Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 21


__ADS_3

Saat ini keduanya benar-benar kacau Arthur menghajar ayahnya membabi buta, dia tidak perduli jika saat ini ayahnya mati.


Sementara Kasandra mencoba menyelamatkan diri saat Arthur tengah menghajar Daniel.


Aksinya digagalkan oleh para petugas hotel yang kini tengah menolong Daniel dan menahan Arthur yang masih mengamuk tidak terima sementara Daniel dilarikan ke rumah sakit.


Arthur di tanyai oleh pihak berwajib dan kini Jenny sedang menuju ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.


Sementara Kasandra saat ini dia menelpon keluarganya dan keluarga Daniel yang tersisa hanya kakak dan adik nya itupun sudah menjauh dari Daniel karena peraturan keras keluarganya tidak pernah bisa mereka jalani, mereka tidak sekuat Daniel dan mereka seakan menghilang karena tidak pernah diakui setelah memutuskan untuk keluar dari peraturan keluarga tersebut.


Mendengar kakak dan adiknya itu hampir mati seperti pengaduan Kasandra kedua kakak beradik itu datang ke Indonesia untuk membawa Daniel kembali Swis.


Arthur dibawa pulang oleh Alina sementara Jenny setelah dari kantor polisi dia menemui Daniel yang kini terlihat mengenaskan seluruh wajah dan tubuh lainnya lebam dan bonyok meskipun pria itu masih dalam kondisi sadar.


Jenny sempat menitikkan air mata sebelum dia menyapa Daniel.


Pria itu kaget dan tidak menyangka jika istri tercintanya ada di sana.


"Bagaimana? keadaan mu?."ucap Jenny lirih.


"Honey kamu disini,,, maafkan aku aku tidak bilang jika aku pergi ke negara ini, kamu tahu darimana? aku disini... tadi pagi aku diserang orang."kata Daniel dia tidak berfikir bahwa Arthur tau tentang perselingkuhan nya dengan Kasandra Daniel pikir dia hanya kepergok saat Arthur datang karena aduan istrinya.


Daniel juga berfikir bahwa Arthur tidak akan mungkin mengadukan kelakuannya pada Jenny karena dia tidak akan tega menyakiti hati ibunya, padahal Jenny tau lebih dulu tentang itu dan Arthur datang untuk membuat perhitungan dengan ayahnya itu.


Jenny pun hanya tersenyum kecut setelah Daniel selesai bicara.


"Kenapa? tidak kau nikahi saja wanita itu seperti Tiana, kenapa? harus berbuat demikian di belakang kami... aku ikhlas melepaskanmu seperti dulu tapi tolong jangan datang lagi padaku dan mengatakan rasa yang dulu pernah ada. atau mungkin dulu pun tidak pernah ada kata itu hanya sebuah dusta dan hanya aku saja yang bodoh karena semua itu aku bahkan telah menentang keluarga ku sendiri."ucap wanita cantik yang kini sudah berusia hampir setengah abad itu.


"Ti tidak Honey,,, aku yang salah kata cinta itu adalah nyata adanya aku sangat mencintaimu, tapi aku digoda oleh wanita itu habis-habisan di saat aku mabuk dan tidak sadarkan diri setelah rasa bersalah itu datang karena telah mendatangi menantu kita."ucap Daniel bohong besar.


Karena yang sebenarnya adalah Daniel memang sangat mencintai Jenny tapi dia tidak bisa terpuaskan dengan Jenny karena Tiana sungguh meninggalkan jejak nafsu yang begitu menggebu di dalam diri Daniel sehingga kepuasan yang dulu ia dapat atas nama cinta pun terasa kurang dan hasrat liar itu kini sudah mendarah daging di dalam diri Daniel.


"Kita telah sama-sama dewasa dan sudah bukan anak muda lagi mungkin sebentar lagi akan tutup usia, jadi tidak perlu kamu berbohong dengan semua itu. Aku sadar aku sudah tidak lagi muda dan bahkan sedari dulu pun aku tak pernah bisa membuat mu puas, itulah kenapa? kamu tidak pernah menolak perjodohan mu dengan Tiana dan selama dua puluh tahun harusnya aku sudah tidak lagi percaya bahwa kau mencintaiku.... harusnya aku tidak terus bertahan dalam kebodohan atas sebuah kota yang agung seharusnya aku tidak kembali lagi bersamamu dan mungkin pernikahan kalian akan terjalin dengan lancar."ucap Jenny yang langsung berlalu pergi dengan rasa sakit yang teramat sangat.


Tangisnya pecah sepanjang perjalanan Jenny tidak peduli jika orang-orang menatap heran padanya.


Saat ini rasanya Jenny ingin mati saja, kenapa? pria yang selama ini sangat ia cintai lagi-lagi harus menipu dirinya.


Sementara itu di kediaman Alina Arthur masih berada di dalam dekapan istrinya itu pria itu masih tidak bisa terima dengan kelakuan sang ayah yang bobrok itu.


"Yank,,, semua sudah terjadi sebaiknya biarkan mereka bersama. yang kita harus pikirkan sekarang adalah Bunda, dia pasti sangat terluka saat ini, dan mungkin sejak kemarin dia mengetahui itu."ucap Alina.


"Bunda sudah terlalu banyak menderita selama ini, kenapa? aku masih percaya dengan manusia laknat itu."ucap Arthur.


"Sayang,,, sudah ya, kamu harus kuat kamu harus lebih kuat dari Bunda karena biar bagaimanapun kamu adalah sumber kekuatan Bunda."ucap Alina sambil mengusap punggung suaminya untuk memberikan dukungan.


Arthur masih mematung sambil menatap kosong sampai saat Alina mengajak dia untuk beristirahat.


"Sayang... jika kamu terus seperti ini bagaimana kami bisa merasa kuat... sudah ya sekarang sebaiknya kamu istirahat dan aku akan menemui Bunda."ucap Alina yang mengajak Arthur untuk istirahat di dalam kamarnya.


Namun pria itu hanya menggeleng dia bangkit dan kembali meraih jasnya, tapi Alina mengambil itu dari tangan Arthur.


"Yank,,, istirahat di rumah, aku yang akan menemui Bunda agar Bunda bisa lebih tegar... karena jika melihat mu seperti ini Bunda tidak akan pernah bisa kuat."ucap Alina lembut sambil membingkai wajah suaminya yang jauh lebih tinggi darinya.

__ADS_1


Alina pun berjinjit di hadapan Arthur dan saat itu juga gadis itu memberikan kecupan hangat untuk menenangkan suaminya itu.


Arthur pun langsung memeluk Alina erat hingga Alina membalas pelukan tersebut.


"Tunggu aku disini oke."ucap Alina sambil tersenyum manis.


Arthur hanya mengangguk, setelah itu Alina pun pergi dengan membawa kunci mobil dan jas milik suaminya yang akan ia kenakan untuk menutupi dress yang sedikit terbuka di bagian dadanya itu.


Alina pun mencari ibu mertuanya dari mulai rumah dan juga rumah sakit tapi tidak kunjung ditemukan.


Alina terus berfikir kemana mertuanya itu pergi saat ini karena dia tidak tau tempat yang biasanya wanita cantik itu kunjungi.


Alina pun berfikir lebih keras lagi saat itu juga dia melihat ponsel milik suaminya yang ada di atas dasboard mobil itu.


Alina mencoba membuka Handphone milik suaminya itu, namun ternyata menggunakan PIN.


Alina mencoba dari tanggal lahir suaminya, namun tidak kunjung terbuka, dan hari ulang tahun Jenny ibu mertuanya, tapi tidak kunjung terbuka juga.


Akhirnya Alina menelpon seseorang yang selama ini selalu mengikuti Arthur kemanapun suaminya itu pergi beruntunglah pria itu mau menerima panggilan dari nomor pribadi Alina.


"Ya Nyonya."jawab seorang pria di sebrang sana.


"Apa? kau juga sedang berada di Indonesia."tanya Alina.


"Ya Nyonya."jawab pria itu lagi.


"Tolong lacak nomor ponsel ibu mertuaku saat ini aku sedang mencari dia tapi tidak tau dimana?."ujar Alina.


"Tentu nona tunggu beberapa saat lagi."ucap pria itu.


Setelah hampir tiga puluh menit menunggu pria itu pun mengabari Alina dan dia bilang bahwa saat ini nomor itu terlacak ada di sebuah pantai di daerah xx akhirnya Alina pun bergegas menuju kesana tapi di perjalanan dia sempat meminta kepada pria itu untuk menemani Arthur yang tengah kacau di rumahnya.


Pria itu pun mengiyakan apapun yang dikatakan oleh Alina saat ini, dan yang terakhir Alina meminta dia untuk menyampaikan pesan kepada Arthur, jika masih menyimpan rahasia besar dari Alina di dalam ponselnya harap sembunyikan bersama dengan ponselnya sekaligus.


Wanita itu sungguh sangat kesal karena tidak bisa membuka pin dari handphone milik suaminya saat dia benar-benar membutuhkan benda itu untuk mencari keberadaan mertuanya itu.


Sesampainya di tempat yang dituju saat ini wanita itu melihat Jenny tengah duduk di atas pasir sambil memeluk lutut dengan pandangan kedepan.


Alina langsung mendekat ke arah ibu mertuanya.


"Bunda... kenapa? tidak bilang jika bunda ingin datang kesini Alina bisa menemani Bunda."ucap wanita itu sambil duduk di samping Jenny yang kini tengah menatap ombak yang datang sili berganti dengan derai air mata yang seakan tak bisa berhenti.


Alina langsung merangkul bahu ibu mertuanya sambil mengusap lembut bahu yang kini seakan telah rapuh itu.


Saat itu juga wanita itu menangis sesenggukan sambil memeluk erat menantunya.


Alina pun langsung berkata."Bunda bisa menangis sepuasnya disini dan bahkan Bunda bisa berteriak memaki Daddy atau pun mengeluarkan keluh kesah bunda tapi setelah itu hilang Bunda harus janji tak akan pernah bersedih lagi. Bunda harus kuat seperti Alina yang selama ini selalu berusaha untuk menguatkan hati agar tidak lagi terluka oleh kata cinta yang datang hanya singgah untuk sementara waktu. lihat lah Bunda aku bisa."ucap Alina.


"Kenapa? Pria itu begitu kejam pada Bunda sayang Bunda kurang apa? Bunda sudah memberikan semuanya Bunda bahkan sudah mengorbankan keluarga Bunda, tidak hanya itu dua puluh tahun Bunda disini sendirian menunggu keajaiban dunia yang datang atas nama cinta yang Bunda kira nyata. tapi akhirnya tidak seperti ini disaat Bunda memberikan dia kesempatan untuknya kembali."ucap wanita paruh baya yang masih terlihat sangat awet muda itu.


Tangisnya pecah dan kemarahan serta apa? Yang selama ini ia pendam pun ia keluarkan Jenny berteriak kencang berulang kali bahwa saat ini dia benar-benar benci dengan Daniel.


Jenny bahkan berjanji akan segera menikah lagi jika dia berhasil lepas dari Daniel untuk membalas dendam atas rasa sakit yang kini ia rasakan.

__ADS_1


Disela teriakan ibu mertuanya ada tawa yang pecah dari bibir Alina saat wanita itu mengatakan akan menikah lagi dengan pria yang lebih muda dari Daniel dan akan membalas semua yang telah ia alami saat ini.


Sementara Jenny terus berteriak hingga suaranya hampir habis dan Alina pun menyodorkan air mineral kemasan pada mertuanya itu.


Setelah Jenny merasa jauh lebih baik dia pun berbalik dan memeluk erat menantunya itu.


"Bunda tidak pernah salah memilih menatu, kau adalah segalanya bagi Bunda dan Arthur tetaplah bersama kami bunda berjanji jika kelak putra bunda berbuat kesalahan yang sama Bunda sendiri yang akan menghajar nya hingga babak belur hanya untukmu."ucap Jenny.


Alina yang mendengar itu hanya tersenyum lalu kembali berkata."Aku tak akan melakukan hal itu Bunda aku akan membalas perbuatan putra Bunda berkali-kali lipat seperti yang Bunda katakan tadi."ujar Alina sambil terkekeh.


"Owh tuhan,,,, jodoh memang cerminan hati... kau berjodoh dengan ku untuk menjadi teman hidupku menantuku, kau memiliki sifat yang sama dengan ku."ucap Jenny yang kini sudah kembali bisa tertawa kecil.


Alina tau tawa itu hanya untuk menutupi luka di hati nya yang masih basah itu.


Tapi setidaknya Alina bisa melihat jika saat ini wanita itu sudah jauh lebih baik.


"Bunda ingin pulang atau langsung mencari jodoh di sini."canda Alina.


"Memangnya kau mau punya ayah mertua Dugong, sedangkan yang normal berwajah malaikat saja sudah durzana apalagi yang bentuknya seperti Dugong."ucap wanita itu sambil terkekeh geli.


"Ya sudah kita cari di tempat lain, saat ini aku juga harus membereskan putra Bunda yang masih suka menyimpan rahasia besar di handphonenya itu, aku akan buat perhitungan dengannya."ucap Alina yakin.


"Alah paling juga ujung-ujungnya bercinta lagi,,,, anak muda memang seperti itu."ucap Jenny.


'Pasti dulu Bunda juga begitu."ucap gadis itu.


"Itu sih tidak perlu ditanyakan lagi sayang tapi saat ini Bunda menyesali hal itu."ucap Jenny.


"Bunda menyesal karena telah melahirkan Arthur."ucap Alina.


"Tentu saja tidak anak nakal, dia adalah harta paling berharga yang Bunda dapat dari manusia gila itu."ucap Jenny.


"Ya,,,, dibalik petaka masih ada anugerah terindah yang Bunda dapat."ucap Alina yang kini menghidupkan mesin mobilnya.


Saat ini kebetulan Jenny tidak membawa mobil dan tadi dia datang dengan taksi.


Hingga saat Alina tiba di rumah Jenny wanita itu memastikan bahwa ibu mertuanya itu baik-baik saja akhirnya dia pun pergi meninggalkan rumah tersebut menuju rumahnya dengan berjalan kaki.


Sesampainya di sana, wanita itu bergegas pergi menuju kamar utama yang selama ini ia tempati.


"Sayang,,, kamu dimana?."tanya Alina.


Arthur ternyata tengah terlelap tidur saat ini.


Alina langsung bergegas menuju kamar mandi dia ingin buang air kecil sambil sekalian mandi karena merasa lengket setelah beberapa jam berada di luar.


Saat Alina mandi Arthur pun membuka matanya, pria itu langsung mencari keberadaan ponselnya itu, dia akan langsung mengubah pin dari handphone miliknya itu dengan sidik jarinya dan membuang kenangan nya bersama dengan Ririn dulu yang mungkin masih berada di dalam benda pipih itu karena jujur selama ini ia tidak punya waktu untuk mengurus itu.


Namun itu hanya menjadi khayalan saja karena ternyata Alina sudah menyimpan itu dengan sangat rapi dan tidak bisa ditemukan olehnya.


Hingga saat Arthur sedang mencari keberadaan ponselnya di tempat cucian kotor saat itu Alina memergoki pria yang sudah lebih dari satu Minggu itu menjadi suaminya.


"Kamu cari ini kan?."tanya Alina.

__ADS_1


"Sayang maafkan aku, aku tidak bermaksud menyimpan rahasia apapun itu darimu aku hanya tidak sempat untuk membersihkan handphone ku ini."ucap Arthur.


__ADS_2