Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 64


__ADS_3

Arthur pun selesai mandi dia langsung menggunakan piyama tidurnya, lalu bergabung naik ke atas ranjang memeluk sang istri yang kini menelusup kan wajahnya di dada bidang Arthur.


Arthur yang mendapatkan perlakuan itu, hatinya kembali menghangat.


"Sayang aku sangat mencintaimu, semoga tuhan memberikan perlindungan kepada kita semua."lirih Arthur yang kini mengecup puncak kepala istrinya.


Pria itu pun memejamkan mata menyusul Alina yang kini terlelap.


Padahal Alina sama sekali belum tidur.


Alina pun memutuskan untuk tetap melupakan semua yang telah terjadi di masalalu, Alina tidak mungkin menghancurkan harapan Arthur .


Biarlah dirinya dan tuhan yang tau bahwa ia sudah mengingat semua yang telah terjadi.


Sementara Alercxa yang mengetahui bahwa putranya kembali mendekati Alina , dia pun merencanakan sesuatu untuk menjebak Junior dan Katrina agar mereka bisa segera menyatu.


Pernikahan putranya itu sudah hampir satu tahun lamanya namun belum juga dikaruniai anak, setelah dia mencari tahu tentang semua itu, ternyata Junior tidak pernah bersentuhan dengan istrinya yang sama-sama memiliki kelainan.


Alercxa pun datang ke Indonesia untuk menemui Junior dan dia telah merencanakan sesuatu untuk kedua.


Keesokan harinya Alina yang kini memiliki aktivitas khusus untuk memulihkan kondisi tubuhnya itu.


Luna yang biasanya menemani dia berjalan pada pagi hari tapi pagi ini dia tidak datang ke kamarnya hingga Alina selesai mandi.


Arthur pun langsung bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan diri, untuk menemani istrinya olahraga pagi, semalam dia sudah bilang pada Luna bahwa dia akan menemani istrinya berolahraga pagi.


"Mas Luna tidak sakit kan kenapa? dia tidak datang."tanya Alina.


"Sepertinya dia kelelahan setelah membawa anak-anak jalan-jalan semalam."ucap Arthur yang terlihat tidak biasanya.


"Aku lupa, baiklah aku jalan-jalan sendiri saja."ucap Alina.


"Tidak sayang,,, aku yang akan menemani mu olahraga pagi ini."ucap Arthur yang langsung meraih pinggang istrinya dan menggendong Alina ala bridal style menuju ke taman belakang Mension tersebut.


Sesampainya di sana Arthur langsung menurunkan Alina yang kini tengah berjalan tanpa alas kaki di atas bebatuan khusus untuk terapi seperti saran dari dokter.


"Sayang apa? kakinya masih sakit."tanya Arthur.


"Tidak mas sudah jauh lebih baik."jawab Alina.


"Syukurlah sayang, setelah pulih nanti kita bisa pergi ke Eropa sekaligus mengunjungi tempat-tempat yang indah."ucap Arthur.


"Iya mas, semoga saja."ucap Alina yang kini masih berjalan mengitari kolam ikan koi yang ada di sana.


Seperti permintaan Alina saat mereka masih berada di Eropa sebelum prahara rumah tangga itu terjadi.


"Mas, aku ingin kita punya anak lagi."ucap Alina.


Arthur yang mendengar itu dia langsung mematung di tempatnya sambil menatap istrinya yang kini terus berjalan.


Arthur tidak mungkin mengabulkan permintaan istrinya, karena sudah jelas itu tidak mungkin Alina tidak akan pernah memiliki anak lagi karena rahimnya mengalami masalah setelah kecelakaan itu.


"Mas, ko malah bengong sih,,, kenapa?."ucap Alina.


"Ah tidak sayang, mas hanya ingat dengan jadwal mas hari ini."ucap Arthur berkilah.


Alina pun kembali menghampiri Arthur.


"Mas mau berangkat lebih pagi?."tanya Alina.


"Tidak sayang mas pergi seperti biasanya saja agar anak-anak tidak bertanya terus tentang mas, kalau mas pulang telat nanti."ucap Arthur.


"Heumm... ya bukan hanya anak-anak ibunya juga merindukan mu mas."ucap Alina.


"Heumm,,, benarkah itu?"ujar Arthur yang tersenyum manis. senyum itu sangat menggoda wanita manapun yang melihatnya.


Sementara Luna saat ini tengah mengawasi mereka berdua dari lantai dua tepat di jendela kaca yang menjulang tinggi tersebut.

__ADS_1


Luna yang merasa tidak enak hati karena tugasnya digantikan oleh bosnya sendiri.


Kini gadis itu tengah melihat tawa lepas dari keduanya yang langsung membuat hati Luna menghangat saat melihat kebahagiaan yang kini terpampang nyata di hadapannya.


Arthur kini tengah menggendong istrinya itu sambil berputar-putar dengan tawa Alina yang kini terlihat ceria.


Alina pun kembali berjalan di sana dengan Arthur yang kini menggengam tangan istrinya.


"Mas, aku mencintaimu."ucap Alina lirih, dan hampir tidak terdengar.


Tapi Arthur cukup tau apa? Yang Alina katakan terlihat dari gerakan bibir itu.


Arthur benar-benar bahagia saat mengetahui itu, dia langsung Mahan pergerakan Alina, dan langsung menyambar bibir manis itu.


"Eum..."


Alina yang mendapat serangan mendadak dari suaminya itu refleks mengalungkan tangannya di leher Arthur.


Mereka pun berciuman dengan mesra dan begitu penuh kerinduan di dalam hati keduanya. tapi Alina tiba-tiba membuka mata yang sedari tadi terpejam itu karena dia melihat kilas bayangan tentang hal yang sama yang kini tengah dia lakukan namun orang itu bukan Arthur melainkan Junior.


Hati Alina begitu sakit, kenapa? harus mencintai dua orang pria disaat yang bersamaan kenapa? dia tidak bisa melupakan semuanya.


Hati wanita itu terus bergejolak seakan ingin meledak hingga saat Alina dan Arthur menyudahi ciuman itu akhirnya Alina memalingkan wajahnya karena air mata itu mengalir begitu deras ini tidaklah benar Alina ingin menghilangkan semua rasa itu agar tidak lagi mengganggu hati dan pikirannya itu.


"Sayang ada apa? heumm... kenapa? menangis."tanya Arthur.


Pria itu terlihat sangat khawatir.


"Aku mencintaimu mas, hanya mencintai mu."ucap Alina yang kini menangis sesenggukan di pelukan Arthur yang kini tengah kebingungan dengan kondisi istrinya itu.


"Aku tau itu sayang sudah ya.... jangan menangis lagi, mas pun sangat mencintai dirimu."ucap Arthur.


"Ya,,,, mas, hatiku tiba-tiba merasa sakit dan aku takut kehilanganmu."ucap Alina.


"Aku tidak akan pernah pergi kemanapun sayang kecuali bekerja selebihnya mas akan habiskan waktu itu untuk terus bersama dengan mu."ucap Arthur.


Arthur pun langsung menyudahi olahraga Alina dia menggendong istrinya kedalam rumah seperti semula.


Tempat itu juga bisa digunakan untuk bercinta bentuknya menyerupai sofa namun terbuat dari marmer.


"Mas aku merindukan mu."ucap Alina saat Arthur tengah berjongkok di hadapan Alina sambil membasuh kaki yang halus dan lembut itu.


"Aku juga merindukan mu honey sangat-sangat merindukan mu."balas Arthur.


Akhirnya mereka pun menuntaskan kerinduan itu lewat percintaan panjang, dan penuh gairah namun tetes air mata yang jatuh dari sudut mata Alina pun membuat hati Arthur bertanya tapi kemudian Alina membuyarkan pertanyaan itu dengan memimpin percintaan itu.


Alina yang kini bergerak lincah di atas tubuh suaminya yang sedari tadi menge**ng nikmat dan hal itu pun membuyarkan segala beban yang ada di hati keduanya.


...*********...


Kini Arthur berangkat di siang hari setelah memastikan istrinya baik-baik saja setelah selesai bercinta mereka mandi bersama dan Arthur membantu istrinya itu hingga selesai berpakaian dan mengeringkan rambutnya itu.


Setelah istrinya terlelap di dalam pelukannya akhirnya Arthur bersiap untuk pergi ke kantor.


Dia sempat berpesan pada Luna untuk mengajak istrinya berkonsultasi dengan dokter spesialis kejiwaan bukan karena dia menganggap istrinya tidak waras atau lainnya. tapi Arthur merasa istrinya butuh seseorang untuk berkonsultasi tentang semua rasa yang disimpannya di dalam hati.


Dan orang yang tepat untuk itu adalah sikolog .


Luna pun hanya mengiyakan permintaan Arthur saat itu.


Sementara itu di kediaman Junior saat ini tengah terjadi keributan besar dimana Alercxa merasa kecewa setelah mendengar pengakuan Katrina bahwa mereka tidak pernah tidur bersama dan selama ini dia lebih sering tinggal di Kanada tanpa sepengetahuan kedua orang tua nya itu.


"Apa? mau mu Junior,,, daddy sudah benar-benar hilang kesabaran menghadapi sikapmu yang seperti ini terus! haruskah Daddy menjadi seorang pembunuh untuk membuat putra daddy sadar bahwa semua yang terjadi itu adalah sebuah kesalahan."ucap Alercxa yang benar-benar murka.


"Daddy jangan pernah menyentuh wanita yang aku cintai jika Daddy tidak ingin Junior juga mati."ancam junior.


"Jun,,, daddy pastikan dia akan mati jika kamu terus seperti ini!."teriak Alercxa.

__ADS_1


"Daddy! apa? yang daddy inginkan cucu iya kan penerus,,, aku akan berikan itu tapi bukan dari orang yang tidak aku cintai aku akan memberikan Daddy itu dari orang yang paling aku cintai."ucap Junior.


"Daddy tidak akan terima jika cucu itu didapat dari hasil hubungan gelap Junior, ingat status anak mu kelak akan dipertanyakan."ucap Alercxa.


Junior pun terdiam hingga beberapa saat setelah itu dia kembali berkata."Aku akan memberikan daddy cucu tapi tidak lewat sentuhan aku akan mengikuti proses bayi tabung."ucap Junior.


"Terserah yang jelas daddy ingin kamu secepatnya memberikan daddy cucu, jika tidak Daddy akan pastikan kamu akan menyesal."ancam Alercxa.


Junior pun pergi meninggalkan Alercxa yang kini masih duduk di ruang keluarga.


Dia adalah tipe pria yang tidak bisa dikekang Junior adalah orang yang menyukai kebebasan, sejak kecil ia tidak bisa dikasari dia lebih suka cara ibunya yang selalu memberikan pengertian dengan penuh kelembutan.


"Sayang aku sangat mencintaimu dan aku sangat merindukan mu, andaikan saja diantara kita tidak ada penghalang mungkin saat ini kita sudah menikah dan hidup bahagia."ucap Junior yang kini tengah meminum segelas wine.


Junior masih menatap langit yang cerah tanpa awan yang kini terlihat dari dinding kaca yang menjulang tinggi itu.


Dia berharap ada keajaiban dunia yang akan bisa membuat dirinya bersatu dengan Alina.


Sementara Alina sendiri kini tengah kebingungan saat Luna membawa dia berkonsultasi pada psikolog. Alina tidak merasa ada apapun dalam dirinya saat ini.


"Ada apa? ini Luna."tanya Alina.


"Tuan bilang nyonya butuh teman untuk berbicara mengeluarkan segala beban yang ada maka saya membawa anda kemari nyonya, tenang saja semua aman. disin... juga anda bisa mengatakan semua beban yang ada di dalam hati nyonya dengan sangat leluasa hingga anda bisa menemukan solusi yang terbaik untuk masalah yang sedang dihadapi."ucap Luna menjelaskan dengan detail.


Alina pun setuju, dan disana dia pun hanya berdua saja dengan psikolog .


Alina pun mulai bisa membahas semua yang ingin disampaikan olehnya, hingga dia mendapatkan solusi dari semua masalah tersebut untuk mengatasinya.


Jujur ada sedikit kelegaan dalam diri Alina saat ini, meskipun mungkin tidak semua masalah mendapatkan sebuah solusi yang mudah untuk dijalankan.


Namun setidaknya pertemuan pertama itu sudah sedikit membuahkan hasil dan itu sangat cocok dengan apa? yang disarankan oleh Alina saat ini.


Alina kini tengah duduk bersama dengan Junior saling berhadapan, dirinya memutuskan untuk berbicara secara langsung setelah pulang dari tempat tersebut.


"Honey,,, apa? kamu sudah mengingat semuanya."tanya Junior.


Alina yang masih menatap lekat wajah tampan dengan tatapan mata penuh kerinduan.


"Jun, aku sudah menginat semuanya,,, semua yang pernah terjadi di antara kita, semua kesalahan yang telah kita berdua lakukan... semuanya Jun,,, semua tapi maafkan aku...aku tidak bisa memilih mu bukan karena aku tidak mencintai dirimu Jun, bukan aku tak mencintai mu tapi aku tidak bisa memilih mu... karena kita sudah memiliki pasangan hidup masing-masing dan aku punya ketiga anak yang harus aku fikirkan masadepan nya."ucap Alina.


"Jadi kamu memilih dirimu untuk hancur demi dia dan mereka bertiga?."ucap Junior yang kini menatap sendu.


"Jun,,, aku minta maaf."ucap Alina yang kini berderai air mata.


"Honey,,, aku bisa memberikan hidup yang layak untuk mereka bahkan aku bisa memberikan semua yang aku miliki pada mereka jadi tidak ada alasan untuk menolak ku."ucap Junior yang kini menggengam erat tangan Alina.


"Jun,,, maafkan aku tapi kita memang tidak ditakdirkan untuk bisa bersama."ucap Alina yang kini beranjak dari duduknya.


"Tidak honey,,, aku akan membunuh dia jika kamu kembali padanya."ucap Junior tegas.


"Jangan lakukan itu Jun, aku mohon setidaknya demi aku."ucap Alina yang kini memohon.


Namun Junior pergi begitu saja tidak menghiraukan Alina yang kini menangis sambil memohon.


"Jun,, please aku mohon jangan lakukan itu Jun."ucap Alina yang terus mengejar langkah Junior yang kini berada di dalam ruangan pribadinya dia tengah meraih pistol dari dalam laci penyimpanan.


"Jun,,, kamu bisa bunuh aku saja agar semua ini selesai tapi please jangan lakukan itu pada ayahnya mereka."ucap Alina.


Junior pun mengarahkan pistol tersebut ke pelipisnya Alina yang kini tengah memejamkan mata.


"Katakan kata-kata terakhir mu babe."ucap Junior yang kini memeluk erat pinggang ramping Alina dengan erat.


"Aku mencintaimu Junior, maafkan aku jika aku telah menyakiti mu."ucap Alina.


Junior langsung membalikkan badannya dan meraih tengkuk Alina Junior mencium bibir Alina dengan kasar bahkan dia meninggal gigitan kecil di sana Alina yang kini tidak berdaya pun hanya bisa membiarkan itu terjadi hingga saat.


Bug...

__ADS_1


Pukulan keras itu mendarat di pipi Junior, pelakunya bukan Arthur bukan juga Luna. melainkan Alercxa yang kini tengah melotot tajam kearah putranya dan juga Alina.


"Harus dengan apa? Aku memisahkan kalian yang benar-benar tidak tahu malu ini,,,, haruskah aku membunuh pasangan kalian masing-masing agar kalian bisa bersama! atau salah satu diantara kalian agar kisah ini segera berakhir."ucap Alercxa yang kini masih menatap tajam pada keduanya.


__ADS_2