanan mas Arthur."ucap Alina yang membuat pria itu mengepal kuat.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan honey."bisik Junior yang kini memberikan pelukan singkat.


__ADS_2