
Hari ini tepat saat keputusan akhir untuk kasus perceraian mereka Arthur dan Alina pun resmi bercerai, lagi-lagi Alina mengembalikan semua aset berharga yang Arthur berikan, dia pun berkata akan lebih baik jika Arthur yang memegang itu untuk masa depan kedua putranya itu.
Meskipun Arthur tidak pernah setuju karena biar bagaimanapun semua itu terjadi karena kesalahannya Alina bahkan tidak punya siapa-siapa dan apa-apa lagi yang dia miliki saat ini.
Alina pun memutuskan untuk tetap pergi ke kota tempat dimana? sang ayah dilahirkan dulu, tempat dimana Alina dulu pernah membuka usaha.
Namun kedua putranya melarang itu mereka adalah alasan Alina mengurungkan niatnya itu.
"Sayang... kalian berdua harus sering-sering tinggal di rumah daddy karena mommy tidak punya apapun untuk diberikan pada kalian jika mommy tidak bekerja nanti."ucap Alina lirih.
Wanita itu berbicara dengan sangat pelan disaat kedua putranya tengah tertidur pulas di atas ranjang miliknya.
Sementara Arthur sendiri kini tengah menuju rumah Alina, dirinya ingin memberikan black card untuk Alina agar bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka.
Saat dia tiba di dalam rumah tersebut, Arthur yang sudah menggunakan tongkat sebagai alat bantu berjalan.
Arthur pun memanggil Alina dengan lembut.
"Alina. Aku ingin bicara."ucap Arthur.
Alina yang memang tidak jauh dari posisi Arthur kini berada dia langsung bergegas menghadap Arthur tidak hanya itu Alina juga membantu pria itu berjalan.
"Untuk apa? repot-repot datang kesini, anak-anak akan pergi kesana nanti malam."ucap Alina yang kini sudah memutuskan untuk berdamai dengan keadaan, lagipula kini mereka sudah tidak memiliki ikatan sebagai suami istri lagi! Alina ikhlas dengan semua yang terjadi dalam kehidupannya meskipun rasa sakit itu tidak kunjung pergi.
"Alina aku ingin bicara, maafkan aku jika aku mengganggu."ucap Arthur.
"Sudah jangan katakan hal lain yang tidak penting duduklah."ucap Alina tegar.
"Apa? Monster kejam ini tidak pernah bisa terampuni."ucap Arthur.
"Bukan begitu Ar, buku harian kita yang sudah dipenuhi dengan tulisan yang salah itu sudah di tutup, kini tinggal lembaran baru yang akan dipenuhi dengan catatan baru tentang kedua putra kita itu saja."ucap Alina lirih.
"Tidak ada kah kesempatan untuk ku, saat ini untuk kembali bersama dengan mu Alina...ya aku tau itu adalah sesuatu yang tidak mungkin tapi aku masih sangat mencintai dirimu aku tidak pernah ingin berkhianat Alina."
"Cukup! Ar sudah cukup... jika kamu datang untuk semua itu maka maafkan aku."ucap Alina yang hendak beranjak dari duduknya.
"Yank... aku masih sangat mencintai, aku tidak tahu apa? yang harus aku lakukan untuk menebus dosa dan kesalahan yang tidak pernah ingin aku lakukan saat itu kecuali untuk melindungi mu dan anak-anak kita."ucap Arthur yang membuat Alina mematung di tempatnya.
"Melindungi ku, dengan cara mengorbankan putri kita! itu maksudnya."ucap Alina.
"Maaf."lirih Arthur.
"Apa? dengan kata maaf semuanya akan baik-baik saja seperti sedia kala! apa? dengan kata maaf putriku akan kembali, kalian bahkan tidak pernah memberikan dia kesempatan untuk melihat dunia ini."ucap Alina.
Alina pun terlihat menahan sesak di dadanya dia berulang kali menepuk-nepuk dadanya itu.
"Maafkan aku sayang.... maafkan aku, sekarang aku mengerti. jika aku tidak terampuni.... tapi satu hal yang harus kamu tahu cinta ini masih utuh untuk mu."ucap Arthur.
Derai air mata Alina pun tidak terbendung lagi, saat ini keduanya menangisi semua yang telah terjadi.
"Aku mungkin akan pergi jauh agar kamu tidak lagi tersakiti saat melihat ku ada di hadapan mu, aku titip buah cinta kita padamu sewaktu-waktu mereka bisa datang berkunjung ke tempat ku... dan hanya akan ada asisten pribadi ku yang akan menjemput mereka, dan ini untuk kebutuhan kalian bertiga."ucap Arthur.
Alina tidak berbalik sedikit pun hingga Arthur memeluk Alina erat dari belakang.
Alina yang hendak melepaskan pelukan itupun batal karena Arthur bilang."Tolong izinkan aku seperti ini sebentar saja."ucap Arthur lirih dengan derai air mata yang menetes di puncak kepala Alina.
Pria itu pun berbalik dan pergi dengan alat bantu berjalan itu.
"Ar maafkan aku."lirih Alina.
Arthur yang tidak mendengar itu dia terus berlalu pergi.
Alina pun pergi meninggalkan tempatnya berdiri sambil menatap punggung pria yang sangat ia cintai sekaligus pria yang telah menyakiti dirinya.
Arthur yang sudah bersiap dengan Arda dan Jenny pun akhirnya pergi tanpa pamit terlebih dahulu pada kedua putranya itu, dia tidak ingin menangis di hadapan mereka berdua, cukup wanita yang sangat ia cintai yang tahu dengan hatinya yang rapuh itu.
__ADS_1
Arthur pergi bersama dengan Arda dan Jenny menuju negara tempat dimana dia dilahirkan.
Rencananya mereka akan tinggal bersama dengan Arthur di sana, Arda tidak mungkin meninggalkan istrinya yang memutuskan untuk tinggal bersama dengan putranya itu, mendampingi sang putra yang kini tengah menderita batin akibat prahara rumah tangga.
Arthur pun pergi meninggalkan Indonesia bersama dengan sejuta luka yang dia bawa semeantara Alina kini tengah menangisi kehidupannya yang malang.
Tepat di samping kedua putranya yang masih terlelap beruntung mereka tidak mendengar isakan pelan yang keluar dari bibir Alina.
Sementara itu Junior yang sudah menyelesaikan pekerjaannya dia kembali ke Indonesia karena sudah sangat merindukan pujaan hatinya itu.
Alina sendiri kini sedang makan malam bersama dengan kedua putranya yang sedari tadi menanyakan sang daddy, tapi Alina yang sempat dikabari oleh ibu mertuanya itu bilang jika saat ini Daddynya tengah berobat di luar negeri.
Sampai saat mereka bisa mengerti meskipun sempat menangis karena tidak bertemu dengan Daddy mereka terlebih dahulu.
"Daddy bilang kalian harus hidup dengan baik dan makanan yang banyak agar bisa cepat tumbuh besar nanti, daddy bilang setelah kalian besar kalian bisa menyusul kesana."ucap Alina.
Arion pun mengangguk begitu juga dengan Arionan yang tengah mengunyah makanan mereka jadi tidak bisa protes, tapi setelah itu mereka pun protes juga.
Saat mereka sibuk protes tiba-tiba Junior datang diikuti oleh dua orang asisten pribadinya yang kini membawakan satu koper penuh hadiah mainan yang dia bawa.
Tapi yang mereka tuju saat itu adalah Junior yang sudah seperti Daddy mereka.
"Daddy!!."teriak keduanya saat Junior datang melambaikan tangan kepada mereka berdua.
Junior sendiri langsung memeluk keduanya penuh kerinduan.
"Jun, apa? kabar."ucap Junior.
"Kabar baik Honey."ucap pria itu yang kini beralih memeluk Alina.
Alina pun membalas pelukan hangat itu.
...**********...
Sementara Alina menyiapkan makan malam kesukaan Junior hingga saat ia selesai memasak Alina membangunkan Junior yang juga tertidur pulas mungkin karena lelah setelah perjalanan jauh.
"Jun makan malamnya sudah siap bangunlah."ucap Alina yang berbisnis di samping Junior.
"Ah, honey maafkan aku ketiduran.'ucap Junior yang kini mengusap wajahnya dan bergegas bangkit dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamar twins A.
Alina sendiri membenarkan selimut putranya itu, lalu pergi ke bawah untuk menemani Junior makan malam.
Junior yang baru saja turun setelah selesai bersih-bersih dan kini terlihat lebih fresh dari sebelumnya.
"Honey, maaf menunggu."kata Junior yang tiba-tiba mengecup puncak kepala wanita itu.
"Ah, eum tidak apa-apa Jun, duduklah."ucap Alina.
Saat Junior duduk Alina pun menghidangkan makanan di piring milik Junior, dan pria itu langsung tersenyum.
Alina pun duduk manis menunggu Junior makan hingga selesai.
"Sayang ikut dengan ku tinggal di Mension Agar kamu dan anak-anak tidak kesepian."ucap Junior.
Alina hanya menggeleng pelan, dia tidak ingin melakukan hal itu, menurut dia rumahnya adalah tempat ternyaman untuk mereka tinggali.
"Kenapa? sayang bukankah saat ini kamu sudah bebas dan tidak memiliki ikatan apapun lagi dengan dua kecuali hubungan sebagai orang tua mereka berdua."ucap Junior.
"Bukan masalah itu Jun, kita tidak seharusnya tinggal bersama karena kita tidak memiliki hubungan apapun kecuali persahabatan."ucap Alina.
"Aku akan segera membuat ikatan di antara kita."ucap Junior.
"Jun, Rasa sakit itu masih terasa benar-benar nyata hingga saat ini. aku sendiri belum bisa memastikan akan bagaimana? hidupku kedepannya nanti."ucap Alina lembut.
"Honey... aku bisa membantu mu melewati semua itu, dan aku yakin kamu akan bisa melewati semua ini tanpa rasa sakit."ucap Junior.
__ADS_1
"Beri aku waktu Jun."ucap Alina.
"Selalu sayang ku."ucap Junior yang kini membingkai wajah cantik itu.
"Mau sampai kapan terus bersabar seperti ini Jun, rasanya begitu sulit untuk bisa melewati semua ini."ucap Alina.
"Sampai kamu bisa benar-benar melupakan segalanya dan memilih untuk menjadikan aku sebagai pilihan hatimu."ucap Junior.
Disaat mereka tengah mengobrol, tiba-tiba seseorang datang dan memberikan informasi tentang kebenaran yang terjadi setelah dua tahun berlalu.
Junior langsung memberikan bukti-bukti itu pada Alina, bukti yang menyatakan bahwa saat Alina melahirkan secara Caesar, bayi yang ia lahir kan ternyata masih dalam keadaan hidup meskipun saat itu kondisinya kritis.
Dan satu jam mendapatkan pertolongan di ruang incubator rumah sakit tersebut, tiba-tiba bayi itu hilang dan beberapa menit kemudian bayi itu kembali ada namun perbedaan wajah bayi itu sangat terlihat jelas oleh dokter yang merawatnya dan menyatakan bahwa bayi tersebut sudah tiada, atau meninggal dunia.
"A apa? ini artinya Jun."ucap Alina yang kini terbata-bata.
"Itu artinya ada seseorang di balik ini semua honey, dan harapan untuk menemukan putri kalian masih ada."ucap Junior.
"Tapi Jun, putri ku sudah tiada."ucap Alina.
"Tapi hasil otopsi jenazah tidak membuktikan bahwa jenazah bayi tersebut memiliki hubungan darah dengan mu atau pria itu."ucap Junior jelas.
"Owh benarkah itu Jun."ucap Alina yang kini terlihat berlinang air mata.
"Cukup sayang jangan ada lagi Air mata yang terbuang sia-sia sekarang semua tinggal menunggu hasil penyelidikan kedua."ucap Junior.
"Jun aku janji akan membalas semua kebaikan mu ini dengan cara apapun, jika kamu benar-benar bisa membawa putriku kembali."ucap Alina.
"Aku hanya ingin hidup bersama dengan mu apapun yang terjadi, mau itu kau mencintaiku atau tidak, terserah kamu ingin anggap apa? tapi yang jelas aku sangat mencintaimu."ucap Junior.
"Baiklah Jun, baik'lah aku juga akan melakukan hal itu, setidaknya aku bisa berterimakasih pada mu dengan cara itu."ucap Alina.
"Heumm... terimakasih honey yang aku harapkan adalah bisa melihat senyuman itu sampai akhir hayat nanti."ucap Junior.
Junior pun pergi berpamitan kepada Alina untuk pulang ke Mension.
Sementara itu di dalam pesawat terbang yang sebentar lagi akan mendarat di negara tujuan Arthur masih setia melamun di dalam sebuah tempat istirahat di dalam jet pribadi tersebut dikala kedua orang tua Arthur tengah berduaan di jok penumpang mereka tidak pernah saling melepaskan tangan mereka kecuali jika mereka sedang berada di tempat terpisah.
Arda bahkan hampir ratusan kali jika dihitung mengecup punggung tangan istrinya itu penuh cinta dan kasih didalamnya.
Jenny terkadang merasakan debaran jantung yang begitu kuat setiap kali mendapatkan perlakuan tersebut.
Arda benar-benar menikmati hidupnya saat ini, dia tidak perlu bekerja lebih keras meskipun itu tidak berarti Arda menjadi seorang pengangguran, tapi dia tidak perlu menghidupi istri seperti saat menghidupi Almira yang memang semua biyaya hidupnya bergantung padanya.
Berbeda dengan Jenny yang terkadang menolak Arda untuk membelikan hadiah berlebihan dan meminta dirinya untuk menabung uang tersebut untuk masadepan Alif putranya Arda.
"Jenny tidak ingin menjadi wanita yang serakah dengan seluruh harta yang Arda miliki cukup nafkah yang diberikan oleh suaminya itu, dan yang lainnya ia juga tidak memerlukan semua itu karena Jenny sudah memiliki segalanya.
Dan untuk Arthur perusahaan itu sudah diberikan kepadanya, jadi Jenny pun tidak perlu lagi dengan semua itu.
Hidupnya sudah tercukupi, sekarang yang dia inginkan adalah melihat kebahagiaan anak cucunya itu.
Arthur masih meneteskan air mata, setiap kali dia teringat akan anak-anak nya yang ada ataupun yang sudah tidak ada di dunia, tapa sepengetahuan Arthur saat ini Junior menemukan fakta bahwa putri mereka masih hidup.
Satu Minggu telah berlalu sejak hari itu, Alina terlihat lebih bersemangat dalam menjalani kehidupannya.
Alina bahkan sudah bisa melupakan luka itu sedikit demi sedikit, karena harapan untuk bisa bertemu dengan anaknya itu benar-benar tinggal menunggu bukti yang kongkrit.
Alina bahkan sudah tidak lagi muntah darah dan serum yang di suntikan ke tubuhnya itu sudah dihentikan kecuali vitamin.
Karena saat dipantau oleh dokter spesialis yang bekerja di laboratorium milik saudara Alercxa tersebut virus itu sudah tidak aktif dan Alina dinyatakan sembuh meskipun tidak sembuh total dan bisa kambuh sekali waktu jika emosi dalam jiwanya bergejolak.
Saat ini Alina tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli keperluan sekolah bagi kedua putranya itu.
Saat sedang konsentrasi memilih sebuah tas sekolah anak itu tiba-tiba Junior datang menggendong seorang balita cantik yang begitu mirip dengan Arthur mantan suaminya itu.
__ADS_1