Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 28


__ADS_3

Sudah hari kedua kini Arthur dan Alina berada di hotel tersebut, saat ini Arthur tengah berada di perusahaan miliknya sementara Alina berada di hotel tersebut sendirian.


Alina yang merasa bosan berada di dalam kamar dia memutuskan untuk turun kebawah mencari hiburan sekaligus sambil menunggu makan siang tiba karena rencananya Arthur akan datang saat makan siang nanti.


Alina yang kini menggunakan dress selutut berwarna putih floral itu kini tengah berada di dalam lift menuju lantai bawah.


Rencananya dia akan turun ke bawah untuk mengisi waktunya dengan menonton film di bioskop yang ada di bagian hotel tersebut.


Alina yang tidak membawa apapun kecuali black card dan ponsel milik suaminya itu kini tengah berdiri di lobby hotel dia tengah menunggu taksi yang akan membawa dia ke pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari area hotel tersebut dan itu masih bagian dari hotel itu.


Masih satu perusahaan dengan hotel yang Alina dan Arthur tempati saat ini.


Alina pun hendak pergi tapi seseorang tiba-tiba menahan langkahnya.


"Hi,,, kamu juga ada disini."ucap pria tampan yang kemarin memberikan alas kaki padanya dan memperlakukan Alina seperti anak kecil.


Alina kini hanya terdiam sambil menatap lekat wajah tampan yang masih sangat muda itu.


"Kemarilah sebentar lagi jam makan siang tiba, kamu mau makan apa? aku bisa buatkan."ucap pria itu yang menarik Alina masuk kearah restaurant hotel.


Kamu harus merasakan makan siang buatan ku saat ini, aku akan memasak semua itu untuk mu."ucap pria itu yang langsung membawa Alina yang sedari tadi tidak bicara karena dia sendiri bingung dengan tingkah laku pemuda itu.


Saat Alina masuk tiba-tiba semua pegawai membungkuk hormat pada pemuda itu.


"Tuan muda, ada apa? anda keperluan apa anda disini."ucap salah satu manager hotel tersebut.


"Jangan banyak bicara siapkan semua bahan yang aku butuhkan aku akan memasak sendiri di dapur ku dan bersihkan semua perabotan yang akan aku gunakan jangan sampai ada debu sedikit pun, aku akan memasak makan siang untuk bidadari jalanan ini."ucapnya.


Alina masih terdiam saat ini dia tidak ingin menolak orang yang sangat baik padanya kemarin.


Sesampainya di sebuah ruangan yang lebih mirip dapur pribadi dengan peralatan masak yang serba mewah itu, dan tertata rapi di dalam etalase kaca yang menjulang tinggi itu.


Disana ada sebuah meja makan berukuran sedang dengan seluruh ruangan berwarna putih cerah disana bahkan seperti tidak pernah ada debu sedikitpun.


Orang-orang yang datang kini membawa sebuah botol semprotan cairan antiseptik yang ingin mereka semprot ke tempat dimana Alina duduk saat ini tapi pria itu langsung melarang mereka dengan tatapan mata tajam.


"Jangan berani mengusik bidadari ku, atau kalian akan menjadi santapan singa ku."ucapnya tegas.


"Maafkan saya tuan muda, tapi biasanya anda tidak bisa terkena noda sedikitpun bahkan bersentuhan dengan kulit wanita lain anda akan alergi."ucap pelayan itu.


"Aku bilang pergi aku baik-baik saja."ucap pria itu.


Pria itu mendekat kepada Alina yang sedari tadi terdiam di kursi menatap lekat wajah pria yang kini mendekat ke arah dirinya.


Tangan pria itu terulur, dia menyentuh puncak kepala Alina.


"Jangan takut bidadari ku, anggap saja mereka lalat pengganggu."ucapnya sambil mengelus puncak kepala Alina penuh kelembutan.


"Aku akan mulai memasak kita lihat saja apa? Yang ada di lemari penyimpanan.*ucap pria tampan itu sambil berjalan meninggalkan Alina.


Entah kenapa? Alina tidak bisa menolak permintaan dan perlakuan pria itu.


"Ah aku akan membuat olahan pasta kamu pasti suka."ucap pria itu yang kini mulai mencuci daging lalu memasukkan daging yang masih sangat fresh itu kedalam penggilingan daging tersebut dengan telaten dia mulai memasukkan setiap potongan daging tersebut.


Alina memperhatikan cara pria itu bekerja dengan sangat terampil.


"Bidadari, apa? kamu menginap di hotel ini."tanyanya.


Alina pun menganggukkan kepalanya saat pria itu menoleh karena tidak mendengar jawaban dari Alina yang masih duduk anteng sambil memperhatikan dirinya.


"Ah,,, aku lupa jika kau tidak bisa bicara."ucap pria tampan itu.


Alina hanya mengangguk pelan sebagai tanda ia membenarkan bahwa dirinya memang tidak bisa bicara dihadapan pria itu.


"Tidak masalah cukup mengangguk atau menggeleng saja itu sudah cukup."ucap pria itu.


Alina kembali mengangguk pelan.


Pria itu pun tersenyum manis, dia melanjutkan aktivitasnya saat ini.


"Aku akan membuat nasi campur untuk mu juga."ucap pria yang kini menyimpan daging yang sudah selesai dia giling tadi.


"Ah, aku lupa berkenalan dengan mu."ucapnya.


"Namaku Junior, aku sudah lulus kuliah tahun ini rencananya aku ingin menikah tapi aku alergi saat bersentuhan dengan kulit orang lain. mungkin itu adalah sebuah penyakit atau mungkin Tuhan sedang menjaga ku dari orang-orang jahat itu yang mommy ucapkan padaku."ucap pria bernama junior tersebut.


"Jun, mommy mencari mu kemana-mana ternyata Junior disini."ucap seorang wanita cantik yang kini menghampiri putranya itu.


"Mommy buat Junior kaget, mommy juga pasti mengagetkan bidadari Junior ini."ucap nyonya Leony istri dari tuan Alercxa.

__ADS_1


"Owh Junior diam-diam menyembunyikan wanita cantik dari mommy."ucap wanita paruh baya yang masih sangat muda dan cantik itu.


"Ah, Junior jadi malu mommy, dia teman Junior."ucap pria tampan itu.


Nyonya Leony mendekat kearah Alina.


"Boleh saya tau siapa? nama mu."ucap Nyonya Leony.


"Mom, jangan tanya dia.... dia tidak akan menjawab dia tidak bisa bicara."ucap Junior.


"Ah, maaf saya tidak tahu. tapi terimakasih sudah mau berteman dengan putra saya."ucap nyonya Leony.


"Tidak masalah nyonya."ucap Alina yang kini membuat Junior menoleh dan menjatuhkan teplon yang hendak dia gunakan untuk menggoreng.


"Junior ada apa? sayang."ucap nyonya Leony.


"Bidadari kenapa? kamu tidak bicara saat bersamaku tapi kamu bicara saat bersama dengan mommy."ucap pria tampan itu.


"Saya tidak tahu harus bicara apa? karena kamu selalu asik berbuat semaumu ."ucap Alina.


"Ah, maafkan aku."ucap pria tampan itu.


Leony pun tersenyum manis pada Alina, karena dia tahu apa? yang Alina maksud.


Nyonya Leony lebih tahu karakter putra bungsunya itu.


"Lanjutkan saja sayang kamu pasti sedang menunjukkan bakat mu pada gadis cantik ini."ucap nyonya Leony.


Tapi tiba-tiba Arthur datang bersama dengan manager hotel tersebut.


"Honey kamu disini, aku sudah mencari mu kemana-mana ternyata bersama dia lagi."ucap Arthur yang kini menatap tajam kearah pria tampan yang terlihat santai itu.


...**********...


"Mas, aku tidak sengaja bertemu dengan pemuda itu."ucap Alina yang kini sudah berada di dalam kamar hotel mereka.


"Tidak sengaja sampai dua kali begitu iya."ucap Arthur.


Pria itu benar-benar sedang dibakar cemburu.


"Aku tidak bohong mas aku benar-benar tidak sengaja, dan dia seperti biasanya berlaku seenaknya memperlakukan aku seperti anak kecil."ucap Alina.


"Cukup mas, aku tau aku salah tapi kamu juga tidak perlu menghina orang lain karena itu."ucap Alina.


"Kau pikir aku mengada-ada tentang semua itu ia?."ucap Arthur.


"Kamu tidak berhak bicara seperti itu mas, meskipun kenyataannya adalah benar bahwa dia memiliki penyakit."ucap Alina.


"Bela-bela saja terus Alina, aku heran apa yang kamu dapatkan dari dia."ucap Arthur.


"Yank, kamu bicara apa?."ucap Alina yang kini terlihat sangat bersedih.


"Ini kamu baca sendiri."ucap Arthur yang langsung memberikan sebuah amplop coklat yang entah apa? isinya.


Alina yang membuka itu dia langsung terperanjat kaget.


"Junior."ucap Alina kaget.


"Ya, dia Junior pria yang dianggap kurang waras karena dia alergi terhadap orang lain selain kedua orang tuanya, dan satu lagi dia akan mengorbankan nyawa siapapun itu demi memuaskan pikiran gilanya itu.


Alina dibuat tidak percaya dengan informasi tersebut karena baginya junior adalah pria yang baik hati dan suka menolong orang seperti dirinya.


"Maafkan aku mas, darimana? mas dapat informasi ini."ucap Alina bertanya.


"Informasi itu tidak penting dari siapa? yang jelas kamu tidak boleh berinteraksi dengan nya."ucap Arthur.


"Ya baiklah tapi ayo kita pulang ke rumah, aku tidak betah disini, apalagi mommy sendirian di sana."ucap Alina.


"Kamu yakin mommy masih ada di Mension."tanya Arthur.


"Jika tidak di Mension..... apa? mungkin mommy pulang."ucap Alina.


"Mommy sudah menikah secara diam-diam dengan bajingan itu."ucap Arthur yang kini terlihat menahan amarahnya.


"Biarkan saja mas, yang paling penting mommy bahagia, kita cukup berikan dia perhatian saja, dan jangan pernah membuat dia sakit hati karena akan menjadi dosa besar."ucap Alina.


"Itu mungkin mudah di ucapkan, tapi harus kamu tahu yank...dia bukan pria yang baik."ucap Arthur.


"Semua orang bisa berubah mas, jadi tidak ada yang tidak mungkin jika tuhan sudah menghendaki.'ucap Alina.

__ADS_1


"Semoga saja kamu benar."ucap Arthur.


Pria itu tidak akan ikut campur lagi dengan urusan mereka berdua tapi jika Arda berani berbuat tidak baik pada ibunya maka dia sendiri yang akan memberikan pelajaran terhadap pria itu.


Arthur kini berjalan turun menuju lobby rencananya dia akan kembali pulang ke Mension bersama dengan istrinya itu.


Sementara itu di kediaman Arda si pengantin baru itu kini masih sibuk dengan percintaan mereka sejak pukul sebelas siang, seolah tak pernah lelah keduanya berulang kali melakukan penyatuan.


Arda bahkan seolah kehilangan kendali tapi Jenny juga menikmati itu.


Berulang kali wanita itu mengerang nikmat bersama dengan suami mudanya itu.


Seakan tak pernah ada perbedaan diantara mereka, gairah Jenny mampu mengimbangi Arda yang super duper kuat dalam olahraga tersebut.


Mungkin saat rujuk dengan Daniel wanita itu merasa kewalahan melayani nafsu mantan suaminya itu, tapi kini justru Jenny terlatih dengan itu.


Arda merasa mendapatkan sebuah kado terbesar dari Tuhan karena mendapat istri yang tidak hanya dewasa tapi juga bisa memuaskan hasratnya saat ini.


Bonus tambahannya lagi, Jenny yang cantik memiliki tubuh yang seksi dan juga tubuhnya masih singset dan kencang tidak kendor seperti wanita seusianya.


"Honey,,, aku sangat mencintaimu dan aku sangat bahagia bisa mendapatkan wanita tercantik seperti dirimu."ucap Arda yang kini mengecup bibir istrinya itu.


"Heumm,,, aku juga honey."ucap Jenny.


Percintaan itu pun berakhir bersamaan setelah mereka menuju puncak.


Kali ini Arda semakin yakin bahwa dirinya akan bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Arda pun memeluk Jenny yang kini membenamkan wajahnya di dada bidangnya itu.


Sesampainya di Mension Alina meminta pelayan untuk menyiapkan makan siang yang sudah terlewat untuk dirinya dan juga untuk suaminya yang kini tengah duduk di sofa kamarnya itu.


Alina pun kembali kedalam kamar tersebut.


"Yank, mau mandi dulu."tawar Alina.


"Mau kamu saja."jawab Arthur.


"Nanti malam saja Yank,,, sekarang aku mau istirahat bersamamu setelah makan malam."ucap Alina.


"Heumm... apa? boleh buat mengalah saja."ucap pria tampan itu.


Alina pun menyiapkan air untuk mandi suaminya dan pakaian santai untuk Arthur saat ini karena Arthur akan berada di rumah dan tidak akan pernah kembali ke kantor kecuali besok pagi.


Arthur langsung pergi setelah Alina selesai menyiapkan semua kebutuhannya.


"Terimakasih sayang."ucap Arthur saat mereka berpapasan.


Arthur pun langsung menutup pintu kamar mandi, pria itu langsung melepaskan seluruh pakaiannya dan setelah itu dia masuk kedalam bathtub-e.


Arthur langsung memejamkan mata saat ini untuk merilekskan ototnya yang terasa kaku setelah hampir seharian berada di kantor.


Alina sendiri kini tengah membantu para pelayan menyiapkan makan siang untuk dirinya dan Arthur.


Setelah hampir tiga puluh menit kemudian semua sudah selesai Arthur pun sudah keluar dari dalam kamar dan sudah terlihat fresh dengan rambut setengah basah yang kini terlihat berantakan dan semakin menambah ketampanannya.


Arthur mendekat kearah istrinya dan memeluk istrinya dari belakang mendaratkan kecupan di pipi kanan istrinya itu.


"Yank, aku bau belum mandi."ucap Alina sambil mengelus punggung tangan Arthur yang melingkar di pinggangnya itu.


"Sayang, aku sangat merindukanmu."ucap Arthur yang kini terlihat sangat tampan.


"Heumm,,, baru sebentar juga yang kita berpisah."ucap Alina.


"Tapi rasanya sudah satu tahun."ucap pria itu lagi.


"Heumm, kamu serius?."ucap Alina sambil tersenyum.


Tentu saja Sayang, aku takut kamu pergi dariku."ucap Arthur.


"Aku tidak akan pernah pergi darimu aku janji, kecuali kamu yang mengusir ku dari kehidupan mu."ucap Alina.


"Itu tidak mungkin aku lakukan, kau adalah cinta pertama dan terakhir ku."ucap Arthur.


"Terimakasih Yank, aku janji tidak akan pernah mengecewakan mu sampai kapanpun."ucap Arthur.


Mereka pun duduk saling berhadapan didepan meja makan tersebut, Alina sudah menyiapkan makanan tersebut di piring milik Arthur sebelum dia benar-benar duduk di samping suaminya yang menduduki kursi utama untuk kepala keluarga.


"Sayang aku harus pergi ke Norwegia satu Minggu lagi bagaimana jika kamu ikut."ucap Arthur.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin mas aku tidak pernah berpergian jauh aku takut tidak kuat."ucap Alina.


__ADS_2