
"Mom..."ucap keduanya saat melihat Jenny bercucuran air mata sambil menerawang entah kemana saat ini.
"Ah... ya, maafkan mommy."ucap Jenny yang kini baru tersadar dari lamunannya.
"Ada apa? mom... bicaralah, kami siap untuk mendengarkan"ucap Alina.
Wanita paruh baya itu langsung menetralkan perasaannya saat ini, lalu tersenyum pada menantunya yang kini merangkul bahu nya dan memberikan usapan lembut disana.
"Sayang semua baik-baik saja, saat ini mommy hanya terkenang akan masalalu dimana pertama kali mommy datang ke rumah keluarga besar ayah mertuamu."ucap Jenny lirih.
"Heumm.... Bunda ingat kebahagiaan bunda dulu, apa? sama seperti kami."tanya Alina.
Namun gelengan kepala dari Jenny sudah bisa menjelaskan semuanya.
Arthur pun menyudahi percakapan itu karena yang dia tahu ibunya tidak pernah merasa bahagia selama ini.
"Sudah sekarang semua sudah berlalu, Arthur akan membahagiakan mommy dengan memberikan mommy banyak cucu."ucap Arthur sambil tersenyum.
"Tidak mommy akan menikah dan memberikan mu adik."ucap Jenny yang kini tersenyum lebar.
"Mom, aku tidak mau!."ucap Arthur.
"Itu sudah keputusan final sayang."ucap Jenny yang kini meninggalkan putranya yang tengah protes.
Jenny dan Alina tengah tertawa lepas di ruangan yang berbeda.
Mereka mentertawakan Arthur yang kini tengah protes pada Jenny yang sudah pergi.
Tapi tidak lama karena kini dia sadar bahwa dirinya tengah ditertawakan oleh istrinya itu.
"Yank,,, kamu sekongkol dengan mommy."ucap Arthur.
"Ah, tidak... tidak.... ampun Yank ampun hahaha ampun."teriak Alina berkali-kali meminta ampunan pada Arthur yang kini tengah menghukum Alina dengan cara menggelitik perut rata milik Alina.
"Heumm, berani bersekongkol dengan mommy untuk mendapatkan ayah mertua baru dan adik bayi. maka aku tidak segan-segan untuk menghukum dirimu dengan menghamili mu di setiap tahun."ucap Arthur yang langsung menelan Saliva nya itu.
"Ampun Ar,,,, ampun!."ujar Alina yang terus menggeliat.
Arthur pun mengakhiri hukuman itu dengan meminta istrinya membuatkan kopi.
Sampai Alina kembali membawa secangkir kopi diatas nampan.
"Yank.... apa? Tidak ada pantry yang lebih dekat dengan tempat ini rasanya melelahkan jika harus pergi ke dapur."keluh Alina.
"Siapa? Yang menyuruh mu untuk pergi ke dapur sayang ku, kenapa? tidak meminta pelayan saja yang bekerja, kamu hanya tinggal mengawasi dan memerintahkan saja setelah itu semua beres bukan."ucap Arthur.
"Tapi aku ingin melayani suamiku sendiri tidak tidak dengan bantuan pelayan atau siapapun."ucap Alina .
"Mau melayani semua kebutuhan aku ya Yank,,,, bagaimana ? caranya sayang baru buat kopi saja sudah cape hanya karena berjalan jauh di rumah yang katanya luas ini."ucap Arthur.
"Bukan katanya Yank,,, tapi memang nyatanya."ucap Alina.
"Heumm,,, baik'lah sayang aku akan membuat semuanya agar lebih mudah."ucap Arthur.
"Caranya?."tanya Alina.
"Ya dengan menggunakan pelayan."ucap Arthur.
"Baiklah jika kamu ingin dilayani oleh pelayan, setidaknya aku tidak perlu peduli padamu dengan begitu aku akan tinggal di rumah ku sendiri karena suamiku tidak pernah mau aku layani."ucap Alina tegas.
"Hi Yank,,, kamu salah faham Honey kamu salah faham oke, yang aku maksud adalah kamu ingin melayani aku itu hal yang sangat aku harapkan tapi kamu juga harus minta bantuan mereka untuk membantu mu dalam melayani ku. contohnya begini sayang... kamu bisa perintah mereka untuk buat kopi dan mereka serahkan ke kamu dan kamu memberikan itu padaku itu simpel kan sayang."ucap Arthur.
"Kamu tidak mengerti Ar, mungkin di negaramu semua dilayani oleh pelayan itu wajar, tapi disini ada adat istiadat atau aturan yang tidak bisa dilanggar Ar."
"Apa?itu sayang."ucap Arthur.
"Jangan potong dulu saat aku bicara... biar kamu faham dengan apa? Yang aku katakan."ucap Alina.
"Oke sayang silahkan katakan."ucap Arthur.
"Ar,,, disini seorang istri harus menghormati suami, dengan cara mematuhi segala peraturan yang berlaku. misalnya cara memanggil seorang suami harus dengan cara yang sopan misalnya panggil mas, atau Abang dan lain sebagainya tergantung mereka berasal dari daerah mana dan jangan pernah memanggil nama suami tanpa panggilan hormat lebih dulu misalnya mas Arthur."
__ADS_1
"Dan yang kedua, seorang istri harus patuh pada suaminya. misalnya suaminya meminta dilayani dalam segala hal yaitu mulai dari melayani dia menyiapkan semua keperluan dia sehari-hari entah itu pakaian atau pun isi perutnya dan masih banyak lainnya dan itu wajib di jalani oleh istrinya."
"Tapi kamu juga harus ingat dengan kewajiban mu sebagai seorang suami. kamu harus menyayangi dan mencintai istrimu sepenuh hati, memenuhi kebutuhannya dan juga menjaganya di setiap waktu, dan memberikan pengarahan jika istri mu salah dengan cara baik-baik dan satu lagi harus selalu terbuka ."ucap Alina.
"Jadi kesimpulannya apa? sayang."tanya Arthur.
"Aku yang harus melayani kebutuhan suamiku, dan aku juga harus memanggil kamu dengan panggilan yang sopan misalnya mas Arthur."ucap Alina.
"Tapi tadi kamu mengeluh capek sayang... dan aku tidak mau istri aku kecapean, itu karena aku sangat mencintaimu dan sangat menyayangi mu."ucap Arthur.
"Ya, aku tau tapi aku hanya protes sama kamu sayang, tentang rumah ini yang terlalu besar aku tidak mengeluh aku capek melayani kamu."ucap Alina.
"Heumm,,, sayang panggilan hormat mu mana?."ucap Arthur sambil tersenyum manis pada Alina.
Alina menelan ludahnya sendiri, setelah itu dia kembali berkata."Aku tadi belum meminta persetujuan mu kamu setuju atau tidaknya."kilah Alina dengan wajah pink merona karena malu.
"Baiklah sayang yang menurut mu terbaik saja, karena aku percaya kamu lebih tau segalanya tentang itu."ucap Arthur yang kini memeluk Alina penuh kasih sayang.
"Sayang,,, aku membuat rumah ini untuk mu dengan penuh harapan akan kebahagiaan didalamnya, aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kamu kesulitan untuk masalah apapun itu."
"Aku tidak keberatan jika kamu mengandalkan mereka untuk membantu meringankan pekerjaan mu dalam memenuhi kebutuhan ku, misalnya mencuci pakaian.... mencuci bekas makan atau menyajikan makanan untuk ku secara langsung."
"Tapi aku hanya meminta satu hal padamu tolong setia lah padaku, aku berjanji padamu akan selalu ada untukmu saat kamu menginginkan itu. tapi aku hanya minta satu hal darimu pengertian mu adalah yang terpenting karena aku akan selalu sibuk dengan urusan pekerjaan nantinya."
"Aku tidak ingin karena hal itu kamu merasa kesepian dan mencari pelarian kearah yang negatif seperti pengalaman ku dimasa lalu. karena aku juga akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk rumah tangga kita ini."tutur pria itu lembut.
"Alina hanya mendengarkan kata-kata suaminya yang begitu lembut dan penuh pengertian di dalamnya.
...************...
Sementara itu di negara lain, Akbar yang mendengar kabar pernikahan Alina dan Arthur juga tentang rumah mewah yang kini ia tempati.
Pria itu seperti orang yang kehilangan akal sehat, dia mengamuk melempar segala apa? Yang ada di hadapannya karena dia teringat akan janji Alina yang mengatakan bahwa dia akan menunggu dirinya jika Alina sudah ingin kembali berumah tangga.
Tapi kenyataannya Alina malah menikah dengan pria lain.
Pria itu pun akhirnya pergi meninggalkan rumah untuk menenangkan diri.
Dia tengah mengingat kebahagiaannya dengan Arda, pria itu tidak pernah membentak dirinya sekalipun dalam keadaan marah, pria itu selalu bersikap lembut dan pengertian meskipun di belakangnya dia sering jajan untuk memuaskan hasratnya dalam bercinta.
Arda memang terlalu mencintai Almira hingga iya tidak ingin memaksakan kehendaknya, tapi dia juga tidak bisa dibenarkan dengan perbuatannya itu.
Almira pun menitikkan air mata, dia mengira berpisah dengan Arda adalah jalan terbaik dan menikah dengan Akbar adalah jalan keluar untuk menghindari masalah.
Tapi justru Almira tidak pernah sadar saat ini dia tengah berada di ambang kehancuran untuk yang kedua kalinya.
Jika Akbar tidak pernah berbuat serong di belakang justru Akbar tidak pernah mencintai dirinya dengan tulus, hatinya masih utuh untuk Alina wanita yang ia temui satu setengah tahun yang lalu.
Almira masih menangis dalam diam, sampai saat ibu mertuanya datang.
"Al, mama minta maaf jika dengan kenyataan ini kamu telah terluka. Mama tau bagaimana rasanya menjadi kamu saat ini... tapi cobalah untuk bertahan sampai semua bisa benar-benar membaik, Mama tau semua ini tidak akan mudah untuk mu tapi setidaknya bertahanlah demi anak kalian."ucap ibunda Akbar.
Akbar kini tengah berada di sebuah club malam, perjalanan hidup yang dulu membawa dia berpetualang hingga dia bertemu dengan Alina.
Setelah bertemu dengan seorang wanita yang menjebak dirinya hingga dia tiba di tempat Alina yang merupakan cinta pertama dan hingga saat ini dia tidak pernah bisa melupakan mantan istrinya itu.
Pria itu masih menangis dalam diam saat ini sambil memegang botol wine.
Dia pergi ke club malam hanya untuk membeli sebotol minuman yang kini ia bawa ke apartemen nya.
Pria itu masih duduk di lantai sambil menopang kepalanya di atas lutut nya.
"Aku sangat mencintaimu tapi kamu egois Alina sayang kamu egois. kamu tetap menginginkan perceraian."ucap Akbar.
pria itu terus berbicara sendiri karena pengaruh alkohol hingga akhirnya ia tertidur t.
Kembali pada Alina saat ini dia tengah duduk bersama dengan Arthur sambil menunggu waktu makan malam tiba.
"Sayang,,, apa? tidur kamu nyenyak, hingga tadi kamu mengigau."ucap Arthur.
"Mengigau bagaimana mas, perasaan aku tidak mimpi tentang apapun itu."ucap Alina.
__ADS_1
"Tadi kamu minta di ulang lagi katanya mau lagi."ucap Arthur sambil terkekeh geli.
"Apahhh!."ucap Alina kaget.
"Tidak apa-apa sayang ku yang penting kamu harus jujur agar aku tau segala keinginan mu."ucap Arthur.
Percintaan panas mereka tadi siang itulah yang menjadi pembahasan saat ini.
"Sayang,,, aku mau lagi."ulang Arthur dengan tawa kecil.
"Arthur kamu nyebelin, aku tidak bicara begitu juga!."ucap Alina sambil memukul-mukul lengan kekar itu.
"Ah sakit sayang.... tapi itu kenyataannya."ucap Arthur.
"Itu tidak benar."ucap Alina yang hendak pergi.
Arthur langsung membawa istrinya kedalam pelukan karena dia tidak ingin Alina marah.
"Mas minta maaf honey."ucap Arthur.
"Tidak mau... mas Arthur jahat."ucap Alina manja.
"Mas hanya bercanda sayang..."ucap Arthur sambil tersenyum manis pada Alina.
Alina pun terdiam dalam pelukan Arthur kali ini dia tidak ingin dilepaskan lagi karena rasanya sungguh sangat nyaman.
Ini pertama kalinya ia merasakan kenyamanan dalam hidup berumah tangga, bukan karena Arthur sangat kaya raya. tapi karena dia selalu memberikan perhatian dan kasih sayang yang penuh kelembutan.
Alina pun melepaskan pelukan itu dia menengadah menatap lekat wajah tampan yang kini tengah menatap lekat kearah wajah cantik itu.
Arthur pun sedikit mem bungkukkan badannya, Alina masih terdiam saat wajah suaminya itu mendekat ke arah wajahnya itu.
Jarak mereka semakin terkikis saat Arthur mendekat dan ******* bibir manis milik Alina yang kini sudah menjadi candu baginya.
Arthur pun merangkul pinggang istrinya yang kini tengah mengalungkan tangannya di leher Arthur yang terus ******* bibir manisnya.
Keduanya hampir tidak tergoyahkan satu sama lainnya sama-sama menginginkan hal itu, hingga Arthur mengendong sang istri menuju kamar nya.
Arthur tidak sedikitpun melepaskan ciuman tersebut hingga saat ia tiba di samping ranjang empuk itu. Arthur membaringkan tubuh istrinya itu dengan sangat hati-hati tanpa melepaskan tautan dan belitan lidah mereka hingga saat dia telah berada di atas Alina.
Arthur pun melanjutkan ciuman itu dengan penuh gairah di leher jenjang milik istrinya itu.
Perlahan turun ke bukit kembar yang kini terpampang nyata, bahkan sudah tidak ada rerumputan yang awalnya rimbun menutupi bukit tersebut hingga saat puncak bukit yang menggoda itu terlihat jelas.
ciuman itu berlangsung berbarengan dengan gigitan kecil yang Arthur berikan.
Alina mendesah nikmat karena perbuatan Arthur tersebut bahkan saat ini dirinya sudah tidak lagi sadar saat ini Keduanya tengah menjelajah alam nirwana yang sangat indah entah sejak kapan mereka melakukan percintaan itu.
Keduanya larut dalam kebahagiaan yang tidak pernah terlupakan, Arthur memanjakan istrinya itu.
Sampai saat mereka selesai bercinta akhirnya mereka pun mengakhiri percintaan panas yang dilakukan oleh mereka.
"Thanks honey semoga segera hadir buah cinta kita disini."ucap Arthur yang kini memeluk Alina tanpa melepaskan pelukan hangat itu
"Sama-sama Mas, aku sayang kamu."ucap Alina.
"Heumm,,, aku tau."ucap keduanya yang kini saling memeluk.
Sampai akhirnya mereka pun memutuskan untuk mandi bersama.
Setelah jam makan malam terlewat mereka masih melanjutkan makan malam mereka.
Malam ini adalah malam pertama mereka berada di rumah besar itu, sementara Jenny sedari siang wanita itu entah pergi kemana? dia hanya bilang agar mereka tidak usah mencari dirinya saat ini.
Alina sendiri kini tengah sibuk mengurus suaminya itu dengan mengambilkan makan malam untuk suaminya itu.
"Terimakasih Honey."ucap Arthur.
"Bunda tidak pulang kesini."ucap Alina bertanya pada suaminya.
"Entahlah mommy memang selalu ada-ada saja."ucap Arthur.
__ADS_1
"Mommy butuh waktu untuk menenangkan diri mas, aku pernah berada di posisinya saat ini."ucap Alina.