Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 11


__ADS_3

Arthur pun mulai memakan makanan tersebut.


Sesekali pria itu akan memperhatikan Alina yang terlihat tidak nafsu makan tersebut.


Wanita itu pun terlihat tidak fokus.


"Ada apa? apa? kau tidak rela dia pergi dari hidup mu."ujar gadis itu.


"Bukan seperti itu,, aku hanya sedang tidak ingin makan malam perutku sedikit kurang nyaman."ujar Alina.


"Alasan."lirih Arthur.


Pria itu pun langsung menyodorkan garpu berisi steak Wagyu yang sedang dia nikmati.


"Ar,,, aku benar-benar tidak selera makan."ujar wanita itu.


"Sedikit saja."ujar Arthur.


"Heumm,,, baik'lah."ujar gadis itu.


Arthur pun tersenyum pada Alina.


"Aku pergi untuk beberapa bulan saja setelah itu aku akan segera kembali titip Mommy dan Daddy ku jika ada apa-apa kamu bisa langsung hubungi aku. dan tunggu aku kembali kita akan langsung menikah."ujar Arthur yang kini memasukkan cincin di jari manis Alina dengan tiba-tiba.


"Arthur,, apa? ini." ujar Alina.


"Aku ingin memiliki kamu seutuhnya setelah aku kembali ke sini nanti."ujar Arthur.


"Tapi kamu masih punya istri, dan aku tidak bisa menerima ini sebelum kamu benar-benar."


"Aku sudah lama menggugat cerai istriku jauh sebelum dia datang kesini. hanya saja sedikit tersendat karena Daddy menghalangi itu, Daddy ku tidak tahu jika wanita itu sering berselingkuh dariku."ujar Arthur.


Alina hanya menatap lekat wajah Arthur untuk mencari kebenaran di sana.


Namun sampai Arthur berhenti berbicara, gadis itu tidak melihat adanya kebohongan di sana.


"Apa? kamu masih ragu."ujar Arthur.


"Tidak hanya aku masih butuh waktu untuk menyembuhkan luka, setelah perceraian."ujar Alina jujur.


"Aku bisa menunggu itu sampai kapanpun itu."ujar Arthur.


"Heumm baik'lah kita akan mencoba menjalani semua ini."ujar Alina.


"Tentu saja."ujar Arthur.


Arthur pun langsung mencium punggung tangan Alina yang kini terlihat bersemu merah karena perlakuan Arthur saat ini.


"Arthur jam berapa kamu terbang."ujar wanita itu.


"Mungkin satu jam lagi kurang lebih, ada apa? memangnya."ujar gadis itu.


"Aku ingin membeli sesuatu kamu bisa menunggu kan."ujar Alina.


"Kita bisa pergi bersama."ujar Arthur.


"Tidak Ar, nanti kamu ketinggalan pesawat."ujar Alina.


Tidak masalah ada pesawat lainnya yang akan membawa kita pergi."ujar Arthur yang kini membuat Alina terdiam.


"Apa? maksud nya."ujar Alina bertanya.


"Bukankah kamu ingin pergi ke Eropa, untuk beberapa bulan ini kita bisa pergi ke sana."ujar Arthur.


"Tidak Ar aku tidak bisa pergi untuk saat ini karena saat ini masih banyak yang harus dilakukan."ujar gadis itu.


"Alina, apa? kamu tidak ingin mengenal ku jauh lebih baik sebelum kita menikah."ujar Arthur.


"Ar,,, aku kenal Aunty sejak aku kecil, dan aku yakin setidaknya kamu pasti mewarisi sifat Aunty meskipun itu hanya sedikit."ujar gadis itu.


"Heumm,,, bagaimana kalau tidak."ujar Arthur sambil menatap serius pada gadis itu.


"Kau serius,,, jika tidak aku lebih baik tidak usah menikah saja."ujar wanita itu.


"Heumm,,, tidak-tidak aku bahkan akan jauh lebih baik dari yang kamu kira tapi tergantung kamu memperlakukan ku seperti apa?."ujar pria itu.


"Heumm,,, aku akan memperlakukan mu dengan kejam."ujar Alina.


"Contohnya?."ujar Arthur.


"Aku tidak akan membiarkan mu pulang larut, aku tidak akan membuatkan sarapan pagi atau pun menyiapkan segalanya untuk mu seperti istri pada umumnya justru kamu yang harus melayani aku. bagaimana apa? kau sanggup."kata Alina dengan antusias.


"Heumm,,, aku tetap akan menikahi mu karena aku tidak mencari pelayan aku mencari istri yang setia terhadapku."ujar Arthur tegas.


"Kau yakin sekali bahwa aku bisa pergi."ujar wanita itu.


"Tentu saja aku yakin karena aku tau kamu seperti apa?."ujar Arthur sambil mencolek hidung mancung Alina.


"Sudah sayang kamu mau beli apa? aku akan temani kamu."ujar Arthur.


"Ar, panggil nama saja aku tidak enak dipanggil begitu."ujar Alina.

__ADS_1


"Heumm kenapa? kita adalah pasangan mulai hari ini."ujar Arthur.


"Iya, tapi.*


"Tapi apa?."ujar Arthur.


"Terserah kamu saja."ujar Alina kemudian.


"Oke honey."ujar Arthur.


"Heumm sudah sana sudah hampir tiga puluh menit kamu sudah harusnya masuk kedalam."ujar gadis itu.


"Heumm,,, baik'lah sayang ayo kita masuk."ujar Arthur.


"Tidak Ar, aku harus segera kembali belum minum obat."ujar Alina.


"Sayang tunggu sebentar lagi ya sampai benar-benar take off."ujar Arthur.


"Heumm baik'lah."ujar Alina.


Mereka pun kembali masuk kedalam area ruang tunggu.


Alina terpaksa masuk kedalam karena Arthur yang meminta itu.


Saat di sana Arthur mengajak Alina duduk di samping nya bahkan Arthur menarik Alina agar bisa bersandar padanya.


"Ar,,, jangan begini."ujar Alina yang kemudian menggeser posisi duduk mereka.


"Heumm,,, tidak boleh ya."ujar Arthur.


"Tentu saja."jawab Alina.


"Ya baik'lah Honey."ujar Arthur pasrah.


"Jangan lupa kabari aku jika kamu ingin ke rumah sakit untuk cek up ."ujar Arthur.


"Aku tidak tau nomor handphone mu, dan satu lagi aku tidak pegang handphone."ujar Alina yang memang tidak pernah terlihat memegang handphone.


"Dimana handphone mu sayang."ujar Arthur.


"Sejak Ayah dan bunda tiada aku melupakan benda itu. karena tidak ada yang harus aku hubungi."ujar Alina.


Arthur langsung menghubungi seseorang.


"Belikan handphone model terbaru untuk istriku kirim ke alamat yang aku kirimkan."ujar Arthur tanpa bisa dicegah.


"Ar,,, aku bisa beli itu sendiri tapi untuk apa? kamu bisa beritahu orang rumah Aunty jika ada apa-apa."ujar Alina.


"Kamu masih resmi menjadi suami dari istri mu dan kita belum resmi pacaran karena saat ini kita masih berteman."ujar Alina.


"Alin,,, aku calon suami kamu."ujar Arthur.


"Heumm,,, baik'lah." ujar Arthur tidak ingin wanita itu menjauh darinya.


Tibalah saatnya Arthur berangkat pria itu tidak langsung pergi dia berdiri di hadapan Alina sambil menatap lekat wajah cantik itu.


"I love you Alina, tunggu aku kembali." ujar Arthur sambil menggenggam tangan wanita itu.


"Heumm,,, sudah nanti terlambat."ucap Alina pelan.


Arthur langsung memeluk Alina erat untuk beberapa detik kemudian.


Cuph...


Satu kecupan mendarat di bibir manis itu.


"Ar,,,."ujar Alina yang kini menatap tak percaya.


"Heumm,,,jaga dirimu baik-baik honey. ingat untuk selalu menghubungi ku."ujar Arthur.


Alina hanya tersenyum kecil setelah itu dia pun langsung bergegas pergi.


Bersamaan dengan kepergian Arthur.


Wanita itu pun pergi dengan mobilnya.


...**************...


Alina tiba di rumah nya, dia langsung pergi menuju kamar mandi.


Gadis itu sudah sangat lelah setelah seharian beraktivitas di luar.


Dia langsung mandi dan berganti pakaian, setelah itu ia pun langsung berbaring.


Alina tersenyum sebelum dia memejamkan mata untuk tidur.


Sementara itu di kediaman Arda pria itu baru saja menerima panggilan dari Ririn.


Setelah hari itu ternyata hubungan mereka kembali berlanjut.


Meskipun pria itu begitu mencintai istrinya yang kini entah dimana? tapi dia tidak ingin pusing gara-gara hal itu.

__ADS_1


Arda akan melepaskan Almira jika dia memang dia ingin pergi dari sisi Arda.


Karena Arda juga tidak ingin menyakiti hati istrinya itu.


Sementara itu untuk urusan Alif Arda akan mengambil hak asuh Alif.


Sementara Akbar mantan suami Alina. pria itu tengah berada di rumah kedua orang tua nya.


Setelah sekian lama pergi dari keluarga. karena tidak mau dijodohkan dengan wanita yang tidak pernah ia kenal selama ini, dan kini sudah hampir tujuh tahun Akbar pun kembali.


Sebenarnya Akbar adalah satu-satunya pewaris di keluarga besar itu, namun karena isu perjodohan ini sudah tercium oleh nya akhirnya Akbar pun pergi meninggalkan rumah namun mirisnya dia malah terjebak dalam jebakan janda beranak yang bahkan tengah hamil muda saat itu.


Akbar bahkan terikat perjanjian dengan orang tua wanita itu yang tengah meregang nyawa karena insiden kecelakaan. dia pun dituntut untuk menjaga putrinya itu apapun yang terjadi.


Akhirnya pernikahan siri itu terjadi dan Akbar pun mengelola perusahaan milik almarhum keluarga istrinya itu dan itu bukan hal yang sulit bagi Akbar.


Karena Akbar memang basicnya adalah seorang pebisnis, sejak saat itu dia pun berhasil memimpin perusahaan tersebut hingga berkembang pesat.


Sementara pertemuan dia dengan kedua orang tua Alina adalah saat Akbar mendatangi sebuah sekolah untuk menyumbangkan sejumlah uang pada ketua yayasan tersebut.


Namun saat itu Akbar tidak sengaja berpapasan dengan gadis cantik yang sungguh membuat hati nya berdebar kencang saat melihat gadis itu tersenyum manis pada anak-anak yang tengah belajar di kelas yang dilewati oleh Akbar.


Pria itu berhenti sejenak sebelum seseorang memanggilnya.


Dia adalah ayahnya Alina yang merupakan seorang kepala sekolah di sana.


Sejak saat itu mereka pun sering bertemu namun tidak dengan Alina yang terkadang akan mengajar di sekolah taman kanak-kanak yang didirikan oleh ayahnya sendiri.


Hingga Akbar melamar Alina dengan status perjaka karena tidak ada yang menyatakan jika dirinya telah beristri karena pernikahan siri itu pun dilakukan untuk menutupi aib wanita yang menjadi istrinya itu.


Hingga akhirnya Alina dan Akbar menikah. pernikahan itu sungguh membawa kebahagiaan bagi Alina yang bahkan belum pernah berpacaran Akbar bahkan bersikap jujur dan terbuka tentang masalah keluarganya hanya saja dia menutupi masalah pernikahan nya.


Hingga pernikahan itu berusia satu Minggu Akbar dan Alina pun sudah saling jatuh cinta bahkan cinta keduanya begitu kuat tapi sesuatu terjadi.


Tiba-tiba seorang wanita yang usianya lebih dewasa dari Akbar dan Alina datang membawa seorang anak laki-laki dan dalam keadaan perut buncitnya itu dia mengatakan jika dia adalah istri dari Akbar pria yang sangat ia cintai.


Dan bersamaan dengan itu kedua orang tua Alina dikabarkan telah meninggal dunia karena kecelakaan lalulintas.


Seakan dunia itu telah runtuh Alina pun jatuh pingsan.


Sampai saat Akbar datang pria itu tidak bisa mengelak karena istri pertama yang merupakan istri sirinya ada di sana.


Alina pun meminta cerai saat itu juga tanpa berpikir panjang karena hatinya benar-benar terluka bahkan disaat dia tengah terluka duka pun datang.


Kedua orang tuanya pun pulang dalam keadaan tidak bernyawa jerit tangis Alina bahkan begitu menggema di tempat tersebut.


Akbar yang begitu mencintai Alina pun akhirnya meminta waktu pada istri pertamanya itu untuk menemani istrinya yang tengah berduka itu.


Akhirnya wanita itu pun mengalah setelah Akbar mengancam dirinya.


Bahwa Akbar akan membuat perusahaan nya bangkrut. dan wanita itu pun mau mengalah.


Setelah selesai pemakaman dan proses tahlil pun digelar, Alina pun akhirnya kembali mengatakan keinginan nya tentang perceraian itu.


Akbar terpaksa mengabulkannya karena dia tahu Alina begitu terluka saat itu dan dia ingin Alina menyembuhkan luka itu terlebih dahulu setelah itu dia akan kembali untuk mengajak Alina rujuk dan itu adalah kali ketiga Akbar datang dan ternyata istrinya tau hingga wanita itu pun menyuruh seseorang untuk memberikan pelajaran kepada Alina dan penusukan itu terjadi.


Kini semua telah berlalu sejak Alina mengantar kepergian Akbar dan Arthur ke bandara waktu terus berlalu hingga saat ini sudah satu tahun berlalu.


Arthur tidak pernah kembali, bahkan nyonya Jenny dan tuan Daniel pun sudah kembali ke Eropa.


Alina yang selama ini selalu bertukar kabar pun mulai kehilangan kontak Arthur tepat genap lima bulan mereka berpacaran.


Alina pun memutuskan untuk melupakan semuanya.


Tepat di hari ulang tahun Alina, sebuah undangan pernikahan yang mencantumkan nama Akbar dan Almira yang tidak asing baginya itu datang lewat sosial media.


Alina pun mengucapkan syukur jika ternyata mantan suaminya itu benar-benar sudah melupakan dirinya.


Setidaknya Alina tidak lagi dihantui oleh rasa bersalah tentang Akbar yang yang benar-benar berharap bisa kembali padanya. meskipun Alina tau bahwa Akbar sangat mencintai dirinya.


Alina pun hanya bisa membalas dengan untaian do'a dari lubuk hati terdalamnya itu. semoga pernikahan Akbar langgeng hingga ajal menjemput.


Sementara dirinya sendiri saat ini sedang menikmati kesendirian nya.


Alina bahkan memutuskan untuk memberikan handphone itu kepada pemiliknya tapi dia hanya bisa menitipkan itu pada pelayan rumah nyonya Jeny.


Alina pun pergi setelah itu.


Kini dia sudah memutuskan untuk memulai hidupnya di luar kota meskipun dia tidak pernah menjual rumah itu dia hanya menyewakan rumah itu pada seseorang.


Alina berangkat hanya dengan membawa koper berisi pakaian dan kebutuhannya.


Alina pun pergi masih dengan mobil lamanya, dia pun menatap kedua rumah yang penuh kenangan itu.


Setelah itu dia langsung bergegas pergi.


Sementara itu di Eropa sendiri Arthur sudah selesai membereskan semua masalah yang dia kira mudah dan cepat ternyata sampai membutuhkan waktu satu tahun untuk itu.


Pria itu berhasil menyingkirkan semua palasik dari hidupnya dan kedua orang tuanya.


Kini tidak ada lagi Tiana dan kakak tirinya dan Ririn yang kini sudah menikah dengan Arda bersamaan dengan pernikahan Almira dan Akbar.

__ADS_1


Sementara Arthur yang kini hendak pergi mencari cintanya dia mendapatkan kabar tak sedap bahwa wanita itu tidak ada di sana.


__ADS_2