
Arthur pun mencoba untuk mengalah untuk saat ini dia tidak ingin memaksa Alina dengan terus menerus memaksa dia untuk mau menerima dirinya.
Terpaksa Arthur akan mengikuti skenario yang Daddy nya kehendaki.
Arthur berjalan mengikuti Alina masuk ke kamar nya, dia ingin pamit, namun sebelum itu dia ingin mengatakan isi hatinya untuk yang terakhir kali.
"Alina aku tau ini tidaklah benar, tapi harus kamu ingat bahwa aku sangat mencintaimu. kamu boleh menyerah dengan hubungan kita tapi aku harap suatu hari nanti kamu mau menerima ku.... aku pergi semoga kamu bahagia jauh dari ku yang selalu mengganggu kenyamanan mu maaf jika selama ini aku hanya bisa menorehkan luka aku sungguh tidak ingin semua ini terjadi tapi demi kebahagiaan mommy aku harus melakukan semua ini, kamu tenang saja dokter yang aku katakan tadi memulai besok akan datang untuk mengobati murid mu. aku pergi semoga kamu selalu bahagia"ujar Arthur.
Alina tidak bergeming sedikitpun hanya ada air mata yang menetes membasahi pipi nya, sungguh bukan itu yang dia mau tapi semua itu dia lakukan untuk melindungi hati dari luka.
Alina akan merelakan Arthur pergi meskipun itu sungguh sangat sulit karena jauh dari lubuk hati terdalam Alina sangat mencintai Arthur.
Siapa? yang tidak akan jatuh cinta pada pria tampan perhatian dan juga mencintai dirinya lebih besar dari rasa cintanya yang masih sanggup melepaskan pria itu untuk orang lain.
Arthur sudah berbalik dan melangkah pergi, tapi rasanya begitu berat, pria itu pun melirik ke belakang bertepatan dengan tatapan Alina yang terlihat menyedihkan dengan tatapan sendu dan air mata.
Arthur langsung berbalik badan dan menghambur memeluk Alina yang kini menangis sesenggukan di dada bidang Arthur yang memeluknya erat.
"Aku tidak ingin kita berpisah yang, aku juga mengajukan persyaratan pada Daddy agar aku bisa menjadikan mu istri pertama ku yang sah meskipun nantinya kita tidak mengadakan pesta besar-besaran seperti pesta pernikahan aku dengannya."lirih Arthur.
"Tidak menikah saja dengan dia, mungkin rasa sakit ini akan pergi seiring berjalannya waktu aku tidak apa-apa pergilah."ujar Alina yang melepaskan dekapan Arthur.
Arthur langsung meraih pinggang Alina lagi, dia tidak ingin cintanya menjauh pergi.
"Aku tidak akan pernah melepaskan dirimu sampai kapanpun itu tidak sayang, kita akan segera menikah aku janji."ujar Arthur .
Alina hanya menggeleng pelan wanita itu kembali melepaskan diri dari Arthur dan langsung duduk di sofa.
"Semua sudah terlambat pergilah jangan sampai kamu mendapatkan masalah karena aku."ujar Alina.
Namun bukannya pergi Arthur malah tetap ada di samping Alina.
"Ayo kita menikah, setelah ini aku janji akan mengusahakan untuk membatalkan pernikahan dengan wanita itu."ujar Arthur.
"Itu tidak menjamin bahwa kamu akan benar-benar membatalkan rencana itu."ucap Alina.
Alina pun pergi meninggalkan Arthur menuju kamar mandi wanita itu mengunci pintu kamar mandi dan menyalakan air keran.
Tangisnya pecah, saat itu Arthur tahu jika kini Alina tengah menangis.
"Yank buka pintunya kamu harusnya tidak perlu memikirkan masalah orang lain yang ada di antara kita nanti, tapi pikirkan tentang kebahagiaan kita"ujar Arthur.
Alina masih tetap menangis hingga suara keran air tidak lagi terdengar akhirnya Alina pun keluar dengan wajah sembab.
"Bersiap untuk pulang kita akan menikah dan jangan pernah pikiran yang lainnya, aku tidak akan pernah membiarkan mu menangis lagi."ujar Arthur.
"Apa? kamu benar-benar bisa mewujudkan apa? yang kamu katakan."ucap Arthur.
"Ya, aku janji."ujar Arthur.
"Baiklah."ucap Alina.
Saat mereka sibuk mengemas barang milik Alina tiba-tiba Tuan Bagas datang menemui Alina.
"Nona Alina maafkan saya sudah masuk tanpa izin, tapi saya datang karena ingin meminta tolong."ujar Bagas.
"Tolong tentang apa? tuan bagas."tanya Alina.
"Tasya ingin bertemu dengan mu, dia baru saja sadar."ujar Bagas.
"Baiklah tuan Bagas, saya akan segera kesana."Kata Alina.
Alina pun pergi meninggalkan Arthur yang kini tengah membenarkan letak koper tersebut.
"Aku pergi dulu, kamu bisa menunggu atau ikut dengan ku."ujarnya.
Arthur langsung pergi mengikuti mereka berdua diikuti oleh asisten pribadi Arthur yang sedaritadi ada di lantai bawah.
Arthur tidak ingin membiarkan calon istrinya itu untuk pergi berdua dengan pria lain, apalagi melihat Bagas yang seperti hot Daddy.
Ada sedikit rasa cemburu terbersit di benak Arthur saat melihat keakraban mereka padahal Alina baru bertemu dua hari ini bersama dengan mereka.
Arthur merangkul pinggang Alina begitu posesif dan ada tatapan mata yang tidak bisa diartikan oleh Bagas saat ini.
__ADS_1
Sampai saat mereka tiba di rumah sakit, Arthur bahkan ikut masuk kedalam ruangan itu.
Tampak seorang gadis kecil yang kini tengah tertidur pulas di atas ranjang empuk itu.
"Sayang,,, papah datang ini ada ibu guru bukanya kamu ingin bertemu dengan dia."ujar pria itu.
"Heumm,,, ibu guru sudah disini."ujar gadis itu sambil menatap kearah Alina.
Alina pun mendekat dan duduk di sebuah kursi di samping ranjang itu.
Alina menggenggam tangan mungil itu.
"Ada apa? sayang, apa? ada yang bisa aku bantu."tanya Alina.
"Tasya ingin minta Bu guru menjadi mama Tasya."ujar gadis kecil itu.
"Heumm,,,, raya bicara apa? Tasya tidak lihat kalau guru Tasya sudah ada calon suami."ujar Bagas.
"Tidak Pah,,, Tasya ingin Bu guru menjadi ibu Tasya dia sangat baik dan cantik papah bisa berikan uang pada Om itu agar dia mau memberikan Bu guru untuk papah dan menjadi mama Tasya."ucap gadis itu polos.
"Sayang hey,,, dengarkan ibu oke, kamu boleh panggil Bu guru dengan sebutan Mama, tapi Bu guru tidak harus menikah dengan papah mu ibu mau jadi Mama Tasya kok."ujar Alina lembut.
"Tapi Tasya ingin Bu guru selamanya tinggal bersama Tasya dan papah boleh kan Om."ujar gadis kecil itu memohon.
"Tidak bisa putri kecil, Alina adalah calon istri ku. dan kami akan menikah hari ini juga."ujar Arthur.
"Setidaknya tolong biarkan dia jadi Mama ku sebelum aku tiada nanti."ujar gadis kecil itu sambil menangis dia memohon.
Alina memeluk gadis kecil yang kini masih dipenuhi dengan alat medis yang terpasang pada tubuh kecil nya itu.
"Mas, kamu bisa pergi biarkan aku bicara dengan Tasya setidaknya sebentar saja."ujar Alina memohon kepada Arthur.
"Yank,,, aku tetap disini kalian silahkan bicara."ujar Arthur tidak mau pergi.
Alina pun menghela nafas panjang lalu menghembuskan napas.
"Sayang,,, Bu guru janji saat kamu sembuh nanti Bu guru akan menjadi mama Tasya meskipun Bu guru tidak menikah dengan papa Tasya, Dan kita akan tinggal di Eropa bagaimana? disana Tasya bisa main salju sepuasnya jadi Tasya harus berjuang untuk sembuh oke jangan patah semangat."ujar Alina.
"Baiklah."ujar Tasya.
Sementara itu di Eropa sana kini Ririn tengah dibuat marah karena ternyata Arda telah berbuat tidak senonoh dengan Kasandra yang kini berada di dalam kamar yang sama.
Ririn melempar barang dengan begitu brutal sampai saat wanita itu berhasil melukai Kasandra.
"Kau ****** sialan harusnya aku kasih tau Arthur sejak dulu bahwa kau adalah ****** murahan agar kau dibunuh oleh dia."ujar Ririn yang kini dipegangi oleh Arda yang sudah selesai menggunakan pakaiannya.
Sementara Kasandra seperti korban, wanita itu tetap tidak bergeming tergeletak di lantai sambil menatap sendu kearah mereka berdua.
Sampai seseorang datang untuk membantu Kasandra untuk dibawa pulang.
Sementara Arda pria itu kini mendapatkan amukan dari Ririn dia bahkan menodongkan pisau.
"Kau sudah mengkhianati ku sekarang pilih mati atau menikah dengan ku."ujar Ririn.
"Kau tidak bisa mengancam ku Ririn kita hanya partner rajang tak lebih dari itu aku bebas untuk memilih wanita manapun yang ingin aku tiduri, dan kau jangan pernah berharap aku akan menikahi mu karena meskipun aku adalah pria nakal' tapi aku ingin menikah dengan wanita baik-baik bukan ****** seperti dirimu."ujar Arda.
Ririn hendak menusuk Arda dengan pisau tersebut tapi dengan sigap pria itu membalikkan keadaan.
Meskipun saat ini Arda tidak menusuk Ririn, tapi dia pun berhasil membuat Ririn ketakutan.
"Kau pikir aku selemah itu heuuhh, maka kau salah besar jika kau berpikir begitu aku bahkan bisa membuat mu lenyap tanpa kabar berita jika aku mau."ujar Arda.
"Ampun ahhh,,, sakit ujar Ririn saat pisau itu perlahan menyayat lengannya, dan itu Arda lakukan untuk membuat wanita itu jera.
Arda langsung mendorong Ririn keluar dari dalam kamar hotel tersebut, pria itu bahkan tidak merasa takut sedikitpun jika Ririn melaporkan dia pada polisi. karena dengan begitu dia juga bisa menuntut balik pada Ririn atas kehancuran rumah tangganya.
Arda langsung membereskan semua barang-barangnya saat itu juga setelah itu dia pun langsung pergi meninggalkan hotel tersebut.
Arda yang kini pergi menuju bandara dia akan pulang ke Indonesia seperti rencananya dua hari yang lalu sebelum bertemu dengan Kasandra.
Kasandra yang baru selesai melakukan meeting penting di hotel milik Arthur itupun bertemu dengan Arda di lorong hotel yang sepi itu.
Kasandra yang baru minum bersama dengan kliennya itu pun, seakan kehilangan kendali atas dirinya saat Arda menggoda dirinya.
__ADS_1
Dan ternyata Kasandra memiliki kemampuan seperti Ririn hingga pria itu bertanya-tanya apakah setiap wanita yang ada di sana memiliki kemampuan untuk memuaskan hasrat pria liar seperti dirinya.
Arda bahkan membuat Kasandra berkali-kali menjerit keras saat menuju puncak.
Dua hari mereka bersama namun rasanya seakan beda dengan pertemuan dia dengan Ririn.
Arda tiba di bandara internasional negara itu setelah melakukan pengecekan paspor dan tiket pesawat miliknya.
Arda langsung masuk kedalam ruang tunggu bandara.
Arda kembali teringat akan putranya Alif yang kini entah dimana?.
Rencananya Arda akan mengusahakan hak asuh Alif agar bisa bersamanya.
Setelah itu dia berencana untuk memperbaiki diri dan hidupnya.
Arda pun akan lebih memperhatikan lagi bisnisnya.
Sampai saat ia dipertemukan kembali Dengan jodohnya.
Arthur sendiri langsung memboyong Alina menuju rumah Jenny karena rencananya dia akan meninggalkan Alina disana setelah mereka menikah terlebih dahulu.
Bukan meninggalkan lebih tepatnya Arthur ingin tinggal di sana bersama dengan istrinya itu, dan untuk sementara waktu dirinya akan mengurus pembatalan pernikahan dengan Kasandra.
Sesampainya di sana, sudah ada pemuka agama Islam yang Arthur undang untuk menjadikan dirinya sebagai mualaf.
Sementara Alina akan menyaksikan proses itu bersama dengan para pelayan dan tetangga dekat.
"Sayang kamu sebaiknya bersiap dulu."ujar Arthur yang juga pergi menuju kamarnya.
Sampai akhirnya mereka pun sudah segar dan juga berpenampilan sopan.
Alina pun sudah tampak sangat cantik dengan balutan hijab modern.
"Apa? sudah bisa kita mulai."ujar pria yang merupakan seorang pemuka agama bersama dengan teman-teman nya yang hampir sebaya dengan Arthur merupakan santri yang dipimpin oleh pria yang akan membantu Arthur menjadi seorang mualaf sebelum pria itu menikah dengan Alina pujaan hatinya.
"Siap ustadz."ujar Arthur yang kini duduk bersila di dampingi oleh pegawai pria yang memang beragama Muslim.
Sampai saat kiyai itu menuntun Arthur untuk melantunkan dua kalimat syahadat, dan suara Arthur adalah yang paling dinantikan oleh orang-orang disana.
Dan pada akhirnya lantunan ayat suci itu terdengar dari bibir Arthur meskipun sedikit terbata-bata namun semua itu berhasil membuat semua orang merasa terharu dan tetes air mata Alina mengiringi langkah yang Arthur ambil demi bisa mempersunting dirinya.
Hingga bacaan surat-surat pendek dan juga lantunan ayat suci lainnya terdengar menggema di rumah besar itu, Jenny yang sedari tadi diam-diam melakukan video call bersama dengan salah seorang pelayan pun ikut menangis, hatinya begitu bahagia karena sejak Arthur lahir itu adalah impian terbesarnya.
Kini Jenny sudah membayar rasa kecewa kedua orang tuanya karena telah menikah dengan pria yang berbeda keyakinan dengannya.
Tangisnya pecah, saat sesuatu yang tidak pernah menjadi mungkin kini terwujud, Alina.
Ya,,, sejak Alina lahir wanita paruh baya yang masih begitu cantik itu selalu berharap bayi perempuan cantik itu bisa mengubah Arthur menjadi seperti yang dia inginkan.
Maka, saat Alina menikah dengan Akbar harapan Jenny hilang tapi kemudian yang maha kuasa berkehendak lain. pernikahan itu tiba-tiba kandas padahal baru beberapa hari.
Dan saat Arthur kembali padanya saat itu juga merupakan sebuah keajaiban bagi Jenny.
Hingga Jenny terus menjodohkan Arthur dengan Alina meskipun tidak ada unsur pemaksaan akhirnya yang maha kuasa merestui keinginan Jenny.
Arthur melirik pada sumber suara yang kini tampak nyata.
"Mommy..."ujar Arthur yang kini benar-benar merasa terharu.
"Alhamdulillah. sayang kamu sudah meringankan beban dosa-dosa ku."ujar Jenny.
"Terimakasih untuk mu Alina, Bunda berharap kamu bisa membimbing suamimu kelak."ujar Jenny.
"Ya Aunty."balas Alina.
"Bukan Aunty na tapi Bunda."ujar Jenny.
"Bukan Bunda,,, tapi mommy."ujar Arthur.
"Anak nakal awas saja Bunda jewer."ujar Jenny.
Semua orang tertawa bahagia, terutama pada saat Arthur berkata "Memangnya mommy bisa meninggalkan Daddy."ujar Arthur.
__ADS_1
"Memangnya kau tidak ingin Bunda datang di hari pernikahan mu."ujar Jenny.