Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 67


__ADS_3

Junior benar-benar geram dengan apa? yang dilakukan oleh wanita itu sungguh sudah di luar batas.


Junior kini juga mendapatkan kabar dari rumah sakit bahwa Arthur datang ke sana untuk melihat kondisi mantan istrinya itu.


Junior yang saat ini masih merasa was-was pun dia meminta orang-orangnya untuk berjaga di sana.


Arthur diperbolehkan untuk berkunjung tapi harus dikawal demi hal yang tidak diinginkan.


Saat ini disaat Alina tengah berada di taman rumah sakit itu, dia hanya terdiam di samping suster yang ditunjuk oleh Junior untuk mendampingi Alina.


Arthur yang kini sudah tidak kuat menahan Air mata yang lolos dari sudut matanya saat melihat Alina yang kini bahkan tidak ingat dengan dirinya sendiri.


Rambut panjang dan lurus itu tergerai indah, sudah hampir delapan bulan mereka tidak bertemu satu sama lainnya.


Arthur dan Jenny kini mendekat dan langsung memeluk Alina yang tiba-tiba berontak dan matanya menatap tajam kearah Jenny.


"Maafkan saya Nyonya, anda harus pelan-pelan sambil melakukan pendekatan jangan seperti ini... pasien pasti sangat kaget."ucap sang perawat yang kini mencoba menenangkan Alina.


"Sayang ini bunda nak, Bunda sangat sedih melihat mu seperti ini."ucap Jenny lembut sambil mengusap puncak kepala Alina yang berusaha Alina tepis.


Sementara Arthur masih terdiam dengan derai air matanya yang kini terus keluar tanpa henti.


Arthur pun berjongkok di hadapan Alina perlahan tapi pasti pria itu mengusap punggung tangannya.


"Alina... masih ingat aku kan sayang.... aku Arthur, aku adalah ayah dari ketiga anak kita. kamu bisa lihat ini."ucap Arthur saat menunjukkan foto keluarganya dulu.


Alina hanya terdiam, tapi Air mata itu mewakili perasaannya, dia mengusap layar handphone milik Arthur dimana foto itu adalah wallpaper dari Handphone tersebut.


Arthur, pun menatap lekat wajah cantik yang kini terlihat tidak terawat dengan baik itu, meskipun wajah cantik itu masih putih mulus.


"Anak....Anak."ucap Alina lirih sambil terus mengusap layar tersebut.


"Ya sayang mereka adalah anak kita buah cinta kita."ucap Arthur lirih, sementara Jenny masih menangis sesenggukan.


"Anakku!!! dimana? anakku!!! dimana? anakku!!!."ucap Alina yang kini berteriak histeris bertanya-tanya dimana? anaknya.


Suster itu langsung bergegas menuju ke ruangan Alina dan meminta mereka berdua berjaga di sana, dia sendiri akan mengambil tiga boneka yang Junior kirim saat itu.


Tiga boneka yang menyerupai ketiga anaknya itu Junior pesan khusus dari pengrajin boneka tersebut.


Arthur memeluk erat Alina dan mencoba untuk menenangkan mantan istrinya itu.


"Kau pengkhianat!!, Daddy mereka pengkhianat!! hingga aku pun menjadi wanita menjijikkan kasihan anak-anak ku."ucap Alina yang kini menangis histeris.


"Kasihan anakku menjadi korban kekacauan rumah tangga ku!! seharusnya aku mati saja saat kecelakaan itu harusnya aku mati saja harusnya aku mati saja."ucap Alina yang kini pingsan.


Sementara Arthur masih memeluknya erat dan berulang kali berkata."Aku yang salah sayang aku yang salah aku adalah monster."ucap Arthur yang kini menggendong Alina membawa dia kembali ke dalam kamar perawatan.


"Junior yang sedang berada di perusahaan pun kini tengah sibuk hingga asisten pribadinya tidak ada yang memberi tahu bahwa saat ini Alina tidak sadarkan diri dan kembali mendapatkan perawatan khusus.


Arthur masih setia menunggunya di sana.


Alina masih tertidur setelah dokter memberikan infus di tangan Alina dengan suntikan obat penenang setelah Alina sadar dan kemudian kembali histeris.


Arthur dan Jenny pun pulang, karena anak-anak juga tengah rewel karena tidak bisa bertemu dengan ibu mereka.


Junior yang baru kembali dari perusahaan dia langsung mandi dan beristirahat sejenak, setelah itu dia kembali berangkat menuju rumah sakit dimana? Alina berada.


Junior kaget saat tau Alina histeris dan pingsan seperti video yang berlangsung hingga sepuluh menit tersebut.


"Sudah aku katakan Arthur, dia akan membenci dirimu,,, saat dia mengingat semuanya."ucap Junior dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di tebak.


Junior masih membelai wajah cantik itu, dia pun mengecup singkat kening Alina dengan penuh kasih.


Sampai saat Alina membuka mata Junior masih berada di sana, Alina tiba-tiba berkata.


"Jun,,, orang jahat itu datang lagi, dia ingin merampas ketiga anak ku."ucap Alina terlihat waspada dan melirik kesana kemari.


"Di sini aman sayang hanya ada aku, dan tidak akan ada yang berani menyentuh mu."ucap Junior.


"Aku takut disini Jun, aku takut... mereka selalu mengawasi ku."ucap Alina yang kini memeluk lutut sambil menunduk.


"Sayang,,, bisa katakan padaku dia wanita atau pria?."ucap Junior.


"Dia, adalah wanita yang telah merebut dia."ucap Alina yang tidak biasanya berbicara nyambung seperti ini.


"Alina lihat aku babe,,, kamu ingat siapa? Aku."ucap Junior.

__ADS_1


"Kamu Jun, kamu adalah tunangan ku dulu ia kan."ucap Alina yang kini tersenyum.


"Ya, sayang aku tunangan mu dan kita akan menikah setelah kamu sembuh."ucap Junior.


"Apa? itu menikah... hahaha apa? itu menikah hiks...hiks...hik... menikah itu bukanya neraka yang diciptakan oleh suami , dan aku tidak ingin kamu menjadi orang jahat Jun,,, aku tidak ingin kamu jadi orang jahat, jangan jadi orang jahat."ucap Alina yang kini berada di dalam dekapan Junior.


"Honey,,, pernikahan itu bukan neraka, pernikahan akan menjadi surga dunia dan akhirat kelak jika kita menjalani itu dengan baik."ucap Junior lirih.


"Lalu kenapa? Pria itu jahat dia bahkan bercinta dengan wanita lain di dalam kamar mandi."ucap Alina yang kini benar-benar terlihat polos.


"Kamu ingat siapa? dia."ucap Junior.


"Tidak Jun,,, tidak aku tidak ingin mengingat dia, dia jahat dua orang itu ingin aku mati."ucap Alina yang kini menenggelamkan wajahnya di dada Junior.


"Kamu benar sayang jangan ingat mereka lagi, ingat orang baik saja oke, sekarang kamu sudah makan."tanya Junior.


"Aku sedang puasa Jun, tidak boleh batal puasa nanti Tuhan marah mereka akan mencabut nyawa kita."ucap Alina.


"Sayang,,,ini sudah waktunya buka puasa, kamu harus berdoa dulu sebelum makan oke."ucap Junior.


"Heumm... aku lupa, sudah buka puasa ya, aku ingin minum yang manis-manis dan satu lagi ikan bakar yang sangat lezat."ucap Alina.


"Baiklah sayang aku telpon orang dulu untuk pesan semua yang kamu inginkan bagaimana?."ucap Junior penuh kelembutan dan kasih sayang.


"Oke,,, aku puasa lagi saja."ucap Alina.


Junior pun mengecup bibir manis itu sekilas.


Alina sempat mematung untuk beberapa saat.


"Jun,,, aku sangat merindukan mu."ucap Alina yang tiba-tiba menarik Junior.


...********...


Junior hanya bisa menahan hasratnya untuk kembali bercinta dengan Alina saat ini, tidak mungkin pria itu lebih kehilangan akal dari Alina.


Jika saja itu di rumahnya mungkin semua itu bisa saja terjadi saat Alina benar-benar menggoda dirinya.


Junior hanya bisa menelan ludah saat wanita itu mencumbui dirinya hingga ke leher dan tangan itu menelusup ke area bawah, tapi Junior dengan cepat mengatasi itu, dia menggenggam tangan Alina lalu berkata."Jangan lakukan itu saat kita tengah berpuasa."ucap Junior lirih.


Junior sendiri ingin rasanya melakukan hal itu saat itu juga, tapi dia masih waras saat ini.


Sampai saat asisten pribadinya itu datang membawa dua paper bag ukuran besar.


Sampai saat wanita itu terlihat berbinar saat melihat ikan bakar tersebut.


"Sayang berdoa dulu, aku akan menyuapi mu."ucap Junior.


"Aku punya tangan sendiri yang masih berfungsi."ucap Alina.


"Heumm... jangan sayang bahaya, nanti takut kena dirinya."ucap Junior .


Akhirnya Alina pun menyerah, dengan suapan pertama langsung dari tangan Junior yang penuh kelembutan itu.


Junior menyuapi Alina hingga ikan bakar itu habis tak bersisa.


Dan setelah itu ia juga memberikan jus buah kesukaan wanita itu.


Setelah selesai, Junior membersihkan bibir Alina dengan tisu basah dan tissue kering.


"Besok-besok kalau ingin makan itu lagi, babe bisa minta sama perawat aku akan datang untuk membawakan semua itu untuk mu."ucap pria itu lembut.


"Terimakasih Jun, besok aku ingin buka puasa dengan es krim."ucap Alina sambil tersenyum.


"Tentu saja babe."ujar pria tampan itu.


Seakan Alina sudah mengingat siapa? dirinya saat ini.


Alina kembali berbicara dengan baik dan benar, hingga wanita itu tidur. Junior pun kembali ke kediamannya.


Pria itu terus membayangkan sentuhan Alina tadi yang hampir saja membuat Junior kalap.


"Babe aku sangat merindukan mu, dan sentuhan itu seperti saat kita menyatu dulu, semoga kamu segera sembuh, karena tidak akan ada penghalang lagi di antara kita."ucap Junior yang kini tengah memejamkan matanya.


Sampai keesokan harinya, seseorang datang menemui Arthur dan Jenny.


Dia ingin bertemu dengan Alina, setelah mendengar kabar buruk menimpa mantan istri tersingkat dan yang paling ia cintai itu.

__ADS_1


Siapalagi jika bukan Abar yang kini datang bersama dengan anak sambungnya yang sekaligus juga ingin bertemu dengan Arda Daddynya.


Arthur tidak merespon pria itu, dia bahkan meninggalkan Akbar begitu saja.


Jika saja Arthur adalah pria yang pertama kali dan terakhir untuk Alina yang kini entah akan bagaimana? nasibnya. mungkin semua ini tidak perlu terjadi, Arthur tidak akan pernah berganti-ganti pasangan.


Arthur berencana untuk menjenguk ibu dari anak-anaknya itu namun dia tidak mungkin membawa anak-anak bersama dengan dirinya ke rumah sakit jiwa.


Bisa-bisa anaknya terguncang mentalnya saat melihat kondisi ibunya seperti itu.


Akbar yang sudah diberitahu oleh Jenny dimana rumah sakit tersebut, pria itu langsung bergegas menuju ke tempat itu.


Tapi sayang saat dia tiba di sana, tengah terjadi kebakaran di rumah sakit tersebut, sehingga pria itu hanya bisa berteriak histeris saat dia teringat akan Alina yang berada di dalam rumah sakit tersebut.


Junior pun keluar dari gedung itu sambil menggendong Alina yang beruntung selamat dari kobaran api yang ada di area terdekat ruangan Alina.


Api itu pun telah memakan korban beberapa pasien rumah sakit jiwa dan seorang perawat yang kini dilarikan ke rumah sakit lain untuk diobati.


Alina dalam keadaan pingsan saat ini karena terlalu banyak menghirup asap.


Junior menemani dia di rumah sakit umum tengah mendapatkan perawatan medis.


Sampai saat berita kebakaran itu sampai di telinga Arthur, pria itu terburu-buru pergi ke rumah sakit itu.


"Dokter bagaimana? dengan pasien yang bernama Alina, apa? dia selamat."ucap Arthur.


"Kami masih melakukan pendataan pasien tuan jadi mohon bersabar karena hingga saat ini data-data pasien di rumah sakit ini musnah terbakar, hanya bisa mengandalkan data dari keluarga yang dan korban kebakaran kini sudah berada di kamar jenazah rumah sakit umum."ucap seorang dokter yang kini tengah sibuk menangani pasien yang histeris.


Arthur pun langsung bergegas menuju rumah sakit umum, tapi setibanya di sana pihak rumah sakit bilang,, setelah di identifikasi korban kebakaran itu sudah diambil oleh seluruh pihak sekaligus.


Arthur pun menelfon Junior yang ia fikir tahu tentang keberadaan Alina saat ini.


Saat telfon itu tersambung akhirnya Arthur langsung bertanya dimana? ibu dari anak-anaknya itu.


"Dimana? istriku."ucap Arthur


"Istriku?."ucap Junior meyakinkan.


"Mommy anak-anak ku."ulang Arthur.


^^^"Dia tengah menjalani perawatan."jawab Junior.^^^


"Tunggu aku akan kesana."ucap Arthur lirih.


"Datanglah sekaligus ada yang ingin aku bicarakan dengan mu."ucap Junior.


"Ya." jawab Arthur.


Akhirnya Arthur pun bergegas menuju sebuah ruangan VVIP di rumah sakit tersebut.


Ruangan itu dijaga ketat oleh orang-orang Junior.


"Saya sudah buat janji dengan tuan kalian."ucap Arthur saat tangan kekar itu menahan dada Arthur yang hendak masuk.


"Tunggu sebelum kami konfirmasi."ucap pria itu yang langsung meminta rekannya untuk masuk dan memberitahu kedatangan Arthur pada tuanya.


"Masuklah bos sudah menunggu mu."ucap pria itu.


Arthur pun masuk setelah pintu di buka lebar.


Arthur yang masih kedalam ruangan tersebut dia melihat Alina yang kini tengah terbaring di atas ranjang sambil memejamkan mata.


"Duduklah kita harus bicara."ucap Junio.


Arthur pun duduk di samping Junior dengan posisi menghadap ke arah Junior begitu juga dengan Junior.


"Aku akan membawa pergi Alina ke luar negeri, karena disini belum menunjukkan perkembangan yang baik, aku tidak bisa membiarkan dia menderita lebih lama lagi."ucap Junior.


"Aku juga akan melakukan hal itu, karena dia adalah ibu dari anak-anakku."ucap Arthur.


"Dia akan terus menderita jika terus bersama dengan mu, Selain dia akan terus tersakiti karena perbuatan mu, Teresa masih berkeliaran di luar sana untuk memburunya."ucap Junior.


"Tidak,,,itu tidak mungkin wanita itu sudah tidak punya kekuatan apapun untuk bisa melakukan hal itu."ucap Arthur.


"Asal kau tahu saja, yang membuat Alina seperti sekarang ini adalah mantan istrimu yang bandit itu."ucap Junior yang langsung membuat Arthur syok.


"Dan tadi jika saja aku terlambat untuk menyelamatkan dia sudah pasti dia akan menjadi korban seperti yang lainnya."ucap Junior.

__ADS_1


"Aku bisa melindungi dia."ucap Arthur.


"Kau tidak pernah becus melindungi dia."ucap Junior.


__ADS_2