Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 42


__ADS_3

Saat itu Arthur mendorong stroller baby twins dan Alina mengikuti mereka di samping suaminya itu.


Tidak hanya itu kedua asisten pribadi mereka berdua pun mengikuti mereka membawakan barang-barang milik Alina dan juga sikecil.


Alina kini tengah melihat ke arah kanan dimana ada beberapa barang yang ia butuhkan saat ini, wanita itu pun meminta Arthur untuk menunggu dirinya membeli apa? yang dia butuhkan itu.


Kini setelah Alina selesai melakukan pembayaran dan keluar dari toko dimana tadi dia menghampiri Arthur dan kedua putranya yang tengah menunggu dirinya di sebuah bangku yang ada di sana.


Alina kini tengah duduk di samping Arthur, Alina tengah menyuapi kedua putranya makan.


Arthur yang sedari tadi fokus pada ponselnya membuat Alina merasa di abaikan.


"Kenapa? tidak pulang saja ke rumah agar kamu bisa fokus dengan gadget mu mas."ucap Alina.


"Heumm.... maafkan aku sayang, aku ada pertemuan yang terlewat, tidak jauh dari sini kamu mau ikut atau tidak."ucap Arthur.


"Aku disini saja karena masih ingin mengajak mereka jalan-jalan mas."ucap Alina.


Arthur pun mengangguk sambil memberikan pelukan hangat dan singkat Arthur pun pergi setelah pamit pada kedua putranya itu.


Alina membawa kedua putranya berkeliling mall sampai saat seseorang datang menghampiri dirinya.


"Hi...honey kamu jalan-jalan juga."ucap Junior yang kini berjalan diikuti oleh beberapa orang bodyguard di belakangnya.


"Jun, kamu disini?."tanya Alina.


"Ya sayang aku sedang mencari hiburan eh bertemu kamu disini."ucap Junior.


"Ini tempat umum Jun, siapapun bisa datang."ucap Alina.


"Heumm... kamu benar....apa? kabar kalian twins A sini daddy gendong."ucap Junior.


"Mendengar kata itu Alina tidak bisa marah pada Junior, karena jika dilarang Junior akan semakin nekat seperti panggilan sayangnya itu hingga saat ini masih tetap tidak berubah.


"Hati-hati Jun, dia suka mencakar wajah pria asing."ucap Alina.


"Baby kita pintar ya, sayang dia tidak melakukan hal itu padaku karena dia tahu bahwa aku adalah Daddynya."ucap pria tampan itu.


"Heumm.... baguslah jika seperti itu Jun."ucap Alina yang anti huru hara dengan pria keras kepala itu.


"Yu, kita jalan Daddy belikan mainan."ucap Junior yang kini menggendong keduanya.


Alina hanya bisa mengikuti pria tampan itu dengan segala keinginannya saat ini dia tidak ingin membuat Junior sedih karena itu tidak baik untuk kondisi mentalnya.


"Jun, anak-anak belum bisa main itu."ucap Alina.


"Tidak apa-apa honey bisa diajarkan nanti."ujar Junior.


"Heumm,,, terserah kamu saja yang penting kamu senang."ucap Alina lirih.


"Arion suka yang mana nak, daddy belikan yang itu mau."ucap Junior.


Arion hanya tersenyum dan mengangguk seperti yang Junior lakukan.


"Honey, ambilah kamu harus memanjakan dirimu biar aku yang jaga anak-anak."ucap Junior yang menyodorkan sebuah black card.


"Jun, untuk yang satu ini aku tidak bisa menerima kamu bisa berikan itu pada calon istrimu kelak."ucap Alina.


"Heumm... honey aku tidak ingin istri yang lain aku hanya ingin kamu."ucap Junior.


"Jun, kamu hanya butuh waktu untuk itu, lambat-laun kamu akan terbiasa dengan semua itu."ucap Alina.


"Heumm.... baik'lah sampai saat itu datang aku ingin kamu tetap menjadi teman hidupku."ucap Junior.


"Itu bukan masalah, kita masih bisa menjadi teman baik."ucap Alina yang tidak ingin membuat Junior putus asa.


Alina pun mengiyakan permintaan Junior.


Dia tidak tahu jika semua itu adalah sebuah kesalahan besar jika rencana Junior benar-benar terwujud, dan itu adalah gerbang sebuah kehancuran.


Alina pun mengajak kedua putranya untuk pulang, dan Junior mengikuti langkah wanita cantik itu seolah seorang daddy yang baik Junior membawa Arionan dan Alina membawa Arion.


Sementara pengawal mereka membawakan semua barang-barang belanjaan itu termasuk mainan anak-anak.


Alina terus mengajak putranya berceloteh dan itu membuat hati Junior meng hangat.

__ADS_1


Pria itu seolah memiliki sebuah keluarga yang utuh dan sangat bahagia tidak seperti keluarga Junior hingga saat ini sang daddy hanya menjadikan mommy nya sebagai teman .


Alercxa tidak pernah bisa menerima leony sebagai seorang istri, meskipun status itu tidak pernah hilang.


Leony selamanya terjerat pernikahan status.


Terkadang Junior merasa sangat berdosa pada ibunya yang tidak pernah bahagia namun dia selalu bertahan demi Junior.


"Arion, jika mommy dan daddy menikah suatu hari nanti... apa? Arion akan menyayangi Daddy."ucap Junior yang kini melirik ke arah Alina.


"Jun, tidak baik bertanya seperti itu pada anak kecil."ucap Alina.


"Honey, aku hanya bercanda... jangan dibawa serius."ucap Junior yang tiba-tiba menatap kearah samping dimana Arthur tengah memeluk seseorang.


Alina yang kini ikut menoleh pun langsung membulat matanya.


"Arthur."lirih Alina.


Alina hampir saja pingsan tapi dengan sigap kedua bodyguard menahan Arion dan juga Alina.


Alina pun pergi berlari mengitari dinding kaca yang menjulang tinggi menjadi pembatas ruangan tersebut.


"Honey tunggu."ucap Junior yang kini mendudukkan Arionan yang kini duduk di atas stroller baby tersebut.


Junior mengejar Alina, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada wanita itu.


Sesampainya di sana.


Plak.....


Tamparan keras itu mendarat di pipi Arthur yang kini menatap kaget pada Alina.


"Tega kamu mas."ucap Alina.


"Nona, anda salah faham."ucap wanita itu.


"Salah faham, kau pikir aku buta."ucap Alina yang kini pergi meninggalkan Arthur yang sedari tadi ingin bicara tapi Alina tetap tidak memberikan kesempatan kepada dirinya.


"Honey.... honey!."panggil Arthur setengah berteriak.


Pria itu melirik ke arah Junior yang kini menatap tajam kearahnya.


Alina berlari menuju keluar mall yang benar-benar padat oleh pengunjung disana kedua putranya dan Asisten pribadi Alina berada.


"Ayo kita pergi."Ucap Alina yang kini membawa kedua putranya kedalam pelukannya Alina berjalan cepat mencegah taksi dan saat itu bertepatan dengan Junior yang menghampiri Alina.


Junior langsung membuka pintu untuk Alina, Arthur yang hendak mencegah pun tidak sempat karena wanita tadi memanggilnya dan meminta dia untuk menolong nya.


Arthur kini dalam dilema melirik pada wanita itu dan pada istrinya yang akhirnya pergi bersama dengan Junior.


Alina kini hanya bisa menangis dalam diam karena tidak mungkin membiarkan kedua putranya melihat dia menangis sesenggukan.


Junior pun kini membawa Alina kedalam dekapannya.


Alina terus terisak di dada bidang Juniar yang tanpa Alina sadari kini tengah membenamkan bibirnya di puncak kepala Alina.


Alina benar-benar tidak menyadari hal itu, saat ini dia dan Junior terlihat intim.


Sampai saat Alina tiba di sebuah rumah yang tidak asing untuknya Junior berkata, untuk sementara kamu bisa tinggal di sini bersama dengan anak-anak sebelum hatimu tenang."ucap Junior lembut.


Padahal di hatinya saat ini benar-benar sangat marah saat melihat Alina menangisi pria lain.


Junior akan bersabar seperti yang dikatakan oleh Alercxa saat itu.


Alina pun kini tengah duduk di sebuah ruangan bersama Junior yang kini memberikan Air mineral dalam kemasan.


"Honey minumlah kamu jangan terlalu memikirkan yang terjadi, nanti aku akan meminta anak buah ku untuk mencari tahu apa? hubungan suami mu dengan wanita itu."ucap Junior.


Junior meminta pelayan rumah itu membantu mengurus kedua putra Alina yang kini harus mandi dan berganti pakaian.


Junior meminta seseorang untuk membelikan pakaian terbaik untuk ketiganya saat itu juga, dia tidak ingin Alina dan kedua anaknya itu merasa kekurangan saat berada di rumahnya.


Sementara Arthur yang kini tengah berada di rumah sakit karena wanita itu ternyata harus segera mendapatkan perawatan medis karena penyakit yang dia idap.


Arthur meminta asisten pribadinya untuk menjemput Alina di rumah Junior dan meminta Alina datang ke rumah sakit agar dia tahu jika saat ini Arthur tengah mengurus orang sakit bukan mengurus selingkuhannya.

__ADS_1


Saat ini lagi-lagi rumah tangga Arthur di uji dengan cara yang hampir sama, yaitu orang ketiga dan salah faham itu pun melibatkan wanita yang sama sekali tidak ia kenal.


"Flashback on"


Arthur selesai melakukan pertemuan dengan klien penting itu, dia menitipkan wanita itu pada Arthur untuk sebentar saja. karena ternyata Istrinya akan melahirkan dan wanita itu adalah teman si klien tadi.


Tapi saat itu mendadak penyakit jantung wanita itu kambuh Arthur yang melihat wanita itu tiba-tiba sesak nafas dia mencoba untuk membantu dia berdiri namun tidak bisa dan hampir terjatuh ke lantai tapi Arthur dengan sigap menangkap wanita itu.


Dan saat itu tidak ada satu orang pun di sana hanya ada di luar dinding kaca yang menjulang tinggi sebagai pembatas ruangan tersebut Arthur sudah berteriak minta tolong tapi tidak ada yang mendengar.


Wanita itu meminta Arthur untuk mengambil obat di dalam tasnya dan saat itu posisi Arthur dan wanita itu saling memeluk erat karena Arthur yang ada di sana tengah panik dan meminta wanita itu untuk tetap berada di posisinya saat itu dan Alina melihat itu.


Dan saat Alina datang menampar pipi Arthur saat itu obat milik wanita itu jatuh meskipun wanita itu tetap berpegang pada Arthur dan Arthur juga tidak bisa melepaskan posisi itu hingga Alina pergi.


Arthur pun langsung bergegas mengejar karena wanita itu meminta Arthur untuk mengejar meskipun wanita itu juga mencoba berjalan mengejar Arthur.


Flashback off.


Arthur kini tengah duduk-duduk di ruang tunggu, sampai Alina dan kedua asisten datang mereka pun membawa tuan muda mereka, masing-masing satu orang.


Alina pun duduk di samping Arthur, dia meminta orang-orang itu untuk menunggu di rumah sakit berjaga jika terjadi apa-apa pada wanita itu mereka diminta untuk menghubungi Arthur.


Alina hanya mengikuti Arthur, ada perasaan bersalah di hatinya saat ini karena dia telah berburuk sangka pada suaminya yang ternyata tengah menolong orang yang hampir saja mati.


Sepanjang perjalanan dari rumah sakit ke Mension keduanya tidak ada satupun yang berbicara.


Arthur tidak marah pada Alina, karena dia mengerti bahwa apa? yang dilakukan oleh istrinya adalah sebuah ungkapan rasa cinta yang begitu besar untuknya, hingga Alina benar-benar marah pada dirinya.


Sampai saat mereka tiba di Mension, Arthur dan Alina menyerahkan putra mereka saat ini malam sudah sangat larut Alina pun hanya berganti pakaian dengan miliknya karena itu adalah pemberian dari Junior.


Sementara untuk Arthur dia menyimpan piyama tidur milik suaminya itu.


Alina tidak mengisi air di bathtub-e karena Arthur mandi langsung di ruangan shower.


Sementara itu dia langsung menelpon pelayan untuk membuat makan malam untuk suaminya itu.


Alina sendiri dia tidak berselera makan malam sejak tadi meskipun Junior sudah menawarkan berbagai macam menu padanya.


Alina yang sudah mendengar penjelasan dari asisten pribadi Arthur pun akhirnya ikut pulang.


Sementara Junior hingga saat ini pria itu tengah duduk di atas ranjang dan bersandar di headbord.


Pria itu tersenyum manis karena dia bisa memeluk erat Alina dan mencium puncak kepala wanita yang ia cintai meskipun semua itu sebenarnya tidak pernah Alina sadari.


"Tuhan, kenapa? wanita sesempurna dia bisa dimiliki oleh pria seperti dia, kenapa? tidak aku saja yang menjadi suaminya."lirih Junior.


Sementara itu di kediaman Alina, Arthur masih terdiam setelah selesai mandi dan menggunakan pakaian yang di siapkan oleh Alina tadi.


Sampai saat Arthur menghampiri istrinya yang kini tengah duduk di sofa sambil terdiam menatap ke arah lain.


"Alina."lirih Arthur.


"Kamu bisa ceraikan aku sekarang juga mas, aku bukan wanita baik-baik yang bisa menjaga kehormatan suami."ucap Alina.


"Heumm,,,, apa? dia jauh lebih baik dari ku."ucap Arthur yang malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh Alina.


"Apa? maksud mu mas. Aku tidak mengerti."ucap Alina balik bertanya.


"Apa? Junior jauh lebih baik dari diriku."ucap Arthur yang sebenarnya tidak pernah meragukan kesetiaan istrinya itu.


"Mas, aku dan dia murni hanya berteman."ucap Alina jujur.


"Pertemanan macam apa? heumm, bisa kamu jelaskan sekarang juga."ucap Arthur.


"Mas, jangan bahas masalah yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan yang terjadi tadi."ucap Alina.


"Aku juga tidak membahas itu, tapi aku hanya ingin tau.....apa? di mata istriku pria itu jauh lebih baik dari diriku sendiri hingga dia selalu menurut pada pria itu."ucap Arthur.


"Mas, aku tidak ingin membahas tentang itu, aku ikut dengan dia karena dia peduli terhadap ku sebagai teman baiknya."ucap Alina tegas.


"Teman baik, apa? kamu yakin dia hanya ingin berteman dengan mu sayang."ucap Arthur.


"Tentu saja mas, ah sudah tidak penting bahas itu yang paling penting sekarang kamu makan dulu setelah itu kamu bisa istirahat."ucap Alina yang ingin menghentikan pembahasan soal Junior.


"Kenapa? bisa jadi tidak penting, lalu kenapa? kamu meminta perpisahan jika dia tidak pernah penting bagimu."ucap Arthur.

__ADS_1


Alina langsung memalingkan wajahnya."Aku sudah membuat mu malu di depan umum, jadi silahkan ceraikan aku."ucap Alina.


"Sampai jutaan kali pun kamu berbuat seperti itu, aku tidak akan pernah melepaskan dirimu karena kamu terlalu berharap untukku."


__ADS_2