
Daniel memberikan sejumlah cek pada wanita itu, tapi wanita itu menolaknya, namun Daniel berkata bahwa dia akan menggunakan jasa wanita itu sewaktu-waktu.
Hingga akhirnya wanita itu pun mau menerima cek yang diberikan oleh pria itu.
"Kau terlalu hot baby."ucap Daniel yang kini meraba bokong semok milik wanita itu.
Melinda pun tersenyum sambil berlalu pergi, lagi-lagi selain kepuasan wanita itu diuntungkan dengan uang yang diberikan oleh pria seperti Daniel tersebut.
Daniel pun kembali bekerja setelah kepuasan yang ia dapatkan tadi.
Sementara itu di Mension tempat dimana kini Arthur berada, wanita cantik yang merupakan istri dari Arthur Andersen yang kini tengah bersiap untuk menggunakan pakaian dinas saat malam tiba pun kini tengah duduk di kursi depan meja rias.
Arthur yang kini tengah memangku laptop dia melirik ke arah istrinya itu.
"Honey, kemarilah."ucap Arthur.
"Sebentar mas."ucap Arthur.
"Sebentar saja kemarilah tidak akan lama kok."ucap Arthur.
"Heumm..."Alina langsung mendekat ke arah suaminya itu.
Arthur langsung menarik tangan Alina dan mengecup bibir istrinya itu.
"Ar kamu sedang bekerja."ucap Alina.
"Tidak masalah sayang memangnya kenapa? jika aku sedang bekerja."ucap Arthur yang kini mengakhiri ciuman mesra itu.
"Tidurlah lebih dulu honey karena besok aku akan mengajak mu ke suatu tempat yang indah yang ada di negara ini."ucap Arthur.
"Tidak mau keluar yang katanya musim salju itu sangat dingin."ucap Alina.
"Ada mantel sayang yang akan menghangatkan tubuhmu, lagipula aku akan memeluk mu erat agar kamu tidak kedinginan lagi."ucap Arthur.
"Heumm... baiklah sayang, aku juga ingin melihat salju turun untuk pertama kalinya dalam hidupku."ucap Alina.
"Tentu saja sayang ku."balas Arthur yang kini merebahkan istrinya penuh kelembutan di setiap perlakuannya itu.
"Aku tidur lebih dulu, selamat malam sayang "ucap Alina yang kini mengecup bibir suaminya itu.
"Malam Honey, semoga mimpi mu menyenangkan."ucap Arthur.
Arthur pun membalas kecupan itu setelah menyelimuti istrinya itu.
Arthur kembali bekerja setelah memastikan istrinya tidur dengan nyaman.
Sementara itu di apartemen seorang pria lagi-lagi mengamuk karena ternyata wanita yang ia cintai itu telah pergi bersama dengan suaminya.
"Baiklah Alina, jika kamu tidak bisa aku dapatkan dengan cara baik-baik maka jangan salahkan aku jika aku merebut mu dengan cara kotor."ucap Junior.
Pria itu benar-benar berambisi untuk memiliki Alina. Jonatan pun mulai menyusun rencana untuk itu. dia tidak lagi akan bersabar untuk bisa merebut Alina dari Arthur.
Keesokan harinya setelah mereka bangun tidur tepat saat pukul sepuluh pagi mereka sudah bersiap untuk berangkat menuju ke sebuah tempat yang sering dikunjungi oleh para turis asing.
Arthur ingin memanjakan istrinya itu, bertepatan dengan dimana hari pertama turun salju.
Arthur dan Alina berangkat menggunakan helikopter menuju sebuah tempat perkemahan yang sangat indah ditengah Padang rumput yang hijau, yang mungkin sebentar lagi akan terkubur butiran salju.
Sesampainya di sana, tepatnya di sebuah penginapan yang sederhana, Arthur dan para asisten langsung memasuki tempat tersebut.
Arthur sedaritadi mendekap Alina yang terlihat tengah menatap ke sekeliling ruangan.
Wanita itupun melihat kearah jendela dengan pemandangan yang menghampar luas dimana disitu ada banyak turis yang menikmati hamparan salju.
Saat malam mulai datang butiran salju pun mulai turun, saat ini semua orang yang ada di penginapan tersebut bersorak gembira riang termasuk anak-anak yang mereka bawa.
Arthur pun mengelus perut rata istrinya yang kini terbalut oleh mantel bulu yang tebal.
Keduanya pun tersenyum, begitu juga dengan kedua asisten pribadi yang kini tengah minum wine berdua.
"Apa? kamu ingin keluar sayang dan merasakan hujan salju pertama untuk little brother yang ada di sini."ucap Arthur yang lagi-lagi mengusap perut rata Alina.
Wajah Alina pun terlihat berseri matanya berbinar saat ini.
Arthur pun langsung keluar membawa istrinya dalam gendongannya itu.
"Mas turunkan aku aku ingin berjalan-jalan di sini."ucap Alina.
"Tentu saja sayangku."ucap Arthur.
Alina yang tadinya takut kedinginan dan membeku, kini dia tengah merentangkan tangan sambil memejamkan mata.
Alina melepaskan sarung tangan bulu tersebut untuk benar-benar bisa menyentuh salju secara langsung.
Namun hujan salju semakin lebat dan semakin Alina tidak tahan kedinginan.
__ADS_1
Arthur pun langsung bergegas membawa istrinya itu masuk kedalam penginapan tersebut.
Sementara semua orang kini tengah bermusik ria di depan penginapan mereka masing-masing ada yang membawa gitar, ada juga yang membawa biola .
Mereka bahkan ada juga yang berdansa bersama kekasih di tengah hujan salju dan ada juga yang mengasuh anak mereka yang kini tengah berlarian, seakan itu adalah mainan mereka selama ini.
Alina tersenyum penuh arti kini dirinya tengah membayangkan mereka berdua datang dengan anak mereka nantinya.
Setelah mereka lahir dan tumbuh besar seperti mereka kelak kita akan menikmati keindahan tempat ini bersama-sama."ucap Arthur
Pria itu seakan tahu apa? yang tengah dirasakan oleh Alina saat saat ini.
Arthur memeluk erat istrinya itu.
Kini keduanya tengah berada di sebuah kamar yang lumayan sempit jika dibandingkan dengan kamar milik mereka di Mension, tapi kamar itu mampu menghangatkan tubuh keduanya.
Bangunan sederhana yang terbuat dari kayu itu membuat Alina merasakan suasana yang sangat berbeda dan damai.
"Sayang, jika kamu tidak nyaman kita bisa pulang besok pagi ."ucap Arthur.
"Mas itu tidak benar, disini aku merasakan sensasi yang berbeda."ucap Alina jujur.
"Syukurlah jika sayangku menyukainya."ucap Arthur.
"Tentu saja mas."ucap Alina yang kini mulai memejamkan mata.
"Sayang kamu sedang apa?."ucap Junior lirih.
Pria tampan itu kini tengah bersandar di samping ranjang dengan sebotol wine yang ada di tangannya.
Dia hampir saja mengakhiri hidupnya saat dirinya benar-benar tersiksa saat merasakan rindu yang teramat sangat menyiksa batinnya itu.
"Ah,, tunggu saja disana sebentar lagi aku akan segera menjemput mu untuk menjadi pengantin wanita ku yang paling cantik "ucap Junior.
Pria itu benar-benar dalam keadaan mabuk berat.
Sementara itu di penginapan tersebut ditengah hujan salju yang lebat Arthur dan Alina tengah bercinta, keduanya tengah saling menghangatkan meskipun mungkin akan jarang orang yang akan melakukan hal itu tapi nyatanya mereka berdua melakukan hal itu.
Sampai saat percintaan itu selesai keduanya pun kembali menggunakan pakaian dan mantel bulu yang sedari tadi dia gunakan.
Alina pun tidak habis pikir saat ini bisa-bisanya mereka melakukan hal itu di atas perbukitan ditengah hamparan salju dan penginapan yang sangat sederhana itu menjadi saksi bisu percintaan mereka.
...***********...
Sepulangnya dari berlibur Arthur dan Alina kembali pulang ke Mension pribadinya di Norwegia tersebut, dia pun memulai rutinitas yang selama ini ia jalani.
Seperti saat ini."Morning honey wake up mandi."ucap Alina yang kini tengah menyiapkan pakaian kerja milik suaminya itu.
"Honey... sudah berapa? kali aku bilang honey jangan beraktivitas seperti ini."ucap Arthur yang masih tetap posesif itu.
"Sayang aku tak mau kamu kerepotan sendiri, aku juga tidak ingin orang lain menyiapkan semua ini."tunjuk Alina pada pakaian yang kini tengah dia pegang.
"Aku tidak akan kerepotan honey aku bisa melakukan semuanya sendiri, kamu hanya perlu duduk manis dan jangan sampai kamu kekekalan untuk urusan pekerjaan."ucap Arthur.
"Mas aku tidak bisa berdiam diri terus dokter pun menganjurkan aku agar banyak bergerak demi kesehatan ku dan jabang bayi kita."ucap Alina.
Sementara Arthur hanya menghela nafas panjang.
"Ya sudahlah terserah kamu saja, yang jelas jangan sampai anak kita kenapa-napa."ucap Arthur.
"Tidak akan mas kami janji."ucap Alina.
"Baiklah."ucap Arthur yang kini beranjak dari ranjang berjalan menuju kamar mandi.
Arthur kini tengah berada di dalam kamar mandi sementara Alina menyiapkan secangkir kopi dan sandwich.
Tidak lama saat Arthur keluar dari dalam kamar mandi, Alina yang kini tengah membawa nampan berisi sarapan pagi untuk dirinya dan suami pun tersenyum pada Arthur yang menatap kesal padanya.
Alina pun menyimpan itu di meja depan sofa, setelah itu dia menghampiri suaminya.
Alina memeluk Arthur yang kini masih menggunakan handuk dan tetesan air dari rambut suaminya yang kini tampak berantakan sehabis keramas tersebut .
"Jangan marah, aku hanya membuat sarapan pagi yang ringan itu tidak membuat ku lelah."ucap Alina.
Wanita itu mengecup dada bidang suaminya yang kini memejamkan matanya.
"Honey,,,, lepas aku baru saja mandi."ucap Arthur yang merasa terangsang dengan perbuatan istrinya itu.
"Honey,,,, aku bilang lepas sayang."ucap Arthur yang kini mulai membalikkan keadaan.
"Mas, kamu baru selesai mandi ayo sarapan jangan begini nanti kamu kesiangan mas."ucap Alina yang mulai mendesah karena Arthur memainkan lidahnya di puncak gunung kembar yang sedari tadi hanya tertutup jubah dari lingerie seksi tersebut.
"Tanggung sayang, suruh siapa? menggoda ku sepagi ini."ucap Arthur dengan tatapan penuh gairah.
"Eum,,, aku hanya meminta maaf, kamu eumm saja yang berpikir kotor."ucap Alina yang kini menggigit bibir bawahnya itu.
__ADS_1
"Sayang aku akan sarapan kamu dulu setelah itu baru yang ada di meja."ucap Arthur.
"Euh,,, terserah saja euh sayang pelan-pelan."ucap Alina yang akhirnya mengalah saat mereka mulai bercinta di pagi hari yang cerah tersebut.
Keduanya benar-benar dilanda gairah yang membuncah hingga sarapan pagi mereka sudah dingin, mereka masih saling memberi kenikmatan.
Sampai semua selesai, Alina pun dibawa Arthur kedalam kamar mandi, keduanya mandi sambil bermain dibawah guyuran shower.
"Sayang jangan pernah berubah dan tetaplah cintai aku sampai kapanpun."ucap Arthur.
"Tidak akan sayang tolong jangan berubah tetap jaga cinta kita agar tetap utuh."ucap Alina.
"Tentu saja Honey."ucap Arthur yang kini memeluk dan mengecup bibir istrinya merangkul pinggang istrinya dan membawa dia kedalam walk-in closed.
Arthur bahkan dengan telaten memakan pakaian dalam milik istrinya itu dan terakhir dress selutut khusus wanita hamil yang sudah selesai di buat oleh perancang busana tersebut.
Meskipun saat ini dress tersebut belum sepenuhnya berguna untuk Alina karena perutnya masih sangat rata.
Setelah selesai dengan itu kini Arthur membawa istrinya itu duduk di depan meja rias, dia membantu mengeringkan rambut Alina yang kini tengah menggunakan skincare, sementara Arthur sibuk mengeringkan rambut istrinya itu.
"Terimakasih mas sudah cukup ayo pakai pakaian mas dulu nanti keburu siang."ujar Alina.
"Tidak apa-apa sayang aku masih bisa bekerja dengan baik meskipun datang siang-siang karena asisten pribadi ku bisa diandalkan."ucap Arthur sambil tersenyum setelah itu dia mengecup puncak kepala istrinya lebih lama.
"Aku akan buat sarapan yang baru itu mungkin sudah dingin."ucap Alina.
"Tidak perlu sayang itu saja."ucap Arthur yang kini langsung menghampiri sarapan pagi tersebut padahal masih menggunakan handuk.
"Sayang pakai baju dulu."ucap Alina yang menyodorkan undersrt dan juga bokser milik suaminya itu.
"Terimakasih sayang."ucap Arthur yang meraih itu dari tangan istrinya.
"Aku pakai baju dulu, ingat jangan ganti sarapannya."ucap Arthur.
"Heumm ia sayang ku."ucap Alina lembut.
Alina pun menunggu suaminya berpakaian sambil turun kebawah mengganti sarapan pagi mereka yang benar-benar sudah dingin.
Dengan gerakan cepat wanita itu membuat kopi untuk suaminya dan juga sandwich yang baru.
Sementara para pelayan yang tidak pernah mengerti dengan bahasa dari Alina hanya hilir mudik melihat semua gerak gerik majikannya itu.
Tidak sampai sepuluh menit, dia sudah kembali dengan sebuah nampan berukuran sedang itu.
Sementara Arthur hanya geleng-geleng kepala tidak mengerti mengapa istrinya itu sangat rajin dan tidak pernah bisa membiarkan dirinya merasa kekurangan kasih sayang.
Alina selalu melakukan yang terbaik untuk dirinya sejak mereka menikah Arthur selalu merasa sangat dicintai dengan perlakuan istimewa yang diberikan oleh istrinya itu.
Sejak pertama kali bertemu Arthur benar-benar sudah merasa jatuh cinta pada wanita itu.
Wanita yang saat ini tengah mengandung benihnya cinta mereka itu saat ini selalu menjadi prioritas utamanya.
"Sayang duduklah nanti kopinya keburu dingin."ucap Alina.
"Mommy kalian nakal sayang tidak pernah mau mendengarkan kata-kata Daddy."ucap Arthur.
"Semua untuk kebaikan daddy."ucap wanita cantik itu yang kini menirukan suara anak kecil.
Arthur pun tersenyum manis sambil membelai rambut istrinya lalu memberikan kecupan penuh cinta di sana.
Alina pun mengelus rahang Arthur yang tegas dan sangat tampan itu.
Alina lalu meminta suaminya duduk di sampingnya, setelah itu dia menyodorkan kopi pada suaminya itu.
Arthur pun teringat pada mantan suaminya Alina yang begitu tergila-gila padanya ternyata perhatian dan kasih sayang yang Alina berikan itu begitu besar hingga dia pun tidak pernah bisa membayangkan jika dirinya terpisah dari bidadari tanpa sayap itu.
"Honey,,, aku sangat mencintaimu."ucap Arthur.
"Ya aku tau."ucap Alina sambil tersenyum.
"Sayang."ucap Arthur lagi.
"Heumm."lirih Alina.
"Aku sangat mencintaimu."ucap Arthur.
"Terimakasih Yank,,,."ucap Alina.
"Yank..." ujar Arthur lagi.
"Apalagi!."ucap Alina .
"Jangan galak-galak begitu dong Honey.
"Ya sayang ada apa?."ucap Alina lembut.
__ADS_1
"Mau lagi."canda Arthur .
Alina pun hanya tersenyum.