
"Mereka bertiga sedang berada di rumah sakit, dan aku harus segera kesana?."ucap Alina yang kini sudah menyeret koper besar itu.
"Tidak boleh."ucap Junior.
"Tapi Jun, mereka anakku dan aku harus segera kesana."ucap Alina.
"Duduk atau aku akan membuat mu tidak bertemu lagi dengan mereka."ucap Junior yang kini sibuk mengotak-atik ponselnya.
Alina yang kini benar-benar sedang cemas dia tidak bisa berbuat apa-apa selain duduk dengan gelisah.
"Dimana? mobil mu."ucap Junior dengan nada dingin dia bertanya kepada wanita yang ada di hadapannya.
"Aku menggadaikan mobil ku, karena aku butuh uang."ucap Alina.
"Berapa? yang kamu butuhkan kenapa? kamu menggadaikan barang pribadi mu."ucap Junior mengintrogasi Alina.
"Jun, maaf waktu ku tak banyak kamu bisa tanya nanti setelah aku kembali."ucap Alina.
"Siapa? yang mengijinkan mu pergi,,,, jawab berapa ? uang yang kamu butuhkan kenapa? sampai menggadaikan barang pribadi mu."ucap Junior lagi.
"Aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membeli tiket pulang pergi dengan pesawat belum lagi untuk biyaya hidup ku disana sebelum mereka sembuh itulah kenapa? Aku ingin bekerja sejak kemarin Jun, aku tidak punya siapa-siapa untuk ku mintai tolong."ucap Alina.
"Apa? yang kamu katakan heeuh,,,,lalu apa? artinya aku untuk mu."ucap Junior yang kini terlihat benar-benar marah.
"Yank,,, aku sudah terlalu banyak berhutang padamu selain hutangbudi juga hutang materi biyaya perawatan ku, saat itu juga belum aku ganti."ucap Alina.
"Bayar sekarang, aku tidak akan membiarkan mu berhutang lama-lama."ucap Junior.
"Mungkin rumah ini tidak seberapa luas dan aku tidak tahu berapa harganya, aku akan jual rumah ini dulu setelah pulang dari Eropa aku janji akan membayar mu."ucap Alina.
"Tidak bisa aku ingin sekarang."ucap Junior.
Alina pun pergi kembali menuju ke kamar kedua orang tuanya dia mengambil sertifikat rumah dan tanah, tidak hanya itu dia juga membawa satu kotak perhiasan.
"Kamu bisa pegang dulu ini untuk jaminan aku akan segera pergi."ucap Alina.
"Tunggu sebentar disini, dan jangan pergi kemanapun."ucap Junior yang kini keluar dari dalam rumah membawa surat-surat rumah itu.
Junior tidak menolak pemberian Alina, dan sesaat Alina sadar jika hutang tetap hutang dan tetap harus dibayar oleh dirinya.
Alina akan benar-benar mencari pekerjaan untuk membeli rumah tempat tinggalnya setelah kembali dari Eropa nanti.
"Ayo ikut aku, rumah ini juga sudah terjual dengan segala isinya."ucap Junior.
"Tidak Jun, aku tidak menjual rumah dengan semua barang-barang itu, karena aku tidak ingin barang peninggalan kedua orang tua ku hilang."ucap Alina.
"Tapi lihatlah semua sudah terjual."ucap Junior .
"Jun, aku tau semua itu tidak berharga untuk mu, tapi itu adalah peninggalan kedua orang tua ku, aku akan berusaha untuk melunasi hutang ku padamu sampai kapan pun itu. Tapi tolong bilang pada pembelinya jangan pernah mengubah apapun yang ada di rumah ini aku akan segera mencari pinjaman agar bisa kembali untuk menebusnya."ucap Alina.
Mendengar kata-kata itu membuat hati Junior benar-benar merasa miris sesulit itukah hidup yang Alina jalani selama ini, hingga dia harus mempertaruhkan semuanya demi untuk menjenguk anaknya.
Dan sekarang dia memberikan sebuah rumah untuk membayar hutang yang sebenarnya tidak pernah ada karena Alina tidak pernah berhutang padanya. Junior ikhlas melakukan apapun untuk wanita yang sangat ia cintai.
Alina pun hendak kembali pergi tapi Junior langsung membawa koper tersebut.
"Jun,,, aku mohon aku harus segera pergi, aku bahkan tidak tau apa? yang sedang mereka alami saat ini karena aku tidak melihat mereka secara langsung."ucap Alina yang masih sangat gelisah.
"Barang mu juga masih ada di dalam tolong tunggu disini."ucap Alina yang berlari kedalam rumah tersebut.
Alina melirik kesana kemari dia tidak hanya ingin membawa koper besar yang berisi barang-barang berharga yang Junior berikan, dia dia juga ingin mengambil album foto yang kini ia ambil dan dimasukkan semua kedalam sebuah koper.
Termasuk dokumen pribadinya.
Alina pun meminta maaf kepada kedua orang tuanya karena tidak bisa menjaga peninggalan mereka saat ini tapi dia berjanji setelah itu akan bekerja lebih keras dan membeli kembali rumah itu meskipun dia harus berhutang pada orang lain dulu sebelum dia memiliki uang untuk menebusnya.
Sementara itu di ambang pintu Junior masih berdiri sambil menatap sendu pada wanita yang kini tengah mengusap-usap air mata hingga saat Alina berbalik ke arahnya dia pun langsung berwajah datar kembali.
__ADS_1
Junior yang kini sudah menyusun rencana pun hanya bisa bersandiwara di hadapan Alina.
"Jun,,,ini milikmu, aku tidak bisa menerima ini semua,,, aku tidak ingin hutangbudi ku semakin menumpuk."ucap Alina.
"Heumm..."balas Junior yang kini meraih koper itu.
Sementara Alina membawa koper lain bersamanya.
Setibanya di depan garasi dimana letak mobil Junior berada, Alina pun kembali pamit.
"Jun, aku duluan... aku harus mencari rumah kontrakan dulu untuk menyimpan barang-barang ini."ucap Alina.
"Mau sampai kapan? kau akan terus keras kepala seperti ini... heumm.... rumah mu sudah tidak ada lagi dan kau juga tidak punya pekerjaan setelah semua itu apa? yang mau kau lakukan."ucap Junior tegas.
"Aku akan mengontrak rumah meskipun itu kecil Jun, setelah itu aku akan segera mencari pekerjaan."ucap Alina.
"Lalu bagaimana dengan ku."ucap Junior yang kini merampas koper-koper itu.
"Kita tidak mungkin bisa bersama Jun, kamu lihat sekarang aku bahkan sudah menjadi gembel dan daddy mu akan semakin menentang keputusan mu, untuk bersama dengan ku."ucap Alina.
"Apa? Aku pernah meminta sesuatu darimu sebagai mahar pernikahan seperti yang ada di negara lain. apa pernah aku mengatakan bahwa biyaya pernikahan ditanggung berdua."ucap Junior tegas.
"Tidak Jun tapi sebagai orang biasa aku cukup tau diri kamu siapa? Aku siapa?."ucap Alina lirih.
"Bukankah kamu ingin menemui anak mu, lalu kenapa? masih berdiri di situ."ucap Junior.
"Ya aku hampir lupa aku harus segera sampai di bandara karena penerbangan pesawat ku satu jam lagi."ucap Alina yang hendak berlalu sambil membawa koper tersebut.
"Aku yang akan mengantarmu ke bandara."ucap Junior yang kini terlihat jauh lebih baik.
Pria itu lebih baik membiarkan calon istrinya pergi ke negara Eropa daripada dirinya harus mendengarkan kata-kata Alina yang meminta hubungan mereka diakhiri.
"Babe, aku akan membantu mencarikan mu rumah dengan harga sewa yang murah tapi nyaman untuk ditinggali."ucap Junior.
"Terimakasih."balas Alina.
...********...
Kali ini adalah kali kedua Alina kembali berkunjung ke negara tersebut setelah dulu saat dirinya dengan Arthur berbulan madu dan berakhir dengan kekacauan.
Setelah pesawat mengudara, Alina pun mencoba untuk memejamkan mata, karena semalam bahkan dia tidak bisa tidur saat ini.
Kali ini dia akan berusaha untuk beristirahat hingga dia sudah tidak merasa lelah lagi.
Lelah jiwa dan pikiran membuat Alina hampir kembali terguncang jiwanya, tapi saat ini dia harus jauh lebih kuat dari kemarin karena ketiga anak mereka.
Sementara itu tanpa dia sadari di sebelahnya saat ini ada siapa? wanita yang tengah tertidur pulas dengan dengkuran halus kini tidak tahu bahwa saat ini pria yang selalu ada untuk dirinya itu ada di sampingnya.
Alina bahkan tidak sadarkan diri saat dia seharusnya transit di bandara saat itu dia masih terlelap saat pria itu memindahkan dirinya ke pesawat jet pribadi miliknya.
Sampai saat jet itu terbang di udara barulah Alina sadar dengan itu.
"Junior."ucapnya saat dia sudah berada di atas ranjang, dengan yang Alina tau itu adalah sebuah kamar dari jet pribadi.
"Kau mengigau sayang hingga saat transit kau berpindah ke tempat ku."ucap Junior dengan entengnya.
"Jangan kamu kira aku bakal percaya Jun, kamu sudah mengatur semua ini bukan."ucap Alina.
"Apa? kamu tidak melihat tiket pesawat mu hanya sampai tempat pemberhentian pertama, lalu jika aku tidak mengikuti mu. mungkin aku akan melihat berita kehilangan tentang calon istri ku yang tertinggal di bandara."ucap pria itu.
"Ah sudahlah Jun, kamu pikir di pesawat tidak akan pernah ada pramugari yang tega membiarkan itu terjadi, bilang saja jika kamu ingin pergi bersama dengan ku."ucap Alina sambil mencebikkan bibirnya.
Sampai saat seseorang datang mengingatkan mereka untuk makan malam, akhirnya Junior pun meminta Alina untuk bersih-bersih terlebih dahulu sebelum mereka makan malam bersama.
Alina hanya mengangguk pelan tanda dia setuju dengan itu.
Setelah selesai membersihkan diri di dalam kamar mandi yang nyaman itu dia pun bergegas ke luar dari dalam kamar mandi berukuran kecil itu, sampai saat ia bingung karena tidak ada koper miliknya di sana dan hanya ada koper miliknya pemberian Junior yang tadi pagi ia kembalikan pada pemberinya.
__ADS_1
Junior pun langsung datang ke kamar itu karena Alina lama beranda di dalam.
"Ngapain saja kok lama."ucap Junior.
"Jun, koper aku mana."ucap Alina.
"Koper yang mana babe bukankah itu koper mu."ucap Junior.
"Jun,,, jangan bercanda, semua uang dan barang pribadi ku ada di sana."ucap Alina.
"Aku benar-benar tidak tau sayang, lagian siapa? suruh tidur sudah seperti orang pingsan."ucap Junior.
"Junior jangan bercanda."ucap Alina yang kini marah.
"Babe aku tidak bercanda sekarang kamu pakai saja dulu semua yang ada, nanti aku akan menyuruh orang untuk mengurus semuanya."ucap Junior.
"Aku sudah membeli oleh-oleh untuk mereka Jun, dan aku menyimpan itu semua di dalam sana."ucap Alina.
"Sudah lah sayang kita bisa belanja lagi nanti."ucap Junior.
"Tidak, aku tidak ingin berhubungan lagi, aku tidak punya apa-apa untuk dibayarkan."ucap Alina tegas.
"Dengan ini."ucap Junior yang kini mencium bibir Alina yang masih menggunakan bathrobe.
"Jun,,, lepas aku belum pakai baju."ucap Alina.
"Tidak apa-apa sayang,,,, sekalian kita bisa mengulang keindahan yang."perkataan Junior terhenti saat Alina kembali mencium bibir pria itu untuk membungkam mulutnya.
Alina tidak ingin luka lama lagi-lagi terbuka meskipun saat ini semua itu sedang berlangsung.
Alina langsung menyudahi ciuman itu setelah itu dia langsung bergegas membuka koper tersebut.
Karena tidak ada piyama tidur dan lainnya hanya ada dress malam lingerie seksi dan sepatu juga tas, dia pun menggunakan lingerie tersebut.
Tidak peduli dikira sebagai penggoda tapi yang jelas dia tidak punya pilihan lain.
"Alina selesai menggunakan lingerie seksi itu berikut jubah yang memang tidak menutupi lekuk tubuh Alina yang terpanggang nyata i menerawang.
Junior yang kini tengah menunggu dirinya duduk di kursi penumpang dengan menu makanan yang ada di meja di hadapan keduanya, dia berulang kali menelan Saliva karena bisa melihat keindahan tubuh calon istrinya itu.
Dan kenangan lalu pun kini terlintas di pikirannya.
Junior, tengah merasakan gejolak yang teramat sangat hebat dalam dirinya saat ini, ingin rasanya dia kembali mengulang hari itu, tapi dia tidak ingin dibenci oleh Alina karena tidak bisa mengendalikan nafsunya.
Kini Junior menyesal karena telah menukar koper tersebut saat berada di bandara.
"Honey."ucap pria itu sambil meremas jemari Alina dengan sangat kuat karena sudah tidak tahan dengan semua itu.
"Ada apa? sayang kamu kenapa? heumm."ucap Alina yang kini dengan sengaja memberikan usapan lembut di paha Junior.
"Aku benar-benar tidak tahan yang, tolong ijinkan aku sekali ini saja, aku mohon..."ucap Junior yang benar-benar terlihat seakan tersiksa.
"Jun, tidak boleh sayang kita belum menikah."ucap Alina yang malah dengan sengaja meneguk air tidak benar karena kini sebagian air itu mengalir menuruni leher dan melewati gunung kembar yang tercetak di balik kain saringan itu.
"Yank,,, please."ucap Junior yang kini malah meraih tengkuk Alina dan menciumnya penuh nafsu.
"Eum... sayang kamu bisa pergi mandi dan tuntaskan sendiri di dalam kamar mandi."ucap Alina dengan sengaja.
"Yank,,, aku tidak mau pokonya harus kamu yang bantu aku."ucap Junior yang kini langsung menyingkirkan meja kecil itu dan mengangkat tubuh Alina berjalan cepat menuju kamar tadi.
"Jun, jangan sampai kamu lakukan itu lagi, aku tidak akan pernah memaafkan mu."ucap Alina.
Junior yang sudah berkabut gairah pun tidak menggubris ucapan Alina dia melanjutkan langkahnya dan membawa Alina masuk kedalam kamar.
Alina pun hanya bisa pasrah jika semua itu terjadi lagi, tapi ternyata saat itu Junior hanya meminta dia untuk membantu mengeluarkan bebannya dengan cara lain yang membuat wanita itu juga hampir lepas kendali karena Junior tidak pernah mau berdiam diri saat berada di dalam kamar mandi.
Setelah beban derita Junior terlepas barulah keduanya kembali ke luar untuk mengisi perutnya yang laper.
__ADS_1
Sementara itu di kediaman Arthur setelah kembali dari rumah sakit, dia melihat Katrina tengah menunggu dirinya di atas ranjang.
"Sudah jam segini kenapa? masih belum tidur."ujar Arthur.