Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 49


__ADS_3

Alina kini terbaring lemah di ruang ICU dokter di rumah sakit tersebut tengah mencari tahu penyebab Alina muntah darah.


Sampai saat ini mereka tidak menemukan apa? penyebabnya yang jelas saat ini kondisi Alina benar-benar dalam kondisi yang sangat memprihatikan.


Arda yang membantu Arthur duduk di sebuah kursi roda pun kini tengah duduk di sampingnya.


"Apa? yang terjadi pada istriku."tanya Arthur untuk yang kesekian kalinya.


"Nyonya tidak boleh mengalami guncangan emosional, karena di tubuhnya terdapat virus yang mematikan terutama di otaknya sampai saat ini belum bisa benar-benar di sembuhkan, itulah kenapa? tuan Junior langsung membawa nyonya pergi ke sana. karena di sana ada dokter ahli yang hingga saat ini tengah mencoba untuk membuat penawar virus tersebut."ucap Luna asisten pribadi Luna yang kini tengah menatap kearah wanita yang terbaring lemah.


"Saya akan memberikan suntikan serum ini ketubuhnya usahakan dokter untuk tidak memberikan obat apapun selama dua jam karena dosis ini sangat keras."ucap Luna.


"Darimana kamu dapat itu."ucap Arthur dan Arda.


"Ini obat yang bisa membuat nyonya bertahan hidup hingga saat ini, jika tidak diberikan ini maka virus akan menyerang organ dalam."ucap Luna.


"Lakukanlah apapun yang bisa membuat dirinya selamat."ucap Arthur.


Luna langsung menyiapkan peralatan lainnya dan dengan cekatan dia langsung menyuntikkan serum untuk menjinakkan virus tersebut.


Sampai saat dokter hendak memberikan suntikan Anti biotik dan juga lainnya, Arthur dan Arda langsung mencegah.


Di ruangan tersebut terjadi ketegangan antara pihak keluarga pasien dan dokter yang merawat Alina tapi setelah Luna memberikan pengertian untuk menunggu selama dua jam setelah itu barulah dokter bertindak.


Setelah pengertian itu akhirnya di sepakati oleh dokter dengan sebuah perjanjian tertulis jika terjadi hal yang tidak diinginkan pada Alina dokter dan pihak rumah sakit tidak bertanggung jawab akan hal itu.


Arthur pun menandatangani perjanjian tersebut.


Sementara itu seseorang menelpon Luna untuk memberikan penjelasan tentang keadaan Alina pada dokter tersebut.


Dokter pun menerima telepon tersebut dan dokter itu mendengarkan penjelasan singkat yang menyatakan bahwa Alina memiliki penyakit langka dan obat nya harus di suntikan ke tubuh Alina setiap enam jam sekali.


Dokter di sana hanya perlu memantau dan menyuntikkan obat tersebut.


Penjelasan tersebut bisa dimengerti oleh dokter itu karena mereka tahu dokter yang berbicara saat ini adalah dokter spesialis di sebuah rumah sakit terbesar di negara xx .


Sementara setelah dua jam kemudian, Alina membuka mata dan melirik ke kanan dan kiri.


Dia tidak melihat siapapun kecuali peralatan medis yang ada di sana.


Luna yang hendak melihat reaksi itupun kini tersenyum, dia juga meminta dokter untuk melakukan transfusi darah pada Alina.


Alina akan membutuhkan darah baru itu untuk memulihkan kondisi tubuhnya itu.


Arthur kini merasa tidak berdaya hingga akhirnya dia memutuskan untuk tidak menemui Alina sekalipun ia mau dia hanya bisa menahan diri.


Arthur sudah tidak berada di rumah sakit, posisinya saat ini digantikan oleh Jenny.


Sementara dia sendiri kini tengah berada dirumahnya sambil menemani kedua putranya tidur .


Arda berada di rumah sakit untuk menemani sang istri, bersama dengan Luna yang kini tengah duduk di samping Alina yang baru dipindahkan ke ruang rawat inap.


Alina pun tertidur pulas begitu juga dengan Arda dan Jenny yang kini tengah tidur bersama dengan Arda di atas sofa.


Luna sesekali mengirimkan video perkembangan baru dari Alina pada Junior.


Junior terus berpesan pada Luna untuk menjaga Alina sampai saat dia kembali ke Indonesia.


Hingga keesokan harinya setelah semua dinyatakan normal kembali, Alina pun diijinkan untuk pulang.


Anak-anak yang kini berada di dalam pelukan Alina pun terus berceloteh bahwa semalam mereka ditemani tidur oleh Daddy mereka.


"Mommy boleh kita tinggal bersama Daddy lagi dan juga mommy."ucap keduanya.


"Tuan muda lihat Luna bawa apa? untuk kalian."ucap Luna yang ingin mengalihkan perhatian.


"Tidak mau, kami hanya ingin mommy dan Daddy tinggal bersama."ucap Arion.


"Sayang,,, tidak sekarang ya, mommy baru kembali dari rumah sakit."ucap Jenny.


"Mommy sakit lagi ya, kata daddy Junior mommy tidak akan sakit lagi jika mommy tidak bersedih lalu siapa? yang membuat mommy sedih."ucap Arionan.


"Mommy sedih karena teringat kedua orang tua mommy yang sudah tidak ada sayang."ucap Alina sambil mengelus puncak kepala keduanya dengan sayang.

__ADS_1


Sementara Arthur yang melihat dan mendengar obrolan mereka saat ini tengah menatap sendu pada layar laptopnya.


Video itu dikirim oleh Luna seperti permintaannya agar dia tidak harus menemui Alina.


"Sayang, apakah semua akan berakhir seperti ini, aku benar-benar minta maaf, jika saja aku tidak pernah berurusan dengan manusia laknat itu mungkin saat ini pernikahan kita akan tetap langgeng."lirih Arthur.


Pria itu kini tengah duduk sambil sarapan pagi yang sudah tertunda di ruang baca sebelum dia melakukan meeting penting.


Arthur yang kini ditemani oleh sang asisten pribadi nya itu tengah mengerjakan pekerjaan yang begitu menumpuk saat ini.


Sementara itu di Singapura saat ini Junior yang baru saja selesai bersiap untuk pergi ke kantor, pria itu tampak sangat tampan dengan balutan jas mahalnya.


Junior hanya dilayani oleh pelayan pribadi tanpa bersentuhan dengan dirinya karena alergi Junior bereaksi pada siapapun kecuali kedua orang tua dan Alina.


"Semua sudah siap."ucap Junior.


"Sudah tuan."ucap pelayan tersebut.


Mereka pun pergi menuju ke ruang makan Junior hendak sarapan pagi bersama dengan sang mommy dan Alercxa.


"Morning Boy."ucap Alercxa.


"Morning daddy and mommy."balas pria tampan itu.


"Bagaimana.... apa? tidur mu nyenyak."ucap Leony.


"Heumm... begitulah mom."jawab Junior.


"Ini sarapan pagi mu nak, mommy sudah berusaha membuat seperti buatan Alina semoga rasanya sama."ucap Leony


"Terimakasih mom."ucap Junior sambil mencicipi sarapan pagi dengan nasi goreng seafood yang dibuat oleh Leony.


"Ini lezat mom tapi tetap saja ada yang kurang."ucap Junior.


"Selesai pekerjaan mu dulu Boy, setelah itu kamu bisa bertemu dengan dia nanti."ucap Alercxa.


"Ya, daddy."ucap Junior yang kini tengah menikmati nasi goreng tersebut.


Setelah selesai sarapan pagi, pria tampan itu berangkat ke kantor bersama dengan asisten pribadinya.


Setelah mendengar kabar Alina membaik kini dia kembali bersemangat untuk mengurus perusahaan tersebut karena dirinya akan segera menyelesaikan pekerjaan itu dalam waktu dekat untuk bertemu dengan Alina.


...***********...


Di Indonesia saat ini Alina tengah bermain bersama dengan kedua putranya itu di taman belakang dimana rumput yang menyerupai Padang golf tersebut berada.


Mereka tengah bermain bola bersama karena cuaca sedang sangat bagus dan teduh.


Kini Alina dan Luna yang menjaga gawang tersebut dan kedua putranya yang berebutan bola menendang bola kesana kemari, hingga menciptakan suasana ceria dan penuh kehebohan antara kedua penjaga gawang tersebut.


Tanpa mereka sadari saat ini Arthur tengah duduk di sofa singgel yang menghadap ke arah dinding kaca yang menjulang tinggi itu.


Pria itu tersenyum manis saat melihat pemandangan tersebut namun ada rasa sakit yang tidak bisa Arthur ungkapan di dalam hatinya karena sudah membuat mereka sengsara meskipun sengsara dalam artian tidak bisa menikmati kebersamaan dengan dirinya, karena jika soal keuangan merupakan tidak pernah kekurangan.


Arthur sudah memberikan semuanya yang dia punya sejak pertama kali dia berbisnis dulu, kini Arthur hanya memiliki aset dari Daniel dan juga Jenny sebagai warisan dari kedua orang tuanya itu.


Arthur pun akan memberikan itu pada buah hatinya itu kelak saat mereka dewasa nanti.


Arthur berharap Alina akan segera sembuh dari segala luka yang selama ini ia derita, luka batin akibat pengkhianatan dan luka fisik dari virus yang kini tengah di derita Alina.


Arthur pun ingin rasanya membatalkan perceraian tersebut tapi dia tidak ingin Alina terus menderita bersama dengan dirinya, biarkanlah waktu yang akan menyembuhkan luka di antara mereka.


Arthur pun menatap lekat wajah cantik yang dulu sering ia kecup dan sering ia kagumi, tapi saat ini dia tampak kurus dan tirus meskipun kecantikan itu tidak pernah pudar.


Alina masih setia menjaga gawang saat ini sementara kedua putranya masih sibuk memperebutkan bola.


Ingin sekali rasanya Arthur bergabung dan menggendong keduanya sambil memeluk erat istrinya itu tapi semua itu tidak akan pernah mungkin terjadi lagi.


Alina sudah membuat dirinya tidak berdaya saat ini karena dirinya bahkan tidak bisa mendekat disaat dirinya rindu.


"Sabar sayang masih banyak waktu untuk itu, semoga kalian bisa bersama kembali."ucap Jenny yang kini mengelus puncak putra semata wayangnya itu.


"Semoga Alina sehat, itu sudah lebih dari cukup mom, tidak masalah jika memang kami tidak ditakdirkan untuk hidup bersama lagi... yang terpenting saat ini adalah kesembuhannya."ucap Arthur lirih.

__ADS_1


Sementara itu Alina iya tiba-tiba ingat jika dulu dirinya dengan Arthur pernah saling menatap, Alina tiba-tiba mendongak ke arah rumah Jenny sang mertua.


"Arthur." lirih Alina yang kini menatap lekat wajah suaminya yang tertutup sebelah topeng.


Deg.....


Deg......


Detak jantung keduanya seolah bersautan jika saja mereka saling berdekatan.


Sementara itu di tempat lain seorang balita perempuan yang baru saja keluar dari rumah sakit, setelah mengalami gangguan pernapasan tengah berada di dalam gendongan seseorang yang menemukan dia di depan pintu pagar rumahnya dalam keadaan kritis tersebut.


"Jika saja wajah mu tidak mengingatkan aku pada seseorang mungkin saat ini aku sudah membiarkan mu diambil oleh pihak panti asuhan."ucap seorang pria tampan yang kini hidup sendiri di sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah sakit tersebut.


Pria muda yang belum genap berusia 19 tahun itu dia kini baru masuk kuliah, beruntung di rumah tersebut ada banyak pelayan yang membantu dirinya mengasuh gadis kecil berusia Dua tahun lebih dua bulan tersebut.


Dia sudah terlanjur jatuh cinta pada bayi yang dulu ia temukan di depan pintu pagar tersebut.


Kini dia sudah tumbuh dengan sempurna meskipun terkadang sering mengalami gangguan pernapasan yang disebabkan radang saluran pernapasan.


pemuda itu akan merawat bayi yang ia temukan tersebut dengan sangat telaten karena sering belajar dari tutorial cara merawat bayi dengan baik dan penuh kasih sayang.


Kembali pada Alina yang kini sudah masuk kedalam rumah nya, dengan kedua putranya.


Alina hendak memandikan mereka berdua setelah bermain bola keringat terus keluar dari tubuh kedua putranya itu.


"Arion duduk dulu ya istirahat sejenak begitu juga Arionan, tunggu tubuhnya dingin dulu setelah itu kalian bisa langsung mandi mommy yang akan memandikan kalian berdua."ucap Alina.


"Asik mandi bareng mommy aku suka."ucap Arion dan juga Arionan.


"Wah cucu omah yang tampan rupawan ini kalian berdua habis main bola ya..."ucap Jenny.


"Tetu saja omah."ucap keduanya.


Mereka pun bercengkrama bersama hingga mereka mandi dan berganti pakaian.


Jenny meminta izin untuk membawa mereka berdua jalan-jalan.


Sampai saat Alina mengijinkan hal itu, barulah Jenny pergi membawa keduanya ke rumah untuk bertemu dengan Arthur sebelum mereka pergi jalan-jalan.


keduanya langsung berhambur memeluk Arthur yang kini tengah duduk di sofa.


"Daddy..."panggil keduanya.


"Owh jagoan daddy, kalian datang dan sudah sangat wangi dan rapih mommy kalian sedang apa? heumm."ucap Arthur.


"Mommy baru selesai mandi, setelah kita main air tadi."ucap Arion.


"Iya Daddy, Arionan tadi menyiram mommy dengan air dan kami pun bermain air didalam kamar mandi."ucap Arionan.


Arthur pun tersenyum manis pada keduanya, setelah itu ia juga mendekap kedua jagoannya sambil memejamkan mata teringat saat-saat dimana? dirinya dan Alina melakukan perang air di dalam kamar mandi di Mension.


Alina yang saat ini basah kuyup berulang kali meminta ampun sampai memeluk dirinya karena tidak ingin Arthur menciprati tubuhnya dengan air.


"Sayang sudah ampun sudah... Stop."ucap Alina.


Sementara Arthur terus mengguyur tubuh istrinya dengan air tersebut.


"Baiklah aku ampuni tapi ada satu syarat yang harus kamu penuhi sayang ku."ucap Arthur.


"Apa? itu honey."tanya Alina.


"Aku ingin ini."ucap Arthur yang saat ini berbisik di kuping Alina dan langsung membuat wajah Alina merah merona.


Dan semua itu pun terjadi percintaan panas yang terjadi di antara mereka tepat setelah itu Alina dinyatakan hamil.


Arthur benar-benar sangat bahagia, saat itu begitu juga dengan Jenny.


Sampai saat, usia kehamilan Alina masuk usia sembilan bulan. saat itu Arthur diharuskan untuk pergi ke Eropa karena Daniel dikabarkan meninggal dunia akibat kecelakaan.


Dari situ petaka mulai terjadi, hingga menyebabkan pertengkaran hebat dan membuat Alina dengan Arthur memiliki jarak tapi saat itu masih bisa diselamatkan, namun setelah mereka kembali akur dan rukun tepat di kehamilan kedua dengan usia kehamilan yang sama, tragedi berdarah itu terjadi hingga menyebabkan Alina dan dirinya kehilangan putri semata wayangnya.


Semua itu lagi-lagi disebabkan karena Arthur melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

__ADS_1


"Daddy ayo lepas kami mau pergi jalan-jalan." teriak keduanya yang membuat Arthur tersadar dari lamunannya.


__ADS_2